L
Memuat...
Kontributor

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.21.Akhir)

Replika Peta Indonesia dalam Box 2 dalam WB 3 (2004) Teater Garasi di-screenshoot untuk Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news//D.2. BAB V. KESIMPULAN. A. Kesimpulan. Berdasarkan keseluruhan uraian pada bab-bab terdahulu maka penelitian disertasi menghasilkan beberapa kesimpulan dan temuan sebagai berikut:
Pertama, kelompok Teater Garasi Yogyakarta (TGY) berdiri pada tanggal 4 Desember 1993 di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dengan pendirinya Yudi Ahmad Tajudin, Kusworo Bayu Aji, dan Puthut Yulianto. Dinamika kreativitas TGY terkonsep dalam visi, misi organisasi, akta yayasan, kesejarahan dan empat fase pemikiran. TGY sebagai organisasi seni pertunjukan menangani manajemen kelompok yang terpusat pada Sumber Daya Manusia (SDM), pengorganisasian dan mekanisme kerja, dan manajemen produksi pementasan teater. Salah satu satu kreasinya pertunjukan lakon WB yang menjadi pilot project ‘laboratorium penciptaan teater’. Manajemen TGY dengan Direktur Eksekutif dan Pimpinan Produksi Kusworo Bayu Aji merupakan pendukung proses kreatif terwujudnya pertunjukan lakon WB.

Kedua, proses kreatif TGY dalam penemuan ide atau gagasan pertunjukan lakon WB berawal dari Yudi Ahmad Tajudin di bulan maret 2001 mendapatkan ilham, pikiran (angan-angan) yang yang menggerakkan hati untuk mencipta. Berangkat dari konsep waktu dalam tradisi Jawa, Yudi pada bulan Juli 2001 melontarkan ide tema: waktu, transisi dan identitas kepada tim penulis: Ugoran Prasad, Gunawan Maryanto, dan Andri Nurlatif. Selanjutnya Yudi dan tim penulis observasi dan pembacaan referensi tertulis tentang mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan Sejarah Majapahit Akhir untuk mencipta naskah dan pertunjukan lakon WB.

Ketiga, proses kreatif TGY dalam penulisan teks pertunjukan lakon WB dilakukan oleh tim penulis. Akan tetapi tim penulis, sutradara, aktor-aktris dan para pendukung melakukan eksplorasi cerita yang terkait langsung dengan konsep waktu dalam tradisi Jawa. Tim penulis menghasilkan naskah setebal 28 halaman dinamai Watugunung Eklektika (26 Desember 2001). Tim penulis dan sutradara menyepakati plot keutuhan naskah, menguatkan narasi dramatik dalam manuskrip judul tentatif Watugunung (12 Februari 2002). Ada perubahan judul tentatif ’Watugunung’ menjadi ’Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1) (Mei 2002).

Keempat, proses kreatif TGY dalam eksplorasi keaktoran mengacu pada hakikat seni peran adalah meyakinkan (make believe) kepada penonton. Proses kreatif aktor-aktris TGY dalam mencipta karakter tokoh dasarnya naskah atau teks pertunjukan lakon WB 1. Teks bukan lagi milik tim penulis sudah milik aktor-aktris dalam wilayah interpretasi melalui eksplorasi keaktoran. Aktor-aktris sudah dianggap memiliki kepekaan tubuh, pengembangan pemikiran, kepekaan sukma demi terciptanya karakter tokoh sebagai manifestasi seni pemeranan secara utuh. Eksplorasi keaktoran melalui workshop dan improvisasi dalam sesi Lumpur untuk mencipta karakter tokoh pertunjukan lakon WB baik individu maupun kolektif. Secara individu Jamaluddin Latief mencipta karakter Siwa dan Kala (WB 1,2,3), Kusworo Bayu Aji mencipta karakter Watugunung Dewasa (WB 1), Erythrina Baskorowati mencipta karakter Durga (WB 1,2,3), Sri Qadariatin mencipta karakter Uma (WB 1,2) dan Kali (WB 1,2,3), Citra Pertiwi dan Naomi Srikandi mencipta karakter Sinta dan atau Sinta Yang Lain (WB 1,2,3), Andreas Ari Dwianto mencipta karakter Watugunung Muda dan Kura-Kura Ninja (WB 1,2,3), Bahrun Ulum mencipta karakter Kalanjana, Orang berkepala Dandang (WB 1,2,3), Theodorus Christanto mencipta karakter Narator (WB 1,2,3) dan Watugunung Dewasa (WB 2,3). Secara kolektif aktor-aktris mencipta karakter 1).Kura-Kura Ninja di adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik. 2). Wajah Kecemasan, Tarian Anak Sukerta, di adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik.3). Karakter dalam gelap membawa lentera, awal adegan Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal.

Kelima, proses kreatif TGY dalam penyutradaraan Yudi Ahmad Tajudin selaku pelontar ide tema dan sutradara pertunjukan lakon WB 1, WB 2, WB 3 berpegang pada visi dan misi Tater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater. Proses kreatif penyutradaraan Yudi meletakkan ‘penciptaan teater sebagai kerja manifestasi eksistensi’ yang menempatkan perpose atas teater, konsekuensinya pengetahuan sebagai kekuatan dan keterbatasan teater menjadi medium sekaligus disiplin. Yudi bahkan menyitir Peter Brook, ‘a sense of direction’ yang memandu dan memberi arah dalam kerja penyutradaraannya. Secara aplikatif proses penyutradaraannya sebagai berikut. 1). Kerja gali sumber (source works). Setelah tema atau isu dipilih dan didiskusikan bersama, seluruh tim kreatif (sutradara, aktor, penulis, musisi, perupa) lalu melakukan risetnya masing-masing —baik riset literatur maupun observasi langsung— atas tema yang disepakati. Pada tahap ini kerap melakukan observasi lapangan (grounded observation) secara bersama-sama, di tempat atau lokasi di mana tema/isu yang tengah diteliti itu berlangsung. 2). Improvisasi. Hal-hal yang ditemukan dalam riset dan observasi, yang dianggap menarik (intuitif ) dan relevan (rasional), lalu dibawa ke studio latihan untuk diolah dengan cara improvisasi. Di tahap ini, improvisasi yang dilakukan hampir-hampir tak ada batasan, lebih mengandalkan spontanitas dan dorongan impulsif-intuitif. 3). Kodifikasi. Rekaman audio-video sesi-sesi improvisasi dilihat dan didengarkan bersama-sama, untuk dipilih bagian-bagian improvisasi yang dianggap menarik, potensial dan berhubungan dengan tema yang tengah digeluti. Sesi-sesi improvisasi terpilih itu di-kodifikasi, ditandai dengan kode dan label tertentu. Di tahap ini, peristiwa improvisasi yang terpilih, yang ketika dilakukan pertama kali lebih bersifat spontan, hangat dan mengalir itu lalu di-‘bekukan’ dengan perulangan yang lebih bersifat teknis dan koreografis. 4). Komposisi. Kode-kode yang dihasilkan dari tahap kodifikasi disusun ke dalam komposisi-komposisi adegan, berdasarkan suatu struktur tertentu. Rangkaian komposisi berdasarkan/di dalam struktur inilah yang kemudian dipresentasikan sebagai karya/peristiwa pertunjukan.

Keenam, proses kreatif TGY dalam eksplorasi artistik pertunjukan lakon WB berkisar pada wilayah: Set Panggung dan Pencahayaan; Busana dan Rias (kostum dan make-up); Ilustrasi Musik; Property dan Hand Property. Pada WB 1 set dekorasi menggambarkan situasi artistik, di sudut kanan belakang teronggok patung kura-kura raksasa berwarna hijau, dipanggung sebelah kiri teronggok lesung dan atau perahu. Pada WB 2 set panggung ditata secara asimetris dengan sebuah frame, kerangka besi seperempat tabling dan ranjang rumah sakit. Perancang set tetap menghadirkan Kura-kura tetapi diwujudkan dalam bentuk patung Kura-Kura berkepala manusia yang dapat bergerak dengan bebas melintasi ruang pertunjukan yang diatur dengan radio control sehingga semakin hidup dan artistik menembus waktu. Sedang pada WB 3, panggung prosenium. Pembuka suara Gong bergelegar. Ditengah belakang robot kura-kura berkepala manusia dinaiki seorang Ibu. Tata artistik memakai teknologi dan mesin seperti robot kura-kura, replika Wisnu dan Uma, replika lokomotif untuk mengisi ruang prtunjukan yang didominasi cahaya biru.

Ketujuh, proses kreatif TGY dalam pertunjukan lakon WB menghasilkan tiga versi. Versi 1, ’Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1) dipentaskan di Gedung Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta (2-4 Juli 2002). Pertunjukan lakon WB 1 dengan tema waktu di kalender Jawa yang sumber inspirasi mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan Sejarah Majapahit Akhir menjadi tolakan ekplorasi penulisan naskah dan pertunjukan WB 1. Versi 2, ‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’ (WB 2) dan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (7-18 Maret 2003). Tim penulis menelusuri rujukan konteks (September 2002) yang ditemukan untuk menyusun WB 2. Tim penulis bergabung tim artistik untuk mewujudkan rujukan konteks schizophrenia, lorong, dan rumah sakit. Rumah sakit adalah wacana yang datang dari tafsir pertunjukan WB 1. Identifikasi tim artistik menajam sebuah adegan simulasi ruang-ruang tunggu di rumah sakit. Di ruang tunggu rumah sakit, tim penulis menguatkan ide tema WB: waktu, transisi dan identitas dengan Schizophrenia untuk menunjuk pada realitas modern yang pecah.

Schizophrenia mengantarkan tim penulis pada wajah waktu yang bertabrakan, identitas yang tak lain adalah fashion, dan transisi yang berubah menjadi mimpi buruk. Versi 3, ‘Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu’ (WB 3) dipentaskan dalam ‘Art Summit Indonesia IV’ (Performing and Visual Art Festival) di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta (27-28 September 2004). Pada pertunjukan versi 3, tim penulis menafsir bentuk dari WB 1 dan WB 2. Ditemukanlah peta anasir pijakan kreatif, anasir tema waktu, transisi dan identitas; anasir teks mitos, sejarah dan modernitas; dan anasir bentuk : tubuh, refleksi dan replika. Akhirnya pertunjukan lakon WB 3 terwujud. Pertunjukan lakon WB 3 dan naskahnya merupakan hasil kerja kolektif. Naskah WB (2004) ditulis Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, dan Ugoran Prasad diterbitkan oleh Indonesiatera Magelang.

Kedelapan, proses kreatif TGY dalam pertunjukan lakon WB menunjukkan adanya intertekstualitas. Hal itu ditunjukkan bahwa mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan ’sejarah Majapahit akhir’ merupakan hypogram dari pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003), WB 3 (2004), dan naskah atau teks pertunjukan WB (2004). Kemudian pertunjukan lakon WB merupakan teks tranformasi karena merupakan teks baru yang menyerap dan mentransformasi mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan ’sejarah Majapahit akhir’, bahkan kolonialisme, industrialisasi dan globalisasi yang terbaca secara bahasa, peristiwa dan perlengkapan artistik.

Kostum Durga jubah merah (kiri) kostum Kali,
jubah hitam (kanan) pakai rambut palsu (WB 1),
desainer mengekplorasi rambut asli kedua aktris (WB 2). page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Kesembilan, proses kreatif TGY dalam pertunjukan lakon WB menempatkan naskah WB (2004) yang ditulis oleh tim penulis: Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad tidak dipandang sebagai hal yang selesai. Akan tetapi naskah yang sama hasil final tim penulis dapat ditata (re-composed) dalam pengadeganan untuk pertunjukan lakon yang berbeda. Hal itu terbukti dengan jelas ketika pertunjukan lakon WB menjadi tiga (3) versi pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003) dan WB 3 (2004).

Kesepuluh, proses kreatif TGY dalam pertunjukan lakon WB khususnya pada mise en scene (pengadeganan) pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003), dan WB 3 (2004) menegaskan bahwa pengadeganan tidak melulu didasarkan pada pertimbangan naskah atau teks pertunjukan tetapi mempertimbangkan juga unsur-unsur artistik. Proses kreatif mengisyaratkan perubahan-perubahan unsur-unsur artistik pertunjukan memungkinkan munculnya judul baru. Sehigga pengadeganan dan intertekstualitas antar waktu, waktu batu: waktu seakan-akan membatu/beku, kejadian berpola tetap yang hadir di berbagai waktu. Perbedaan waktu/kontras-kontras waktu ditunjukkan dalam wujud tokoh, dialog, gerak-akting, musik, artistik dan penulisan ulang atau restrukturisasi pertunjukan lakon WB.

Kesebelas, proses kreatif TGY dalam pertunjukan lakon WB menghasilkan wujud struktur pertunjukan lakon WB dibangun atas plot, tokoh dan tema yang memiliki relasi sangat utuh dan padu. Secara dramaturgis, relasi antara unsur plot, penokohan, dan tema telah membentuk lakon WB menjadi karya drama yang mencerminkan adanya kesatuan dan keserasian antar nilai dramatik. Kemudin wujud tekstur pertunjukan lakon WB mencakup dialog, suasana dan spektakel. Dialog dibangun para aktor membawakan karakter tokoh dengan nada, intonasi tidak keseharian seperti diucapkan dengan pembacaan puisi yang puitik bahkan gerak akting pun mekanik seperti robot atau tubuh bergetar. Wujud tekstur menghasilkan pertunjukan menjadi lebih hidup, dinamis dan menarik. Kehadiran aktor dengan totalitas bermain, unsur-unsur artistik: kura-kura raksasa, perahu, sorot multimedia, hand property: enthong, dandang, rumput kalanjana, anglo bahkan kostum, make-up bernilai indah. Ilustrasi musik yang memadukan bunyi alat tradisional gamelan dan modern menjadikan pertunjukan tidak bersifat tunggal tetapi memberi keleluasaan penonton untuk menikmati pertunjukan lakon WB. Wujud struktur dan tekstur pertunjukan lakon WB membangun dramaturgi eklektika. Dramaturgi eklektika TGY merupakan dramaturgi hasil pemilihan yang terbaik dari berbagai sumber dalam mencipta pertunjukan. Pada duna teater kontemporer Indonesia sebuah upaya TGY mencipta pertunjukan lakon WB bersumber dari mitos Jawa: Sudamala, Murwakala dan Watugunung dan sejarah akhir Majapahit merupakan pilihan terbaiknya dan menjadi presentasi estetik yang dapat dinikmati penonton.

Imaji visual ‘Clang’ dalam adegan Perang,
Kematian dan mendaratnya kapal-Kapal lakon WB 2 (2003).page 6.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

B. Saran-Saran. Penelitian proses kreatif pertunjukan lakon WB yang terdiri 3 versi : WB 1 (2002), WB 2 (2003), WB 3 (2004), merupakan pilot project kerja Teater Garasi, ‘Laboratorium Penciptaan Teater’ yang menerjemahkan konsep research based performance, pertunjukan yang dibangun berdasarkan riset bukan dibangun dengan naskah yang sudah ada. Pada awalnya pertunjukan tanpa naskah, didasarkan pada tema, TGY teliti dengan observasi lapangan dan studi literatur. Spirit proses kreatif pertunjukan lakon WB adalah sebuah pertunjukan di masa transisi, dan diperlakukan sebagai ruwatan. Konsep kerja Teater Garasi, ‘Laboratorium Penciptaan Teater’ dalam wacana teater dunia sebetulnya bukan hal baru karena Growtosky dengan sistem Via Negativa sudah mengembangkan teknik Poor Theatre (Teater Miskin) yang dalam tahapan proses kreatif Growtosky berawal dari The Laboratory Theatre, Teater Laboratorium (1961-1968), berkembang menjadi The Paratheatrical Work, Riset Parateater (1970-1984), hingga The Objevtive Drama, Drama Objektif (1985-1987) sebagai kerja ‘laboratorium’ yang terstruktur dan membentuk keutuhan seni teater. Untuk itu konsep kerja ‘laboratorium’ tersebut perlu dilanjutkan, diuji ulang agar Teater Garasi; ‘Laboratorium Penciptaan Teater’ sebagai kelompok teater yang mandiri dan menghasilkan karya seni yang berkualitas di Yogyakarta khususnya dan di Indonesia umumnya. Kiranya naskah WB (2004) yang sudah diterbitkan perlu diproduksi dengan kerja ‘laboratorium’ oleh TGY sebagai pertunjukan lakon tersendiri mengingat struktur, tekstur dan pengadeganan sangat berbeda dengan pertunjukan lakon WB1 (2002), WB2 (2003), dan WB 3 (2004).

Kota Yogyakarta yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki beberapa predikat sebagai kota budaya, kota pendidikan, kota pariwisata dan banyak melahirkan pelaku sejarah, seniman, pendidik, intelektual, budayawan, pahlawan bangsa. Para seniman muda yang tergabung dalam kelompok TGY, menghasilkan karya yang bekualitas seperti karya-karya seniman di mancanegara, sehingga kota Yogyakarta pun turut dikenal bahkan disegani seiring dengan penghargaan yang diterima para seniman tersebut. Untuk itu penelitian tentang proses kreatif kelompok TGY dalam pertunjukan lakon WB di dalam perkembangan teater kontemporer di Yogyakarta masih layak untuk dilanjutkan. Karya kelompok TGY dalam kreativitas seni teater tanpa meninggalkan lingkungan sosial budaya masyarakat sehingga ada konteks di sekitarnya yang masih banyak belum terungkap. Kiranya perlu dirancang suatu penelitian proses kreatif tentang karya-karya yang dihasilkannya setelah pertunjukan lakon WB. Misal dapat dilakukan penelitian pada pertunjukan lakon Je.jalan dan Tubuh Ketiga, sebuah hasil observasi jalanan kota-kota di Indonesia.

Penelitian tentang proses kreatif kelompok TGY dalam pertunjukan lakon WB pada perkembangan teater kontemporer di Kota Yogyakarta menghasilkan suatu realitas bahwa kesenian mampu menghadirkan suatu kegiatan yang memiliki kualitas keilmuan. Seni dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang berbeda, tetapi keberadaannya saling mendukung. Penelitian yang berhasil mendekatkan keduanya layak dilanjutkan, diuji ulang dan disosialisasikan, baik di kalangan akademisi maupun di kalangan praktisi seni. Melalui cara ini, praktisi seni diharapkan tidak kehilangan referensi kreativitasnya. Para akademisi seni diharapkan melestarikan perspektif ilmu ke dalam seni, seni tetap mampu menghadirkan kembali jejak-jejak kreativitas penciptanya. Untuk itu kiranya sangat bijaksana kalau Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Pemerintah Provinsi DIY menyediakan subsidi dana dan sarana gedung pertunjukan yang memadai, bertaraf internasional untuk berkreasi para seniman muda dan kelompok teater yang terus berproses kreatif guna menghasilkan karya seni pertunjukan yang berkualitas sehingga dapat mendukung program pemerintah DIY ‘jogja istimewa’.
TGY merupakan contoh pengelolaan kelompok yang menampilkan citra loyalitas genersi muda dalam suatu komunitas teater yang mandiri. Penelitian tentang proses kreatif kelompok-kelompok teater di Yogyakarta dan Indonesia kiranya layak dilakukan secara sungguh-sungguh dan komprehensif. Hal ini akan memperkaya kajian seni pertunjukan dengan kaidah keilmuan. Andai hal ini dilaksanakan akan menempatkan teater kontemporer mudah dipahami masyarakat tidak hanya saja oleh pendukungnya. Untuk itu sangat perlu keterlibatan para peneliti, intelektual, seniman, budayawan, pemerintah, dan swasta menjadikan teater kontemporer sebagai obyek penelitian seni pertunjukan secara ilmiah sehingga akan menjadi lebih berarti dalam pengembangan ilmu, seni dan budaya bangsa Indonesia. *** [Akhir. Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

KEPUSTAKAAN
Abdullah, Imran T. dkk., 1978. “Memahami Drama Putu Wijaya: Aduh”, Laporan Penelitian untuk Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.

Ahmad, A. Kasim. 1999. “Pengaruh Teater Tradisional Pada Teater Indonesia”, dalam Awuy, Tommy. F. 1999. Teater Indonesia, Konsep, Sejarah, Problema. Dewan Kesenian Jakarta: Jakarta.

Aji, Kusworo Bayu. 2-4 Juli 2002 ”Ketika Kami berada di Sini” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu 1, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu. Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis: Yogyakarta.

Alwi, Hasan. dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Balai Pustaka: Jakarta.

Anirun, Suyatna. 2002. menjadi Sutradara. STSI Press Bandung: Bandung.

_________________ .1998. Menjadi Aktor Pengantar Kepada Seni Peran Untuk Pentas dan Sinema. Studiklub Teater Bandung, Taman Budaya Jawa Barat, PT. Rekamedia Multiprakasa: Bandung.
_________________. 1999. “Konsep Teater dan Penyutrdaraan Sebuah Kelompok Studi Memanusiakan Gagasan-gagasan” dalam Tommy F. Awuy (penyunting). 1999. Teater Indonesia, Konsep, Sejarah, Problema. Dewan Kesenian Jakarta: Jakarta.

Aristoteles. 1960. “from the Poetics” (trans. By Ingram Bywater) dalam Levin, Richard. 1960. Tragedy: Plays, Theory, and Criticism. Harcourt Brace Jovanovich, Inc.: New York.

Arsuka, Nirwan Ahmad. 3 Oktober 2004. “I La Galigo dan Waktu Batu Genesis di atas Pentas”. SKH Kompas: Jakarta.

Asrori, Mohammad. 2009. Psikologi Pembelajaran. Wacana Prima: Bandung.

Aston, Elain. Savona, George. 1991. Theatre As Sign-System: A Semiotic of Text and Performance. Routledge: London.Bair, Deirdre. 1978. A Biography Samuel Beckett, Harcourt Brace Javanovich Book: New York & London.

Barba, Eugenio. 1995. “Dramaturgy Actions at Works” dalam Barba, Eugenio & Savarese, Nicola. A Dictionary of Theatre Antroplogy: The Scret Art of the Performer. Routledge: London.

Barron, R. Woods, R. 1992. An Itroduction to Philosophy of Education. Methuen: London.

Beckett, Samuel. 1999. Sementara Menunggu Godot . penerjemah Farid Bambang S. Yayasan Bentang Budaya: Yogyakarta.

Boleslavski, Richard. 1960. Enam Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor, di-Indonesiakan Asrul Sani. Penerbit Djaja Sakti: Jakarta.

Bowskill, Derek. 1973. Acting and Stagecraft Made Simple. W.H. Allen, A Division of Howard & Wyndham, Ltd.: London.

Clark, B. 1998. Growing Up Gifled, Third Edition. A Bell an Howell Information Company: Ohio.

Claude Levi-Strauss, Caude Levi. 2005. Antropologi Struktural, Kreasi Wacana : Yogyakarta.

Culler, Jonathan. 1981. The Pursuits of Signs, Semiotics, Literature, Deconstructions. Routledge & Kegan Paul: London.

Damono, Sapardi Djoko. 2009. Drama Indonesia Beberapa Catatan. Editum:Ciputat.

“Dari Garasi Fisipol UGM Mencuat Teater Kampus Handal” 21-28 Januari 2000, SKH.Yogya Post: Yogyakarta.

Darmawan, Whani. 20 Juli 1997. “Resensi Teater FKY ‘Carousel’”. SKH BERNAS: Yogyakarta.

Dean, Alexander. 1980. Lawrence Carra, Fundamentals Of Play Directing, Fourt Edition. Holt, Rinehart And Witson: New York.

Dipayana, Arya. 13 Juli 2002. “Ziarah ke Masa Silam, Catatan Tertinggal dari Pentas Teater Garasi”. SKH.Kompas: Jakarta.

Direktori Seni Pertunjukan Kontemporer 1999. Direktorat Bina Pesona Pentas Direktorat Jenderal Seni dan Budaya Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya: Jakarta.

Elam, Keir. 1991. The Semiotics Theatre and Drama. Methuen Drama: London.

Elbaz, Jean Pascal. 2002. Ungkapan dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu 1, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu. Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis: Yogyakarta.

Endraswara, Suwardi. 2006. Metode Penelitian Kebudayaan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

E.P., Torrance. 1991. The face and Form of Creativity. Ventura County Superintedent of School Office: California.

Esslin, Martin. 1972. The Theatre of the Absurd, Revised and Enlarged Edition. Cox & Wyman Ltd.: London.

Evans, James Roose. 1989. Experimental Theatre From Stanislavski to Peter Brook. Routledge: London.

Ganet, Jean. 2000. Sketsa-sketsa Negeri Terbakar (Les Paravents). penerjemah Jean-Pascal Elbaz, Nasrul Nasrullah, Yudi Ahmad Tajudin. Forum Jakarta-Paris, Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

GAN, V. 5 Juni 2005. “Teater Garasi Pentas ke Berlin”.SKH. Kompas: Jakarta.

Geertz, Cliford. 2000. Negara Teater Penerjemah Hartono Hadikusumo. Yayasan Bentang Budaya, Yayasan Adikarya IKAPi dan The Ford Foundation: Yogyakarta.

Gowan, J.C. 1997. The Use of Development Stage Theory in Helping Gifled Children Become Creativite. California State University: California.

Hallam, Elizabeth & Ingold, Tim. (ed.). 2007. Creativity and Cultural Imprivisation. Beng Oxford: New York.

Hanafi, Muchamad Agus. 2001. Akta Notaris No. 13 Tahun 2001 tentang Pendirian Yayasan Teater Garási. Yogyakarta.

hap. 2 Juli 2002. “Teater Garasi Eksplorasi Mitos Jawa”. SKH.Bernas: Yogyakarta.

Haryono, Edi. (penyusun), 2005. Menonton Bengkel Teater Rendra, Kepel Press: Yogyakarta.

Haryono, Timbul. 2008. Seni Pertunjukan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi Seni. ISI Pres Solo: Surakarta.

Harymawan, RMA. 1993. Dramaturgi. PT. Remaja Rosda Karya: Bandung.

Hatley, Barbara. 2008. Javanese Performances On an Indonesian Stage Contesting Culture, Embracing Change. National University of Singapore: Singapore.

HRD. 22 Juni 2002. ”Metamorfosis Teater Garasi: Produk Teater Tidak Sekedar Pertunjukan”. SKH.Kompas: Jakarta.

_____. 13 Juli 2002. “Waktu Batu” dan Tafsiran Publik. SKH. Kompas: Jakarta.

Iswantara, Nur. Banua, Raudal Tanjung. 2013. Profil Seniman dan Budayawan Yogyakarta #12. Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta: Yogyakarta.

Iswantara, Nur. 2009. “Umar Kayam, Teater Kontemporer, dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dalam Dimensi Ruang Waktu” dalam Haryono, Timbul. (Penyunting). Seni Dalam Dimensi Bentuk, Ruang, dan Waktu. Wedatama Widya Sastra: Jakarta.

_______________. 2007. Wajah Pantomim Indonesia Dari Sena Didi Mime Hingga Gabungan Aktor Pantomim Yogyakarta. Media Kreativa: Yogyakarta.

_______________. 2004. Sri Murtono Teater Tak Pernah Usai Sebuah Biografi. Intra Pustaka Utama: Semarang.

_______________. 1994. “Teater sebagai Kajian Keilmuan” SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, IV/01-Januari 1994. BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

jay. 4 Juli 2004. “Pentas Teater Garasi Lakon ‘Waktu Batu’ Membaca Isyarat Mitos, Teks dan Batu”. Kedaulatan Rakyat : Yogyakarta.
___. 2 Juli 2002. “Selama 3 Hari di Sasana Hinggil, Teater Garasi Pentaskan Waktu Batu”. Kedaulatan Rakyat : Yogyakarta.

Kaelan. 2005. Metode Penelitian Kualitatif bidanf Filsafat, Paradigma bagi Pengembangan Penelitian Interdisipliner bidang Filsafat, Budaya, Sosial, Semiotika, Sastra, Hukum, dan Seni. Paradigma: Yogyakarta.

K.M., Saini. 2003. “Penciptaan Seni, Menapak dan Meninggi” dalam SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, IX/02-03 Maret 2003. BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

___________. 1996. Peristiwa Teater. Penerbit ITB: Bandung.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi. PT.Gramedia: Jakarta.

Kayam, Umar. 1986. “Nilai-Nilai Tradisi, dan Teater Kontemporer Kita”, dalam Malaon, Tuti Indra. Malna, Afrizal. Dwi, Bambang. 1986. Menengok Tradisi Sebuah Alternatif Bagi Teaer Modern. Dewan Kesenian Jakarta: Jakarta.

______________. 1981. “Membangun Kehidupan Teater Kotemporer di Yogyakarta” dalam Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Sinar Harapan: Jakarta.

Kelik, 27 Oktober 2004. “Membandingkan BlackSKYwhite, Garasi dan Kubur”. Koran Tempo: Jakarta.
Kernodle, George. Kernodle, Portia. 1878. Invitation to the Theatre, Brief Second Edition. Harcourt Brace Javanovich, Inc.: New York.

Koentjaraningrat. ed. 1979. Metode-metode Penelitian Masyarakat, Gramedia: Jakarta.

Kowzan, Tedeusz. 1975. Littérature et Spectacle. The Hague and Paris: Mouton.

Langley, Stephen. 1974. Theatre Management in America Principle and Practice. Drama Book Specialists (Publishers): New York.

Latif, Andri Nur. Maryanto, Gunawan. Prasad, Ugoran. 2004. Waktu Batu, Teater Garasi Laboratorium Penciptaan Teater 2001-2004. Indonesiatera: Magelang.

Levi-Strauss, Claude. 2005 Antropologi Struktural. Kreasi Wacana: Yogyakarta.

Lorca, Federico Garcia.1960. Yerma. terjemahan Ramadhan KH. Balai Pustaka: Jakarta.
Lubis, Mochtar. 1981. Teknik Mengarang.:Nunang Jaya:
.
Malna, Afrizal. 2010. Perjalanan Teater Kedua Antologi Tubuh dan Kata. ICAN-Indonesia Contemporary Art Network: Yogyakarta.

_______________. 1999. Tubuh dan Kata: Teater Kontemporer Indonesia Sebuah Indonesia Kecil. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia: Bandung.

Marinis, Marco. 1993. The Semiotics of Performance Indiana University Press: Bloomington and Indianapolis.

“Mitos sebagai Sumber Kreativitas Dimaknai Melalui Reinterpretasi Penghayatan”. 24 Juni 2002. SKH. Kompas: Jakarta.

Mohamad, Goenawan. 1980. ”Sebuah Pembelaan Untuk Teater Indonesia Mutakhir”, dalam Goenawan Mohamad, Seks, Sastra, Kita. Penerbit Sinar Harapan: Jakarta.

Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta.

Nadjib, Emha Ainun. 2 Oktober 1993. “Teater Babak Belur di Yogya”. SKH. Kompas : Jakarta.

Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia: Bogor.

Noer, Arifin C. 1984. Kapai-Kapai. Pustaka Jaya: Jakarta.

Oemardjati, Boen. S. 1971. Sastra Lakon. Gunung Agung: Jakarta.

Padmadarmaya, Pramana. 24 September 1985. “Pokok-Pokok Penyutradaraan Teater Modern”. Materi Temu Teater Indonesia. Panitia Temu Teater Indonesia: Cipayung.

___________________________.1980. “Ekspresi Global Melalui Pendekatan Indivisual Pembicaraan Awal Sebuah penyutradaraan”, dalam Sihombing, Wahyu. Sukirnanto, Slamet. Ikranegara. 1980. Pertemuan Teater 80. Dewan Kesenian Jakarta:Jakarta.

Permas, Achsan. Hasibuan, Crysanti. Pranoto, L.H. Saputro, Triono. 2003. Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan. Penerbit PPM: Jakarta.

Prasad, Ugoran. 2-4 Juli 2002. ”Sedikit Tentang yang Tidak Tertulis di Atas Naskah” dalam Katalog Pertunjukan ‘Waktu Batu 1, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’. Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis: Yogyakarta.

Rendra, 1999. “Pengalaman Mengejar Tujuan Yang Belum Tercapai”, dalam Tommy F. ed., 1999. Teater Indonesia, Konsep, Sejarah, Problema. Dewan Kesenian Jakarta: Jakarta.

_________.1980. “Kegagahan dalam Kemiskinan Teater Modern Indonesia” dalam Sihombing, Wahyu. Sukirnanto, Slamet. Ikranegara. 1980. Pertemuan Teater 80. Dewan Kesenian Jakarta:Jakarta.

Riantiarno, N. 2011. Kitab Teater Tanya Jawab Seputar Seni Pertunjukan. Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta.

Rifai, Mien. A. 1992. “Metode Kualitatif dalam Penelitian” dalam Mien A. Rivai, Mien A. Sakri, Adjat. (penyunting). 1992. Bunga Rampai Metodologi Penelitian. Depdikbud Dirjen DIKTI Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat: Jakarta.
Sahid, Nur. 2012. Dramaturgi Teater Gandrik Yogyakarta dalam Lakon ”Orde Tabung” dan ”Departemen Borok”, Disertasi Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan Dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta: Yogyakarta.

Salam, Aprinus. 20 Juli 1997. “ ’Carousel’ Adalah Biografi Massa”. Kedaulatan Rakyat: Yogyakarta.

Sari, Dewi Ambar. Sage, Lazuardi Adi. 2007. Pak harto Habis Manis Sepah Dibuang Percik Pengkhianatan dan Hujatan. PT. Jakarta Citra: Jakarta.

Sihombing, Wahyu. Sukirnanto, Slamet. Ikranegara ed. 1980. Pertemuan Teater 80. Dewan Kesenian Jakarta: Jakarta.

Siklus Watugunung dalam Teater Absurd”. 22 Maret 2003.SKH. Kompas: Jakarta.

Sudjiman, Panuti. ed. 1984. Kamus Istilah Sastra.Gramedia: Jakarta.

Sumardjo, Jakob. 2002. “Kelompok Teater Modern di Yogyakarta” dalam Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan. Buku Antar Bangsa: Jakarta.

_________________. 2000. Filsafat Seni. Penerbit ITB: Bandung.

_________________.1992. Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia.PT. Citra Aditya Bakti: Bandung.

Soedarsono, R.M. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. edisi ketiga. Gadjahmada University Press: Yogyakarta.

_________________. 2001. Metode Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa dengan Contoh-contoh untuk Tesis dan Disertasi. Cetakan Kedua. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia: Bandung.
__________________. 1990. Wayang Wong Panggung Drama tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta. Cetakan Kedua. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Soedjono, Soeprapto. 1994. “Fenomena Bentuk Estetik Dalam Studi Perbandingan” dalam SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, IV/04-Oktober 1994. BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

Soemanto, Bakdi. et.al. 2000. Kepingan Riwayat Teater Kontemporer di Yogyakara, Laporan Penelitian Existing Documentation dalam Perkembangan Teater Kontemporer di Yogyakarta Periode 1950-1990. Kalangan Anak Zaman, Pustaka Pelajar dan The Ford Foundation: Yogyakarta.
__________________. 2002. Godot di Amerika dan Indonesia Suatu Studi Banding. Gramedia : Jakarta.

__________________. 2001. Jagat Teater. Media Pressindo: Yogyakarta.

__________________. 17 Januari 1999. ”Endgame”. SKH. Kompas: Jakarta.

__________________. 1994. “Memahami Kembali Studi Teater” dalam SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni IV/02 – April 1994. BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta.
__________________. 17-22 Juli 1993. “Perkembangan Teater di Indonesia: Kasus Kelompok Teater Gandrik di Yogyaklarta” dalam Makalah Pertemuan Teater 1993. Panitia Pertemuan Nasional, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta dan Sekolah Tinggi Surakarta: Surakarta.

Sophokles. 2009. Oidipus Sang Raja., penerjemah Rendra. Pustaka Jaya: Jakarta.

Spradley, James P. 1987. Metode Etnografi. PT Tiara Wacana: Yogyakarta.

Spolin, Viola. 1969. Improvisation for the Theatre A handbook of Teaching and Directing Techniques. Northwestern University Press: Illinois USA.

Stanislavki, Konstantin. 2006. My Life Art. penerjemah Max Arifin. Pustaka Kayutangan: Malang.
_______________________. 1978. Persiapan Seorang Aktor, terjemahan Asrul Sani. Pustaka Jaya: Jakarta.

Sternberg, Robert J. & Lubart, Todd I. 1999. “The Concept of Creativity: Prospects and Paradigms” dalam Sternberg, Robert J. (editor), Handbook of Creativity. Cambride University Press: New York.

Tajudin, Yudi Ahmad. 2004. ”Catatan Sutradara: Sampai pada batas manakah (proyek) teater harus menyelesaikan dirinya?” dalam Katalog ’Waktu Batu.Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu. Teater Garasi: Yogyakarta.
____________________. 2-4 Juli 2002. ”Kenapa perjalanan ini Ditempuh” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu 1, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu. Teaterr Garasi & Lembaga Indonesia Perancis: Yogyakarta.
______________________. 13 Desember 1998. “Catatan dari Lima Tahun Teater Garasi Teater Dramatik, Teater Subversif”. SKH. BERNAS : Yogyakarta.

Tim Musik. 2002. “Brief Musik Notes” dalam Katalog Waktu Batu. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu. Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis: Yogyakarta.

Tranggono, Indra. 17 Februari 2001. “Teater Garasi, dari Kampus ke Sanggar”. SKH. Kedaulatan Rakyat : Yogyakarta.
_________________ . 16 Juli 2002. dalam “Militansi, Kunci Kekuatan Teater Garasi”. SKH Kompas: Jakarta.

Utari, f dewi ria. 4-10 Oktober 2004. “Mereka yang Mengedepankan Memori”. Tempo: Jakarta.
_______________. 27 Desember 2003. “kegelisahan tubuh di atas panggung”. Koran Tempo: Jakarta.

\Wahid, Ismi. 22 Februari 2010. ”Teater Garasi Pentas ke Jepang”. Tempo Interaktif : Jakarta.

Waluyo, Herman J. 2007. Drama Naskah, Pementasan, dan Pengajarannya. Lembaga Pengembangan pendidikan (LPP) dan UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press) Universitas Sebelas Maret Surakarta: Surakarta.

Wellek, Rene. Warren, Austin. 1995. Teori Kesusasteraan. PT. Gramedia Jakarta.

Wijaya, Putu. 1994. “Kontemporer”, dalam SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan, IV/01 Januari 1994. BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

_____________.1992. “Tradisi Baru” dalam Seni Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, II/01 – Januari 1992. BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

_____________.1981. “Dari Bila Malam Bertambah Malam sampai Nyali dan Gerr” dalam Eneste, Pamusuk (editor), Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. PT. Gramedia: Jakarta.

______________.1973. Aduh. Bank Naskah Dewan Kesenian Jakarta: Jakarta.

Wisanggeni, Aryo. 6 April 2014. ”Teater Garasi Pertanyaan-pertanyaan Yang Menyelamatkan” SKH. Kompas: Jakarta.

Wolff, Janet. 1981. The Sosial Production of Art. St Martin’s Press: New York.

Young, Robert. ed. 1981. Unitying the Text. A Post Structuralist Reader. Routledge: London and New York.

Yudiaryani. 2015. WS Rendra dan Teater Mini Kata. Galang Pustaka bekerjasama dengan Insitut Seni Indonesia Yogyakarta: Yogyakarta.

_____________. 16 Oktober 2010. Identifikasi Teater Indonesia Inspirasi Teoritis Bagi Praktik Teater Kontemporer, Pidato Pengukuhan Jabatan Guri Besar Pada Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta Disampaikan di depan Rapat Senat Terbuka Institut Seni Indoensia Yogyakarta. ISIYogyakarta: Yogyakarta.

_____________. 2007. Makna Kehadiran Rendra dan Mini Kata di Dalam Teater Modern Indonesia di Yogyakarta, Disertasi untuk memperoleh Derajat Doktor dalam Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.

_____________.2003. Teater Modern Indonesia di Yogyakarta: Analisis Tekstual Pertunjukan Teater Eska dan Teater Garasi. Laporan Penelitian dengan Surat Perjanjian Penelitian Nomor 37/P2IPT/DPPM/III/2003. Proyek Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.

___________. 1999. Panggung Teater Dunia Perkembangan dan Perubahan Konvensi. Pustaka Gondho Suli: Yogyakarta.

______________.1997. “Metode Transformasi, Sistem Via Negativa, dan Teknik Trance dalam Proses Kreatif Jerzy Growtoski” dalam SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, V/03-04 Juli 1997. BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

PUSTAKA AUDIO-VISUAL

DVD “Waktu Batu 1, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu” di Gedung Sasono Hinggil Yogyakarta, 2-4 Juli 2002. Dokumentasi Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater.

DVD “Waktu Batu 2, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah”, di Gedung Kesenian Jakarta, 17-18 Maret 2003. Dokumentasi Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater.

DVD “Waktu Batu 3, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu”, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam acara ‘Art Summit Indonesia IV’ (Performing and Visual Art Festival), 27-28 September 2004. Dokumentasi Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater.

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 19 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan