SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontributor
Beranda / Kontributor / Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.19)

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.19)

Replika Peta Indonesia dalam Box 1 dalam WB 3 (2004) Teater Garasi di-screenshoot untuk Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1. (Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news// 3. Tema. Bertolak dari lakon Waktu Batu dapat diketahui bahwa obsesi penguasaan akan ide tematik: waktu, transisi dan identitas yng digagas Yudi Ahmad Tajudin. Tema tersebut telah merasuki pribadi tokoh-tokoh lakon secara mendalam. Setiap tokoh yang terobsesi melakukan transisi mulai menguasai diri sebagai sosok pribadi dewa dan manusia kemudian melakukan pencarian identitas dengan berbagai cara, tetapi terperosok dalam pusaran waktu. Hal itu tampak dari permasalahan-permasalahan seperti: Kisah tokoh Watugunung yang menunjukkan sosok manusia dan identitasnya. ketika masih kecil atau muda. Tampak pada Fragmen 4 Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik dikisahkan sebagai berikut. //Watugunung kecil: Kaukah itu ibuku?/ Sinta : Kaukah itu anakku?/Kemarahannya yang bulat, membuat si bocah lari melesat. Ibunya mengejar sebelum bayangnya hilang. Tapi terlambat. Di sebuah tempat, Watugunung kecil pelan-pelan telah menjelma kura-kura. Pada seluruh dunia ia berkata,/Watugunung kecil: Panggil aku hari pertama di awal musim. Di mana segalanya bermula dan bermuara! Aku karang tempat burung-burung bersarang, bukan langit tempat mereka menari dan terbang. Sudah, …aku karang tempat kelak burung-burung yang melintas samudera menabraknya. Lalu kura-kura itu melangkah pergi, begitu saja 90 Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 31-32).
Kutipan tersebut menegaskan bahwa Watugunung kecil luka akibat Ibu-nya.

Watugunung kecil pun mempertanyakan siapa perempuan itu “Kaukah itu ibuku?” Kemarahan membuat “Watugunung kecil pelan-pelan telah menjelma kura-kura”. Lantas Watugunung kecil bilang “Panggil aku hari pertama di awal musim. Di mana segalanya bermula dan bermuara!……” Ini artinya memang berkaitan dengan dirinya sebagai sosok manusia, pencarian identitas dan awalmula mem-waktu.

Pada fragmen 11 Peperangan dan Dongeng-Dongeng yang Tak Selesai-Selesai tersirat secara gamblang bahwa Watugunung sebagai sosok manusia dalam pencarian identitasnya kemudian tentang nafsu berkuasanya sampai pada akhir waktu pun tampak jelas.//Dua pendekar berlengkar, /”Apa yang membakar tubuhmu, Watu?”/ Lalu saling menantang “Jika kau bisa membunuh pertanyaanku maka kau bisa menghentikanku, Wisnu. Jika tidak maka
tunduklah seluruh dewa di bawah kakiku dan seluruh dewi sebagai istriku. “Wit adhikih woh adhokoh—Wit adhokoh woh adhikih?”/Sembari tersenyum Wisnu menebak teka-teki Watugunung: “Pohon kecil berbuah besar—Pohon besar berbuah kerdil. Itu semangka dan beringin, Watu…Jadi ‘jangka’ yang kauingin? ‘ Ukuran waktu’ tertentu. Baik. Akan kupenuhi pintamu!” ………….Dor. Kepala itu hancur terburai. Tapi tiap kali kepala itu hancur ( Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 67-69).

Hal ini menandaskan bahwa sosok manusia Watugunung dari kecil hingga sebagai raja, segala perilaku mencari identitas dari ingin lebih berisitrikan dewi-dewi, berkuasa melebihi raja merebut dunia dewa dan tentang keinginannya ‘jangka” atau ‘ukuran waktu’ dalam kehidupan menjadi acuan penting sebagaimana tertera dalam mitos Watugunung (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:77-81).

Sebuah Renungan di Emperan Bale Tjarakan’ pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81

Selanjutnya tindakan persetubuhan dewa Siwa dengan dewi Uma yang melahirkan tokoh Kala. Hal tersebut semakin dipertegas pada fragmen 2 Terjadinya Kala Terjadinya Durga. // Dari kedalaman rawa-rawa, Uma yang telah berubah Durga menyeruak. Menemukan tubuhnya tak lagi di sana, ia meraung.Juga Siwa yang berubah Kala. Menyeruak dari kedalaman rawa-rawa./Kala:Aku diciptakan tidak sengaja. Aku adalah kecelakaan dan celakalah dirimu karena mengenalku. Aku adalah dentuman besar di lubang kosmos dan setelahnya.……/Uma tertegun. la menemukan dirinya, terbelah, saling memunggungi, saling tak mengenali.Dirinya adalah Durga. Adalah Kali.Hampir bersama-sama, keduanya berkata-kata (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:12-24).
Perilaku dewa Siwa dengan dewi Uma di dunia kahyangan yang tidak pantas karena “seluruh nafsu binatang dan kekuatan dewa-dewa yang menyertainya” merupakan “Kemurkaan Siwa, kebencian Uma. Ia adalah Kala, Mahakala yang akan menjadikan manusia sebagai mangsanya.” Kala pun mengakui lahirnya “Aku diciptakan tidak sengaja. Aku adalah kecelakaan ….Aku adalah dentuman besar di lubang kosmos dan setelahnya.”

Replika lokomotif, kepala kereta api, arahan Budi Gemak
(konsultan elektrik kereta) dalam WB 3 (2004). page 3.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Perilaku dewa Siwa dan dewi Uma, kelahiran Kala yang juga mengakibatkan Uma menjelma menjadi Durga dan Kali serta muncul Kalantaka dan Kalanjana merupakan sosok tokoh ‘Bathara Kala’ yang minta makan manusia sukerta.

Awalmulanya perilaku Watugunung yang ambisius berkuasa dan yakin tidak dapat mati karena kesaktiannya. Membuat dewa Wisnu menyelamatkan dunia dengan menjinakkan Kala agar tidak memakan manusia sukerta dan menyempurnakan Watugunung. Pengorbanan Watugunung sebagai bentuk perilaku mulia dimulainya kehadiran ilmu pengetahuan tentang kalender waktu. Hal ini sangat nyata tertera dalam mitos Murwakala dan Sudamala yang masih hayat dalam masyarakat Jawa dan Bali.

Pemandangan Alam Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur

Perilaku orang asing dalam penjajahan di Jawa dan kerajaan-kerajaan Nusantara serta kehadiran Indonesia menjadikan cerita lebih hidup. Tampak dalam Prolog yang disampaikan tokoh Suara.//Suara:Tahun 1511, tepat pada tanggal 10 Agustus, Portugis menguasai Malaka.Sebulan kemudian, sepasukan armada dari Jawa, dihancurkan di Selat Malaka. Kapal-kapal mereka yang berisi harta benda berharga ditenggelamkan dalam perjalanan kembali ke Goa.Pada saat itu kampung-kampung pengungsi Hindu Majapahit tertua di Bali sudah berusia 43 tahun. Majapahit tak pernah benar-benar sembuh dari kisah-kisah pemberontakan.Brawijaya Girindhawardhana, sang raja terakhir, bukan tak mendapat kabar bahwa Malaka sudah jatuh ke tangan orang-orang asing. 1513. Kontak pertama orang-orang Portugis dengan sisa-sisa kerajaan Majapahit. Putus asa dan penuh dendam, dengan kekuatan yang tak seberapa, Udara, putra Girindhawardhana, menyerang Demak. Demak, sekalipun kehilangan tokoh kharismatik Sunan Ngundung, berhasil memukul mundur pasukan Majapahit yang telah dibantu bala tentara raja Klungkung dari Bali (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 7).

Hal itu juga dinyatakan pada fragmen 6 Saat itu adalah Suatu Masa Ketika Usia Telah Dinamai, tokoh Suara juga menyampaikan.//Suara:1603 Kantor pusat VOC didirikan di Banten.1619 Kota Batavia didirikan. Sejarah Jawa semenjak saat itu adalah sebuah sejarah pertarungan panjang, yang tidak seimbang antara kekuatan VOC yang dinamis dan kekuatan Mataram yang menyurut. Majapahit membuktikan diri gagal berhadapan dengan kekuasaan perniagaan lepas pantai. Mataram pun berhadapan dengan kenyataan yang serupa, sungguhpun selain Batavia dan Banten, seluruh daerah pesisir sudah ada digenggamannya.Segalanya sudah terianjur berubah. Dalam kecepatan dan percepatan yang selatma beratus-ratus tahun menyusun permutasi di Nusantara, dan lalu sebuah negara muda bernama Indonesia, terbukanya gerbang-gerbang dari dunia seluas-luasnya tanpa kemampuan dan kekuatan untuk mengunyah seperti sebelumnya, tidak bisa tidak, sedang menyusun identitas yang terbelah dan terus terbelah (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:40).

Dari kutipan Sejarah Akhir Majapahit tersebut sebuah kenyataan kekuasaan Asing melingkupi sebuah negeri dikisahkan. Hal ini menambah arti bahwa segala perilaku dewa, manusia yang sangat ingin berkuasa atas pihak lain pada akhirnya harus berakhir.

Lakon ini berusaha melihat kembali mitos sebagai sumber penciptaan, sembari berbicara tentang fase-fase sejarah kolonial. Ada asumsi-asumsi teoritik tentang fase sejarah. Rumusan trinitas tema: waktu, transisi, dan identitas kemudian memang dipenuhi oleh penjelajahan teoritik. Penjelajahan tekstual bergerak dari mitoss Jawa, sampai buku-buku fisika modern seperti Cosmos karya Cart Sagan dan Brief History of Time tulisan Stephen Hawking. Pergumulan teks itu terentang dari mulai teks-teks sejarah, sampai psikologi yang memperbincangkan schizophrenia masyarakat modern. Pergumulan teks ini tidak di arahkan untuk menyusun sebuah teks dramatik (dramatic texts), teks untuk pertunjukan yang biasanya berangkat dari sebuah well made play (naskah yang sudah jadi). Lakon ini membuka kemungkinan para aktor untuk berimprovisasi. Improvisasi akan menjadi sumber inspirasi seluruh elemen desain artistik dalam menciptakan pertunjukan di atas panggung.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa tema lakon Waktu Batu dapat dirumuskan dalam sebuah kalimat “perilaku angkara murka seseorang yang terus menguasai pihak lain dengan ambisius akhirnya berhenti pada titik waktu tertentu dan membinasakan diri sendiri“. Dengan demikian rumusan trinitas ide tema: waktu, transisi dan identitas tampak membingkai cerita secara keseluruhan.
4. Relasi antara Plot, Tokoh dan Tema. Telah dirumuskan pada analisis tema di atas bahwa lakon Waktu Batu bertema, “perilaku angkara murka seseorang yang terus menguasai pihak lain dengan ambisius akhirnya berhenti pada titik waktu tertentu dan membinasakan diri sendiri“. Dalam sebuah cerita, biasanya tema akan dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui konflik-konflik antar tokoh protagonis dengan antagonis dengan perwatakan yang dimungkinkan konflik dan diformulasikan dalam bentuk dialog (Herman J. Waluyo, Drama Naskah, Pementasan, dan Pengajarannya, Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) dan UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press) Universitas Sebelas Maret Surakarta: Surakarta, 2007:25). Dengan demikian, tema Waktu Batu sesungguhnya berkaitan erat dengan alur dramatik dan penokohan lakon drama tersebut.

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.21.Akhir)

Haidriyer sebagai property pegawai salon
untuk mengeringkan rambut Sinta yang lain dalam WB 3 (2004). page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Dalam hal ini, Watugunung sebagai tokoh protagonis yang memiliki tokoh bawahan seperti Sinta, Sinta yang lain, Prajurit, Orang-orang adalah para tokoh yang secara langsung atau tidak langsung menikmati kenyamanan dunia. Mereka adalah manusia-manusia yang menyalahgunakan kekuasaan. Watugunung sebagai Raja mencari kesenangan pribadi. Bagi Watugunung jabatan Raja menjadikan manusia sakti mandraguna yakin tidak dapat mati sehingga harus membela kepentingan orang banyak. Dengan kesaktiannya berani berperilaku murka ingin merebut dewi-dewi di kayangan, merebut kekuasan para dewa bahkan minta ‘jangka’ atau ‘ukuran waktu’ di luar kemampuan diri sendiri.
Pada pihak lain, tokoh dewa Siwa yang menguasai dewi Uma dengan nafsu kebinatangan dan kedewaannya melahirkan Kala. Kemurkaan Uma menjelma jadi Durga dan Kali bahkan memunculkan Kalantaka, Kalanjana yang melahirkan kegelapan dunia. Bahkan Durga dan Kali meminta makan manusia terkutuk atau sukerta. Kala yang haus darah terus mengejar Watugunung dan menelan bulan.

Dunia semakin guncang. Orang-orang Asing yang menjajah, menyebarkan wabah pun menjadikan tatanan dunia semakin terbelah. Dewa Wisnu yang mendapat tugas menjaga keseimbangan semesta turun ke bumi menjinankkan Kala dan menyempurnakan Watugunung.
Berangkat dari paparan di atas dapat diambil kejelasan bahwa relasi dan keterkaitan antara tema dengan penokohan dan plot Waktu Batu cukup signifikan. Perwatakan beberapa tokoh Waktu Batu seperti Watugunung, Sinta, dan Lelaki kepala dandang bertentangan dengan perwatakan Kala, Durga, dan Kali dapat dikatakan sebagai implementasi dari tema tersebut. Akibat konflik-konflik yang terjadi antar tokoh yang berlainan perwatakan dan sikap hidup telah menyebabkan alur dramatik menjadi berkembang dalam beberapa struktur dramatik, hingga akhir cerita. Ketiga unsur tersebut tampak saling berkaitan satu sama lain. Tema cerita telah menginspirasi lahirnya tokoh-tokoh protagonis dan antagonis yang memiliki sikap dan perwatakan bertentangan satu sama lain. Selanjutnya, konflik tokoh-tokoh yang saling berbeda perwatakannya tersebut telah menyebabkan alur dramatik Waktu Batu menjadi berkembang.

Secara dramaturgis, relasi antara unsur plot, penokohan, dan tema telah membentuk lakon drama Waktu Batu menjadi karya drama yang menceminan adanya kesatuan dan keserasian antar unsur. Kesatuan antar unsur Waktu Batu dapat dibuktikan dengan relasi antar unsur membentuk suatu totalitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jadi, berbicara tema Waktu Batu tidak akan utuh tanpa mengkaitkannya dengan unsur plot dan penokohan. Begitu pula sebaliknya, yakni orang tidak dapat berbicara plot dan penokohan Waktu Batu tanpa mengkaitkannya dengan unsur tema. Sehingga relasi ketiga unsur tersebut cukup harmonis, karena tidak ada unsur yang lebih dominan satu sama lain. Tema drama Waktu Batu tidak berdiri sebagai unsur yang lebih dominan dibandingkan dengan penokohan dan plot cerita. Begitu pula sebaliknya, unsur penokohan maupun plot Waktu Batu tidak lebih dominan dibandingkan dengan yang lain. Ketiga unsur tersebut lebur menjadi satu membentuk sebuah kesatuan yang utuh dan padu dalam lakon seni pertunjukan Waktu Batu.*** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement