SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontributor
Beranda / Kontributor / Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.20)

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.20)

Replika Peta Indonesia dalam Box 3 dalam WB 3 (2004) Teater Garasi di-screenshoot untuk Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news//D.2. Wujud Tekstur Pertunjukan Lakon Waktu Batu. Sebagaimana diketahui bahwa unsur plot, tokoh dan tema merupakan unsur-unsur dari struktur drama. Dalam pertunjukan teater, struktur memiliki arti penting yang sama dengan tekstur. Kernodle mengatakan bahwa tekstur pertunjukan teater mencakup dialog, suasana dan spektakel (George Kernodle & Portia Kernodle,1978: 265). Dengan adanya tekstur, maka sebuah pertunjukan teater akan dapat dilihat dan didengar. Dalam hal ini, tekstur akan muncul pada saat naskah dimainkan di atas panggung, sehingga dialog akan menjadi teks tertulis yang terdengar, perwatakan tokoh akan menampakkan diri, wujud masalah akan akan teraba oleh kegiatan aktif menikmati pementasan (Bakdi Soemanto, 2001:42). Lebih jauh Kernodle mengatakan bahwa dalam teater tekstur diciptakan oleh bunyi-bunyi, citra-citra bahasa, dengan samar tetapi cukup bertenaga dalam mengendalikan suasana hati dengan bahan-bahan, warna, dan gerakan dari setting dan kostum (George Kernodle & Portia Kernodle,1978:271). Pada pertunjukan teater suasana hati dan tempo dapat menentukan percampuran beberapa unsur termasuk tontonan dan bahasa (dialog). Bagi manusia modern tempo memiliki peranan penting karena sangat diperlukan dalam pertunjukan seperti tari dan musik. Tanpa tempo maka gerakan tubuh akan menjadi kaku, kikuk dan tersentak-sentak.

Dalam konteks ini, dialog merupakan unsur penting dalam drama. Kernodle mengatakan bahwa plot, tokoh dan tema merupakan unsur-unsur dari sebuah struktur (George Kernodle & Portia Kernodle,1978: 271). Dikatakan lebih jauh oleh Kernodle bahwa struktur sama pentingnya dengan teksur yang terdiri dari dialog, suasana hati, dan spektakel. Begitu pentingnya peran dialog dalam drama, sehingga tanpa kehadirannya suatu karya sastra tidak dapat digolongkan ke dalam karya drama.

Umumnya drama memiliki bagian lain yang tidak jarang hadir, yaitu disebut “petunjuk pementasan” atau “petunjuk pengarang”. Petunjuk pementasan merupakan bagian drama yang memberikan penjelasan kepada pembaca atau krew pementasan –seperti sutradara, pemeran, penata teknis yang lain—mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan sifat tokoh cerita.

Dialog merupakan media ekspresi pengarang yang utama. Ketika naskah ditransformasikan ke atas panggung, keberadaan aktor, skeneri, cahaya dan unsur entas lainnya memperkuat ekspresi tersebut. Tekstur panggung diciptakan berdasarkan bunyi dan imaji bahasa, laku, kelembutan yang penuh enerji dari suasana, warna, seting dan busana. Dialog yang memuat bahasa ucap beserta spektakelnya memiliki kontribusi penting dalam terciptanya suasana. Dialog dapat dikatkan menjadi dasar suasana pertunjukan dan perubahan suasana adegan demi adegan. Setiap zaman memberikan fokus perhatian yang berbeda-beda dlam pertunjukan. Acapkali dialog, suasana dan spektakelnya. Aristoteles menyatakan bahwa spektakel merupakan nilai terakhir dalam puitika pertunjukan. Stanislavsky menyebut dengan inner action seorang aktor sebagai sumbangan tebesar sebuah pertunjukan ( Aristoteles, “Poetic” dalam Richard Levin, Tragedy:Plays,Theory, and Criticism, Harcourt Brace Jovanovich, Inc. :New York, 1960 dan Konstantin Stanislavski, My Life in Art, penerjemah Max Arifin, Pustaka Kayutangan: Malang, 2006: 246 dan 269).

Sebuah Renungan di Emperan Bale Tjarakan’ pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81

Pada analisis ini akan mengadopsi suatu pendekatan yang sistematik ke analisis dialog, dengan sasaran identifikasi karakteristik-karakteristik dan fungsi-fungsi utama dari cara-cara ketika dialog digunakan untuk menstrukturkan wacana dalam pertunjukan juga kehadiran suasana dan spektakelnya. Berikut ini adalah analisis tekstur pertunjukan lakon Waktu Batu yang meliputi : dialog, suasana dan spektakel berdasarkan pertunjukan lakon Waktu Batu , Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1).

Pertunjukan lakon WB 1 cukup bagus diapresiasi para penonton. Dipentaskan tiga hari berturut-turut, menempatkan sang waktu sebagai titik pertemuan tiga mitos yang berkembang di tanah Jawa, yakni Watugunung, Sudamala dan Murwakala. Ketiga jalinan peristiwa, Watugunung yang menguak bermulanya waktu, Sudamala tentang penantian Uma yang dijanjikan Siwa untuk diruwat dan Murwakala tentang kelahiran Kala, bencana-bencana dimunculkan Kala, serta ruwatan penolak bala menghindari bencana dari Kala dipertemukan dalam satu waktu, di ruang tunggu.
Pertunjukan lakon Waktu Batu versi pertama dilangsungkan di sebuah gedung yang menjadi bagian dari lingkungan Keraton Yogyakarta, yaitu di Sasono Hinggil Dwi Abad, 2-4 Juli 2002.

Gedung ini sudah lama ditinggalkan dan belakangan digunakan oleh beberapa kelompok seni beladiri sebagai tempat berlatih. Gedung itu sendiri adalah sebuah gedung dengan konsep ruang prosenium dimana panggung berhadapan tegak lurus dengan penonton. Konsep pertunjukan versi pertama itu membutuhkan ruang mirip teater arena, dimana penonton melingkari panggung pertunjukan. Di dalam Gedung Sasono Hinggil itu Teater Garasi kemudian membangun sebuah teater arena semi permanen untuk pertunjukannya.

Pertunjukan menggambarkan situasi artistik. Di sudut kanan belakang teronggok set kura-kura raksasa berwarna hijau yang tingginya dua kali rata-rata tubuh aktor pun tampak diam. Di panggung sebelah kiri teronggok perahu, dan di atap tergantung semacam bola dunia yang mirip bongkahan batu karang. Simbol visual kura-kura, yang inspirasinya diambil dari patung kura-kura Candi Sukuh yang menerangkan tentang waktu. Adapun pengadeganan pertunjukan sebagai berikut:
Prolog. Prolog atau pembuka pertunjukan mulai dengan suasana senyap, di layar tampak gambar-gambar tokoh cerita dengan teknik multimedia. Kemudian tokoh Seorang Perempuan dengan busana rok sampai lutut berdiri di sisi kiri disiram cahaya temaram merah ke kuning menyanyikan lagu pesisiran penuh penghayatan dengan suaranya yang begitu mendayu-dayu. “Hei, Penyu bermata biru/Berenang, renanglah kepadaku/Bawakan surut laut itu/Bawa aku bermain bersamamu/Ayo kawan, mari bersama-sama/Membuat taman bunga dan kupu-kupu/Sambil menari bersuka ria/Tuk hilangkan hati sedih selalu.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:59-60).
Perihal Kapal-Kapal Yang Datang dari Balik Laut. Kura-kura pun diterpa cahaya memerah. Beberapa tokoh bernama Seseorang gemetaran karena guncangan kapal-kapal itu. Dialog pun berlangsung dengan sangat jelas mencekam. Dialog antara tokoh berlangsung dengan nada tinggi. Gerak-gerik penuh gelonjatan karena kedatangan kapal yang besar bahkan mereka pun merasa akan kalah. Tokoh Seorang ibu yang berteriak memanggil anaknya mengenakan pakaian putih kepalanya berhiasan bunga, tangan menuding pun berdialog penuh ketakutan dengan suara yang bergema. Ketakutan, kecemasan semakin menjadi-jadi. Para prajurit diatas perahu mengingkatkan Watugunung (Kusworo Bayu Aji) karena “kapal-kapal itu segera merapat”. Terjadinya Kala. Terjadinya Durga. Spektakel bunyi musik mengalun, petikan dawai ala padang pasir menghantar ke adegan Terjadinya Kala. Terjadinya Durga. Para pemeran bergerak-gerik tubuhnya dengan unik mengisi ruang. Tokoh Uma (Sri Qadariatin) berjalan menuju tokoh Siwa (Jamalludin Latif) di dalam perahu. Siwa mengangkat tubuh Uma masuk ke perahu. Uma naik ujung perahu. Tokoh seorang lelaki sebagai Narator (Theodorus Cristanto) mengkisahkan percintaan Uma dan Siwa kepada para hadirin.Di atas perahu Dewi Uma bagaikan betina menarik pejantan.

Dewa Siwa pun kerasukan. Siwa pun semakin bergairah. Uma berlari terus dikejar Siwa. Siwa pun tetap mengejar sampai ketangkap. Siwa memperkosa Uma. Uma memberontak, berubah murka. Siwa terus memaksa Uma. Musik begitu menderu dengan nada tinggi. Uma pun mengerang dengan suaranya yang berat. Siwa membenamkan wajah kekasihnya ke dalam rawa. Uma yang telah berubah Durga menyeruak. Menemukan tubuhnya tak lagi di sana, ia meraung. Siwa yang berubah Kala.

Pemandangan Alam Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur

Menyeruak dari kedalaman rawa-rawa. Irama musikalitas ‘dung-dung’ memberi kesan cepat bersamaan dengan lahirnya Kala.Tokoh Kala (Jamaluddin Latif) tiada berbaju, dada terbuka celana putih. Kala berdiri dengan satu kaki, tangan kanan telapak rapat menunjuk ke atas dan tangan kiri telapak rapat menunjuk lurus ke depan.. Suara perempuan menyanyikan lagu pesisiran mengalun merdu.Uma tertegun. Ia menemukan dirinya, terbelah, saling memunggungi, saling tak mengenali. Dirinya adalah Durga (Erytrina Baskorowati) dan Kali (Sri Qadariatin).

Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik. Sosok seorang ibu bernama Sinta (Citra Pertiwi) sedang mengaduk nasi dalam dandang, belanga besar tempat menanak nasi model Jawa. Tiga bocah berperawakan kurus. Satu bocah bercelana pendek di kepalanya mengenakan mahkota bernama Watugunung Kecil (Andreas Ari Dwianto). Bocah-bocah membawa piring seng. Sinta yang lain (Naomi Srikandi) membawa belanga kecil dan memainkan enthong besar mengisi ruang permainan. Watugunung Kecil bersama Bocah-bocah tak diberi makan, mereka memukul-mukulkan piring seng ke lantai Sinta dan Sinta Yang Lain hilang sabar dan marah. Keduanya mengangkat enthong tinggi-tinggi Bocah-bocah kena pukul enthong, terpental. Watugunung Kecil pun terluka di kepala. Sinta dan Sinta Yang Lain berdiri kaku dengan tatapan melayang jauh dan tiada disadarinya ketika kesabarannya diganti amarah. Anak-anaknya menjadi korban. Sinta dan Sinta Yang Lain melihat luka. Watugunung Kecil bangkit memegangi kepalanya yang luka berdarah dan berlari berubah jadi Kura-kura.
Pemukulan Ketel. Suasana senyap proses pergantian adegan menuju adegan Pemukulan Ketel. Pemeran bagaikan luruh. Seorang lelaki dada terbuka, celana panjang putih sebagai Narator (Theodorus Chistanto) menghadap ke penonton bercerita. Tokoh Sinta Yang Lain (Naomi Sri Kandi) memakai baju warna hitam, rambut terurai membawa enthong besar dan duduk di bibir perahu. Ia bercermin di enthong, sebagai hand properti yang difungsikan sebagai cermin. Sinta yang terus memegang ethong terus berbicara dengan sangat perih. Musik bergeremang dan lengkingan. Pada penggal dialog “Apakah kau yang kucari untuk menebusku?” Sinta yang berdiri ditelusupi seorang lelaki dan dipunji dipundaknya. Sinta membawa enthong seakan melayang diketinggian dibawa jalan mengelilingi arena permaian. Watugunung berjalan kaku bagai zombie. Pemeran-pemeran lainnya diam statis sambil memukul- mukul pipi sendiri.

Kostum Kala, kaos coklat ornament kobaran api,
rias wajah diganti topeng hidung panjang dalam WB 3 (2004). page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku. Kala (Jamaluddin Latif) dada terbuka, celana panjang warna putih berdiri tegak dengan satu kaki kanan, tangan kanan diangkat tinggi keatas, kaki kiri ditekuk dan tangan kiri menyilang di depan perut. Suara musik perkusi ‘tharr’ terus bergetar. Pada adegan ini bahasa verbal Kala menguasai Watugunung (Kusworo Bayu Aji) yang lebih banyak dengan bahasa gerak. Cahaya pun begitu kuat menyorot Watugunung menggambar dan menggambar ‘batu’, ‘entah’. Watugunung kesakitan memegangi kepalanya.
Penemuan Luka Yang Membekas Nganga di Kepala. Penemuan Luka Yang Membekas Nganga di Kepala atau Amnesia-Amnesia. Tokoh-tokoh bergerak lambat. Suara musik irama padang pasir ditimpa bunyi melengking disusul senandung perempuan mendayu merdu. Tokoh-tokoh pun tetap bergerak lambat dilingkupi warna memerah. Sikap tubuhnya yang penuh kemarahan berguncang di atas perahu miring itu bahkan ketika penggal dialog “Tak ada lagi aturan apapun yang dipatuhi. Benda-benda, tidak. Manusia! Tidak.” Suara ketawa ‘wabah’ semakin keras bergema. Tubuh-tubuh kejang, meregang-regang. Sesaat sepi.Watugunung memegang kepalanya sambil membungkuk di atas perahu miring. Seseorang dalam perahu tampak mengejang kesakitan. Luka di kepala. Amnesia. Amnesia.

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.21.Akhir)

Di Ruang Tunggu. Sinta. Senandung perempuan menyanyi mengharu biru. Adegan pun usai. Musik pelan, bunyinya memantul-mantul di semesta. Adegan Di Ruang Tunggu Sinta pun mulai. Narator berbaju warna hijau, bertutup kepala hijau bagai dokter menuju area permainan, dari arah lain. Sinta pun muncul dalam duka. Penggal adegan Durga dan Kali menegangkan. Suaranya parau, cahaya panggung memerah. Musik perkusi gamelan berdentang. Kali memain-mainkan ‘kalanjana’ memuncak pada penggal dialog “Oooiii! Kalantaka!” muncullah raksasa Kalantaka dan dialog “Kalanjana” munculah raksasa Kalantaka. Ketika ‘kalanjana’ dikibaskan kedua raksasa pergi. Kali mengutuk Siwa.

Mengamuk di Jalan-Jalan. Adegan Mengamuk di Jalan-Jalan dimulai dari tokoh Kali yang mengucapkan dialog “Kalau mau makan cari saja di jalan!” Disusul beberapa pemeran roll depan, bagai batu bergelundungan. Kali lenyap di gelap malam. Cahaya panggung pun merah. Sinta dan Sinta Yang Lain berdiri. Di tangannya membawa ethong, mata keduanya tertutup kain hitam, tubuhnya berguncangan. Di latar panggung sorot multimedia dengan berbagai gambar orang-orang panik.

Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal. Adegan Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal bahkan overlaping dengan suara Sinta yang masih mengeja nama-nama dari adegan sebelumnya. Cahaya multimedia pun berkilatan. Orang-orang pun berdialog. “Seseorang: Kapal. Seseorang: Datang? Senyap Seseorang: Kapal itu masih tak bergerak?” Watugunung selalu dibayangi Kala. Pada akhirnya Watugunung meminta ”Panggilkan, sang pemasang matahari.’ Tangan menunjuk langit. Suara mesin melengking disusul keleneng gamelan.

Dongeng-Dongeng yang Tak Selesai-Selesai. Adegan dihantar irama keleneng gamelan. Watugunung berhadapan Kala di dekat batu. Keduanya melompat sambil menari gagah. Beradu kekuatan tangan dan keperkasaan, saling mendorong. Tiba-tiba suara terompet sebagai tanda peperangan. Keduanya ancang-ancang untuk saling menyerang. Kala kena pukul Watugunung terlempar ke bawah. Kala kembali menyerang Watugunung. Kala mencekal kepala Watugunung kemudian memutarnya. Bersamaan suara lonceng kepala Watugunung pun putus terlempar. Seorang perempuan menyerahkan kepada baru kepada Kala yang berdiri angkuh. Kala menerima potongan kepala. Seorang Ibu yang duduk diatas perahu menyanyi dan akhirnya berdialog. Kata Ibu dengan Anak “Ini hanya dongeng….”
Nama-Nama Diciptakan. Nama-Nama Yang Menunjuk Entah. Adegan ini akhir pertunjukan WB 1. Hujan turun membasahi Ibu. Suara gesekan biola semakin menambah sendu. Ketika Ibu mengucapkan akhir dialog “Watugunung.” Diantara kura-kura raksasa dengan perahu ada Lelaki duduk dengan pakain batik. Di hadapannya ada anglo, perangkat pembakar kemenyan. Ia merapal mantra. Suara pembacaan teks bahasa Belanda dengan suara rapal mantra seakan berlomba bahkan tumpang tindih (overlaping). Di latar panggung (background) berbagai gambar multimedia seperti orang berlari, gandala diputar terus-menerus. Musik pun sangat riuh dengan berbagai dentingan dawai gitar dan soundeffect. Pembacaan teks bahasa Belanda lebih dominan pada penggal “…Islamietische grrothanddelaars bevaren……” lampu panggung gelap. Pertunjukan selesai.
Pertunjukan lakon WB 1 secara keseluruhan memuat dialog, suasana dan spektakel yang memberi gambaran sebuah pemanggungan yang disajikan dengan stylization.103 Stylization atau stilisasi adalah gaya artifisial dan tidak realistik. Stilisasi memiliki ciri pemanggungan dengan konvensi representasi. Kernodle mengartikan presentasi sebagai gaya yang berusaha menghadirkan seluruh kenyataan keseharian diatas panggung apa adanya.
Konstruksi ruang sepanjang pertunjukan tidak terlalu banyak berubah.

Perubahan-perubahan ruang fisik hanya di tandai oleh perpindahan arah hadap perahu kayu. Perpindahan adegan yang semula diniatkan akan sangat didukung oleh permainan lampu walau kurang maksimal. Perpindahan itu kemudian lebih banyak mengandalkan permainan aktor. Para aktor membawakan karakter tokoh dengan nada, intonasi tidak keseharian seperti diucapkan dengan pembacaan puisi yang puitik (Narator, Sinta, Sinta Yang Lain, Syiwa, Uma), proyeksi suara agung (Watugunung), serak parau, melengking (Kali, Durga, Kala), bahkan gerak akting pun mekanik seperti robot atau tubuh bergetar.

Kejadian-kejadian berlangsung dengan padat, percakapan antar tokoh seperti selalu tidak sepenuhnya bercakap-cakap. Semua tokoh seperti sedang menyatakan dirinya dalam hubungan relasional yang tipis antara dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tempo pertunjukan berlangsung tinggi dan kejadian-kejadian terus berlangsung hampir bersamaan bahkan tumpang tindih (overlaping). Medan teks yang terbuka seperti sedang menyaran pada sesuatu, di panggung ada teks kedatangan kapal-kapal Barat, kutukan waktu, kegentingan di dalam istana, dan keguncangan di wilayah domestik: di kamar tidur, di dapur. Bangunan narasi secara keseluruhan berlangsung dalam fragmentasi dan paradoks.
Tekstur hadir dipanggung memberi kesan menjadi lebih stilisasi. Lebih dari itu, dialog, suasana, spektakel, perwatakan tokoh, adegan dsb. menghasilkan pertunjukan menjadi lebih hidup, dinamis dan menarik. Kehadiran aktor dengan totalitas bermain, unsur-unsur artistik: kura-kura raksasa, perahu, sorot multimedia, hand property: enthong, dandang, rumput kalanjana, anglo bahkan tata busana (kostum), tata rias (make-up) bernilai indah. Tata musik yang memadukan bunyi alat tradisional gamelan dan modern menjadikan pertunjukan tidak bersifat tunggal tetapi memberi keleluasaan penonton untuk menikmati pertunjukan lakon WB 1.

Setelah mengkaji pertunjukan lakon Waktu Batu (WB) khususnya Waktu Batu, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1) dengan teori dramaturgi yang meliputi struktur dan tekstur didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut: Wujud struktur pertunjukan lakon Waktu Batu dibangun atas alur, tokoh dan tema yang memiliki relasi sangat utuh dan padu. Secara dramaturgis, relasi antara unsur plot, penokohan, dan tema telah membentuk lakon drama Waktu Batu menjadi karya drama yang mencerminkan adanya kesatuan dan keserasian antar nilai dramatik. Kesatuan antar nilai dramatik Waktu Batu dapat dibuktikan dengan relasi antar unsur membentuk suatu totalitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Wujud struktur pertunjukan lakon Waktu Batu tidak akan utuh tanpa mengkaitkannya dengan plot, tokoh dan tema.

Wujud tekstur pertunjukan lakon WB mencakup dialog, suasana dan spektakel. Dialog dibangun para aktor membawakan karakter tokoh dengan nada, intonasi tidak keseharian seperti diucapkan dengan pembacaan puisi yang puitik bahkan gerak akting pun mekanik seperti robot atau tubuh bergetar. Perubahan ruang fisik hanya di tandai oleh perpindahan arah hadap perahu kayu. Tempo pertunjukan berlangsung tinggi dan kejadian-kejadian terus berlangsung hampir bersamaan bahkan tumpang tindih.

Wujud tekstur menghasilkan pertunjukan menjadi lebih hidup, dinamis dan menarik. Kehadiran aktor dengan totalitas bermain, unsur-unsur artistik: kura-kura raksasa, perahu, sorot multimedia, hand property: enthong, dandang, rumput kalanjana, anglo bahkan tata busana (kostum), tat arias (make-up) bernilai indah. Tata musik yang memadukan bunyi alat tradisional gamelan dan modern menjadikan pertunjukan tidak bersifat tunggal tetapi memberi keleluasaan penonton untuk menikmati pertunjukan lakon WB 1.
Wujud struktur yang terdiri plot, penokohan dan tema; wujud tektur: dialog, mood dan spektakel pertunjukan lakon WB TGY, membangun dramaturgi eklektika. Dramaturgi eklektika TGY merupakan dramaturgi hasil pemilihan yang terbaik dari berbagai sumber dalam mencipta pertunjukan. Pada khazanah teater kontemporer Indonesia sebuah upaya TGY mencipta pertunjukan lakon WB bersumber dari mitos Jawa: Sudamala, Murwakala dan Watugunung dan sejarah akhir Majapahit merupakan pilihan terbaiknya dan menjadi presentasi estetik yang dapat dinikmati penonton. TGY sebagai kelompok mampu bertahan hidup lebih 20 tahun. Kenyataannya di Indonesia tidak banyak kelompok teater kontemporer yang mampu bertahan hidup cukup lama. Setiap pementasan TGY selalu diminati penonton sebagaimana pertunjukan lakon WB.

Seni teater kontemporer sebagai salah satu bentuk karya seni manusia merupakan seni yang dihasilkan oleh banyak orang. Oleh karena itu seni teater kontemporer ini mempunyai organisasi yang menyatukan anggota-anggota yang terlibat di dalamnya. Organisasi atau kelompok seni teater kontemporer tersebut mempunyai output berupa pertunjukan seni teater yang dihasilkan oleh anggota-anggotanya. Pertunjukan seni teater yang dihasilkan itu mempunyai ciri khas yang berbeda antara kelompok seni teater kontemporer satu dengan lainnya. Ciri khas yang terdapat pada setiap bentuk pertunjukan dari kelompok seni teater kontemporer itu mendapat pengaruh dari kondisi di mana kelompok seni teater tersebut berada.

Seni pertunjukan sebagai suatu disiplin keilmuan memiliki keterkaitan yang signifikan dengan lingkungannya terutama kota Yogyakarta. Pertunjukan lakon Waktu Batu oleh Teater Garasi tidak dapat dilepaskan dari ruang dan waktu sebagai ciri khasnya yang tidak dapat dihilangkan. Teater Garasi merupakan laboratorium. Teater Garasi sebagai kelompok teater kontemporer merupakan organisasi yang menghasilkan karya estetis, hal inimerupakan satu kesatuan organik yang tidak terpisahkan.
Teater Garasi tidak dapat dipisahkan dari kota Yogyakarta karena kelahiran dan tumbuhnya di Yogyakarta.

Banyaknya predikat yang disandang oleh Yogyakarta, menjadikan semakin signifikan. Yogyakarta pun mendapat predikat sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Predikat yang banyak dimiliki kota Yogyakarta tersebut terutama predikat sebagai kota kebudayaan, menunjukkan banyaknya seni dan budaya di dalamnya. Begitu pula dengan predikat-predikat lain yang diberikan pada kota ini, membuka keragaman budaya karena semua etnis berbaur dan berinteraksi di sini. Oleh karena itu Yogyakarta terbuka dengan berbagai nilai budaya dari wilayah lain.
Kondisi Yogyakarta yang sangat terbuka dengan keragaman budaya juga mempengaruhi perkembangan perteateran di Yogyakarta. Hal itu terlihat dari beraneka ragamnya corak pertunjukan dalam seni teater yang ada di kota ini. Beraneka ragamnya corak pertunjukan seni teater kontemporer di Yogyakarta itu membuat kota wisata ini disegani dan diakui oleh kota-kota lainnya.

Terjadinya Kala (Jamaludin) panggung
didominasi tata cahaya warna merah pada WB 3 (2004).page 10.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Perkembangan Teater Garasi yang dalam kenyataannya terus mengalami peningkatan dalam proses penciptaan teaternya dan juga mampu memberikan suatu bentuk apresiasi yang berbeda dalam setiap pertunjukan sehingga memberikan warna tersendiri pada perkembangan seni teater kontemporer di Yogyakarta pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Mengamati signifikansi pertunjukan lakon Waktu Batu dalam kehidupan teater kontemporer di Yogyakarta secara nyata memiliki fungsi sebagai presentasi estetis. Hal tersebut diperkuat bahwa kreativitas Teater Garasi dalam setiap pertunjukannya selalu mengutamakan nilai artistik. Kemudian dalam menghasilkan karya seni pertunjukan memerlukan biaya yang besar karena konsekuensi dari ciri seni kolektif.
Teater Garasi secara organisatoris menjadi teater independen, tidak berafiliasi dengan lembaga lain. Teater Garasi telah memiliki visi dan misi organisasi. Visi ini penting sebagai kemampuan dalam rangka membayangkan organisasi tersebut untuk jangka ke depan. Visi adalah pernyataan cita-cita, keinganan, atau harapan dari para pendiri, pemimpin dan anggota organisasi mengenai bentuk dan karakteristik organisasi di masa depan. Visi akan mengarahakan atau menjadi peetunjuk jalan bagi organisasi di masa yang akan datang.

Pertunjukan lakon Waktu Batu Teater Garasi merupakan presentasi estetis. Secara garis besar seni pertunjukan memiliki tiga fungsi primer, yaitu (1) sebagai sarana ritual, (2) sebagai ungkapan pribadi yang pada umumnya berupa hiburan pribadi, dan (3) sebagai presentasi estetis.104 Pembagian fungsi ini berdasarkan atas ’siapa’ yang menjadi penikmat seni pertunjukan itu. Fungsi sarana ritual bila penikmatnya adalah kekuatan-kekuatan yang tak kasat mata seperti misalnya dewa atau nenek moyang. Fungsi sebagai sarana hiburan pribadi apabila penikmatnya adalah pelakunya sendiri seperti misalnya seorang pengibing pada pertunjukan tayub, ketuk tilu, topeng banjet, doger kontak, bajidoran, dan disko. Fungsi sebagai presentasi estetis jika penikmat seni pertunjukan itu adalah penonton yang kebanyakan harus membayar.

Signifikansi pilihan metode kreatif menjadikan Teater Garasi memposisikan diri sebagai ‘laboratorium penciptaan teater’, yakni tempat membedah, melihat, mencatat, mencapuradukkan, mengurasi hal-hal lama baru. Segala aktivitas Teater Garasi diawali dengan tiga hal. Pertama, riset-ekplorasi, baik gagasan maupun bentuk. Kedua, dokumentasi, baik tertulis, tercetak, terekam, dan lisan. Ketiga, penciptaan, publikasi dan penonton. Berangkat dari aktivitas yang terenacana maka program-program Teater Garasi memiliki tiga (3) wilayah : 1. Penciptaan Teater, 2. Pengkajian Teater, dan 3. Pengembangan. Hal ini mengantar Teater Garasi lebih mandiri. Pilihan metode kreatif model ’laboratorium’ pada kancah kehidupan teater kontemporer di Yogyakarta rupanya mendapat respons bagus dari penonton. Bahkan beberapa kelompok teater mengikuti jejak Teater Garasi dalam berkreasi seni teater kontemporer.
Dengan demikian situasi seni teater kontemporer rupanya terus bergerak dinamis dan berkembang sesuai dengan situasi zamannya. Karya cipta seni teater hadir berkat kegigihan para insan-insan kreatif yang masih mau bergulat didalamnya. Sebagai ekspresi seni, teater kontemporer acapkali mencerminkan situasi masyarakat sekitarnya. Ia merupakan tanda dan jejak batin masyarakat yang dituangkan dalam bentuk karya seni yang sangat istimewa secara kolektif. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement