SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontributor
Beranda / Kontributor / Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu (Bag.18)

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu (Bag.18)

Tata artistik lampu lampion runcing (atas) dan kotak-kotak (bawah) menyala hasil kreasi Andi Senaji dan Jompet dalam WB 3 (2004) Teater Garasi di-screenshoot untuk Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1. (Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news// D. Wujud Pertunjukan Lakon Waktu Batu. Teater kontemporer merupakan sebuah istilah yang cukup dikenal dalam dunia seni kontemporer. Seni kontemporer sebagai bagian dari pelafalan konsep kontemporer, selalu membebaskan diri dari kemacetan pada satu nilai yang semula disangka sebagai sumber segalanya, padahal segala sesuatu itu ternyata sudah bergeser dan menjungkir balik segala-galanya. Karena semua tak tercegah, tak dapat disekap dari hukum kehidupan, untuk selalu bergerak mengikuti waktu, ruang serta kembang-kempis alam pikiran yang tak henti-hentinya, yang tak takut oleh apa pun untuk terus tumbuh.

Pertumbuhan yang abadi. Ketika kehidupan diupayakan oleh manusia untuk hadir lebih baik, mendarat lebih lentur, lebih berarti dan lebih menghayat, segalanya juga ikut bergulir (Putu Wijaya, “Kontemporer”, dalam SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan, BP ISI Yogyakarta: Yogyakarta, IV/01 Januari 1994:2).
Pertunjukan Indonesia kontemporer, sebagai bagian dari seni Indonesia kontemporer, adalah anak dari konsep kontemporer. Segala tontonan yang mengandung arti, misi, gebrakan bahkan cukup percobaan, untuk membebaskan diri dari kungkungan waktu, tempat, situasi. Karenanya, pertunjukan kontemporer bukan hanya tontonan yang diciptakan dan dilaksanakan oleh manusia masa kini, tetapi harus tidak boleh kurang dari pertunjukan yang mencerminkan cita-rasa pembebasan. Wujudnya bisa pertunjukan eksperimental yang merupakan usaha untuk pencarian-pencarian idiom dan bahasa pengucapan yang baru atau segar. Dapat berwujud pertunjukan yang sudah diterima oleh masyarakat, namun memberikan nuansa yang baru atau lain atau lebih segar dari sebelumnya (Putu Wijaya, IV/01 Januari 1994: 3).

Bakdi Soemanto berpendapat bahwa bahwa teater kontemporer memiliki pemahaman sebagai berikut: 1. Pementasan teater yang menggunakan dialog dan pengadeganan (mis en scene) ceritanya; 2. Pementasan teater yang dialog-dialognya menggunakan bahasa Indonesia; 3. Pementasan teater yang idiom dan gagasan pemanggungannya bersentuhan dengan konvensi dan gagasan teater Barat; 4. Peristiwa atau event tertentu yang dipersepsi publik sebagai peristiwa teater. Misalnya kasus pementasan nomor-nomor pendek improvisatoris yang diciptakan Rendra dan Bengkel Teater-nya (1967-1970-an) yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) dalam drama-drama realisme tetapi berangkat dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema (Bakdi Soemanto, et.al., Kepingan Riwayat Teater Kontemporer di Yogyakara, Laporan Penelitian Existing Documentation dalam Perkembangan Teater Kontemporer di Yogyakarta Periode 1950-1990, Kalangan Anak Zaman, Pustaka Pelajar dan The Ford Foundation: Yogyakarta, 2004: 11).
Wujud artinya rupa dan bentuk yang dapat di raba (Hasan Alwi, dkk.,.Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Balai Pustaka: Jakarta, 2005:1275).

Sebuah benda seni harus memiliki wujud agar dapat diterima secara inderawi (dilihat, didengar, atau didengar dan dilihat) oleh orang lain. Dalam mewujudkan benda seninya, seorang seniman memperlakukan unsur-unsur bentuk seni dalam caranya yang unik dan asli (Jakob Sumardjo, Filsafat Seni. Penerbit, ITB: Bandung.2000:115). Wujud merupakan penuangan ide kreatif dengan muatan nilai-nilai, dankompleksitas dasarnya. Wujud pertunjukan teatrikal merupakan hasil pilihan seniman merancang wujud panggung, memilih materi artistik, dan menentukan aktor pendukung pertunjukan serta mempengaruhi citarasa penonton.

Sebuah Renungan di Emperan Bale Tjarakan’ pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81

Pada kajian wujud ini adapun yang dikaji meliputi naskah dan pertunjukan lakon Waktu Batu. Seperti diisyaratkan dalam teori dramaturgi George Kernodle dan Portia Kernodle bahwa pertunjukan teater memiliki struktur: plot, penokohan dan tema; dan tekstur: dialog, suasana dan spektakel (George Kernodle & Portia Kernodle, Invitation to the Theatre, Brief Second Edition, Harcourt Brace Javanovich, Inc.: New York, 1978:265). Pada saat menganalisis wujud struktur dan tekstur pertunjukan lakon Waktu Batu : WB 1 (2002),WB 2 (2003), dan WB 3 (2004) akan menjadi penting.

Dramaturgi model Kernodle menyatakan bahwa ada enam kemungkinan nilai-nilai dramatik yang dapat membantu dalam rangka menyusun kesatuan wujud karya teater. Keenam nilai dramatik tersebut mencakup plot, tokoh, tema, dialog, suasana dan spektakel. Ketiga unsur yang pertama adalah struktur, sedangkan ketiga berikutnya disebut sebagai tekstur (George Kernodle & Portia Kernodle, 1978:265). Lebih jauh dikatakan oleh Kernodle bahwa struktur adalah bentuk dari drama sebelum dipentaskan, sedangkan tekstur merupakan segala sesuatu yang secara langsung dapat dilihat, didengar, dan dirasakan sebagai mood (suasana) melalui keseluruhan pengalaman visual dan aural.

Drama dalam khasanah seni budaya termasuk salah satu jenis (genre) karya seni sastra di samping novel, puisi, dan cerpen. Drama beda dengan Novel, drama dimaksudkan untuk dibawa ke pentas, novel untuk dibaca. Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa drama memang dekat sekali dengan fiksi; beberapa pengertian seperti alur, tema, latar, penokohan, dan konflik bisa dikenakan pada keduanya. Hanya dalam pementasan tokoh dan peristiwa menjelma “betul-betul”. Dengan kata lain, sutradara dan pemain telah mengunyahkan drama tersebut untuk penonton. Sedang kalau hanya dibaca imajinasi lah yang menentukan (Sapardi Djoko Damono, Drama Indonesia Beberapa Catatan, Editum: Ciputat, 2009: 4).

D.1. Wujud Struktur Lakon Waktu Batu. 1. Alur. Alur atau plot adalah susunan kejadian. Suatu laku yang terjadi pada saat ini, tetapi akan berakhir di suatu saat nanti. Intensitas drama dan konflik terletak pada plot. Intensitas drama terletak pada plot, berkembang secara bertahap. Di dalam pandangan Aristoteles laku atau tindakan lebih penting daripada karakter. Efek tragedi dihasilkan oleh plot (George Kernodle & Portia Kernodle, 1978:266).

Pemandangan Alam Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur

Mixer sebagai property Sinta menyiapkan
makan anaknya Watugunung muda dalam WB 3 (2004). page 3.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Pola plot yang mengikuti struktur Aristoteles disebut plot erat atau biasa disebut plot linear, yakni cerita terdiri dari lima bagian: (1) pemaparan (eksposisi), (2) perumitan (komplikasi), (3) klimaks, (4) peleraian (antiklimaks), dan (5) penyelesaian. (George Kernodle & Portia Kernodle, 1978:267). Selain plot erat ada pula plot longgar atau sering disebut plot melingkar, yaitu plot kebalikan dari plot erat, di mana peristiwa demi peristiwa, kejadian demi kejadian berlangsung tidak berdasarkan kausalitas (sebab-akibat), melainkan didalamnya dapat disela dengan kejadian-kejadian yang tidak berkaitan langsung dengan kejadian utama dan karakter utama (Imran T. Abdullah, dkk., “Memahami Drama Putu Wijaya: Aduh”, Laporan Penelitian untuk Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta, Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta, 1978: 2.). Plot merupakan struktur keseluruhan sebuah naskah drama maka jika dibuat skema wujud perjalanan plot Aristotelian mulai dari awal, tengah dan akhir cerita.

Konstruksi plot yang dikemukakan Aristoteles dalam rangka deskripsi tragedi-tragedi Yunani terdiri atas tiga babak: bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Drama-drama klasik secara umum menunjukkan struktur plot yang mengandung ketiga bagian itu. Namun demikian ada pula drama yang konstruksi plotnya tidak konvensional sebagaimana terdapat dalam struktur plot drama-drama klasik yang terdiri lima babak. Drama Waiting for Godot karya Samuel Becket ditulis dalam dua babak. Samuel Becket membuat pencerminan siklus, suatu paralelisme struktural yang tak memajukan konflik cerita, sehingga bagi yang biasa dengan drama-drama konvesional akan sulit mengindentifikasi struktur dramatiknya. Dalam karya Becket ini tampak ada usaha menggunakan pola plot lama sebagai dasar penciptaan pola yang baru. Jika drama dipahami sesuatu yang terjadi, yang dikerjakan, dan merupakan suatu aksi, sedangkan alur adalah pola aksi yang hidup. Drama Waiting for Godot tidak mempunyai alur, yang disajikan dalam teks adalah dilemma (Bakdi Soemanto, Godot di Amerika dan Indonesia Suatu Studi Banding, Gramedia : Jakarta, 2002:15).

Hubungan dengan pertunjukan teater, Kernodle mengatakan bahwa plot merupakan penyusunan insiden-insiden yang terjadi di atas panggung (George Kernodle & Portia Kernodle, 1978:266). Lebih jauh Kernodle menjelaskan bahwa dalam menyusun rencana dasar struktur drama, seorang sutradara seringkali secara sadar membagi drama menjadi bagian-bagian dan tangga dramatik yang berupa pembukaan (eksposisi), ketegangan cerita mulai menanjak sehingga memunculkan komplikasi-komplikasi, klimaks, dan resolusi (George Kernodle & Portia Kernodle, 1978: 267).

Naskah lakon WB (2004) alurnya meliputi: Prolog atau pembuka, eksposisi atau pemaparan mulai dari bagian 1. Kecemasan di Tepian Pantai dan bagian 2. Terjadinya Kala. Terjadinya Durga. Komplikasi atau perumitan atau ketegangan yakni komplikasi tahap pertama pada bagian 3. Anakku Dua Puluh Tujuh. Dua Puluh Delapan dengan Suamiku, dan bagian 4. Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik , dan komplikasi tahap kedua pada bagian 5. Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku, dan bagian 6. Saat itu adalah Suatu Masa Ketika Usia Telah Dinamai. Berlanjut pada situasi krisis, krisis tahap pertama pada bagian 7. Amnesia, Amnesia dan bagian 8. Di Ruang Tunggu Sinta dilanjutkan krisis bagian kedua pada bagian 9. Mengamuk di jalan-jalan dan bagian 10. Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal. Klimak pada bagian 11. Peperangan dan Dongeng-Dongeng yang Tak Selesai-Selesai dan penutup pada Epilog.

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.21.Akhir)

Kereta dorong property Ibu-ibu berbelanja
dalam pertunjukan lakon WB 3 (2004). page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Alur yang fragmentaris membuat keseluruhan cerita lakon Waktu Batu lebih mementingkan suasana yang tercipta dan kegentingan waktu. Alur cerita tidak konvensional, konflik-krisis-klimaks dan penyelesaian. Alur disusun dari fragmen ke fragmen dengan bebas menjaga jalan cerita agar yang membaca, menikmati tetap bertahan mengikuti kisah-kisah dramatiknya.

Berdasarkan analisis plot WB, diketahui bahwa lakon ini memiliki jenis plot longgar atau sering disebut plot melingkar, yaitu plot kebalikan dari plot erat, di mana peristiwa demi peristiwa, kejadian demi kejadian berlangsung tidak berdasarkan kausalitas (sebab-akibat), melainkan didalamnya dapat disela dengan kejadian-kejadian yang tidak berkaitan langsung dengan kejadian utama dan karakter utama. Hal itu tampak jelas pada plot atau alur lakon WB.

2. Tokoh. Karakter seringkali disebut sebagai tokoh cerita. Selain sebagai materi utama untuk menciptakan plot, karakter juga merupakan sumber action dan percakapan (Bakdi Soemanto, Jagat Teater, Media Pressindo: Yogyakarta, 2001:21). Penokohan adalah suatu proses penampilan tokoh sebagai pembawa peran watak dalam karya naratif yang bersifat menjelaskan seperti novel, drama, film. Penokohan dalam drama selalu berkaitan dengan penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh.

Penciptaan citra berhubungan dengan sosok pribadi yang ada pada seorang tokoh, sedangkan penyajian watak berhubungan dengan pengungkapan sosok pribadi itu (Panuti Sudjiman,Kamus Istilah Sastra, Gramedia:Jakarta,1988:23).
Kernodle mengatakan bahwa dalam sebuah karya drama plot adalah apa yang terjadi, sedangkan karakter (tokoh) adalah mengapa sebuah tindakan terjadi (George Kernodle & Portia Kernodle,1978 : 267). Lebih mendalam Kernodle mengatakan tokoh-tokoh bawahan seringkali juga dapat memberikan keragaman dan vitalitas sebuah drama, seperti aktor-aktor dapat menemukan suatu kepribadian yang berbeda dan sebuah makna dari dalam. Cara seorang tokoh berkembang dan berubah dapat menjadi tindakan utama dalam sebuah karya drama. Kenyataannya, perkembangan, penemuan diri, pembelajaran, dan perubahan seorang tokoh dapat menjadi menarik untuk ditonton dan sangat dramatis (George Kernodle & Portia Kernodle,1978:269).
Rene Wellek dan Austin Warren menyebut ada dua tipe watak dalam cerita rekaan, yaitu flat characterization atau watak datar atau statis dan round characterization atau watak bulat atau dinamis (Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusasteraan, PT. Gramedia Jakarta, 1995: 288). Penokohan datar menampilkan satu kecenderungan yang dianggap dominan atau kecenderungan yang paling jelas secara sosial. Watak datar ini memungkinkan seorang pelaku hanya memiliki satu watak tunggal saja yang bisa dikemukakan secara garis besar tanpa uraian terperinci sehingga cukup sederhana dan dapat dideskripsikan dalam satu kalimat atau satu frase.

Penokohan bulat (round characterization) cocok untuk tokoh-tokoh yang penting sudut pandangnya dan biasanya digabungkan dengan penokohan datar bagi tokoh-tokoh bawahan (Rene Wellek dan Austin Warren, 1995:288-289). Sejumlah pendapat dan uraian yang berkaitan dengan keberadaan tokoh dan perwatakan tokoh cerita di atas antara yang satu dengan yang lain saling mendukung dan saling melengkapi.
Pada lakon Waktu Batu didapatkan 36 tokoh: 1). Watugunung (dewasa), 2). Watugunung kecil, 3). Watugunung dan Watugunung yang lain, 4)Kala, 5). Siwa, 6). Durga, 7). Kali, 8). Durga dan Kali, 9). Uma, 10). Sinta, 11). Sinta yang lain, 12). Sinta dan Sinta yang lain, 13). Prajurit, 14). Kalanjana, 15). Kalantaka, 16). Ibu, 17). Para ibu yang berteriak memanggil anaknya, 18). Anak, 19). Seseorang, 20). Seorang lelaki bersayap lebar, 21). Seorang lelaki berkepala dandang, 22). Seorang Perempuan, 23). Lelaki yang duduk di sudut, 24). Bocah, 25). Bocah-bocah, 26). Suara, 27). Suara Perempuan dari dalam rumah yang ditinggalkan Daendles, 28). Orang-orang, 29). Jaka Budug/Budug, 30). Bathara Guru, 31). Sadewa, 32). Sudamala, 33). Gandari, 34). Sitawaka, 35). Wisnu, 36). Seorang ibu yang berteriak memanggil anaknya.
Diketahui jenis penokohannya, semua tokoh lakon Waktu Batu memiliki perwatakan datar (flat character).

Sehingga tokoh-tokoh tersebut hanya memiliki satu jenis watak sepanjang cerita misalnya perwatakan baik atau buruk saja. Karena hanya memiliki satu jenis perwatakan, maka tidak mengherankan apabila para tokoh tidak menunjukkan perkembangan watak yang signifikan. Tampak dalam kontras-kontras penokohan lakon Waktu Batu. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement