SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontributor
Beranda / Kontributor / Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.17)

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.17)

Tata cahaya biru muda, robot Kura-Kura berkepala manusia
dinaiki seorang Ibu pada WB 3 (2004) Teater Garasi Yogyakarta
di-screenshoot untuk Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news// C.3. Tata Artistik “Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu”(WB 3). Pertunjukan WB 3 adegannya meliputi, Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Anakku Dua Puluh Tujuh. Dua Puluh Delapan dengan Suamiku; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Amnesia, Amnesia; Di Ruang Tunggu. Sinta; Kala Memakan Rembulan; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal.

a. Set Panggung dan Pencahayaan. Pertunjukan dimulai dengan adegan Terjadinya Kala. Terjadinya Durga. Panggung procenium, pembukaan suara Gong bergelegar. Panggung penuh cahaya biru. Ditengah belakang ‘robot kura-kura berkepala manusia’ dinaiki seorang Ibu. Seorang Perempuan berpakaian warna kuning jalan menuju bagian kiri depan menyanyi. Panggung didominasi cahaya biru, Siwa memaksa bercinta dengan Uma di rawa-rawa. Alam bergolak menggelegak. Kala akan segera terjadi.

Mencermati set panggung dan pencahayaan pertunjukan lakon WB 3, tertangkap unsur teknologi dari mesin-mesin menjadi bagian penting. Pada adegan terjadinya Kala terjadinya Durga, awal peristiwa sudah muncul, robot kura-kura berkepala manusia yang dapat dikendalikan dari jarak jauh memakai radio-control.

Selanjutnya ada manakin perempuan (di bawah), manakin pria (di atas) digerakkan mesin, menjadi latar belakang kisah Siwa dan Uma bercinta hal ini memperkuat arti penting Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu. Kemudian disusul imaji visual kereta api dan pesawat terbang garapan Warsito (pewujud visual) yang menunjukkan majunya teknologi transportasi di kehidupan kini.

Sebuah Renungan di Emperan Bale Tjarakan’ pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81

Pertunjukan lakon WB 3 semakin kuat penyajian teknologi dengan dipasangnya lampu-lampu lampion mirip batu-batu stalagtit-stalagmit dalam gua-gua dengan warna neon yang sangat runcing.

Tata artistik imaji visual kereta api,
garapan Warsito (pewujud visual) dalam WB 3 (2004). page 2.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Pada adegan kunjungan terakhir ke wilayah domestik, peralatan rumah tangga seperti: mixer, hairdriyer, kereta dorong belanja, menjadi property aktris sekalian menampilkan ekspresi teknologi mesin yang sudah merasuki wilayah keluarga dan masyarakat.
Pada pertunjukan lakon WB 3, set dekorasi menampilkan alat-alat dengan teknologi modern degan serius. Replika lokomotif kereta api melintas dengan tenaga elektronik. Lokomotif hitam mungil ini memiliki nilai tata artistik panggung yang mobile karena menjadi lebih hidup dengan bergeraknya lokomotif memutar-mutar di ruang tunggu sebuah stasiun.
Replika peta Indonesia pun terpampang dengan menawan. Ada tiga panel box yang menyala di dalamnya dapat ditempati aktor-aktris untuk berakting. Ketika ketiga box disatukan dan lampu menyala dapat terlihat peta Indonesia itu. Replika peta ini seakan mengingatkan Indonesia seperti terbagi atas tiga wilayah: Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), Waktu Indonesia bagaian Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia bagian Timur (WIT). Tata artistik panggung memiliki nilai lebih karena memanjakan mata penonton untuk menikmati warna-warni dalam pertunjukan lakon WB 3.

b. Busana dan Rias (kostum dan make-up). Pada pertunjukan lakon WB 3 dilakukan beberapa modifikasi kostum, tidak lagi klasik (WB 1) dan psikologis fashion (WB 2). Retno Damayanti (desain kostum) dibantu oleh Abraham Puspo dan Didit Saptadi, pada versi 3 ini lebih menciptakan tata busana yang casual dan modern. Pada versi 3 lebih menampikan kemajuan teknologi dan serba mesin maka visualisasi kostum menyesuaikan. Tata busana (kostum) Kala mengenakan kaos coklat, ornamen kobaran api merah tua. Tata rias wajah tidak seperti WB 1 dan WB 2 tetapi mengenakan topeng warna metalik, hidung panjang, wig warna merah. Tokoh Watugunung divisualkan casual dan modern. Kemeja lengan panjang warna putih, kaos hitam, celana hitam dan mengenakan topi laken.

Pemandangan Alam Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur

Kostum Watugunung, kemeja panjang putih, kaos hitam,
celana panjang hitam dan topi laken dalam WB 3 (2004). page 3.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

c. Ilustrasi Musik. Pada pertunjukan lakon WB 3, musik dan soundscape oleh Melancholic Bitch. Melancholic Bitch merupakan proyek musik WB 3, terdiri dari Yosi Herman Susilo (soundscape, gitar), Yennu Ariendra (program, gitar), Ugoran Prasad (lirik), Teguh Hari Prasetya (bass), dan Septian Dwirimai (drum). Musik mampu menghidupkan nuansa setiap adegan dan dinamis bahkan begitu populis.
d. Property dan Hand Property. Property dipanggung meliputi: box dengan lampu (3 buah). Kemudian hand property: dandang kuningan (2 buah); enthong besar (4 buah), enthong kecil (2 buah) untuk mengaduk masakan dan pemukulan kepala Watugunung kecil oleh Sinta; piring seng (6 buah); topeng (2 buah); sayap Garudeya (1 set), sepasang sayap terbuat dari plastik, kerangka kawat besi sebagai perwujudan sayap Garudeya; patung kepala manusia dari fiber (5 buah); patung kepala manusia dari gerabah (5 buah); hairdriyer (1 buah); kacamata hitam; egrang besi (sepasang); manakin ( 2 buah); peta Indonesia (1 lembar); robot/patung kura-kura berkepala manusia (1 buah) dipasang mesin yang digerakkan dengan radio control; replika lokomotif (1 buah), lokomotif dapat melintasi panggung dengan kendali jarak jauh seperti di stasiun. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement