L
Memuat...
Kontributor

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu (Bag.13)

Tokoh Tomomi Yokosuka sebagai Dewi Uma (detil)
dalam pertunjukan lakon WB 3 (2004) Teater Garasi Yogyakarta
discreenshoot keperluan Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news// 7). Andreas Ari Dwianto mencipta karakter Watugunung Muda dan Kura-Kura Ninja. Andreas lahir di Cilacap, 7 April 1981. Studi di Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bergabung di Teater Garasi sejak tahun 2001. Pada proyek Waktu Batu mendapat peran sebagai Watugunung Muda dan Kura-Kura Ninja. Andreas pun mengungkapkan pengalaman barunya.

Proses Waktu Batu, proses yang baru buat saya. Baru kali ini saya menjalani proses yang panjang dan berat, banyak hal yang harus saya lakukan (membaca buku-buku, menjalankan treatment, ke Banyuwangi, ke candi Sukuh dan harus berlatih empat kali seminggu) dengan senang hati saya melakukannya, walau banyak kebingungan, ketakutan, ketegangan.

Andreas Ari D mencipta karakter Watugunung Muda (tengah) dan Kura-Kura Ninja dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002). Teater Garasi Yogyakarta.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Lebih lanjut Andreas mengatakan: Ya, saya menikmatinya. Lebih-lebih proses ini proses eksplorasi, dari sini saya baru tahu jadi aktor itu sulit. Karena eksplorasi ini adalah proses keaktoran. Dan proses keaktoran ini yang akan menjadi proses yang sangat panjang buat saya. Proses waktu batu proses yang asik-asik aja lagi (Ungkapan Andreas Ari Dwianto dalam Katalog Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2-4 Juli 2002:3). Andreas akhirnya mampu menghidupi karakter tokoh Watugunung Muda dalam pertunjukan lakon WB 1, WB 2, dan WB 3.

8). Bahrun Ulum mencipta karakter Kalanjana, Orang berkepala Dandang. Lahir di Tanjung Priok, 25 Mei 1980. Bergabung dan kerja sejak tahun 2000 sebagai settingman dan Koordinator Studio Teater Garasi. Terlibat proyek Waktu Batu sejak tahun 2001, menjadi pemain Kalanjana, Orang berkepala Dandang, Garudeya.

Bahrun Ulum mencipta karakter Kalanjana, Orang
berkepala Dandang dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002). Teater Garasi Yogyakarta.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Lelaki ini sangat serius kalau mendapat tanggungjawab. Penampilan fisik tokoh yang diperankan dicapai melalui proses ekplorasi keaktoran dilakkan dengansungguh-sungguh. Bahrun Uhlum akhirnya mampu menghidupi karakter tokoh Kalanjana, Orang berkepala Dandang, Garudeya dalam pertunjukan lakon WB 1, WB 2, dan WB 3.

9).Theodorus Christanto mencipta karakter Narator, Watugunung Dewasa. Theodorus Christanto lahir di Teluk Betung, 24 April 1980. Latar pendidikan Akutansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bekerja di Teater Garasi sejak 2001, langsung terlibat proyek Waktu Batu sebagai Kalantaka, narator, Kura-Kura Ninja (2002), dan sebagai Kalantaka, lelaki berkepala dandang, Watugunung Dewasa (2003 dan 2004).

Theodorus Christanto mencipta karakter Narator dan
Watugunung Dewasa dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002). Teater Garasi Yogyakarta.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Christanto dalam proses ekplorasi keaktoran pertunjukan lakon Waktu Batu mennyatakan sebagai berikut: ‘Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’. Meski ia berangkat dari mitos, bagi saya menawarkan kesadaran atas peristiwa. Menawarkan kesadaran atas pergerakan yang terjadi pada eksistensi saya, atas pertemuan saya dengan hal-hal, benda-benda dan orang lain dalam kurungan waktu. (Ungkapan Theodorus Christanto dalam Katalog Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2-4 Juli 2002:3).

Dèwi Sinta anak tunggal Prabu Janaka dngan Dèwi Hanung. Putri ini wajahnya cantik, warna kuning emas utawa brongsong, polatan ndhungkluk utawa luruh, irung wali miring, mripat gabahan, tutuk mingkem, awak lencir, warna kulité kuning mas utawa gemblèng, rambut digelung kéyongan ngoré géndhong, nganggo jamang sada sakeler, sumping waderan, anting-anting, kalung kebo menggah, kelatbau nagamangsa, gelang kana rangkep, ali-ali wangun gunung sepikul, kemben mori bathik corèk lung-lungan, slépé, lan jarik bathik corèk limar ketangi ceplok. Sifat dan tingkah-lakunya tenang, lembut, setya, dan berpendirian. Sifat seperti itu membuat banyak pemuda ingin mempersunting.

Lebih lanjut Cristanto mengatakan sebagai berikut: Pertemuan-pertemuan saya dengan semua itu adalah factor yang membentuk saya saat ini adalah yang sesungguhnya menciptakan gerakan pada hidup saya, penentu bentuk saya di masa datang. Pergeseran yang terjadi yang terkadang tidak saya sadari, bisa jadi adalah perubahan yang besar, yang revolusioner. Perubahan itu, hanya bisa kita ketahui ketika kita melihat ke belakang, membaca sejarah yang bisa terlambat. Atas semua itu saya mempercayai kesadaran yang harus kita miliki atas peristiwa-peristiwa yang terjadi adalah penting. Peristiwa yang setiap saat memerlukan kesiagaan. Kesiagaan yang paling tidak untuk mengetahui perubahan apa yang (akan) terjadi. Mengenali perubahan itu, apakah kemajuan atau kemunduran baik atau buruk (Ungkapan Theodorus Christanto, 2002: 3). Berkat proses ekplorasi keaktoran dalam pertunjukan lakon Waktu Batu, Cristanto dapat mencipta karakter tokoh sesuai yang dikehendaki sutradara. Dia menemukan adanya kesadaran, pentingnya mengenali perubahan dalam setiap langkah kehidupan. Akhirnya Christanto mampu mencipta karakter tokoh Narator dalam WB 1 dan WB 2, Watugunung

10). Tomomi Yokosuka mencipta karaker Uma dan Garudeya.Tomomi Yokosuka, lahir di Chiba, 22 September 1978. Anggota kelompok Ryuzanji Company Jepang, sejak 1992. Mendapat beasiswa dari pemerintah kebudayaan Jepang selama setahun untuk mempelajari proses teater di Indonesia dan memperkaya kosa-tubuh, pada tahun 2003.

Tomomi Yokosuka mencipta karaker Uma dan Garudeya
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002).
Teater Garasi Yogyakarta.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Di Teater Garasi sebagai pemeran ”Reportoar Hujan” (2004), dan terlibat proyek Waktu Batu (2004) mendapat peran Uma dan Garudeya. Tomomi mencipta karaker Uma dan Garudeya penuh totalitas. Ekspresi, gerak luwes bahkan berbahasa verbal: bahasa Jepang dan bahasa Indonesia terucap dari bibirnya menarik, meyakinkan penonton.

A.2.ii. Aktor-Aktris mencipta karakter kolektif.
1. Kura-Kura Ninja, pada adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik.

Kura-Kura Ninja, pada adegan Kunjungan Terakhir
ke Wilayah Domestik dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002). Teater Garasi Yogyakarta.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Karakter kolektif hasil ekplorasi keaktoran. Kura-Kura penjelmaan Watugunung Muda usai dipukul ethong Sinta. Menjadikan dia pergi meninggalkan rumah menuju laut lepas. Karakter kolektif Kura-Kura dalam sesi lumpur begitu ekspresif.

Dituturkan Jamal demikian: Munculnya gesture kura-kura yang diperagakan lima aktor itu seingatku ketemu di fase lumpur. Mungkin karena yang dihadirkan lumpur, ada arti kepurbaan itu membuat para aktor dengan menemukan wujud karakter sesuai yang diharapkan (Wawancara dengan Jamaluddin Latief, tanggal 19 Juli 2013).

2. Wajah Kecemasan, Tarian Anak Sukerta, pada adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik. Karakter wajah-wajah kecemasan dan tarian anak-anak ‘sukerta’ hadir kolektif dari proses ekplorasi keaktoran. Kecemasan diawali dari para ibu-ibu memukul lesung. Anak-anak ‘sukerta’ menari kesurupan. Karakter kolektif wajah kecemasan dan tarian anak-anak ‘sukerta’ memiliki kekuatan ekpresif dan musikalitas tradisional dalam pertunjukan lakon Waktu Batu.

Wajah Kecemasan, Tarian Anak Sukerta, adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002). Teater Garasi Yogyakarta.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

3. Karakter dalam gelap membawa lentera, awal adegan Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal.

Karakter dalam gelap membawa lentera, awal adegan Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002). Teater Garasi Yogyakarta.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Karakter kolektif muncul karena Sinta dalam gelap mengeja nama-nama minggu dari penanggalan Jawa. Sisi lain adanya perang, kematian dan mendaratnya kapal-kapal. Karakter kolektif ini sangat kontras dalam gelap dimana mata tertutup tetapi membawa lentera.

Setelah mengkanji proses kreatif keaktoran dalam pertunjukan lakon Waktu Batu, terutama proses pelatihan aktor-aktris Teater Garasi yang dikawal sutradara, Yudi Ahmad Tajudin melalui ’ekplorasi keaktoran’ dalam workshop dan lebih khusus dalam pelatihan ’sesi lumpur’ maka para aktor-aktris dapat mencipta karakter tokoh individu maupun kolektif.

Proses ekplorasi keaktoran terciptanya karakte tokoh dalam bentuk bagan sebagai berikut:

Bagan Proses Kreatif Keaktoran untuk Pertunjukan
Lakon Waktu Batu Teater Garasi Yogyakarta dibuat Nur Iswantara.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Membaca bagan yang dikemukakan bahwa ’aktor-aktris’ Teater Garasi yang memiliki potensi, siap ’raga’, ’intelektualita’ dan ’sukma’ masuk ’workshop’ kemudian ’ekplorasi keaktoran’ khususnya ’sesi lumpur’ untuk meningkatkan ’penajaman kepekaan tubuh’, ‘pengembangan pemikiran’, ‘penajaman kepekaan sukma’ demi ‘terciptanya karakter tokoh’ sebagai manifestasi ‘seni pemeranan’ secara utuh.

Gerak tubuh, ekpresi sebagai seni pemeranan dalam pertunjukan lakon Waktu Batu secara teatrikal dapat berkomunikasi dengan penonton. Ekplorasi keaktoran lebih khusus ’sesi lumpur’ dalam pengertian teatrikal adalah metode pelatihan yang mementingkan eksplorasi tubuh, spontanitas dan konsentrasi aktor-aktris dalam rangka mengutuhkan pertemuan antara tubuh (raga), pikiran (inteletualita), dan batin (sukma). Pertemuan potensi aktor-aktris tersebut adalah sebagai media penyatuan suatu pengalaman kehidupan dengan cara yang purbawi dan spontan untuk menemukan gagasan artistik dan nilai seni.

Penonton yang menikmati hadirnya gagasan artistik dan nilai seni akan merasakan suatu pengalaman estetis dengan beragam arti. Proses ekplorasi keaktoran yang dilakukan aktor-aktris Teater Garasi sesuai kesepakatan dengan sutradara sejak ‘kerja gali sumber’, ‘improvisasi’, ‘kodifikasi’ dan ‘komposisi’ melalui proses kreatif yang serius, memakan waktu lama. Akhirnya karakter tokoh dapat dicipta dan dinikmati penonton, dalam pertunjukan lakon Waktu Batu Teater Garasi Yogyakarta. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 19 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan