L
Memuat...
Kontributor

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.11)

Jamaludin Latif sebagai Siwa dengan Uma dalam
Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan
Padamu (WB 3 – 2004).Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot keperluan Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news//BAB IV. KREATIVITAS ARTISTIK PERTUNJUKAN LAKON WAKU BATU. A. Eksplorasi Keaktoran. Keaktoran menurut Konstantin Stanislavski (1863-1938) adalah usaha-usaha penciptaan untuk para aktor dalam mencoba memberikan tafsiran seni berperan. Lebih lanjut Stanislavski mengatakan demikian: Jika semua proses dikumpulkan, lalu diserasikan dengan kehidupan lahir dan batin tokoh yang kita gambarkan maka pekerjaan ini dapat disebut menghayati peranan. Dalam pekerjaan kreatif hal ini sangat penting sekali. Tugasnya bukan sekadar menggambarkan kehidupan lahiriah suatu tokoh. Ia harus mencocokkan sifat-sifat manusianya dengan kehidupan tokoh ini, dan menuangkan ke dalamnya seluruh sukmanya. Tujuan pokok seni ini menciptakan kehidupan batin sukma manusia, dan mengutarakannya dalam bentuk artistic (Konstantin Stanislavski, Persiapan Seorang Aktor, terjemahan Asrul Sani, Jakarta: Pustaka Jaya,1978: 25).

Richard Boleslavski, memberikan pengertian berperan, bermain di atas pentas untuk memberi bentuk lahir pada watak dan emosi aktor, baik dengan laku maupun ucapan. Boleslavski mengungkapkan demikian: Langkah pertama dari seorang aktor ialah berusaha untuk memahami masalah yang ia hadapi. Jika seorang aktor telah menyadari, bahwa pemecahan sebuah peranan tertentu terletak terutama dalam kesanggupannya untuk tegak diatas panggung. Dengan otak yang dingin, keteguhan maksud dan sadar akan masalah yang ia hadapi, maka aktor ini akan memeperoleh suatu teknik pemeranan yang sempurna (Richard Boleslavski, Enam Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor, di-Indonesiakan Asrul Sani, Jakarta: Penerbit Djaja Sakti, 1960:20-21. Penulisan judul buku, kutipan telah disesuaikan dengan E.Y.D).

Rendra dalam pendidikan aktor menekankan persoalan spiritual. Rendra mengatakan sebagai berikut: Apabila ia dipersiapkan untuk kondisi dewasa ini maka kepadanya teknik akting bisa diberikan sebagai hal yang sekunder saja sedangkan terpenting baginya harus diberikan latihan-latihan untuk panca indranya: memperpeka pendengarannya, perabaannya, pengecapanya, penciumannya dan penglihatannya. Semakin peka panca indranya seorang aktor, semakin tinggilah totalitas ekspresinya dan juga daya ekspresinya (Rendra, “Kegagahan dalam Kemiskinan Teater Modern Indonesia” dalam Wahyu Sihombing, Slamet Sukirnanto, Ikranegara, Pertemuan Teater 80, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1980: 9).

Kerjasama mewujudkan karya teater menuntut kesanggupan bermain yang baik. Pramana Padmadarmaya secara tegas menyatakan sebagai berikut: Teater menggunakan media manusia sebagai alat utama pernyataan dirinya. Media pokok itu adalah pemeran. Oleh karena itu pembinaan seorang pemeran tidak dapat lepas dari pembinaan manusia pemeran itu sendiri (Pramana Padmadarmaya, “Ekspresi Global Melalui Pendekatan Indivisual Pembicaraan Awal Sebuah penyutradaraan”, dalam Wahyu Sihombing, Slamet Sukirnanto, Ikranegara, Pertemuan Teater 80, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1980: 76).

Suyatna Anirun mennyatakan tugas seorang aktor sebagai berikut: Tugas utama seorang pemeran membawakan peran lakon sesuai porsi yang tersedia untuknya. Ukuran keberhasilan, prestasi artistik dilihat dari laku pentasnya. Laku pentas yang meruang mengandung arti karya pemeran tersebut telah memenuhi standar kelayakan karya seni (Suyatna Anirun, Menjadi Aktor Pengantar Kepada Seni Peran Untuk Pentas dan Sinema, Bandung: Studiklub Teater Bandung, Taman Budaya Jawa Barat, PT. Rekamedia Multiprakasa, 1998: 41).
Hakikat seni peran adalah meyakinkan (make believe) kata N. Riantiarno sebagai berikut: Jika berhasil meyakinkan penonton bahwa apa yang telah dilakukan aktor adalah benar, paling tidak itu sudah cukup. Ada beberapa harga dari permainan, disamping yang meyakinkan dan benar (justified), yakni pura-pura, meniru, atau dan tidak meyakinkan. Yang tidak meyakinkan tidak-apa-apa. Intinya, sekali lagi, permainan harus meyakinkan penonton. Alat aktor adalah raga, intelektual dan sukmanya. Itulah yang harus terus menerus diasah dan dilatih agar siap dalam menghadapi, menggali, dan memainkan peran (N. Riantiarno, Kitab Teater Tanya Jawab Seputar Seni Pertunjukan, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2011:107).

Berangkat dari istilah dan pengertian ‘keaktoran’ dan ‘pemeranan’ sebagaimana diutarakan para tokoh teater: Stanislavski, Boleslavski, Rendra, Pramana Padmadarmaya, Suyatna Anirun dan N. Riantiarno dapat dipahami bahwa ‘keaktoran’ kata dasarnya ‘aktor’ mendapat awalan ke, akhiran an; sedang kata ‘aktor’ atau actor dari to act dalam bahasa Inggris berarti melakukan suatu perbuatan atau aksi pemain di atas pentas sehingga istilah acting akrab disebut sebagai seni peran. Kemudian ‘pemeranan’ istilah dan atau pengertian lain dari ‘keaktoran’, kurang lebih memiliki kesamaan maksud. ‘Pemeranan’ kata dasarnya ‘peran’ mendapat awalan pe, sisipan m, dan akhiran an sehingga menjadi pemeranan. Pada dunia teater akrab dengan istilah seni peran atau seni pemeranan. Pada intinya mengupas tentang prosesi penciptaan peran sehingga jikalau dalam pembahasan ini antara istilah ‘keaktoran’, ‘pemeranan’, ‘seni peran’, ‘seni pemeranan’ acting, muncul silih berganti dimaksudkan demi kejelasan untuk memahami tentang tindak kreativitas manusia pemeran dalam budaya teater.

Jamaludin Latif sebagai Kala dalam
Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (2002). page 3.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Tahapan dalam sebuah proses penciptaan seni akting merupakan faktor dasar yang harus dipunyai seorang pemain dalam mewujudkan karakter tokoh suatu pertunjukan lakon. Sri Murtono mengatakan demikian: Aktor yang berhasil adalah pemeran yang mampu membawakan karakter tokoh sesuai kehendak cerita yang di dalamnya memuat nilai-nilai estetis. Pemeran yang berhasil adalah pemeran yang mampu memproyeksikan intensitas penghayatan peran dengan jujur, benar, dan wajar. Hal itu mereka proyeksikan dengan sungguh-sungguh sehingga penonton hanyut dan tidak dalam kesadaran sedang melihat pemeran dalam sebuah permainan teater (Sri Murtono dalam Nur Iswantara, 2004:52-53).

Memahami seni peran dan metodenya ibarat mengarungi samudera luas dalam upaya menjelajahi kenyataan tertentu. Seni peran sebagai hasil karya sang aktor hanya sesaat, ia akan menjadi suatu ilmu jika mendapat perhatian para ilmuwan. Metode berperan merupakan prosesi karya keaktoran yang sudah tertata lewat pelatihannya sendiri-sendiri. Dimana setiap metode memiliki karakteristik sesuai dengan intensi senimannya, masyarakat pendukungnya dan jiwa zaman yang melingkupinya.
Penciptaan karakter tokoh tentu memiliki proses tersendiri sesuai dengan gagasan dasar dari teks pertunjukan lakon WB yang masih dalam bentuk ’Watugunung Eklektika’. Artinya lakon WB yang merupakan pilihan dari berbagai sumber menjadi bekal proses eksplorasi keaktoran. Semenjak teks beralih ke tangan para aktor, teks bukan lagi milik tim penulis. Wilayah interpretasi terbuka luas diolah oleh para aktor melalui ekplorasi.
A.1. Workshop. Proses kreatif mewujudkan karakter tokoh lakon Waktu Batu oleh aktor-aktris TG sudah dimulai sejak awal ketika gagasan disampaikan oleh Yudi Ahmad Tajudin. Pada tanggal 24-29 Agustus 2001 para aktor-aktris sudah melakukan eksplorasi keaktoran di Candi Sukuh Sukoharjo Jawa Tengah.

Para aktor-aktris pun mengikuti Workshop Tari Klasik Gaya Yogyakarta bersama Heru Handonowari di Pendopo TG Yogyakarta (bulan Oktober-November 2001), Workshop Vokal bersama R Kristiawan di Pendopo TG Yogyakarta (bulan Oktober-November 2001& Maret-April 2002), Riset ke beberapa situs candi di sekitar Yogyakarta (November 2001), Workshop Tonalitas Pesisiran bersama Ki Slamet Gundono di Pendopo TG Yogyakarta (15-17 Januari 2002), Workshop dan Riset Gandrung Banyuwangi di desa Kemiren Glagah Banyuwangi dan pendakian Gunung Penanggungan Malang Jawa Timur (22-29 Januari 2002), Workshop dan Diskusi Bahasa Tubuh Relief di Pendopo TG Yogyakarta (Februari 2002), Camp aktor di Candi Baka Yogyakarta (Maret 2002).
Kemudian Apresiasi dan Workshop Jatilan bersama kelompok Jatilan ’Kuda Wirama Putra’ Nanggulan Kulon Progo DIY di Pendopo Teater Garasi Yogyakarta (25 Mei 2002), Pembacaan Teks-Untuk-Pertunjukan ’Waktu Batu.Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis (28 Mei 2002), Camp aktor di gudang milik Mas Tri Jl. Wates Yogyakarta (6-7 Juni 2002), Diskusi ’Seniman Mencari Ruang’ UK Duta Wacana Yogyakarta (17 Juni 2002), Diskusi ’Mitos Sebagai Sumber Penciptaan Kreatif’ di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta (22 Juni 2002), Pameran ’Waktu Batu Mencari Ruang’ Gallery Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta (22 -29 Juni 2002).

A. 2. Improvisasi dalam sesi Lumpur. Proses ekplorasi dalam kolam lumpur ini cukup lama, sekitar dua bulanan. Di pendapa TG dibuat kolam tempat lumpur. Para aktor-akris ekplorasi, awalnya ada yang diam tidak masuk ke lumpur. Bahkan semua dibuat binggung mau berbuat apa. Bahkan Jamal pun ikut bingung. Ada aktor yang diam sampai seperempat jam pun di biarkan saja. Sesi ekplorasi lumpur selesai para aktor-aktris ditanya sutradara mengapa tidak masuk ke lumpur. Mereka seperti tidak tahu. Rupanya ada yang kurang. Mereka pun ekplorasi ke candi-candi lagi. Sesudah dari candi kembali latihan ke lumpur. Latihan di lumpur menemukan kepurbaan bagi para aktor. Seakan mereka sudah menjadi lumpur itu sendiri. Menjadi karakter yang akan diciptakan.

Para aktor-aktris TG setelah melalui proses ekplorasi secara workshop dan sesi lumpur sudah dianggap memiliki penguasaan raga, sukma dan intelektualitas/olah pikir. Berkaitan dengan keaktoran N. Riantiarno mengatakan demikian: Aktor-aktris harus a. menuju siap raga: lentur otot-otot anggota tubuh; pernafasan; membaca. b. menuju siap inteletualita: tahu dan mengerti; wawasan. c. menuju siap sukma: konsentrasi; observasi; imajinasi; penghayatan; improvisasi; pembangunan karakter peranan (N. Riantiarno, 2011:108). Dengan demikian aktor-aktris harus mampu mencipta karakter tokoh dalam pertunjukan lakon WB penuh totalitas sehingga dapat dinikmati penonton.

Memasuki tokoh peran, pada fase ini pemeran sudah berhubungan dengan perannya secara langsung, yakni masalah peranan yang akan dibawakan dalam teks pertunjukan lakon WB. Untuk itu proses eksplorasi ditujukan pada masalah langsung sumber daya pemeran secara spesifik, ialah peranan yang akan dibawakan. Setiap pertunjukan teater selalu bertolak dari tercetusnya ide-ide. Ide-ide tersebut mudah melembaga menjadi suatu gagasan teatral. Naskah lakon adalah sarana dari gagasan-gagasan tersebut. Ketika naskah lakon dipentaskan harus berkembang menjadi bahasa teater dan langsung dapat dinikmati penontonnya. Naskah lakon merupakan instansi pertama dari seluruh aktivitas produksi pertunjukan. Dalam hal ini para aktor aktris sudah terlibat mulai dari ide, tema, sketsa pengadegan, sinopsis, dan naskah utuh mengikuti proses kreatif.

Teks pertunjukan lakon WB memiliki fungsi memberi inspirasi kepada para aktor aktris sebagai seniman-seniman penafsir. Naskah merupakan sarana terbukanya dimensi-dimensi baru dalam pikiran pemeran, sutradara dan perancang artistik. Prosesi penciptaan tokoh oleh aktor-aktris Teater Garasi sudah berdasar menguasai teori dan praktik. Aktor-aktris mampu secara serius menciptakan tokoh sesuai dengan naskah lakonnya.
Aktor-aktris dalam menghadapi teks pertunjukan lakon WB musti ‘membaca berulangkali’ secara menyeluruh. Kecenderungan-kecenderungan penonjolan dalam teks pertunjukan, pemeran harus bertolak dari bentuk keseluruhan dari pola pokok lakon dan pola produksinya. Dengan demikian pemeran yang dibutuhkan ialah kesan keseluruhan. Baru setelah itu mulai dengan detail-detail yang dikerjakannya akan jadi bagian dari kerja keseluruhan.
Dalam kerja ’eksplorasi’ aktor-aktris mencermati struktur lakon mulai dari tema, tokoh, plot. Plot untuk menentukan hubungan peran yang harus dibawakan bahkan seluruh cerita dari bagian awal, tengah dan akhir. Karakter tokoh berguna membedakan peran satu dengan peran lainnya. Dalam lakon WB ada tokoh protagonis, antagonis dan tokoh bawahan. Dengan begitu hakikat diri peran akan tampak dan dinikmati penonton.
Aktor-aktris juga mengekplorasi tekstur lakon mulai dari dialog sebagai ucapan peran bermakna untuk dilakukan lewat percakapan maupun tingkah laku. Sedangkan suasana (mood) memberikan nuansa lakon dalam suasana yang bagaimana peran berada. Spektakel merupakan hal-hal yang tak terduga-duga muncul dan mengenai peran. Tekstur ini kiranya yang harus selalu dieksplorasi pemeran lebih jeli untuk menemukan bangunan peristiwa teater secara utuh.

Dari struktur dan tekstur teks pertunjukan para aktor-aktris harus mengungkap peran secara. detail. Sedikitnya pemeran harus mengupas apa yang terjadi dengan penuh ketelitian. Pemeran dengan menguasai nilai naskah harus memberi ‘bobot peran’. Suyatna Anirun mengataan demikian: Bobot peran merupakan intensifikasi pengembangan watak peran dan suasana dalam keseluruhan naskah sebagai kreativitas pemeran untuk menghidupkan peran. Bobot peran akan terisi jika manusia pemeran menguasai unsur yang khas dalam seni peran : kreativitas dan daya tarik pribadi. Hal itu lahir karena didukung gaya yang cocok, irama yang tepat, laku yang pas (Suyatna Anirun, 1998: 139).

Kemudian untuk dapat mengenali watak harus dipahami bahan-bahan dalam naskah, menurut Richard Boleslavski sebagai berikut: Bahan-bahan yang ada dalam naskah lakon seperti: a. dari ucapan-uicapan watak itu sendiri yang dapat memberikan penerangan tentang dirinya; b. dari ucapan-ucapan tokoh-tokoh lain yang memberikan kepada kita penjelasan tentang watak itu; c. dari perbuatan-perbuatan dan reaksi-reaksi yang diperlihatkan watak ini yang dapat menambahkan keterangan; d. dari bahan-bahan yang tidak terdapat dalam teks naskah lakon itu sendiri (Richard Boleslavski, 1960:10).
Ada kalanya seorang aktor dengan karakter yang hendak diperankannya mempunyai perbedaan fisik yang jauh sekali, misalnya saja untuk karakter yang terdapat dalam tokoh-tokoh mitos. Maka yang diperlukan adalah imajinasi yang kuat serta berbagai cara yang meyakinkan, baik dengan cara tambal sulam maupun melalui gesture dan teknik pemeranan. Dengan demikian bereksplorasi dan berimajinasi untuk mengembangkan karakter tanpa meninggalkan esensi yang telah ada sangat penting. Sikap seperti ini sangat diperlukan terutama jika menghadapi naskah lakon karya ‘sendiri’ dan atau tim penulis dari kelompok. Naskah karya ‘sendiri’ biasanya lebih sering hanya berupa gambaran global dari tema sentral tanpa menyertakan detil-detil karakter tokoh. Semakin bagus aktor menyikapi naskah karya ‘sendiri’ akan memudahkan mencipta karakter tokoh secara utuh dan hidup.

Dalam hal apapun, proses kerja teater selalu tidak bisa lepas dari kreativitas, untuk menghidupkan karakter pun unsur kreativitas tetap memegang peran utama. Aktor harus mengembangkan bobot peran. Suyatna mengemukakan demikian: Bobot peran adalah ukuran atau nilai yang mengisi dan menghidupkan suatu peran, merupakan intensifikasi pengembangan karakter dan suasana, untuk itu aktor hams mempertaruhkan segala kemampuan dan daya kreasinya yang dirunjang oleh intuisi keseniannya. Di sini aktor harus mengkaji hubungan-hubungan antara diri aktor dengan: Bentuk lakon; Nilai-nilai dibalik bentuk; Mencari identifikasi peran melalui pegamatan-pengamatan pada lingkungan, melalui diskusi-diskusi, perenungan dan latihan penerapan; Penggalian pada diri sendiri serta serangkaian percobaan dalam kerja ensambel (Suyatna Anirun, 1998:140).
Karakter yang diperankan oleh aktor-aktris, ditampilkan secara spesifik. Penampilan fisik dan perlengkapan yang dibawanya mempunyai ciri khas yang juga mendukung, memperkuat karakter tersebut. Karena hal-hal itu berasal dari peralatan keaktoran yang melekat pada aktor-aktris itu sendiri. Para aktor-aktris mempunyai tanggung jawab yang besar karena adanya asumsi bahwa penonton percaya pada apa yang mereka lihat. Akhirnya para aktor-aktris dalam menciptakan tokoh harus sampai pada bentuk standar peran. Bentuk standar peran tersebut ditemukan dari seluruh proses ekplorasi para aktor-aktris dalam menemukan seni peran dengan penuh totalitas dan sungguh-sungguh. Untuk itu akan dikaji aktor-aktris yang mencipta karakter tokoh pertunjukan lakon WB baik individu maupun kolektif.

A. 2. i. Aktor-Aktris mencipta karakter individu. 1). Jamaluddin Latief mencipta karakter Siwa dan Kala. Jamaluddin Latief atau akrab dipanggil Jamal. Jamal lahir di Pekalongan, 21 April 1975. Tahun 1994-1995, Jamal belajar di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta, sempat menyelesaikan Diploma I . Kemudian sempat studi di Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Jamal aktif di Teater Garasi sejak produksi ”Carousel” (1997) kemudian sebagai staf Dokumentasi Teater Garasi, terlibat proyek WB sejak 2001.

Jamal mencipta karakter tokoh Siwa dan Kala. Secara artikulatif Jamal memaparkan pengalaman selama proses kreatif keaktorannya sebagai berikut: ”Ketika teks pertunjukan itu disodorkan saya baca, ternyata memasuki dunia yang sangat jauh. Apalagi tema waktu dalam mitos Jawa. Proses keaktoran mencari tautan, yang dapat dipegang dan diraba dari yang paling dekat. Tapi sangat susah karena tokoh yang dimainkan sangat jauh. Tokoh Siwa dan Kala itu karakter antah berantah, sangat tidak realistis kalau mau dieksekusi.” (Wawancara dengan Jamaluddin Latief, di Rumah Kost Jl. Ringroad Selatan Kasihan Bantul, 19 Juni 2009 dan tanggal 19 Juli 2013).

Lebih lanjut Jamal bertutur: Menciptakan karakter ini sangat berat. Dalam ekplorasi keaktoran dibutuhkan metode untuk mendekati langsung mitos Jawa. Kami ke candi-candi, memakai benda-benda yang sangat purba seperti lempung (lumpur). Biar dapat mencapai yang jauh tersebut. Prosesnya sangat panjang, hampir setahun untuk mendalami gagasan, tema, teks pertunjukan dan isyu-isyu yang akan ditampilkan. Paling sulit adalah menampilkan suasana mitos yang seperti dongeng, sangat susah sekali. Untunglah ditemukan metode ke candi-candi dan memakai lumpur (Wawancara dengan Jamaluddin Latief, tanggal 19 Juli 2013).
Mewujudkan karakter tokoh Kala dan Siwa dibutuhkan kesiapan, kerelaan, totalitas dan waktu yang lama. Jamal secara rinci menjelaskan berbagai bacaan sebagai acuan dalam ekplorasi keaktoranya demienciptakan karakter tokoh Kala dan Siwa. Jamal mengatakkan sebagai berikut: Dari beberapa bacaan tentang tokoh Kala, pada mitos India tidak seperti di mitos Jawa. Di India, Siwa mempunyai banyak perwujudan. Salah satunya Siwa Mahakala berkuasa atas waktu. Jadi Kala itu Siwa, sedang dalam mitos Jawa kita mengetahui bahwa Kala adalah putra Siwa. Pada cerita Murwakala, ada beberapa versi tentang penggambaran kisah terjadinya Kala. Nah konon Kala lahir di tengah samudera. Kala raksasa dahsyat, badan bagai gunung, mata bagai matahari kembar. Jika aktor-aktris tidak siap, tidak ada kerelaan, tidak total bahkan tidak kuat menjalani ekplorasi dalam waktu lama untuk memasuki tokoh antah berantah itu, akhirnya akan jadi crew pementasan saja (Wawancara dengan Jamaluddin Latief, tanggal 19 Juli 2013).

Pelaksanaan eksplorasi dengan teknik trior and error, mencoba dan gagal, itu terus dilakukan. Teks dari tim penulis dieksplorasi dan sutradara mengawalnya. Aktor menunjukkan hasilnya, sutradara menyeleksi. Aktor berusaha mencari karakter yang cocok sesuai sosok dan tema. Sejauhmana sutradara mengawal eksplorasi keaktoran. Jamal menuturkan sebagai berikut: Tajudin memberikan stimulan gambar-gambar relief candi, gambar dewa Siwa dari agama Hindu untuk mendekatkan karakter tokoh. Hal yang mengesankan, ketika ekplorasi akan memasuki candi. Berjalan meraba relief candi dengan mata ditutup. Gelap, nuansa purba muncul. Tokoh Siwa itu gesture-nya saya pelajari dari gambar buku India. Proses imitasi dari relief, gambar buku dan ekplorasi sesi lumpur menemukan sosok dan karakter tokoh Siwa. Pilihan saya diterima sutradara dan yang lainnya. Mungkin inilah keuntungan eksplorasi, penjelajahan untuk memperolah pengalaman baru dari situasi yang baru (Wawancara dengan Jamaluddin Latief, tanggal 19 Juli 2013).

Lebih lanjut Jamal menuturkan pengalaman ekplorasi dalam lumpur demikian: Ekplorasi sesi lumpur, semua aktor-aktris sama tidak ada pembedaan. Saya menemukan karakter Siwa, Kala pada sesi lumpur. Munculnya gesture kura-kura yang diperagakan sekelompok actor, seingatku juga di sesi lumpur. Karena yang dihadirkan lumpur, ada nuansa kepurbaan. Sesi lumpur merangsang aktor-aktris menemukan karakternya. Andai yang dalam kolam bukan lumpur, misal tepung hasilnya mungkin akan beda. Nah, cerdasnya Tajudin di sini. Dia mampu melihat kami dalam titik jenuh itu. Momentum ini justru menjadi kemungkinan bernilai estetika yang dipilih Tajudin. Dia peka, tidak pernah kelewatan melihat yang potensial, bermakna estetik, akhirnya dieksekusi buat penampilan actor (Wawancara dengan Jamaluddin Latief, tanggal 19 Juli 2013).

Jamal pun melakukan ekplorasi karakter Kala. Tokoh Kala dalam teks pertunjukan lakon WB dimulai dari kelahirannya hingga dewasa. Eksplorasi yang dilakukan Jamal untuk menemukan karakter Kala juga melalui sesi lumpur yang memunculkan banyak ide kreatif. Jamal yang berperan sebagai Kala, menyikapi lumpur sebagai air samudera tempat Kala lahir. Di lumpur Kala tumbuh dari masih anak sampai menjadi dewasa dengan menyimpan kemarahan karena kelahirannya tidak diinginkan. Kala lahir karena ibunya Dewi Uma tidak mau bersetubuh dengan suaminya Dewa Siwa, sampai akhirnya terjadi usaha perkosaan dan mani Siwa jatuh ke samudera.

Selama ekplorasi sesi lumpur dalam waktu panjang, Jamal menuturkan sebagai berikut: Pada ekplorasi dengan waktu yang lama disepakati bersama bahwa pada zaman dulu relasi antar manusia sangat dekat. Belum ada paham individualisme, yang ada hanyalah kebersamaan. Kedekatan dipahami oleh sutradara, tim penulis, aktor-aktris Teater Garasi sebagai keintiman. Caranya intim dengan menggunakan pakain minimalis sewaktu ekplorasi sesi lumpur. Bagi masyarakat purba berpakaian minim bukanlah suatu pornografi. Keterbukaan dan keintiman menyiratkan adanya kejujuran dan kealamian (Wawancara dengan Jamaluddin Latief, tanggal 19 Juli 2013).

Jamaludin Latif eksplorasi tokoh Syiwa dan Kala
untuk Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (2002). page 10.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Kala merupakan sosok yang sangat sakti, sampai dewa-dewa tidak mampu menandinginya. Kala mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan kemampuannya menguasai alam semesta dan waktu. Ide posisi berdiri tangan kanan ke atas, tangan kiri ke depan dan berpijak pada satu kaki, didapatkan Jamal dari ekplorasi. Posisi itu hasil modifikasi sehingga tampak indah diekspresikan ke panggung. Kala berbentuk raksasa, hidup di bumi dengan kekuatan dan kesaktian melebihi dewa-dewa di kayangan.
Dari Jamal tampak proses menemukan karakter tokoh Siwa dan Kala berhasil karena ada kesiapan, kerelaan, totalitas yang tinggi dan mempelajari pustaka, mengimitasi gesture tokoh Siwa, dan dari candi-candi, bahkan menjalani ekplorasi sesi lumpur selama dua (2) bulan. Dari proses ekplorasi sesi lumpur Jamal karakter tokoh Siwa dan Kala mendekati standar artistik, sosok, gesture dan penampilan meyakinkan sehingga dapat dinikmati penonton dalam pertunjukan lakon WB 1, WB 2 dan WB 3. Intertektualitas sebagaimana naskah dan pertunjukan lakon Waktu Batu tejadi pula pada nama tokoh-tokohnya. Contohnya tokoh Kala pada adegan Terjadinya Kala. Terjadinya Durga yang referensinya mitos Jawa dan wayang tokoh Bathara Kala. Bathara Kala adalah putra ragil Bathara Guru atau adik Bathara Wisnu, Bathara Mahadéwa, Bathara Bayu, Bathara Indra, Bathara Brama, dan Bathara Sambu. Déwa ini rupanya jelek wujud raksasa (buta), hidung ngungkal gerang, mata plelengan, mulut menganga tampak gigi-gigi, gigi taring tajam, berkumis, berjenggot, badan besar tinggi, warna kulit merah muda, celana panjang cindhé, dan kroncong kana. Sifat, perilaku kasar, kejam, suka melanggar aturan dan tidak bertata-krama.

2). Kusworo Bayu Aji mencipta karakter Watugunung. Kusworo Bayu Aji lahir di Yogyakarta, 6 April 1973. Salah seorang pendiri Teater Garasi. Bekerja sebagai direktur eksekutif Teater Garasi. Pimpinan produksi pertunjukan lakon Waktu Batu dan memerankan tokoh Watugunung.

Kusworo Bayu Aji mencipta karakter Watugunung
berperang dengan tokoh Kala (Jamaluin Latif) untuk Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (2002). page 11.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Kisah mitos Watugunung ini hanya terdapat di Jawa dan Bali, Watugunung menurut buku Babad Tanah Jawi adalah raja yang sangat sakti, dia adalah raja dari negeri Gilingwesi, mempunyai dua permaisuri Dewi Landep dan Dewi Sinta yang juga ibunya. Bersama Sinta, berputra 27 anak laki-laki. Walaupun Watugunung sangat sakti, dia sosok yang sakit. Beliau menyimpan trauma masa lalu, karena semasa masih kecil kepalanya dipukul oleh ibunya. Maka Watugunung kecil meninggalkan rumahnya dan tidak mengenali siapa ibunya.

Ekplorasi keaktoran Kusworo Bayu Aji dalam karakter Raja Watugunung, mulai dari merasakan sakit-luka di masa lalu, lari dari kenyamanan rumah dan pergi ke alam bebas. Eksplorasi tokoh memakai lumpur untuk merasakan efek kepurbaan, bahkan sebagai bagian yang mewakili kebebasan dari kungkungan dan siksaan dari ibu kandungnya sendiri.

Aji mengatakan pengalaman ekplorasi keaktorannya sebagai berikut: Saya mengekplorasi karakter Raja Watugunung dengan gesture yang berasal dari ketrampilan beladiri tetapi dengan jari-jemari yang tetap terlipat ke dalam, ini menandakan Watugunung ada sesuatu di tahan. Kepalanya yang pernah dipukul, juga membuatnya sering melakukan gerakan melindungi kepala dan menghindar karena seperti terancam oleh seseorang yang hendak memukul kepalanya (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juli 2013).

Kusworo Bayu Aji eksplorasi karakter Watu Gnung
untuk Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (2002). page 12.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Kesaktian Raja Watugunung membuat dewa-dewa panik, takdir tidak dapat dihindarkan. Adegan Raja Watugunung berperang melawan Wisnu, tidak memakai properti senjata apa-apa. Seorang raja biasanya memakai mahkota, Watugunung memakai mahkota dari daun nangka kering. Ide kreatif ini muncul dari memori masa kecil yang pernah membuat mainan mahkota daun nangka sebagai mahkota. Mahkota Raja Watugunung, tidak seperti mahkota raja yang biasa dipakai seorang raja pada pertunjukan ketoprak atau wayang orang. Hasil ekplorasi Aji dalam mencipta karakter Watugunung dewasa akhirnya dapat diterima sutradara dan semua aktor-aktris yang terlibat dalam pertunjukan lakon WB 1. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 18 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan