Tiga tokoh dalam kotak vertical yang latar belakangnya peta Indonesia dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot keperluan Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Yogyakarta, Suaraglobal.news// C.Intertekstualitas Pertunjukan Lakon Waktu Batu. Mengkaji naskah dan pertunjukan lakon Waktu Batu dengan prinsip intertekstualitas merupakan suatu permutasian teks-teks lain sehingga hypogram atau teks yang menjadi latar penciptaan karya baru (Yudiaryani, 2015:23). tampak hadir dalam karya tersebut. Berdasarkan ide, gagasan tentang waktu dalam tradisi Jawa oleh Yudi Ahmad Tajudin dan penelesuran tim penuls pada mitos Jawa Watugunung yang disarikan dari: ”Cerita Watugunung versi Bali berdasar tuturan Jean Coteau; versi Pawukon Jawa, Babad Tanah Jawi, Kitab Watugunung, Sri Rama, Babad Watugunung, Babad Watugunung Giligwesi dan lakon wayang Watugunung dengan dalang Ki Gondo Sudarman Surakarta.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:81).
Selanjutnya mitos Jawa Murwakala yang disarikan dari: ”Kisah Murwakala dari versi Serat Centhini, Kyai Demang Reditanaya, Raden Mas Citrakusuma, KGPAA Mangkunegara VII, Pakem lakon Wayang Purwa Riyasudibyaprana, versi Tegal, versi Karangjati Bagelen.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 83). Kemudian mitos Jawa Sudamala yang disarikan dari:”Kisah Kidung Sudamala, sebuah kitab dengan bahasa Jawa Tengahan bahkan merujuk pada relief-relief Candi Sukuh dan Tigawangi yang sumbernya juga Kidung Sudamala (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 87). Berikutnya peristiwa ’sejarah Majapahit akhir’ yang merujuk pada tulisan Hasan Djafar berjudul Girindrawardhana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir, Jakarta, Budhis Nalanda, 1978; Denys Lombard berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2000; Slamet Mulyana berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negar Islam Nusantara, Jakarta, Bharata, 1965; dan Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit), Jakarta, Balai Pustaka,1965.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 97-98).
Hasil pencermatan menunjukkan dengan jelas bahwa naskah atau teks pertunjukan lakon Waktu Batu (2004) yang sudah dihasilkan tim penulis Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, dan pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003) dan WB 3 (2004) yang disutradarai Yudi Amad Tajudin inspirasinya dari mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala dan ’sejarah Majapahit akhir’.
Dengan demikian mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan ’sejarah Majapahit akhir’ merupakan hypogram dari pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003), WB 3 (2004), dan naskah atau teks pertunjukan WB (2004). Kemudian pertunjukan lakon WB merupakan teks tranformasi karena merupakan teks baru yang menyerap dan mentransformasi mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan ’sejarah Majapahit akhir’, bahkan kolonialisme, industrialisasi dan globalisasi yang terbaca secara bahasa, peristiwa dan perlengkapan artistik di panggung

Ugoran Prasad, anggota Tim Penulis
Teks Pertunjukan Lakon WB di Sekretariatan Teater Garasi. page 2.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Naskah atau teks pertunjukan lakon Waktu Batu (2004) yang ditulis oleh tim penulis: Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad tidak dipandang sebagai hal yang selesai. Akan tetapi naskah yang sama hasil final tim penulis dapat ditata (re-composed) dalam pertunjukan (pengadeganan) lakon yang bebeda. Hal itu terbukti dengan jelas ketika pertunjukan lakon Waktu Batu menjadi tiga (3) versi pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003) dan WB 3 (2004).
Selanjutnya teks baru yang menyerap dan mentransformasikan hypogram disebut teks tranformasi. Setiap teks merupakan suatu jaringan baru yang berasal dari kutipan masa lalu. Yulia Kristeva menganggap praktik tekstual penyebaran bahasa dan ucapannya sebagai cara translinguistik (Yudiaryani, 2015:23). Lebih lanjut Yudiaryani menjelaskan: praktik tekstual dipastikan menjadi suatu kerja interteks, karena setiap teks merupakan suatu jaringan baru yang berasal dari kutipan teks yang lalu atau yang lain (Yudiaryani, 2015: 23).
Prinsip praktik tekstual menunjukkan gambaran teks, bahwa teks adalah sesuatu yang terajut. Teori teks kemudian menjadi suatu pembacaan terhadap rajutan dalam teksturnya, dalam rajutan kode-kode, formula penciptaan, dan si pembaca. Hal itu dapat digambarkan seperti halnya laba-laba yang menenggelamkan dirinya sendiri dalam jaring yang dibuatnya. Teori teks dianggap sebagai hipologi. Hypos adalah rajutan, tenunan, jaringan. Barthes menyebut teori teks adalah teori tentang jaringan (Barthes, 1981:38 dalam Yudiaryani, 2015:23).
Proses kerja intertekstual Kristeva menempatkan jaringan teks Barthes sama dengan gagasan analisis tekstual pertunjukan de Marinis. Teori jaringan menjadi suatu metode yang digunakan untuk memaknai proses keatif Teater Garasi dalam pertunjukan lakon Waktu Batu. Memilih suatu objek bahasan, seperti proses keatif Teater Garasi dalam pertunjukan lakon Waktu Batu melibatkan pilihan-pilihan elemen pertunjukan teatrikal. Teater memiliki peralatan khas bagi pemindahan suatu budaya sumber pada penonton target, yaitu melalui konteks teatrikal. Intertekstualitas di dalam pertunjukan teater merupakan praktik pembacaan teatrikal. Pavis menyatakan bahwa pertunjukan teatrikal memiliki peralatan transmisi yang tidak dimiliki media lain untuk berkomunikasi. Peralatan transmisi tersebut adalah elemen-elemen teatrikal yang terdiri dari akting para aktor, penulisan naskah drama, penyutradaraan, penataan artistik dan audio visual, pengelolaan produksi, dan penataan ruang riil dan ruang imajiner panggung pertunjukan (Pavis, 1992:200 dalam Yudiaryani, 2015:24). Pavis menjelaskan tentang representasi budaya melalui teatrikal berdasarkan pendapat Barba, Brook, dan Schechner.
Bagi Peter Brook, Richard Schechner, dan Eugènio Barba, sebagai sutradara multikulturalis, pertunjukan teater tidak sekedar menampilkan kembali budaya asing, tetapi juga membentuknya dan menghadirkan cara kerjanya. Menurut Brook, aktor yang terlibat dalam suatu pertunjukan terlibat dalam suatu ritualisasi pencarian otentisitas. Alat perlengkapan mereka adalah intensitasnya melestarikan kualitas penampilan sebagai aktor. Di dalam istilah Barba, teatrikalitas bukan istilah fiksi ataupun realitas, tetapi merupakan pertunjukan teknik beserta dimensi pratampilan yang berlangsung secara umum. Di setiap pertunjukan, penonton mengamati status teatrikalitas yang ditampilkan aktor, misalnya, ketika mereka menampilkan suatu bentuk budaya, sehingga mereka terus bersama dengan aktor dalam gerak pikiran-dalam-aksi (Yudiaryani, 2015:28).
Pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003) dan WB 3 (2004) merupakan intertekstualitas, teks transformasi karena teks baru yang menyerap dan mentransformasi mitos Watugunung, Murwakala, Sudamala, ’sejarah Majapahit akhir’, kolonialisme, industrialisasi dan globalisasi yang terbaca secara bahasa, peristiwa dan perlengkapan artistik di panggung sebagai teks-teks. Budaya multilingualisme dan multikulturalisme memperluas wilayah kerja intertekstual teater dan proses kontekstualisasinya dalam rangka mendekatkan teks-teks dari masa yang lain atau wilayah yang berbeda dari teks yang telah dianalisis. Teks-teks tersebut memiliki wilayah sumber yang berbeda, dasar yang berbeda dengan dasar target masa kini, atau hasil dari “penemuan kembali” yang berasal dari kerja “kembali ke sumber”. Jalur kontekstualisasi dapat berangkat dari penyeleksian daya gabung, dasar hubungan yang sudah terbukti, dan pada acuan eksplisit kepada teks acuan (De Marinis, 1993:36 dalam Yudiaryani, 2015: 27).

Tiga tokoh dalam kotak vertical yang latar belakangnya peta Indonesia dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 4
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Pembacaan elemen-elemen teatrikal digunakan untuk memaknai suatu proses kebudayaan, namun hanya gambaran budaya yang paling eksternal dan yang telah mengalami rekayasa dan penyebaran dapat dimaknai kembali. Elemen-elemen teatrikal pertunjukan tersebut kemudian diubah dan dikembangkan sesuai konteks pertunjukannya. Peranan konteks penting di saat terjadinya penyebaran, karena elemen teatrikal digunakan untuk meneruskan dan menerjemahkan konteks yang berisikan pesan-pesan dari budaya lama dan asing. Melalui elemen teatrikal pesan lisan diperagakan secara pandang-dengar. Kekhususan teater terletak pada kemampuannya menampilkan budaya secara teatrikal. Teater bertugas untuk menerjemahkan yang tidak terjemahkan, seperti magi, taksu, dan kharisma, yang dihadirkan melalui gerak tubuh, atmosfer, dan aksi simbolik secara konkrit (Yudiaryani, 2015: 27).
Dengan mengutip pendapat Peter Brook, seorang sutradara teater, Pavis menyatakan bahwa pertunjukan teatrikal memiliki peralatan transmisi yang tak ada pada media lain untuk berkomunikasi. Peralatan transmisi tersebut adalah elemen-elemen teatrikal, yaitu aktor, teks drama, sutradara, penata artistik, penata elemen pandang-dengar panggung, manajer produksi, dan ruang imajiner panggung. Elemen teatrikal pertunjukan mampu diubah dan dikembangkan sesuai konteks pertunjukannya. Elemen teatrikal dapat digunakan sebagai alat mentransfer dan menerjemahkan budaya asing, sehingga budaya asing tidak sekedar ditampilkan kembali tetapi proses penampilannya dapat diperagakan. Kekuatan pertunjukan teatrikal terletak pada kemampuannya untuk menampilkan budaya secara teatrikal. Inilah kekhasan pertunjukan teatrikal (Pavis, 19992 :203 dalam Yudiaryani, 2015:27-28).
D. Mise en Scene Pertunjukan Lakon Waktu Batu. Mengkaji pertunjukan teatrikal dengan teori mise en scène berarti menempatkan dalam adegan atau pengadeganan. Pavis menjelaskan, dalam wilayah kajian mise en scène perlu dibedakan antara teks drama dan teks pertunjukan. Teks drama merupakan naskah verbal yang dibaca dan didengar dalam pertunjukan hadir dan bukan teks yang ditulis dan hadir sesudah pelatihan improvisasi atau pertunjukan. Teks pertunjukan merupakan semua apa yang dicipta secara audio-visual di atas panggung, tetapi belum dianggap sebagi suatu sistem makna atau belum disebut sebagai wilayah keterhubungan sistem penandaan pertunjukan sebelum mendapat tanggapan dari penonton (Yudiaryani, 2015:32).
Pavis menyebutkan dua faktor dalam membaca mise en scène, yaitu pertama, melalui gerak tubuh aktor, dan kedua, melalui ragam budaya dan situasi pengucapannya yang memiliki perbedaan ruang dan waktu. Pavis menjelaskan pertemuan antara budaya sumber (produser, si pengirim) ke budaya target (si penerima, penonton) melalui mise en scène (Pavis, 1992:136 dalam Yudiryani, 2015:32).
Wilayah (T) merupakan mise en scène atau wilayah pertemuan teatrikal antara wilayah ucapan situasi pengirim yang sebenarnya dan wilayah ucapan situasi yang diharapkan penerima. Antara keinginan pengirim yang sebenarnya dengan harapan yang diterima penerima tidak berlangsung secara utuh. Pertunjukan teatrikal sebagai wilayah konkretisasi mise en scène tetap menyisakan wilayah semu atau abu-abu. Wilayah semu merupakan wilayah pertemuan konteks, baik konteks seni maupun konteks nonseni. Konteks dapat dibaca secara sistematis melalui tahapan-tahapan teknis penghadirannya.

Kala tampak tinggi, pakai egrang berperang
melawan Watugunung, bawah, membawa bendera
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 6
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Kehadiran mise en scène sebagai suatu sistem dikarenakan penerimaan dan rekonstruksi oleh penonton berkat proses penaggapannya. Membaca mise en scène merupakan cara menginterpretasi sistem struktur yang diproduksi oleh artistik pertunjukan teatrikal. Tujuannya bukan untuk melakukan rekonstruksi kehendak seniman, tetapi membantu penonton memahami sistem artistik yang diproduksi oleh seniman pencipta. Dalam menganalisis pertunjukan lakon Waktu Batu peneliti mengadopsi model pertemuan konteks (T) dalam mise en scene yang dikemukakan Yudiaryani (Yudiaryani, 2015:32-35) sebagai berikut: a. Tahap pertama, (TO) yaitu identifikasi gagasan. b. Tahap kedua, (T1) yaitu observasi artistik. c. Tahap ketiga, (T2) yaitu kokretisasi dramaturgis. d. Tahap keempat, (T3) yaitu konkretisasi panggung. e.Tahap kelima, (T4) yaitu konkretisasi resepsi penonton. Dengan demikian pertemuan konteks (T) dalam mise en scène pertunjukan lakon Waktu Batu sebagai berikut:
a). Tahap pertama, (TO) yaitu identifikasi gagasan di dalam pertunjukan lakon Waktu Batu. Tahapan ini berada dalam wilayah budaya sumber seniman. Gagasan masih abstrak dan berada diangan dan pikiran seniman. Bermula dari penemuan ide/gagasan, Yudi Ahmad Tajudin maka ‘ilham’ diperkuat ‘memori’, ‘referensi’ dimatangkan ’observasi’ dengan riset, ekplorasi, apresiasi, dan workshop bersama tim Teater Garasi secara realistis. Penemuan ide tematik ’waktu’, ‘transisi’ dan ‘identitas’ ditumbuh-kembangkan untuk mencipta pertunjukan lakon Waktu Batu. (Periksa Bab II. C.2. Penemuan Ide Pertunjukan Lakon Waktu Batu). Gagasan yang awalnya abstrak memiliki bentuk yang jelas. Tahapan ini menjadi sumber garapan pertunjukan. Ia juga menjadi sumber budaya yang menjadi pesan kepada penerimanya.
b). Tahap kedua, (T1) yaitu observasi artistik pertunjukan lakon Waktu Batu. Tahapan ini merupakan textual concretitation (konkretisasi tekstual), yaitu usaha Yudi Ahmad Tajudin bersama anggota Teater Garasi mengkonkretkan gagasan abstrak dan imajinasinya. Cara yang dilakukan mereka adalah melakukan penulisan naskah atau teks pertunjukan lakon Waktu Batu. Selanjutnya tim penulis, sutradara, aktor-aktris melakukan ‘riset’ sungguh-sungguh untuk mewujudkan teks pertunjukan Waktu Batu. Seluruh pendukung mengikuti ‘workshop’ berkaitan dengan penulisan teks pertunjukan maupun keaktoran. Selain itu untuk memantapkan kerja penulisan dilakukan ‘diskusi’ dengan beberapa teaterawan, pakar budaya Jawa guna mencapai teks pertunjukan lakon Waktu Batu yang diinginkan. (Periksa Bab III. A. Penulisan Naskah). Selanjutnya melakukan ekplorasi keaktoran lebih khusus ’sesi lumpur’ dalam pengertian teatrikal adalah metode pelatihan yang mementingkan eksplorasi tubuh, spontanitas dan konsentrasi aktor-aktris dalam rangka mengutuhkan pertemuan antara tubuh (raga), pikiran (inteletualita), dan batin (sukma). Pertemuan potensi aktor-aktris tersebut adalah sebagai media penyatuan suatu pengalaman kehidupan dengan cara yang purbawi dan spontan untuk menemukan gagasan artistik dan nilai seni.(Periksa Bab IV. A. Ekplorasi Keaktoran).Pilihan pada ekslorasi dianggap mampu menerangjelaskan gagasan abstrak dan imajinasi mereka. Tahapan ini juga dianggap sebagai suatu metode konkretisasi.
c).Tahap ketiga, (T2) ini merupakan tahapan dramaturgical concretization (konkretisasi dramaturgis), yaitu usaha penyesuaian antara penulisan naskah, eksplorasi keaktoran dengan perspektif penyutradaraan Yudi Ahmad Tajudin. Budaya target penerima mulai ditanggapi oleh pengirim, karena dramaturgi menampilkan keterkaitan antara seniman dan penonton. Jika aktor-aktris mewujudkan peran tokoh, tim penulis dan sutradara mengawal mewujudkannya. Proses penyutradaraan Yudi Ahmad Tajudin secara aplikatif: a. Kerja gali sumber (source works), b. Improvisasi (improvisation), c. Kodifikasi (codification), d. Komposisi (composition). Yudi Ahmad Tajudin dalam penyutradaraannya mengacu konsep ‘penciptaan teater sebagai kerja manifestasi eksistensi’.Kerja penciptaan teater yang dilakukan memiliki alasan, arah, kegunaan (purpose). Perpose atas teater, berpijak di bumi dan mengantarkan pada pengetahuan, kekuatan dan keterbatasan teater sebagai medium sekaligus disiplin. Atas kesepakatan dengan tim penulis maka sutradara menyusun pengadeganan pertunjukan lakon Watu Batu menjadi tiga versi yakni: 1). Pertunjukan lakon WB 1 (2002) terdiri duabelas (12) adegan meliputi: Prolog; Perihal Kapal-Kapal Yang Datang dari Balik Laut; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Pemukulan Ketel: Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Penemuan Luka Yang Membekas Nganga di Kepala; Di Ruang Tunggu. Sinta; Mengamuk di Jalan-Jalan; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal; Peperangan dan Dongeng-Dongeng yang Tak Selesai-Selesai; Nama-Nama Diciptakan. Nama-Nama Yang Menunjuk Entah. Dengan durasi pertujkan 1 jam 30 menit. 2). Pertunjukan lakon WB 2 (2003) terdiri sepuluh (10) adegan meliputi: Prolog; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Anakku Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Delapan dengan Suamiku; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Amnesia-Amnesia; Di Ruang Tunggu. Sinta; Kala Memakan Rembulan; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal; Epilog. Durasi pertunjukan lakon WB 2 adalah 1 jam 26 menit. 3). Pertunjukan lakon WB 3 (2004) terdiri sembilan (9) adegan meliputi: Prolog; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Anakku Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Delapan dengan Suamiku; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Amnesia-Amnesia; Di Ruang Tunggu. Sinta; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal; Epilog. Durasi pertunjukan lakon WB 3 adalah 1 jam 19 menit. Tahapan ini merupakan tahapan sistematika perspektif seniman atau produser.

Sinta Yang Lain, Sinta, Durga dan Kali dalam
Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 8
(Dokumentasi Nur Iswantara)
d). Tahap keempat (T3) adalah tahapan konkretisasi panggung. Tahapan ini merupakan usaha memadukan hasil kerja tim penulis, aktor-aktris, sutradara, tim artistik. Wilayah penataan artistik (skenografi) biasanya meliputi set-dekor-properti, busana, rias wajah dan rambut, serta pencahayaan. (Periksa Bab IV.C. Ekplorasi Artistik) ke hadapan penonton yang tentu saja menuntut kreativitas artistik yang berkualitas. Tahapan ini merupakan tahapan transfer teknik ketrampilan bersama para seniman di atas panggung.
e).Tahap kelima (T4) adalah konkretisasi resepsi penonton. Tahapan ini merupakan konkretisasi penerimaan, yaitu ujicoba mendekatkan ungkapan ekpresi seniman dengan penonton. Budaya target yang dimiliki penonton mulai diperhitungkan seniman. Kualitas artistik pertunjukan lakon Waktu Batu diuji coba dengan persoalan budaya penerima. a). Pertunjukan lakon “Waktu Batu 1, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu” (WB 1) di Gedung Sasono Hinggil Yogyakarta, 2-4 Juli 2002. b). Pertunjukan lakon “Waktu Batu 2, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah” (WB 2), di Gedung Kesenian Jakarta, 17-18 Maret 2003. c). Pertunjukan lakon “Waktu Batu 3, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu” (WB 3), di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam acara ‘Art Summit Indonesia IV’ (Performing and Visual Art Festival), 27-28 September 2004.
Pertunjukan teatrikal lakon Waktu Batu ditampilkan di hadapan penonton degan beragam interpretasi. Tahapan Pavis tersebut dapat digunakan untuk membaca bagaimana Teater Garasi mewujudkan kreativitas artistiknya. Pertunjukan ini seakan menyampaikan pesan niai-nilai kehidupan masyarakat sesudah Orde Reformasi tahun 1998 bergulir. Pertunjukan lakon Waktu Batu menghubungkan seniman dan penonton berada dalam dimensi artistik pertunjukan teatrikal.
Mengkaji mise en scene (pengadeganan) pertunjukan lakon WB 1 (2002), WB 2 (2003), dan WB 3 (2004) sebagai proses kreatif kelompok TGY didapatkan temuan bahwa dalam pengadeganan tidak melulu didasarkan pada pertimbangan naskah atau teks pertunjukan tetapi mempertimbangkan juga unsur-unsur artistik. Proses kreatif mengisyaratkan perubahan-perubahan unsur-unsur artistik pertunjukan memungkinkan munculnya judul baru.
Pengadeganan dan intertekstualitas antar waktu, waktu batu: waktu seakan-akan membatu/beku, kejadian berpola tetap yang hadir di berbagai waktu. Perbedaan waktu/kontras-kontras waktu ditunjukkan dalam wujud tokoh, dialog, gerak-akting, musik, artistik dan penulisan ulang atau restrukturisasi pertunjukan lakon Waktu Batu.*** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].
