L
Memuat...
Kontributor

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.8)

Siwa mendesak Uma dengan ‘naluri birahi’ sampai
jatuh terentang di perahu dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’ (WB2) Teater Garasi Yogyakarta
discreenshoot keperluan Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news. B.2.Pengadeganan Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’ (WB 2) (Dokumentasi DVD‘Waktu Batu 2, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’, Gedung Kesenian Jakarta, pada 17-18 Maret 2003, Yogyakarta: Teater Garasi. Dipentaskan juga di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, 20 Maret 2003; Taman Budaya Lampung, 26 Maret 2003; dan Sekolah Tinggi Seni Padangpanjang, 31 Maret 2003. Baca pula Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, Waktu Batu, Teater Garasi Laboratorium Penciptaan Teater 2001-2004, Magelang: Indonesiatera, 2004. Pertunjukan lakon WB 2 tetap bersumber dari tiga mitos Jawa, yaitu Watugunung, Sudamala, Murwakala dan sejarah akhir kerajaan Majapahit sebagaimana pertunjukan lakon WB 1.

Pertunjukan lakon WB 2, versi kedua, disajikan di panggung prosenium yang berukuran 11 x 8 meter. Ketika melihat tampak di atas panggung bergelantungan patung kepala kura-kura. Juga empat lampu penerang ruangan seperti di rumah sakit menggelantung. Set utama berupa kerangka besi (frame) yang berbentuk seperempat tabung dengan penutup plastik transparan, diletakkan bagian belakang kiri panggung dan di sebelah kanan tengah panggung terdapat tempat tidur rumah sakit (ranjang) yang diletakkan tidak simetris. Pada layar belakang (backdrop) diterangi warna biru, panggung tengah disinari warna netral sehingga kesan biru langit tertangkap dari tempat penonton (Penyebutan kanan dan kiri dipandang dari pihak pemain yang berdiri dipanggung, sebagaimana penjelasan tentang ‘Body Position” (posisi tubuh) oleh Alexander Dean, Lawrence Carra, Fundamental Of Play Directing, Fourt Edition, New York: Holt, Rinehart and Winston, 1980:34-36; baca Pramana Pmd., Pokok-Pokok Penyutradaraan Teater Modern, Materi Temu Teater Indonesia, Cipayung, 24 September 1985)
1. Adegan Prolog. Ketika penonton memasuki Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) sudah terdengar musik dan Suara pembaca teks bahasa Belanda (Anggi Minarni). Dari arah kiri panggung masuk penggagas, sutradara (Yudi Ahmad Tajudin) lalu duduk di ranjang. Penonton pun duduk. Terdengar pembacaan teks dalam bahasa Belanda, seakan dari sebuah tempat yang jauh. //Suara: Twee zeer belangnjke feiten hebben de toestand van/de Archipel ten sterkste beinvloed: het verdwijnen/van de invloed van het Hindoeisme in verband met/het opdringen van de Islam, en de vernietiging van /de Oosterse zeehandel door de Westeriingen, met /name do Portugezen./Sedert de Islam zich steeds krachtiger in/Voor-Indie deed gelden (na 1200 vooral), Bagdad na/Zijn verwoesting in 1258 door de Mongolen meer en/ meer vervangen werd door Kairo als handelsmarkt/ voor Oosterse waren, werd het aandeel, dat de/Hindoe’s in de handel op de Archipel bezaten,/steeds geringer. In de loop van de tijd werd de/handelsweg van de Middellandse Zee tot de/Molukken geheel Moslims en de Zuidelijke zeeen/werden enkel door Islamietische grrothanddelaars bevaren….(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:1-2). Untuk memahami peneliti dibantu di-Indonesia-kan: oleh Ibu Vini, atas rekomendasi mbak Anggi Minarti, Kepala Karta Pustaka Yogyakarta, sebagai berikut: “Dua fakta yang sangat penting telah memberi pengaruh yang sangat kuat terhadap situasi di Nusantara: hilangnya pengaruh Hindu sehubungan dengan masuknya Islam dan hancurnya perdagangan laut bangsa Timur oleh orang-orang Barat, yaitu oleh orang Portugis. Sejak Islam menjadi semakin kuat di Hindia Awal (terutama setelah tahun 1200), peran Bagdad sebagai pusat perdagangan bangsa-bangsa Timur setelah kehancuran pada tahun 1258 oleh orang-orang Mongol semakin digantikan oleh Kairo. Maka peran sebelumnya dimiliki oleh pedagang-pedagang Hindu dalam perdagangan di Nusantara, menjadi semakin kecil. Seiring dengan berlalunya waktu, jalur perdagangan dari Laut tengah sampai ke Maluku dan laut-laut di Selatan hanya dilayari oleh saudagar-saudagar Islam….”

Dua pemain lalu lalang, dan disusul seorang pemain perempuan pemanasan melintas. Sutradara ke samping panggung, masuk kembali menunjukkan properti sayap-sayap. Pemain bersliweran. Lampu natural meredup. Panggung kosong.

 

Adegan prolog para tokoh dalam cemas dalam Pertunjukan
Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa
Yang terbelah’ (WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 3.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Kesibukan-kesibukan masih berlangsung di atas panggung. Suasana seperti di ruang latihan. Beberapa aktor melintas. Ada yang membawa kostum dan properti. Sementara yang lain melakukan pemanasan. Beberapa stage crew masih menyelesaikan pekerjaannya. Sutradara meminta penata cahaya mencoba lampunya. Beberapa suara, semacam yang terdengar dari pabrik, dibunyikan. Kejadian-kejadian dan percakapan yang terjadi berikut ini adalah deret kejadian dan percakapan yang saling bertindihan. Seorang perempuan yang mengenakan piyama melintas.

Seorang perempuan berjalan dengan gerakan tari Jawa. Seorang perempuan yang mengenakan pakaian dokter di ruang operasi melintas. Seorang lelaki berjaket sport berjalan demikian tergesa. Dua orang berlari. Dua orang melintas mendorong bodycarrier. Seorang lelaki terbaring di atasnya. Semakin banyak orang melintas.
Robot kura-kura melintas. Lelaki yang terbaring di bodycarrier dipindahkan ke atas tempat tidur. Seseorang berjalan jongkok, demikian perlahan, menuju sebuah sudut. Duduk diam. Seperti menanti. Terdengar pengumuman-pengumuman dari pengelola gedung pertunjukan. Suara laki-laki kembali terdengar ”Telpon genggam, radio panggil serta peralatan elektronik lainnya yang dapat menimbulkan suara mohon tidak diaktifkan terimakasih” diikuti dalam bahasa Inggris.
Seseorang berjalan membungkuk seperti tengah menyapu sesuatu. Sutradara mengejar dan membisikkan sesuatu di telinganya. Seseorang perempuan memakai piyama melintas sembari membaca peta. Seseorang perempuan berjalan cepat sambil mengangkat tinggi-tinggi enthong di atas kepalanya. Seorang perempuan yang memakai pakaian dokter di ruang operasi berjalan seperti kura-kura. Melintas. Seorang perempuan berlari sambil mengangkat tinggi-tinggi entong di atas kepalanya. Seorang perempuan melintas, tangannya menunjuk sesuatu yang jauh, dari mulutnya terdengar suara, “Mesin… Mesin…”.

Seorang Lelaki berpakaian Jawa (sistim tanda kostum) duduk bersila disebelah sudut kanan depan.//Lelaki yang duduk di sudut:(Seperti merapal mantra) Adam dan Hawa berputra Nabi Sis. Nabi Sis dan Sitti Mulat berputra Sayid Anwar dan Sayid Anwar. Sayid Anwar berputra Sultan Kinan. Sultan Kinan berputra Sultan Manail. Sultan Manail berputra Sultan Barat. Sultan Barat berputra Kanjeng Nabi Idris. Kanjeng Nabi Idris berputra Sultan Muntawal. Sultan Muntawal berputra Sultan Lemah. Sultan Lemah berputra Nabi Nuh Sayid Sam. Nabi Nuh Sayid Sam berputra Sang Prabu Irparsat. Sang Prabu Irparsat berputra Baginda Saleh. Baginda Saleh berputra Sayidin ‘Anbar. Sayidin ‘Anbar berputra Sultan Rangu. Sultan Rangu berputra Sang Prabu Susuruh. Sang Prabu Susuruh berputra Sayidina Kur. Sayidina Kur berputra Sang Patih Nadjar. Sang Patih Nadjar berputra Kanjeng Nabi Ibrahim. Kanjeng Nabi Ibrahim berputra Kanjeng Nabi Ismail. Kanjeng Nabi Ismail berputra Sayidina ‘Ujar. Sayidina ‘Ujar berputra Sayidin Malar. Sayidin Malar berputra Sayidina Ilyah. Sayidina Ilyah berputra Sayidin Malrikah. Sayidin Malrikah berputra Sayidina Kangat. Sayidina Kangat berputra Sayidina Marah. Sayidina Marah berputra Sang Prabu Kalap. Sang Prabu Kalap berputra Sayidina Kasa. Sayidina Kasa berputra ‘Abdu’lmanab. ‘Abdu’lmanab berputra Kanjeng Baginda Sim. Kanjeng Baginda Sim berputra ‘Abdu’lmuntalip. ‘Abdu’lmuntalip berputra ‘Abdu’llah. ‘Abdu’llah berputra Sayidina Maulana. Sayidina Maulana berputra Dewi Sitti Fatimah. Dewi Sitti Fatimah berputra Sayidin Kusen. Sayidin Kusen berputra Sayidin Maulana Zyainal’ Abidin. Sayidin Maulana Zyainal ‘Abidin berputra Sayidin Maulana Zyainal’ Alim. Sayidin Maulana Zyainal ‘Alim berputra Sech Zyainal Kabir. Sech Zainal Kabir berputra Sech Namudini’lkabir. Sech Namudini’lkabir berputra Sech Namuju’ldini’ilkobra Sech Namuju’ildini’lkobra berputra Sech Sema’un. Sech Sema’un berputra Sech Chasan.Sech Chasan berputra Sech ‘Abdu’llah. Sech ‘Abdu’llah berputra Sech ‘Abdu’rrachman. Sech ‘Abdu’rrachman berputra Sech Maulana Mahmuddini’lkabir. Sech Maulana Mahmuddini’lkabir berputra Kanjeng Maulana Mahmuddini’lkobra. Kanjeng Maulana Mahmuddini’lkobra berputra Kanjeng Maulana Iskak. Kanjeng Maulana Iskak berputra Sech Wali Lanang. Sech Wali Lanang berputra Sang Prabu Satmata. Sang Prabu Satmata berputra Susuhunan Giri Kedua.

Susuhunan Giri Kedua berputra Pangeran Saba. Pangeran Saba berputra Seorang Perempuan yang dikawini Kiai Ageng Mataram. Seorang Perempuan istrinya Kiai Ageng Mataram berputra Panembahan Senapati Ingalaga Mataram. (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:3-5).
Seiring suara Seorang Lelaki yang duduk di sudut seperti merapal mantra, dari sudut kiri seorang perempuan berpakain hitam melintas dan dari arah kanan seorang berpakaian putih bagai dokter berjalan merangkak. Musik pun mengeras bunyinya diselingi suara perkusi bende ‘dung-dung’. Seorang perempuan yang mengangkat tinggi-tinggi enthong di atas kepalanya berlari masuk ke tengah panggung. Perlahan ia membuka mulutnya seperli tengah berkata-kata tiada mengeluarkan suara.
Terdengar seorang perempuan dari ruang lain membacakan sebuah teks. //Suara: Semula bocah itu bernama Jaka Budug. Lahir di sebuah perjalanan dan ketidakpastian memaksanya menjadi bocah yang sukar ditundukkan, bahkan oleh ibunya. Suatu siang, lantaran lapar, Budug pulang. Dan merengek pada ibunya minta nasi. Sinta yang tengah sibuk menanak di dapur merasa terganggu. Ia berusaha menahan dirinya untuk tidak marah. Menanak nasi adalah sebuah upacara baginya, bagi perempuan-perempuan Jawa lainnya….Seorang lelaki yang terbaring di atas tempat tidur, duduk menceracau, mengulang-ulang iklan di televisi.Dari mulutnya terdengar suara, “Conectingpeople! Be cool! Be confident!…. ” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 6).
Dari arah kiri muncul robot Kura-kura berkepala manusia jalan, dari kanan seorang lelaki berjaket bertudung mendorong sebuah perahu perlahan seperti masih berusaha mencari jalan. Seorang lelaki berlari seperti mengejar suara itu. Ia menenteng sebuah patung kepala manusia. Ia berhenti, membuka mulutnya seperti hendak memiliki suara itu. //Suara: Tahun 1511, tepat pada tanggal 10 Agustus, Portugis menguasai Malaka.Sebulan kemudian, sepasukan armada dari Jawa, dihancurkan di Selat Malaka. Kapal-kapal mereka yang berisi harta benda berharga ditenggelamkan dalam perjalanan kembali ke Goa.Pada saat itu kampung-kampung pengungsi Hindu Majapahit tertua di Bali sudah berusia 43 tahun.Majapahit tak pernah benar-benar sembuh dari kisah-kisah pemberontakan.Brawijaya Girindhawardhana, sang raja terakhir, bukan tak mendapat kabar bahwa Malaka sudah jatuh ke tangan orang-orang asing.1513 Kontak pertama orang-orang Portugis dengan sisa-sisa kerajaan Majapahit.Putus asa dan penuh dendam, dengan kekuatan yang tak seberapa, Udara, putra Girindhawardhana,menyerang Demak. Demak, sekalipun kehilangan tokoh kharismatik Sunan Ngundung, berhasil memukul mundur pasukan Majapahit yang telah dibantu bala tentara raja Klungkung dari Bali (Andri Nur L, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 7).

Suara-suara, seperti mesin-mesin, mengeras, suara gaung kapal. Kecemasan di tepian pantai. Hampir terang, orang-orang memandang ke arah laut. Pada adegan ini, panggung lebih banyak diterangi warna natural dan biru. Arti adegan ini tentang sesuatu yang datang dari jauh yakni kedatangan kapal-kapal dari tengah lautan yang menimbulkan kecemasan orang-orang. Kesemrawutan, bertumpang tindih dan cemasnya para tokoh. Senja atau parak pagi, tak ada yang pasti. Masihkah bintang-bintang menunjukkan arah. Kedatangan ‘kapal’, ‘raksasa’, dan ‘mesin’ menjadikan para tokoh dalam kecemasan dan semakin menjadi-jadi kecemasannya.

2. Adegan Terjadinya Kala Terjadinya Durga. Set panggung dalam adegan ini ditata secara tidak simetris. Sebuah kerangka besi (frame) seperempat tabung dengan penutup plastik transparan diletakkan di bagian kiri belakang panggung. Di bagian kanan diletakkan frame tanpa tutup. Bagian tengah panggung terdapat ranjang dan agak ke depan ada perahu.
Musik bergemuruh. Di bagian kiri dalam frame tertutup plastik transparan ada sosok perempuan yang berpose seperti penari. Cahaya hijau melingkar menimpa plastik penutup frame yang memperlihatkan sosok penari dengan posenya. Dihadapannya berdiri seorang Saksi yang menyanyi (Hindra Setya Rini) berbusana feminin atas putih bawah merah melantunkan tembang jeritan kepedihan.

Di ranjang seseorang tergeletak, disisinya seorang pemuda dengan dada terbuka, celana gelap berdiri menunggui. Saksi yang menyanyi terus melantunkan tembang dengan nada tinggi dan menyayat hati. Pasien di ranjang pun kejang-kejang dan duduk gemetaran. Dari arah kanan muncul tokoh Sinta (Naomi Srikandi) bergaun warna hitam diikuti tokoh Durga (Erithrina Baskorowati) bergaun merah berjalan selangkah demi selangkah menuju panggung kiri. Dari arah kiri muncul tokoh Garudeya atau Narator (Bahrul Ulum) lelaki dengan sayap lebar mulut pakai penutup masker yang menarik perahu ditumpangi Siwa sekaligus Kala (Jamaluddin Latif) mengenakan jubah putih dengan tata rias wajah seperti joker bersama Uma sekaligus Kali (Sri Qadariatin) mengenakan gaun hitam. Garudeya atau lelaki itu pun berkisah. //Seorang lelaki bersayap lebar yang bercerita kepadamu: Sepasang kekasih melintas di atas samudera. Camar-camar telah menjadi sore. Bukan hujan, hanya gerimis menyusun horizon yang jauh. Sore yang setengah bercinta sejak semula memanggil kupu-kupu, meletakkan lelah warnanya di dada Uma. Siwa dengan nyala di matanya semacam bertanya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 11).

Adegan Terjadinya Kala, terjadinya Durga.
dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan
dan Wajah Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 7.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Seorang lelaki bersayap lebar yang bercerita kepadamu berbicara semakin mengesankan (sistim tanda kata/bahasa) disertai lantunan Saksi yang menyanyi (sistim tanda nada). Ketika dialog Garudeya selesai. Kaki Uma dipegang Siwa dari dalam perahu (sistim tanda properti) Uma merangkak menempatkan posisi kayang (sistim tanda gerak), kaki Uma di bibir perahu tangannya di luar perahu (sistim tanda gerak). Siwa berdiri mengangkang di atas perahu memandangi Uma dalam posisi tubuh yang menggairahkan. Siwa pun bertanya. //Siwa: Bolehkah kuletakkan lelahku di dadamu?/Uma: Apa yang sedang kautatap, Siwa? Kurasa kau tak sedang menatap senja? (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:12).

Dialog diatas diucapkan lembut oleh Siwa dijawab Uma mesra. Uma dari posisi kayang meroda, Siwa mengejar hingga tangan Uma ditangkap dari belakang. Siwa menikmati Uma dengan tatapan mata tajam bagai hendak memangsanya. Siwa bernafsu, Uma menggoda dengan gerak-gerik. Siwa menangkap Uma, memanggulnya penuh gairah hidup.
Siwa dengan Uma bercinta yang diekspresikan dengan berbagai perilaku. Siwa dan Uma masuk jeratan ‘naluri birahi dewa-dewi’ yang dimabuk cinta, bahkan Siwa mendesak Uma sampai jatuh terentang di dalam perahu. Dalam posisi terdesak Uma tetap berusaha mencari peluang melepaskan diri dari Siwa. Uma berhasil menerobos kangkangan Siwa sambil meloncat dan berkata geregetan. //Uma: Tidakkah kaulihat, sore sedang tumbuh di antara gerai gerimis?/Siwa: Tidak, aku tidak melihatnya! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 12).
Siwa mengimbangi dengan geregetan pula. Keduanya berkejaran bagai kucing hendak kawin, melesat bebas mencari tempat. Siwa dengan Uma pun bergejolak birahinya. Panggung pun merah biru romantis. Pemeran lainnya memperagakan gerakan sensual naik-turun. Bahkan ada perempuan dengan posisi kakinya diatas diangkat seorang lelaki. Garudeya pun bercerita.: “Di sebuah padang terbuka di hamparan sore membara. Sepasang binatang berkelahi dalam birahi.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:11). Uma meloncat, Siwa pun menghadang penuh birahi. Uma dengan keras berkata. //Uma: Anjing! Bercintalah dengan malam!/Siwa: Anjing! Aku tidak bercinta dengan ibu para siluman (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 12).

Siwa yang berkejaran dengan Uma pada akhirnya sampai pada titik tertinggi. Siwa mengangkat Uma, dan Uma mengempit kepala Siwa. Akhir dialog Siwa “Aku tidak bercinta dengan ibu para siluman!” mereka roboh. Uma membenamkan kepala Siwa ke dalam rawa. Siwa membenamkan wajah kekasihnya ke dalam rawa. Suara mengeras bagai air hujan turun dari langit dilanjutkan suara “tut…tut” alat perekam jantung berbunyi dengan nada panjang “tutttttttttttttt.” Keduanya terbenam di rawa-rawa. Sesaat sepi. Orang-orang diam mematung. Dari kedalaman rawa-rawa, Uma telah berubah Durga. Siwa berubah Kala. Panggung memerah. Suara dentuman keras, suara angin bagai raungan.
Di layar belakang sorot multimedia meproyeksikan pusaran kosmos berputar. Kala (Jamaluddin Latif) meninggalkan jubah putihnya. Kala, dada terbuka celana putih. Wajahnya mirip joker atau badut. Musik menderu-deru. Kala telah lahir. Kala bergerak beberapa langkah dan bicara. //Kala: Aku diciptakan tidak sengaja. Aku adalah kecelakaan dan celakalah dirimu karena mengenalku. Kala meroda – meloncat, melanjutkan dialog suara memberat. Aku adalah dentuman besar di lubang kosmos dan setelahnya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 13).
Orang-orang kembali membelah diri. Pasien di ranjang dengan sikap berdiri, yang lain memakaikan wajah dan tubuh orang lain pada wajah dan tubuh mereka. Lalu seperti saling memantul-mantulkan suara mereka. Pada penggal dialog Kala “Sudah! Aku karang, tempat kelak burung-burung yang melintas samudera menabraknya” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 13). Semua orang-orang bersamaan mengucapkannya. Kemudian pasien yang di ranjang meloncat mendorong perahu ke arah kanan panggung. Kala mematung di bagian tengah belakang panggung. Panggung berwarna merah.
Suara perempuan menyanyikan lagu merdu di balik frame yang ditutupi plastik transparan. Uma tertegun duduk di ujung ranjang. Ia menemukan dirinya, terbelah, saling memunggungi, saling tak mengenali. Kala masih berdiri diam. Seorang pemuda melintas dipanggung belakang dari kiri menuju kanan, dari arah sebaliknya seorang perempuan melintas pula.

Uma adalah Durga (Erytrina Baskorowati) mengenakan gaun merah. Adalah Kali (Sri Qadariatin) mengenakan gaun hitam berdiri dekat infus digantung. Keduanya berdialog. //Durga: Telah kunikahi kegelapan, telah kunikahi malam, dan bersama dirinya, kami buat pesta persetubuhan dan beranak-pinak setiap kali bulan kutelan. Aku merentangkan garis yang bagimu panjangnya tak terkira, sebegitu panjangnya sehingga tak siapa pun, kecuali diriku, merasakan getar tubuhnya dari titik mula hingga akhir dari segala. Sebegitu panjang garis itu sehingga kalian akan terus bertengkar tentang bentuk bangunan yang kugariskan. Kuberi satu rahasia, garis itu tidak semata-mata lurus, atau melengkung. Juga bukan labirin atau sumur tanpa dasar./ Kali: Aku merentangkan garis dan meletakkanmu, sayang, di dalamnya. Kau akan berhenti di satu titik, membias dan menguap. Mati. Lalu seperti berlari beranting, orang-orang mengambil tongkat yang kuulurkan dan mengejar batas akhir di keentahan. Kukatakan padamu, batas akhir itu adalah esok hari. Atau lusa (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:14).
Adegan Durga dan Kali yang berdialog dengan irama lambat, sedang, cepat bahkan dengan nada rendah ke tinggi, serak-parau memberat tokoh raksesi sehingga menambah suasana dan ketegangan dramatik semakin menakutkan.
3. Adegan Anakku Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Delapan dengan Suamiku. Ditandai adanya suara gemuruh dan masuknya Seorang lelaki berkepala dandang (Bahrul Ulum) dengan dada terbuka celana coklat masuk dari arah kiri panggung sampai ditengah berjalan lurus menghadap ke penonton. Lelaki tersebut berhenti melepas dandang yang dikenakan lantas bercerita.

Dibelakangnya telah berdiri Sinta (Citra Pertiwi) dan Sinta Yang Lain (Naomi Srikandi), Garudeya dan seorang perempuan. Pada penggal dialog Seorang lelaki berkepala dandang: “Segalanya hanya sesaat” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 18) tiba-tiba terdengar suara mesin berderu disusul seperti tembakan senjata beruntun. Semua tokoh dibelakang Seorang lelaki berkepala dandang memukuli wajahnya sendiri-sendiri dengan tangannya. Kemudian suara mesin pun seketika berhenti. Sinta mengenakan gaun ungu dan kepala berhiaskan kain renda putih. Sinta pun memukul wajahnya sendiri “plaak”, sepi. Sinta dengan lembut, penuh perasaan bicara. //Sinta: Semuanya bermula di hari ini, pada semacam senja yang kering tua ketika, sekalipun tenang, bau bencana sedang turun deras-derasnya, seperti hujan. Laki-laki itu Watugunung suamiku, mendekat ke dadaku, perlahan, hampir-hampir seperti meyelinap dari dirinya yang ditinggalkan di atas ranjang. Ia letakkan kepalanya di antara dua buah susuku. Kemarilah, mendekatlah. ‘Belailah, bacalah. Aku ingin kau meneduhkanku,’ katanya mengulurkan kepalanya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:19).

Adegan Tokoh Sinta yang berdialog penuh perasaan
dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 10.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Gaya pengucapan Sinta bagai pembacaan puisi yang penuh perasaan, intonasi las-lasan ditimpa senandung tembang Jawa seorang wanita. Dari arah kanan seorang berpakain dokter warna hijau membawa patung potongan kepala berjalan. Disusul seorang tokoh mengangkat enthong tinggi-tinggi dan dari arah kiri dua tokoh mengangkat enthong tinggi-tinggi pula. Pada penggal dialog Sinta “Kemarilah, mendekatlah” musik keras. Garudeya dibelakang berteriak “Bapaaaaa!” Sinta mengakhiri dialognya disusul Sinta Yang Lain berkata. //Sinta yang lain: Di antara dua susuku, kepalanya menebar kerinduan, yang entah mengapa, selalu putus asa. Kubelai rambutnya yang hitam, yang dari setiap helainya berisi dendam. Kepingin kuberikan sebanyak kedamaian yang ada, tapi kedua tanganku ini terlanjur didera dosa. Dari kepalanya aku membaca peta-peta dari raja-raja yang tumbang. Kubaca negeri-negeri yang terbakar. Kubaca kesedihan yang berlarat dalam kidung-kidung yang dinyanyikan burung-burung hantu. Kubaca rasa takutnya pada Siwa dan pada segala kuasa yang melebihi kuasanya. Kubaca dirinya, yang menyerahkan segalanya untuk kubaca. (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:20).
Sewaktu Sinta Yang Lain memulai dialog dengan penuh penghayatan, lelaki pembawa enthong didekatnya didekap. Demikian juga Sinta pun mendekap lelaki pembawa enthong yang didekatnya pula. Pada penggal dialog Sinta Yang Lain “Kubelai rambutnya yang hitam,” di frame yang ditutup plastik transparan disorotkan gambar potongan kepala, berlanjut dialog Sinta yang Lain pada penggal “Kubaca negeri-negeri yang terbakar” tokoh lelaki yang membawa enthong tinggi-tinggi berteriak keras “Hentikan!!!”
Sinta sambil berdekapan dengan seorang lelaki berdialog penuh penghayatan. Pada penggal dialog “seluruh mimpi buruk” dekapan mulai mengendur, pada penggal dialog “tapi malah terbanting kepala itu” lelaki yang mendekap Sinta dan Sinta Yang Lain berguguran bersamaan jatuhnya enthong “braaak” dan seorang lelaki yang bersayap memegang kepalanya berteriak “Bethara Guru!! Bapaaa!!” Lampu panggung pun padam sesaat di frame transparan muncul gambar komik. Suasana begitu sendu. Lampu membiru.
Sinta terus berbicara dengan sangat perih. Pada penggal dialog “Mengapa aku melukaimu?” di frame trasparan muncul gambar tokoh komik pencabut nyawa membawa pancung. Kemudian dari arah kanan panggung seorang berpakaian dokter hijau melintas membawa potonga kepala disusul tokoh lelaki tanpa baju merangkak bagai ular melintas.

Pada penggal dialog “Rebut aku” yang Sinta diucapkan dengan penuh permohonan, ada bunyi potongan kepala dipukul dilanjutkan sautan dialog tokoh Kali (Sri Qadariatin). Suara perempuan terdengar dengan jelas.//Suara perempuan dari dalam sebuah rumah yang ditinggalkan Daendels: Aku pingin ganti baju. Aku pingin pakai bajumu. Aku cantik kan, Suster? Anakku saja barangkali meniduriku. Berarti aku masih cantik kan, Suster? Ia mengira aku pacarnya. Ia mengajakku jalan-jalan ke kebun binatang. Dan sepanjang jalan ia tak henti menciumi seluruh tubuhku. Ia tak tahu aku ibunya. Waktu itu aku juga tak tahu bahwa aku ibunya. Di pinggir kandang kijang ia melamarku. Dan aku menerimanya. Lalu kami kawin. Suster. Anak kami dua puluh tujuh. Ah, dua puluh delapan dengan suamiku. (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:23).
Dialog diatas diucapkan oleh pengisi suara seperti membacakan suratnya yang tak pernah tersampaikan dengan menyelaraskan irama musik dentingan piano yang berirama pelan. Artinya penyesalan Sinta, Sinta Yang Lain hingga Suara Perempuan menegaskan adegan ini memang perih penuh sesal.
4. Adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik.Suara bunyi berdengung beberapa tokoh bergetaran. Seorang bocah bernama Watugunung Muda (Andreas Ari Dwianto) bercelana warna coklat membawa piring seng. Watugunung Muda pun sendirian monolog. // Watugunung Muda: (Setelah berlarian kesana-kemari) Belum terlalu siang, tapi aku memutuskan untuk pulang. Aku lapar. Adakah emak sudah memasak untukku hari ini? Aku langsung menuju pintu dapur, melihat emak hatiku bungah. Benar, dia sedang memasak untukku rupanya. Kulihat ia sedang mengaduk nasi yang ditanaknya. Asap mengepul menuju jendela yang terbuka. Baunya membuat perutku semakin lapar saja. Ah, emak sayang, tentu ia akan girang jika tahu aku telah pulang. Mak….(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:24).
Sinta dengan Sinta Yang Lain asyik mengaduk nasi. Sinta dan Sinta Yang Lain membicarakan masalah domestik “Berjalan-jalan, mengeringkan rambut, merawat kuku dan membeli baju, memasak, mengunjungi banyak tempat, bisa bertemu dengan perempuan-perempuan lain” hingga bocah-bocah dibiarkan kelaparan dan bermain-main.

Adegan Watugunung Muda menjelma Kura-Kura
dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah
\Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 12.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Bocah-bocah tak diberi makan, mereka memukul-mukulkan piring seng ke lantai Sinta dan Sinta Yang Lain hilang sabar dan marah. Keduanya mengangkat enthong tinggi-tinggi. Bocah-bocah kena pukul enthong, terpental terluka di kepala. Sinta dan Sinta Yang Lain berdiri kaku dengan tatapan melayang jauh dan tiada disadari kesabarannya menjadi amarah. Anak-anaknya menjadi korban.
Sinta dan Sinta Yang Lain melihat luka. Bocah-bocah dan Matugunung Muda luka. Mereka bangkit sambil memegangi kepalanya yang luka. Kemarahan Watugunung Muda membuat lari melesat. Sinta dan Sinta Yang Lain mengejar tetapi bayangnya hilang. Panggung merah ditimpa bunyi pukulan lesung. Dua frame bergerak membuka, Watugunung Muda pelan-pelan telah menjelma kura-kura. Pada seluruh dunia ia pun berkata. //Watugunung Muda: Panggil aku hari pertama di awal musim. Di mana segalanya bermula dan bermuara! Aku karang tempat burung-burung bersarang, bukan langit tempat mereka menari dan terbang. Sudah, …aku karang tempat kelak burung-burung yang melintas samudera menabraknya. (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:31-32).

Kura-kura melangkah pergi. Sinta telah tersesat, tak menemukan apa-apa. Sinta menjelma raseksi, raseksi itu Uma yang telah menjelma Durga dan Kali. Durga dan Kali merobek-robek malam. Menguyah bulan dan menyeret sunyinya keliling dunia. Durga dan Kali jalan penuh dengan amarah. Sekelompok perempuan dengan cemas memukul-mukul lesung. Durga dan Kali tetap marah bahkan meminta makan anak-anak sukerta sebagai makananannya. //Durga dan Kali: (Menyebut daftar para terkutuk itu) Bathang ucap-ucap, jisin lumaku, gotong mayit, wong kang ngalang-alangi lakune Bathara Kala, wong kang ora ngrampungke anggone mayoni omah, wong ngrubuhake dandang, wong nugelake pipisan utawa gandhik, bocah julung sungsang, bocah julung pujud, bocah julung wangi, wong ngeblakake lawang wayah candikala, wong gawe wewadhah tanpa tutup, wong mbuwang uwuh ing longan, wong mbuwang uwu metu jendhela, wong turu wayah pletheking srengenge, wong turu wayah surup, wong turu wayah bedhug, wong nggorohi marang darbeke, bocah jempina, bocah marga, wong simpen ajang isih reged (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 33; mencermati adegan ini dialog pendek-pendek dan unsur visual lebih dominan, lihat juga Dokumentasi DVD “Waktu Batu 2 Ritus Seratus Kecenmasan dan Wajah Sapa Yang Terbelah, Gedung Kesenian Jakarta,17-18 Maret 2002, menit 33.39-42.34).
Anak-anak sukerta itu menari-nari dengan iringan gejog lesung dan tariannya mirip gerak-gerik penari jathilan (kuda lumping) bahkan tarian warok Reog Ponorogo. Beberapa pemeran kesurupan (trance), diminumi air oleh yang lain. Di mulut mereka menggigit piring seng. Suara lesung bergema dipukuli Ibu-ibu (Sinta, Sinta Yang Lain dan Kali) dalam cemas. Halini memilii arti bahwa para Ibu-ibu tidak menyadari kalau kekerasan dalam wilayah domestik atau lingkungan rumah tangga dapat melahirkan malapetaka bagi anak-anak serta dirinya sendiri.
5. Adegan Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku. Panggung gelap lalu cahaya kuning menerangi. Empat frame disusun seperti lorong. Di kanan kiri ada Durga dan Kali. Di bagian depan tokoh Watugunung Dewasa (Theodorus Cristanto) menggambar dengan jemarinya. Darah di kepala Watugunung tak mau mengering masih berceceran.

Adegan Tokoh Watugunung mengangkat tangan kiri,
sedang menggambar apa saja. dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 14.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Watugunung berlari jauh meninggalkan rumah. Di belakangnya sesosok bayangan hitam sebesar gelap malam terus mengikutinya, menjilati tetes darah Watugunung. Dengan darah itu Watugunung mulai menggambar sesuatu pada apa saja. Bayangan hitam itu berubah Kala (Jamaluddin Latif) bicara. //Kala: Kau sedang menggambar apa? /Watugunung: (Sembari menggambar entah pada udara) Siang. Kala: Apa lagi? (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:34).
Pada penggal dialog Kala “Apa lagi?” Suara musik disco keras menghentak. Cahaya lampu blitz mengarah penonton menyala kuat kemudian kelap-kelip, menyilaukan mata. Pesta sudah dimulai. Musik berdentam keras dan lampu-lampu menyala Kala pun berlari ke arah kanan.
Durga dan Kali mengangkat enthong berjalan perlahan dari arah berlawanan. Kala dari arah kanan berlarian. Kala penuh agresif terus bertanya kepada Watugunung dengan nada mendesak. Watugunung yang terus dicecar pertanyaan tetap menggambar entah. Kala setengah berteriak dan merajuk. //Kala: Bhre, Kau masih menggambarku? Bagaimana kau bisa menggambar dengan baik jika kau melakukannya semakin terburu?/ Watugunung tak bersuara./Kala: Sudahlah. Kau semakin tidak menggambar apa-apa. Hanya batu-batu, tentu…(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:38).
Adegan ini menempatkan Kala berbahasa verbal dengan dominan, Watugunung banyak dengan bahasa gerak. Watugunung geram dan mengamuk. Lalu mereka saling tatap. Sebuah episode perkelahian dimulai untuk kemudian tertunda. Senyap yang tiba-tiba disusul tembang pesisiran. Adegan usai. Artinya bahwa tingkah laku Kala yang selalu mengikuti, membayangi dan mendesak Watugunung yang menjadikannya kemarahan dan sebagai cikal bakal perkelahian tidak dapat terhindarkan.

6. Adegan Amnesia-Amnesia. Suara mesin bergema. Seorang lelaki bersayap memakai masker mendorong perahu, terdengar suara lelaki (Theodorus Christanto) berkisah.// Suara: 1603. Kantor pusat VOC didirikan di Banten. 1619. Kota Batavia didirikan. Sejarah Jawa semenjak saat itu adalah sebuah sejarah pertarungan panjang, yang tidak seimbang antara kekuatan VOC yang dinamis dan kekuatan Mataram yang menyurut (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:40).
Di panggung lampu temaram, beberapa crew stage dan pemain menata perlengkapan panggung. ‘Suara’ tetap terdengar dengan jelas. //Suara: Kegagalan Sultan Agung merebut Batavia pada 1628-1629, membuka jalan bago Kompeni untuk mulai melancarkan serangan dan secara berkala memperluas wilayah dengan mengambil alih kekuasaan raja-raja pribumi. (Dialog Suara ini tidak ada dalam teks pertunjukan akan tetapi diucapkan dalam Dokumentasi DVD‘Waktu Batu 2 (2003).

Adegan Tokoh Sinta Yang Lain duduk disisi Watugunung
kena wabah amnesia Kala memukul. dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus
Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 15.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Di sebelah kanan, Sinta Yang Lain memangku Watugunung Yang Lain tidur di ranjang besi. Di tengah depan perahu yang diletakkan miring didalamnya Watugunung tidur. Kala memukul-mukul perahu dengan enthong besar menyesuaikan irama penyanyi yang menyayat hati. Suara perempuan berkisah tetapi tertimpa dengan musik. Di kiri belakang frame transparan penuh dengan sorot gambar multimedia dan di dalamnya tampak Saksi terus menyanyi. Musik dan nyanyian mengharu-biru. Kala terus memukuli perahu yang di dalamnya ada Watugunung, Yang Lain dialog berlanjut. //Watugunung dan Watugunung Yang Lain: Tapi siapa kamu?/ Sinta: Aku istrimu./ Sinta Yang Lain: Aku ibumu./ Watugunung Yang Lain: Tapi siapa kamu?/ Sinta: Aku ibumu./ Sinta Yang Lain: Aku istrimu (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:42).

Muncul dari dua orang berpakain hijau mirip dokter. Keduanya berjalan mendekati Watugunung yang tidur di dalam perahu dan keduanya mendekat frame yang disorot gambar multimedia. Kedua orang itu bergerak ditempat bagai robot. Suara seorang laki-laki berkepala dandang sebagai prajurit berkata. //Prajurit: Kapal-kapal datang dari barat. Laki-laki asing turun merapat dengan sekoci, seperti pedagang, lalu kawin dengan perempuan-perempuan kita, membangun rumah, beranak pinak, dan kutukan ini belum lagi cukup. Datang mereka bersama penyakit, menular pada seseorang, lalu seseorang yang Iain, lalu sebentar saja, wabah itu menjalar menguasai kota dan semakin mendekat, dan mendekat. Wabah itu sekarang sedang mengendap di depan pagar istana. Prajurit: Kami sudah menggarami seluruh dinding luar istana, tapi tidak cukup untuk menahan wabah ini./Sinta yang lain: Influenza…Cacar…Disentri…Tuberculosis…/Prajurit: Wabah ini, wabah ini meracuni pikiran orang-orang. Wabah ini membunuh mereka, dan mereka mati sembari tertawa kegirangan.(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 43-44).
Suasana semakin gawat wabah penyakit telah menyebar. Ada suara ketawa yang membahana mengguncang alam. //Prajurit: Bhre, bangkitlah. Hamba mohon, hentikanlah waktu. /Sinta dan Sinta yang lain: Amnesia…Amnesia…Amnesia….Watugunung:Pasangkan lentera! /Prajurit: Tapi Bhre, di manakah kutemukan lentera?/Watugunung: Persetan! Bawakan padaku apapun. Lentera palsu sekalipun. Bawakan padaku lentera. Persetan. Tak ada lagi aturan apapun yang dipatuhi. Benda-benda, tidak. Manusia! Tidak. (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 44-45).

Watugunung Yang Lain sangat marah tampak pada penggal dialog “Pasangkan Lentera,” ia bangkit berdiri dari ranjang besi. Melangkah berdiri mendekati. Sikap tubuhnya yang penuh kemarahan berguncang. Suara ketawa semakin keras bergema. Tubuh-tubuh kejang, meregang-regang. Cayaha temaram memenuhi ruang permainan. Watugunung yang membawa patung potongan kepala berjalan pergi. Musik mengalun bagai pantulan suara yang bersambung. Adegan yang menghadirkan tokoh Watugunung dan Watugunung Yang Lain, Prajurit, Sinta, Sinta Yang Lain dan peristiwa datangnya wabah, ditemukan luka di kepala menjadikan amnesia.
7. Adegan Di Ruang Tunggu Sinta. Musik memantul-mantul di semesta. Narator memakai baju warna coklat di area permainan. Narator jalan, berkisah kemudian menelungkupkan perahu yang tadi miring bersama seorang stage crew. Perahu telungkup sebagai batu dan atau gunung. Sinta dengan mata tertutup kain hitam berpegangan pada frame yang dirobohkan. Panggung bercahaya biru. Di atas ranjang besi, Sinta Yang Lain dan Sinta dengan suara duka. //Sinta yang lain: Hanya gemericik daun jatuh dalam perapian yang membuatku selalu menyeru namamu seperti menyeru nama-nama malam yang tak pernah tahu jalan pulang, tak berharap pulang… Begitu banyak jejak, begitu banyak tanda, begitu banyak tak kumengerti sebagaimana tak berartinya mereka. Begitu banyak burung terbang mengibas-ibas langit, menjauh dari sejarah yang gersang.Duhai Ibu Durga, cerita sedih macam apakah yang bisa mengalirkan anakku di depanku./Sinta:Pada kegelapan yang hingga saat ini terus mengikat kami. Aku tak pemah sungguh-sungguh tahu apa yang terjadi. Bahkan tak kuingat di mana kuletakkan tubuhku, kedua tanganku, saat itu. Lalu apa itu yang berbunyi pecah terbanting dan berserakan? (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:49-50).
Sinta Yang Lain dan Sinta meneguhkan bahwa adegan ini memang mengekplorasi tubuh sebagai media berekspresi penuh vitalitas. Nada bicara dengan suara khas dan akting penuh daya pesona mampu mengidupkan tokoh dengan baik. Ketika keduanya sedang berekspresi melalui dialog muncul tokoh Kali memakai jubah merah transparan dan Durga memakai jubah hitam dengan suara lebih parau, berat berucap. //Kali:Hanya seribu tahun, kau ingat! Kau ingat yang kaukatakan padaku saat itu? “Uma! Jadilah kau istri abadi sumpah serapah! Jadilah kau ibu para siluman! Jadilah kau penguasa belukar gelap berisi setan dan haram jadah!” Lalu terbangun dari tidurku malam itu, dengan tubuh yang tak kukenali. Dilaknat sampai suatu kali, jika kau berkendak, atau karena cuaca sedang baik, kau akan memaafkanku Seluruh langit bisa saja sekutumu, tapi tak ada satupun yang akan membuatku melupakan semua celaka. Celakalah kau, Syiwa. Apa yang sedang kau lakukan? Apa yang telah aku lakukan? Seribu tahun ini tumbuh lagi kini, dalam benci dan tak ternamai!/Durga: Oooiii! Kalantaka! Kalanjana! Tutup jalan-jalan! Jangan biarkan seekor burungpun lepas dari kesedihanku! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 51-53).

Penggal adegan Durga dan Kali menegangkan. Suaranya parau. Di latar belakang gambar batu-batu runcing menghunjam dari arah kiri ke kanan. Cahaya panggung memerah. Musik berdentang keras. Kali mengutuk Syiwa. Durga, Kali, Kalantaka dan Kalanjana berlari menutup jalan-jalan. Sinta loncat dari ranjang besi menuju panggug depan, Sinta Yang Lain juga, keduanya dengan vocal yang keras, cepat dan nada tinggi berkata: “Tak ada makanan. Kalau mau makan cari saja di jalan! Bapakmu mati dimangsa anjing! Ibu capek ngurusi kamu! Cari saja di jalan! Cari saja di jalan! Cari saja di jalan! Batu!!”140 Pada kata ‘Batu’ lampu pun gelap, adegan pun usai.
Adegan ini dilakukan para pemain penuh totalitas untuk mewujudkan karakter tokoh dan menciptakan suasana menunggu didukung pencahayaan dan musik dengan tepat. Di ruang tunggu, dimana berdiam Sinta, Sinta Yang Lain, Durga dan Kali. Semua menunggu yang tak kunjung datang, di ruang tunggu Sinta hadir secara maksimal.
8. Adegan Kala Memakan Rembulan . Panggung gelap gulita, sesekali ada cahaya berkilatan, terdengar dialog. //Seseorang (Pria):Hei, kenapa gelap sekali?/Seseorang (Pria):Kala?/Seseorang (Pria):Ada apa dengan Kala?/Seseorang (Pria):Ia memakan rembulan./Seseorang (Perempuan):Hai…. Kau dimana?/Seseorang (Pria):Aku di sini./Seseorang (Pria):Di mana? (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 55).

Adegan Seorang Perempuan menyanyi, saksi dari
Kala memakan rembulan dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 18.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Percakapan Seseorang dalam gelap di atas sebuah bukti verbal dan pernyataan menunjukkan kejadian Kala memakan rembulan. Terdengar orang-orang memukul-mukul kentongan. Nama-nama telah pulas tidur panjang kisah-kisah dan menjelma lagu-lagu. //Seorang perempuan: (Menyaksikannya dalam lagu pesisir pantai) Hei, Penyu bermata biru Berenang, renanglah kepadaku/Bawakan surut laut itu/ Bawa aku bermain bersamamu/Ayo kawan, man bersama-sama/Membuat taman bunga dan kupu-kupu/Sambil menari bersuka ria/Tuk hilangkan hati sedih selalu.(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:59). Cahaya netral menyorot pada Saksi yang mengenakan gaun putih dan topi penutup rambut menyanyi irama pesisiran. Sinta terus menyebut nama-nama penuh penghayatan. Sorot cahaya berekelebat-kelebat. Adegan ini mengkisahkan para tokoh Seseorang yang membicarakan gelap, Kala, rembulan dan suara kentongan atau apa saja yang dipukul. Sorot cahaya berkelebat dalam kegelapan malam merupakan adegan Kala memakan rembulan, jelas dan pasti.
9. Adegan Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal. Panggung masih gelap. Saksi yang menyanyi. Suaranya tumpang tindih dengan suara Sinta yang masih mengeja nama-nama. Orang-orang pun berdialog. //Seseorang:Raksasa?/Seseorang:Kapal./Seseorang: Datang?/Seseorang: Kapal itu masih tak bergerak? /Seseorang:Apa yang kita tunggu?/Seseorang:Kita akan kalah kali ini, bukan begitu?/Seseorang:Perasaanku mengatakan demikian. Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 62-63).

Dialog Seseorang (sistim tanda kata/bahasa) menjelaskan mendaratnya kapal-kapal di gelap malam menyorotkan lenteranya (sistim tanda cahaya). Hal itu diperjelas lagi dengan dialog.//Prajurit:Bhre, kapal-kapal itu segera merapat. Hamba terpaksa menyusun peta penyelamatan./Watugunung:Kemana?/Prajurit:Ke gunung.// Watugunung pun dalam kegelisahan menatap laut. Prajurit terus menyampaikan hal penting ‘penyelamatan’. Selain mendaratnya kapal-kapal, Kala selalu mengikuti Watugunung yang tampak lelah.//Watugunung: Kapan?! Kapan aku pemah memilikinya? Kapan ia pemah berpihak padaku? Kau mengira ia mengajakku berjalan-jalan menyusuri tepian pantai, untuk bermain bersama ombak dan berteriak keras memanggil nelayan di tengah laut? Waktu itu aku masih kecil, dan ia berjalan menggandeng tanganku….Bagaimana? Waktu memangsaku semenjak hari pertama jiwaku dititiskan kembali. Jika saja bias kubunuh ia. Jika saja bisa kubunuh ia. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mencapai puncak gunung? Tidak selamanya! Tidak seribu kali selamanya! Masihkah aku harus berlari? Bersembunyi seperti pengecut. Hei, Kala. Hei, hadapi aku! Jika aku pergi, apakah masih ada yang tersisa padaku? Aku adalah penguasa gunung-gunung, penguasa pusat dunia! Dan aku, hei kau mendengarkanku? Aku tak bisa mati, tak bisa mati. Panggilkan, sang pemasang matahari! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:64-65).

Adegan Kala perang melawan Watugunung
dalam Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 20.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Watugunung selalu dibayangi Kala. Watugunung meminta ”Panggilkan, sang pemasang matahari.’ Suara perkusi, ‘theng thing theng’ bagai bunyi alat musik kemanak pada gamelan Jawa. Suara bunyi ‘tiiit tiiit’ bergema. Seorang Perempuan membawa patung kepala manusia berkata: “Sepasang tangan yang telah memberimu kehidupan adalah sepasang tangan yang akan merebutnya kembali.“ (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:69). Watugunung kena pukul Kala. Kala ketawa keras. Orang-orang:“Raksasa telah mengalahkan Sang Prabu! Raksasa telah mengalahkan Sang Prabu! Kepalanya hancur terburai! Tubuhnya diseret sepanjang waktu! Padamkan lentera-lentera .” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:69).
Nyanyian Saksi menenangkan seluruh kekacauan yang mendekam dalam ingatan. Ibu menenangkan Anak pun berkata, Ibu: “Tidurlah. Ibu akan menjagamu, … karena sehabis bulan, kaulah mangsa berikutnya”. “Ini hanya dongeng. Cuma dongeng….” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 71). Kemudian terdengar suara merdu. Empat frame dengan bagian lengkung di lantai, bergerak mekanik. Ibu berjalan menyebut nama-nama. //Ibu:Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasia, Julungpujud, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Madangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut, Watugunung….(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004,:72). Panggung penuh cahaya biru. Para tokoh bergerak intens. Latar belakang muncul simbol penanggalan. Saksi bersenandung. Adegan berakhir pun tersajikan jelas melalui perilaku tokoh dan peristiwa.

10. Adegan Epilog. Panggung terang, empat frame pun bergerak. Dering telepon. Gadis itu, tak mendengarnya. Suara: ”Halo, Siwa? Halo! Kau di mana? Halo! Sial. Tak ada sinyal.”150 Langit sudah terbuka, terlalu banyak cahaya. Terlalu banyak pecahan batu. Terlalu banyak pesan di udara. Robot kura-kura terjebak di salah satu batu. Pertunjukan lakon WB 2 pun berakhir. Durasi keseluruhan WB 2 sekitar 1 jam 26 menit.

Adegan Robot kura-kura terjebak di batu-batu dalam
Pertunjukan Lakon‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa Yang terbelah’WB2) Teater Garasi Yogyakarta. page 21
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Seribu tahun kematian raja-raja termasuk Watugunung, kehancuran gunung-gunung, terampasnya tepian pantai oleh mendaratnya kapal-kapal dari Barat atau Asing. Robot kura-kura penjelmaan Watugunung terjebak diantara salah satu batu, gunung. Kapal itu sepertinya tak mau berhenti yang tinggal hanya dongeng-dongeng. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 28 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan