Sleman // suaraglobal.news. – Sanggar Sastra Pujangga Semesta bekerjasama dengan PUSBATIK (Pusat Studi Seni Budaya Profetik/Komunitas Seni Budaya Profetik di Sanggar Anak Aktor (Theater KQ) Jl. Masjid Mestr No 9 RT 01 RW 07 Kurahan Sidoarum Godean Sleman (Barat MAN 1 Sleman) Jum’at, 17.7.2026 Jam 13.00 – selesai menggelar Apresiasi Puisi Jalan Suci Sebiji Sawi Antologi Puisi karya Lephen Purwaraharja.
Lephen Purwaraharja (Dr. H. Purwanto, S.Sn.,M.sn.,M.Sc.), lahir di Yogyakarta dibesarkan di Batang Jawa Tengah hingga SMA Negeri 1 Batang. Lalu hijrah ke Yogya, Gunung Kidul, Sleman, Bantul dan Kulon Progo. Sejak SD menyukai puisi hingga kini. Puisinya sudah dilagukan di YouTube antara lain Memetik Hati (2019), Ibu Mata Hariku (2025) untuk skenario film Anak Galon Ibu produksi TVRI Yogya dan Jakarta. Selain itu ada Kembang Bubrah, The Lingo (syair Jawa). Membina Sanggar Sastra Pujangga Semesta, di Jl Jomboran No 8, RT 13 Sidoarum, Godean, Sleman.
Dan kini masih bekerja di Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonsia Yogyakarta.
Menurut Mas Lephen Purwaraharja, Puisi itu sejarah budaya Islam yang penting Islam itu bukan sekedar agama, juga budaya yang luas dan mendalam, kaya ilmu yang beragam. Semula hanya tahu dan berkait Demak, Pajang, Mataram, dan Keraton Ngayogyakarta dengan masjid agung dan patok negara. Lalu ingat sejarah perang jihad di Jawa (1825-1830) dipimpin Diponegoro hingga perlawanan para kyai. Mengapa hanya terpatri sejarah Islam serupa itu?
Chairil Anwar, penyair pelopor Angkatan 1945 pun mengkreasi puisi Diponegoro, “Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api. Di depan sekali tuan menanti. Pedang di kanan, keris di kiri.
Berselempang semangat yang tak bisa mati….” Sering dihafal dan dibaca untuk lomba baca puisi. Lalu kenapa, puisi Rasullulah, para pahlawan dan syuhada Islam belum hadir di tahun baru Hijriyah?
Perjalanan menunggu menunaikan rukun Islam ke lima (1437 H), mulai mengakrabi nama bulan Islam mulai Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah yang semula berbaur dengan nama bulan Jawa: Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, hingga Besar. Nama bulan pun jadi puisi, sebelumnya puisi nama-nama hari.
Mengapa Sejarah Islam (jarang) dipuisikan? Keluarga Rasullullah juga tak begitu banyak dikenal. Sejak diajak berwisata oleh guide dari Madura yang setiap Minggu di Arab Saudi ke tempat bersejarah hingga pantai Laut Merah pun memantik jadi puisi. Buku silsilah Nabi Muhammad SAW di kaki lima juga membuat kenal istri beliau yang mayoritas janda dan para sahabatnya. Hal ini juga mendorong menjadikan puisi.

Hal lain setiap membuat pertunjukan drama, teater drama radio atau skenario film pun membuat theme song yang sebenarnya juga puisi. Walau sudah membaca dan membuat puisi sebagai penyaluran perasaan dan respon atas persitiwa unik sejak pra-Sekolah Dasar di rumah dipaksa membaca buku sastra, berhitung, pengetahuan alam, buku kriminal, majalah Penyebar Semangat, dan koran serta sangat termotivasi sosok penyair Goenawan Mohamad dari Batang, Jawa Tengah.
Rajin berpuisi di SMP Negeri 1 Batang dengan baca puisi dan membuat puisi untuk majalah dinding di SMA Negeri 1 Batang. Saat liburan keluarga di Yogyakarta semakin giat dan bergaul dengan para penyair hebat Emah Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG., Ragil Suwarna Pragolapati, Suminto, Jabrohim, A. Sayuti, Mustofa W. Hasyim, Kuntowijoyo, Dorothea Rosa Herlany, Mathori A. Elwa, Indra Tranggono, Abidah El Khalieqy, Ulfatin Ch., Adi Wicaksono hingga Hamdy Salad. Waktu itu, 1986-1990 an ikut acara Pengadilan Puisi di Teater ESKA IAIN Sunan Kalijaga. Semua bergelar penyair karena sesuai kriteria dalam esai tentang kepenyairan, saya beri syarat punya antologi puisi sendiri. Puisi banyak dibuat saat jatuh cinta dan kagum pada wanita cantik. Bisa seratus hingga tiga ratus puisi yang ditulis atau diketik. Namun, beberapa puisi pernah hadir terbit di Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, hingga Suara Merdeka. Hanya saat ini, semua puisi belum bisa diantologikan karena menjaga perasaan, dan iklim sejuk harmoni keluarga.
Antologi pertama saya Oksidasi Rumah Tuhan (1998) penerbit Pustaka Gondho Suli, Samigaluh, Kulon Progo. Kini berkat dorongan Drs. H. Jabrohim, M.M dan sobat semua di Pusbatik (Pusat Studi Seni Budaya Profetik), Komunitas Seni Budaya Profetik yang diketuai oleh Dr. Drs. H. Nur Iswantara, M.Hum. dengan sangat gigih dan heroik mendorong secara mandiri juga bekerja nyata menghadirkan karya seni, khusunya sastra profetik. Sejumlah puisi pada Jalan Suci Sebiji Sawi ini semoga dapat dimanfatkan bagi kegiatan umat Islam, khususnya generasi muda di berbagai jenjang pendidikan di negeri Republik Indonesia tercinta.
Antologi puisi Jalan Suci Sebiji Sawi karya Lephen Purwaraharja diterbitkan oleh Eko Kreatif, Magelang, Jawa Tengah Juni 2026 ini memuat 82 judul puisi: Jalan Suci (1), Muharram (2), Safar (3), Rabiul Awal (4), Rabiul Akhir (5), Jumadil Awal (6), Jumadil Akhir (7), Rajab (8), Sya’ban (9), Ramadhan (100, Syawal (11), Dzulqa’dah (12), Dzulhijjah (13), Sumur Zamzam (15), Maqam Ibrahim (16), Ka’bah (17), Tirai Pintu Al-Burqu’ (18), Hajar Aswad (19), Hijir Ismail (20), Sai di Bukit Shafa-Marwa (21), Multazam (22), Mizab Ar-Rahmah (23), Jabal Nur (24), Gua Hira (25), Jabal Tsur (26), Jabal Rahmah (27), Jannat al-Mu’alla ( 28), Abdullah bin Abdul Muthalib (30), Aminah (31), Muhammad (32), Siti Khatijah (33), Al-Qosim(34), Sayyudah Zainab (35), Abdullah (36), Ruqayyah (37), Ummu Kultsum (38), Fatimah (39), Ibrahim bin Muhammad (40), Saudah binti Zam’ah (41), Aisyah binti Abu Bakar (42), Hafshah binti Umar (43), Zainab binti Khuzaimah (44), Ummu Salamah (45), Zainab binti Jahsy (46), Juwairiyah binti Al-Harits (47), Ummu Habibah (48), Shafiyah binti Huyay ( 49),Maimunah binti Al-Harits (50), Abu Bakar Ash-Shiddiq ( 510, Umar bin Kattab (52), Utsman bin Affan (53), Ali bin Abi Thalib (54), Thalhah bin Abaidilla (55), Zubair bin Awwam (56), Abdurrahman bin Auf (57), Sa’ad bin Abi Waqqash ( 58), Sa’id bin Zaid (59), Abu Ubbadiah bin al-Jarrah (60), Bilal bin Rabah (61), Abdullah bin Abbas (62), Zaid bin Tsabit (63), us’ab bin Umair (64), Abu Ayyub Al-Anshari (65), Tujuh Pintu Rahmat (67), Banteng Betina (68), Keluarga Istiqomah (69), Dewi Sorgawi (70), Perjamuan Tahta (71), Para Pengembala Zaman (72), Puncak Mimbar (73), Sisa Perjuangan (75), Gurindam Tobat (76), Memetik Hati (78), Ya Allah, Mengapa? (79), Tahta itu Fana (80), Ibu Mata Hariku (81), Sebiji Sawi (82).
JALAN SUCI. //tak berpenghuni/benderang tapi gelap /sesunyi bunyi namun riuh/ berderap// sedikit yang berdasi/ banyak para pejalan kaki/ bertapak kapal/bertangan kasar//tubuh bungkuk/cepat melintasi gerah/ raga tak bernoktah/isi kekosongan//ruang dan riang/ riuh dan rapuh/ tak berujung/tak bisa memalung/lagi di sini//20051448.
Sastra profetik menghadirkan dirinya sebagai karya sastra yang suarakan Islami dengan bersyair, bersyiar dan bersyariat serta bersyukur. Semua dilandasi ibadah dan niat memuliakan manusia, sejarah dan kebudayaan juga mendakwahkan nilai Islam. Karya sastra dan seni tidak hanya bersaksi untuk kehidupan fana sementara, tetapi juga menjadi ladang ibadah, khususnya saat ini melalui karya puisi (profetik).
Sastra profetik digagas dan diteorikan budayawan Kuntowijoyo, sebagai karya sastra yang berakar pada nilai-nilai transendental (ketuhanan) juga memiliki dan terkait erat dengan semangat transformatif yang bertu-juan tidak hanya mengekspresikan nilai spiritual, tetapi juga hendak membebaskan manusia dari penindasan dan mengarahkan peradaban ke arah lebih baik berdasarkan misi kenabian.

Tripilar Sastra Profetik bersumber dari ayat suci Al-Qur’an (Surat Ali Imran ayat 110) yang memiliki tiga misi utama yaitu Humanisasi (Amar Ma’ruf) yang memanu-siakan manusia sehingga sastra harus membela kebaikan dan membebaskan manusia dari hal yang merusak. Kedua, Liberasi (Nahi Munkar) yaitu membebaskan umat masyarakat dari kemiskinan, penjajahan, kebodohan, dan penindasan. Ketiga, Transendensi (Tu’minu Billah) yaitu membawa manusia untuk terus mengingat Tuhan. Sastra harus memiliki nilai spiritual dan ketuhanan.
Antologi puisi Lephen Purwaraharja, Jalan Suci Sebiji Sawi memuat puisi tentang sebutan bulan di Kalender Hijriyah, keluarga Rasullullah dan sahabat, ada tempat bersejarah di Arab, juga puisi berkritik sosial, politik dan budaya. Kehadiran antologi ini akan memperkuat keberadaan Sastra Profetik di Indonesia dan dapat digunakan untuk merayakan aneka seremonial peringatan hari besar Islam. Demikian ungkap dan harapan Dr. Drs. H. Nur Iswantara, M.Hum. Ketua Pusat Studi Seni Budaya Profetik (PUSBATIK), dan dosen di Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Semoga antologi puisi Jalan Suci Sebiji Sawi yang terbit ini dapat bermanfaat bagi kreator dan keluarganya sebagai ladang ibadah sekaligus transformasi budaya yang harus terus dihadirkan dan digelorakan di hadapan kita semua. SEBIJI SAWI. //puisi hanya sebiji/sawi/tak berharap jadi benih/kelapa sawit/mata air duwit/yang menindih sakit/hutan berperih.//sebiji sawi hanyalah puisi /yang lahir dari rahim ilusi/bukan kolusi/atau mencuri/tak dapat beli/atau dikukus jadi nasi//sebiji puisi//seukuran biji sawi terbelah//dengan niat bismillah/semoga jadi kunci/pembuka pintu surge/Khuldi /17051448//. *** Penulis: Nur Iswantara
