L
Memuat...
Kontributor

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertnjukan Lakon Waktu Batu (Bag.4)

Satu adegan pentas ”Waktu Batu 2, Ritus Seratus Kecemasan
dan Wajah Siapa yang Terbelah” karya Kelompok Teater Garasi
di Gedung Kesenian Jakarta, pada 17-18 Maret 2003. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, suaraglobal.news. B.2. Pengorganisasian dan Mekanisme Kerja. TG memantapkan dirinya menjadi ‘laboratorium penciptaan teater’, kemudian perlu dibentuk struktur organisasinya. Struktur organisasi ini diperlukan untuk dapat menguraikan pekerjaan sesuai dengan mekanisme kerja antar bagian masing-masing.

Tujuan adalah pengoptimalan kerja demi terwujudnya sebuah cita-cita bersama sebuah organisasi kesenian, khususnya teater. Sesuai yang diungkapkan oleh Achsan Permas demikian.
Pengorganisasian suatu kegiatan dilakukan dengan urutan sebagai berikut : Pertama, merinci pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran organisasi atau unit kerja. Kedua, mengelompokan pekerjaan-pekerjaan tersebut ke dalam unit-unit yang secara logis dan wajar dapat dilaksanakan oleh satu orang atau sekelompok orang. Ketiga, membagi tugas yakni menugaskan setiap anggota organisasi di bagian-bagian dengan minat, bakat dan kemampuan. Keempat, menyusun mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan-pekerjaan atau unit-unit kerja yang dibentuk.

Mekanisme koordinasi perlu disusun agar setiap anggota konsisten dengan sasaran organisasi serta mengurangi konflik-konflik yang membahayakan (Achsan Permas, Crysanti Hasibuan, L.H. Pranoto, Triono Saputro, 2003:25).
Struktur organisasi TG sebagai berikut: 1. Direktur Artistik : Yudi Ahmad Tajudin; 2.Direktur Eksekutif : Kusworo Bayu Aji; 3. Manajer Kantor : Ratri Kartika Sari; 4.Manajer Keuangan & Koord.Program Penciptaan Teater: Reni Karnila Sari ; 5. Manajer marketing & Koord. Program Pengembangan Pengetahuan : Galuh Asti Wulandari; 6. Koordinator Program Kajian: Lusia Neti Cahyani; 7.Staf Keuangan : B. Verry Handayani; 8. Staf Dokumentasi : Jamaludin Latif ; 9. Staf Studio : Adi Wisanggeni.

Pengelompokkan personilnya sebagai berikut : 1. Bahrul Ulum – Aktor (L); 2. B. Verry Handayani – Aktor (P); 3. Citra Pratiwi – Aktor (P); 4. Erythrina Baskoro – Aktor (P); 5. Gunawan Maryanto – Aktor/Penulis/Sutradara (L); 6. Hindra Setya Rini – Aktor (P); 7. Ignatius Sugiarto – Penata cahaya/Manajer Panggung (L); 8. Jamaludin Latief – Aktor (L); 9. Kusworo Bayu Aji – Aktor/Manajer Produksi (L); 10. Naomi Srikandi – Aktor (P); 11. Retno Ratih Damayanti – Penata Kostum dan Rias (P); 12. Rizky Sasono – Penata Musik/Suara (L); 13. Sri Qadariatin – Aktor (P); 14. Theodorus Christanto – Aktor (L).

Mekanisme kerja adalah semacam cara ataupun metode yang perlu disusun, setelah ditetapkan struktur organisasinya berdasar kesepakatan bersama. Struktur organisasi dibentuk berdasar kebiasaan dalam lingkungan sosial yang sudah melekat dalam organisasi tersebut. Sebenarnya tidak ada standar khusus, baku yang terpenting dituntut sesuai dengan kapasitas, tanggung jawab dan konsistensi. Mekanisme kerja TG dibagi menurut job description (jobdis) yang sudah ditetapkan, meskipun tidak menutup kemungkinan akan berubah sesuai dengan konsep bertumbuh dalam organisasi TG. Adapun rincian jobdis tersebut yaitu sebagai berikut: 1).

Direktur Artistik, Direktur Artistik bertanggugjawab sekaligus berwenang dalam persoalan estetika laboratorium penciptaan teater bersama para aktornya (proses kesenimanan). Meliputi masalah artsitik dan bentuk pemanggungan baik gagasan teks maupun visual. 2). Direktur Eksekutif, Direktur Eksekutif memegang wewenang kepada para staff kantor TG. Selain itu juga bertanggung jawab terhadap semua yang berhubungan dengan mencari jaringan relasi seperti mencari mitra kerja (foundation), pencarian dana dan pendanaan lainnya. Dahulu direktur artistik dan eksekutif berbeda dalam satuan kepengurusan artinya terpisah, namun sekarang terdiri dalam satu naungan untuk membawahi staff yang lainnya. Kini dua direktur ini menjadi struktur yang berkedudukan sama. Keduanya akhirnya memiliki hak yang sama yaitu mengelola manajemen, konten, berhubungan mencari relasi dan mitra kerja. 3). Manajer Kantor, Manajer Kantor bertanggung jawab atas kepengurusan seluruh ruang lingkup kantor. Selain sebagai sekertaris lembaga (institusi), menjadi asisten direktur eksekutif, administrasi kelembagaan TG, jadwal kepegawaian dan masalah yang berhubungan office staf studio dan staf kantor yang lainnya.

Manajer kantor juga membawahi staf studio untuk membantu urusan kantor dan penjaga malam. 4). Manajer Keuangan dan Koordinator Program Penciptaan Teater, Manajer Keuangan bertanggung jawab mengurus performa keuangan seluruh institusi baik proyek maupun ketiga program TG yaitu: penciptaan teater, pengkajian teater, pengembangan pengetahuan dan keuangan kantor. Selain itu juga bertugas memegang kendali staf kantor, menentukan budget anggaran untuk masing-masing koordinator. Meskipun rancangan anggaran tersebut yang membuat adalah tiap-tiap koordinator.

Agar dalam pengendaliannya antara biaya yang dibutuhkan dengan yang dikeluarkan balance. Tugas dan fungsi lainnya yaitu menjadi asisten koordinator program penciptaan teater, yang bertugas sebagai koordinator yaitu Yudhi Ahmad Tajudin sekaligus merangkap sebagai sutradara dan direktur artistik. Tugas yang dijalankan tersebut hanya membantu aktu perencanaannya sedangkan konsep dan selebihnya koordinator yang memegang. Manfaat dari tugas yang sampai dua fungsi ini sebenranya untuk saling bertukar tentang pengetahuan.

Program penciptaan teater biasanya sudah ada yang terencana maupun yang belum terencana. Program ini masuk dalam wilayah theatre creation. Program ini setiap koordinator harus berkoordinasi dengan masing-masing aktor. Maka dalam setiap pembuatan produksi pementasan selalu dibutuhkan Manajer Produksi. Manajer produksi hanya mengurus satu pementasan saja dalam satu tahun. Posisi manajer ini bisa dipilih lagi, atau permintaan aktor maupun permintaan direktur. Karena untuk perkembangan pekerjaan dengan berbagi pengetahuan yang sama. 5). Manajer Marketing dan Koordinator Program Pengembangan Pengetahuan, Manajer marketing dan asisten bertanggung jawab atas cara penentuan anggaran, peningkatan kapasitas (baik aktor dan manajemen), urusan pementasan TG, fasilitator grup luar yang ingin mengadakan pementasan di TG, baik secara finansial ataupun tidak.

Rata-rata sifatnya membantu publikasi, tempat, teknis dan sebagainya. Karena pementasan grup-grup teater dari luar itu juga sudah menjadi bagian rencana dari sub program yang sudah dirancang setiap tahunnya. Sebenarnya marketing adalah persoalan hal baru di TG, yaitu mengurusi berbagai macam kaitannya untuk menjual produksi TG. Baik TG sebagai sebuah instistusi, hasil produksi teater, pengkajian teater, atau yang berhubungan langsung dari pra sampai pasca produksi pementasan baik berupa poster, banner, flyer, dokumentasi dalam bentuk compact disc (replikasi). Atau mendukung pementasan perorangan dari salah satu personil TG yang ingin membuat produksi pementasan diluar program TG. 6). Asisten Pengkajian Teater , Koordinator Asisten Pengkajian Teater bertanggung jawab terhadap semua program kajian dan semua hal pengetahuan. Misalnya setiap aktor mempunyai studi teater yang melakukan penelitian atau pihak luar penelitian tapi atas biaya TG. Kemudian hasil penelitian dibukukan dan dijual. Hal tersebut akan menjadi pengetahuan bagi anggota TG sendiri dan pihaklain. Asisten pengakjian membawahi dokumentasi dan perpustakaan. Kedua hal ini sedang dalam tahap pembenahan, karena perpustakaan rencananya akan dilimpahkan kepada orang lain atau dipindahtangankan dari asisten. Ini dalam rangka efisiensi kerja dalam sistem penyimpanan, klasifikasi, dan mekanisme seperti apa saja. 7). Staf Keuangan, Staf Keuangan mulai dibuat secara paten pada bulan April saat ini yang bertugas adalah B. Verry Handayani. Selain mempunyai potensi sebagai aktor ia juga cakap mengurusi hal keuangan di TG. Hanya jadwal kerja yang dahulu dikerjakan secara full time sekarang di ganti menjadi part time. Jam kerja tidak sama dengan staf lainnya. Tugasnya adalah bertanggung jawab mengurusi keuangan bersama dengan manajer keuangan atau sebagai asisten manajer keuangan. 8). Staf Dokumentasi, Staf Dokumentasi bertugas mendokumentasikan segala jenis pementasan atau produksi. Dokumentasi ini menjadi satu nauangan bersama perpustakaan dibawah program kajian teater. Dahulu dipegang oleh Jamaludin Latief tapi sekarang ia hanya fokus dengan keaktorannya sehingga dilimpahkan kepada staf lainnya. 9). Staf Studio dan Office Boy , Staf Studio dan Office Boy bertanggung jawab atas operasional dan teknis studio berikut dengan seluruh equipment studio. Mulai dari perlengkapan, perawatan dan pengoperasionalan. Selain itu bertugas jaga malam dan keamanan studio. Menyimpan dan merawat barang-barang bekas artsitik pementasan. Jam kerjanya 6 hari, hari Sabtu bekerja setengah hari. Khusus penjaga malam selebihnya kerja tersebut lebih bersifat fleksibel dan tidak mengikat secara mutlak.

B.3. Manajemen Produksi Pementasan Teater. Produksi pementasan teater adalah suatu usaha untuk mewujudkan sebuah ide atau gagasan mengenai suatu hal melalui media seni pertunjukan teater. Dalam usaha tersebut ada beberapa pihak yang terlibat, sesuai dengan kompetensinya, dan langkah-langkah yang (harus) sistematis dan strategis agar tujuan dari usaha tersebut berhasil secara optimal. Di dalam pelaksanaan produksi pementasan, TG terbiasa mengategorikan jenis aktivitas berdasarkan wilayah garapnya menjadi 2 (dua) yaitu wilayah artistik dan wilayah produksi. Wilayah artistik merupakan core atau utama didalam produksi pementasan teater. Dimana wilayah tersebut merupakan ranah bagi manifestasi ide atau gagasan yang membutuhkan perwujudannya melalui bahasa-bahasa artistik. Wilayah produksi merupakan wilayah yang bertugas mendukung tercapainya optimalisasi perwujudan ide atau gagasan melalui aktivitas-aktivitas manajerial non-artistik. Kusworo Bayu Aji berpendapat wilayah manajemen produksi pementasan teater dapat dikatakan berhasil apabila memiliki capaian sebagai berikut: a.Karya yang dipresentasikan memenuhi standar estetika yang ditentukan; b.Terciptanya performance kerja tim produksi yang produktif ; c.Tersedianya dana yang cukup untuk ukuran produksi tersebut; d.Terbentuknya wacana atas ide atau gagasan yang disampaikan; e.Tercapai target audience secara jumlah dan segmentasi (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji , 19 Januari 2008).

Struktur ini merupakan hasil proses evolusi penataan manajemen produksi TG sampai sekarang. Struktur di bawah ini disebut ‘struktur inti’ karena fungsi-fungsi yang berada di sana merupakan core atas manajemen produksi pementasan teater. Struktur Tim Kerja Produksi TG sebagai berikut:

Gambar 14. Bagan 4. Tim Kerja Produksi Pementasan TG,
Bagan dibuat oleh Kusworo Bayu Aji. page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Karakter struktur inti adalah ringkas-menyeluruh. Ada usaha pemadatan cakupan wilayah kerja pada fungsi-fungsi tersebut demi tercapaikan efektivitas dan efisiensi. Yang dimaksud dengan pemadantan cakupan wilayah kerja adalah terfokusnya konsentrasi aktivitas manajerial pada sesedikit mungkin pihak yang terlibat dalam struktur inti. Pada bagan diatas, konsentrasi aktivitas manajerial hanya berada pada pimpinan produksi dan pelaksana produksi. Produksi pementasan teater merupakan satu bentuk kerja kolektif. Ada banyak pihak yang terlibat dan langkah-langkah yang dilakukan dalam proses tersebut, dari penyusunan ide atau gagasn sampai pelaksanaan aktivitas-aktivitas operasional pewujudannya. Oleh karena itu dibutuhkan satu tim kerja berikut sistem dan mekanismenya dan strategi serta langkah-langkah manajerial yang tepat tujuan secara efektif dan efesian.

TG memiliki pengalaman manajemen produksi melibatkan banyak pihak. Pada struktur inti akan mengurangi efektifitas dan efisiensi. Hal tersebut disebabkan oleh panjangnya jalur manajerial (komunikasi-koordinasi) dan banyaknya pihak yang terlibat di dalamnya. Ketidakefektif-efisienan manajemen poduksi teater pernah dilakukan TG melalui pembentukan struktur inti sampai pada tingkat seksi (seksi publikasi, seksi konsumsi, seksi perlengkapan, dsb.). Dalam manajemen produksi teater yang menggunakan struktur seperti bagan (2.4.) di atas bukan berarti menghilangkan cakupan wilayah yang sebelumnya ditangani oleh fungsi pada tingkat seksi tetapi mengganti ‘sistem seksi’ menjadi sub order atau out sourcing. Aktifitas operasional sebelumnya dilakukan seksi diserahkan kepada pihak profesional. Contoh, pengadaan konsumsi dilakukan jasa catering, distribusi publikasi oleh jasa kurir, dsb. Jobdis tim kerja dalam pengelolaan produksi TG menurut Kusworo Bayu Aji sebagai berikut (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji , 19 Januari 2008): 1.Produser : Pihak yang bertanggung jawab atas terwujudnya suatu produksi pementasan. Produser merupakan pihak yang berwenang menentukan ide atau gagasan, konsep dan isu yang ingin disampaikan dalam suatu produksi. Produser bertanggungjawab ketersediaan dana produksi pementasan. 2. Pimpinan Produksi (pimpro) : Pihak yang bertanggung jawab atas terlaksananya suatu produksi pementasan. Pimpro melakukan perencanaan dan monitoring pelaksanaan produksi pementasan.

Pimpro berhak mencari kemungkinan kerjasama dengan pihak lain dan pengembangan desain produksi. Pimpro harus menguasai manajemen keproduksian dan sebaiknya bukan orang yang menjadi aktor dalam pementasan. Dalam menjalankan tugasnya, pimpro dibantu oleh Pelaksana Produksi. Tanggung Jawab, Wewenang dan Tugas Pimpro: i).Bertanggung jawab atas desain produksi; ii).Bertanggung jawab atas kinerja pelaksanaan produksi; iii)Berwenang untuk menunjuk pelaksana produksi; iv).Bertugas mengelola dana produksi; v)..Bertugas membantu produser dalam pencarian dana; vi). Bertugas mencari kemungkinan kerjasama dan pengembangan kegiatan produksi. 3.Pelaksana Produksi :Orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan teknis administratif sesuai dengan desain produksi. Pelaksana produksi adalah pihak yang bertugas mengaktualisasikan rencana pimpinan produksi. Pelaksana produksi dipilih dan bertanggungjawab pada pimpro. Tanggungjawab, wewenang dan tugas Pelaksana Produksi: i).Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan dalam proyek; ii).Bertugas memenuhi kebutuhan teknis non artistik untuk pelaksanaan kegiatan; iii).Bertugas membuat laporan atas pelaksanaan kegiatan pada pimpro; iv).Berkoordinasi pada stage manager untuk kebutuhan atas penyesuaian artistik yang mempengaruhi teknis. 4. Sutradara : Orang yang bertanggung jawab pada kualitas karya yang dipentaskan. Dalam memperlancar perwujudan karyanya, sutradara bekerjasama dengan tim artistik, technical director dan stage manager. 5. Technical Director : Orang yang bertanggung jawab pada hal-hal teknis yang berkaitan dengan pementasan. Misalnya: hal teknis yang berkaitan dengan lampu dan sound, hal teknis yang berkaitan dengan panggung, hal teknis yang berkaitan dengan gedung. 6. Stage Manager : Pihak yang bertanggung jawab pada hal-hal teknis yang berkaitan pementasan seperti properti, panggung dan hal-hal lain yang bersifat teknis managerial dalam wilayah artistik (mendokumentasi proses [latihan dan rapat], mencari tempat [latihan dan rapat], mengatur jadwal [latihan dan rapat tim artistik], dsb). 7.Tim Art :Pihak yang membantu sutradara dalam hal artistik (lighting, sound, kostum dsb.).

C. Membangun Laboratorium Penciptaan Teater. C.1.Pilot Project Waktu Batu Kerja Laboratorium Pencitaan Teater. TG, ‘laboratorium penciptaan teater’ memulai dengan sebuah pilot project Waktu Batu. Pilihan bentuk ‘laboratorium penciptaan teater’ seluruh kegiatannya mesti mendorong terciptanya sebuah karya teater. Sebagai awal pijakan proses membangun sebuah laboratorium penciptaan teater, kami menetapkan tiga gerbong aktivitas laboratorium. Pertama, riset dan eksplorasi baik gagasan maupun bentuk; kedua, dokumentasi –baik tertulis, tercetak maupun terekam; ketiga, penciptaan –baik publikasi dan audience luas maupun terbatas (Kusworo Bayu Aji, ”Ketika Kami berada di Sini” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, Sasosno Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta, 2-4 Juli 2002, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002:1).
Hal tersebut semakin dipertegas dengan didirikan Yayasan TG (YTG). Adapun visi dan misinya sebagai berikut : Visi YTG: yakni menjadi laboratorium dan ruang penciptaan teater yang berbasis pada kegiatan workshop dan studi. Misi YTG: 1.Menemukan dan/atau mencipta (kembali) bentuk-bentuk pengucapan, bahasa dan idiom teater yang segar, otentik, dan dramatik lewat studi, eksperimentasi dan re-kreasi tradisi (-tradisi) teater yang ada di dalam medan produksi kultural yang melingkupi TG; 2. Melakukan dokumentasi proses studi, eksperimentasi, re-kreasi tersebut dan mempublikasikannya dalam bentuk tertentu (buku, tulisan, atau media-media publikasi lainnya), sehingga bisa diakses oleh publik luas dengan kepentingan tertentu (Muchamad Agus Hanafi S.H., Akta Notaris Aktaris No. 13 Tahun 2001 tentang Pendirian Yayasan Teater Garasi).Kusworo Bayu Aji menyatakan sebagai berikut: Proses yang berlangsung sejak Agustus 2001 ini cukup membuat kami tergopoh-gopoh dalam nglakoni apa yang kami canangkan sebagai kerja dalam bingkai sebuah laboratorium. Ada hal-hal yang masih asing, membuat terbata-bata dan bahkan tidak mampu merumuskannya. Hal ini karena keterbatasan referensi atas kerja laboratorium Keterbatasan potensi manusia (SDM) dan infrastruktur. Keterbatasan coba diatasi dengan satu keyakinan kerja yang sedang kami lakukan dan mengajak pihak-pihak di luar kami (baik person maupun institusi) untuk terlibat mendukung kerja ini (Kusworo Bayu Aji, 2002, 1). Sebagai sebuah pilot project, sejak mula TG menyiapkan diri untuk menemui hal-hal yang muncul di luar bayangan mereka. Dengan berbekal dana kas laboratorium yang sangat minim dan uang saku masing-masing orang yang terlibat, proses riset dan eksplorasi dimulai pada bulan Agustus 2001 di candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah. Kunjungan ke candi Sukuh menyisakan keharusan untuk mengunjungi pula candi-candi lain yang menjadi pijakan eksplorasi pada proses tersebut. Secara beruntun beberapa candi mereka kunjungi: candi Prambanan, candi Plaosan, candi Kalasan, candi Sari, Kraton Boko, Gebang, candi-candi perwara di sekitar Prambanan, candi Ceta (Jawa Tengah), situs Trowulan, situs Penanggungan (Jawa Timur).

Pada situasi pendanaan menipis Kusworo Bayu Aji mendapat support Jean Pascal Elbaz, Aji menyatakan demikian: Kami harus mengucapkan terima kasih kepada Jean Pascal Elbaz yang masih bersedia menjadi bagian dari publik teater Indonesia, sejak proses ini digulirkan sangat antusias menanggapi pembicaraan TG. Keterlibatan Jean Pascal Elbaz yang ‘mengakibatkan’ LlP Yogyakarta bersedia menjadi produser atas produksi pementasan berjudul ‘Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’. Bagi kami merupakan satu bentuk sapaan yang melegakan, kami para pekerja laboratorium yang jarang dilirik orang (lagi: terutama yang berduit), selalu kotor dengan benda-benda preparat, bau yang tak sedap, dan lain-lain (Kusworo Bayu Aji, 2002, 1). Jean Pascal Elbaz memberikan support dengan sangat antusias, seperti ungkapnya sebagai berikut: Sudah menjadi takdir bahwa saya berkenalan dengan kelompok TG hanya beberapa saat setelah pindah ke Yogyakarta untuk mengelola CCF/Lembaga lndonesia Perancis. Pertemuan itu mengawali sebuah kerjasama yang selama beberapa tahun ini telah semakin berkembang dan kaya dengan banyak hasil; yang terakhir di antaranya sedang disajikan kepada kita. Setiap kali saya telah menyaksikan bagaimana kelompok yang masih muda ini membuktikan keseriusan, ketekunan, dan kecerdasan dalam pendekatannya pada teater, lahan yang subur untuk perenungan sekaligus ketakjuban. Tiap pertunjukan menjadi kesempatan bagi kelompok ini untuk melakukan pencarian keseimbangan ideal antara ketepatan permainan para aktor, kekayaan suatu teks, dan kekuatan penyutradaraan. Dilihat dari sudut pandang tersebut, Waktu Batu, menurut saya, adalah suatu langkah yang lebih jauh dalam pencarian itu. Juga penggalian yang lebih dalam.

Pertunjukan ini, hasil dari serangkaian riset panjang tentang mitos-mitos dan legenda di Jawa, tentang sejarah dan akar-akarnya, kemudian berusaha menawarkan darinya sebuah visi yang sangat kontemporer kepada sebuah generasi yang semakin haus identitas. Karena usaha inilah, dan karena keberanian dan kemauan yang mendasarinya, LIP/CCF dengan senang dan bangga terlibat sebagai koproduser (Jean Pascal Elbaz, dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, Sasosno Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta, 2-4 Juli 2002, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002),
Selain dari LIP, TG juga mendapat support dari Kelola Foundation untuk melakukan riset dan ekporasi lanjutan ke masyarakat pesisiran Banyuwangi. Sebagaimana dinyatakan Kusworo Bayu Aji sebagai berikut: Setelah berjalan sekitar 4 (empat bulan) kondisi dapur produksi kami mulai terasa melemah sementara tarikan proses semakin meningkat. Hal tersebut memaksa kami untuk semakin gencar mengajak pihak lain untuk mendukung proyek ini. Atensi A mna W. Kusumo – Kelola Foundation pada perkembangan seni pertunjukan di Indonesia kami rasakan secara nyata melalui keterlibatannya pada proyek ini. Dengan dukungan Kelola Foundation kami (bisa) melanjutkan riset dan eksplorasi ke masyarakat pesisiran Banyuwangi. Sebuah riset yang sejak mula kami inginkan. Masyarakat Osing Banyuwangi dengan kesenian-kesenian pesisirannya: Gandrung, Kuntulan, Seblang, … sungguh merupakan sumber inspirasi dan pasokan spirit yang signifikan. Kelola Foundation dan Masyarakat Osing melengkapi daftar pihak yang mendorong berjalannya gerbong aktivitas riset dan eksplorasi pada proses ini (Kusworo Bayu Aji, 2002, 2). Kemudian proyek Waktu Batu juga mendapat support dari Open Society Institute Development (OSID) untuk pendokumentasian proses kreatif. Hal ini juga diungkapkan oleh Kusworo bayu Aji sebagai berikut: Dari perjalanan proses yang telah kami lakukan ada banyak catatan yang masih terserak dan belum tertata. Proses pendokumentasian yang merupakan salah satu gerbong aktivitas utama bagi keberlangsungan laboratorium kami lakukan dengan dukungan Open Society Institute Development. Kami berharap dokumentasi dari proses ini akan mampu kami wujudkan dalam bentuk yang dapat diakses oleh publik baik berupa buku maupun teks pertunjukan (naskah). Proyek yang direncanakan berlangsung selama 2 (dua) tahun ini, 2001-2003, akan mampir pada terminal pementasan di Sasono Hinggil Dwi-Abad Alun-alun Selatan Yogyakarta dengan judul ‘Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (Kusworo Bayu Aji, 2002, 2).

C.2. Penemuan Ide Pertunjukan Lakon Waktu Batu. Ide, gagasan merupakan hasil pemikiran. Dasar gagasan merupakan sesuatu sebagai pokok atau tumpuan untuk pemikiran selanjutnya (Hasan Alwi, dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, cetakan ketiga edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2003: 326). Pertunjukan lakon Waktu Batu merupakan program prestisius dan inspiratif. Gagasannya datang dari Yudi Ahmad Tajudin. Ia gelisah tentang konvensi teater dan konsep waktu da¬lam tradisi Jawa. Yudi mengatakan demikian: Sekitar bulan Maret 2001, setelah beberapa percakapan dan beberapa bacaan yang tak terlalu sistematis diantaranya obrolan yang cukup inspiratif dengan Slamet Gundono perihal ‘sukerta’ dan ‘ruwatan’ dalam tradisi Jawa, serta sepenggal esai OctavioPaz perihal orientasi dan persepsi waktu akan menentukan cara dan bentuk penyikapan terhadap realitas, kegelisahan-kegelisahan itu lalu mengkristal ke dalam tiga pertanyaan besar: ‘waktu’, ‘transisi’ (beserta kegentingan yang menyertainya) dan ‘identitas’ (nama-nama yang tertera di seluruh diriku, dari manakah mereka? TG, kemudian melahirkan penajaman visi TG untuk menjadi ‘laboratorium penciptaan teater’. Sebuah institusi dan komunitas yang mencoba melakukan pelacakan substansi-substangsi gagasan dan bentuk teater, mendokumentasikan pelacakan tersebut, dan tidak lupa juga menerjemahkan studi dan pelacakan-pelacakan itu ke dalam penciptaan karya teater yang berbentuk penulisan dan pementasan (Yudi Ahmad Tajudin, ”Kenapa perjalanan ini Ditempuh” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, Sasosno Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta, 2-4 Juli 2002, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002:10-11).

 

Gambar 15. Suatu adegan pentas ”Waktu Batu 2, Ritus Seratus Kecemasan
dan Wajah Siapa yang Terbelah” karya Kelompok Teater Garasi di Gedung Kesenian Jakarta, pada 17-18 Maret 2003. page 12.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Merujuk pada visi ’laboratorium penciptaan teater’ tentang riset dan ekplorasi gagasan atau ide kali ini Tajudin memperjelas demikian: Pada titik inilah sekitar bulan Juli 2001, setelah menggumulinya berbulan-bulan saya melontarkan ide pada teman-teman TG untuk melakukan pelacakan terhadap tiga perkara besar di atas lewat sebuah kerja teater. Diskusi-diskusi kecilpun lalu lahir. Dan dari sebuah diskusi saya dengan Gunawan Maryanto perihal Jawa dan mitos-mitosnya, saya lalu memutuskan untuk menjadikan mitos Watugunung sebagai titik tolak keberangkatan riset dan eksplorasi tematik bagi kerja teater yang telah disepakati tersebut. Pilihan untuk memasuki teks Watugunung karena mitos yang diyakini (sebagian) penduduk Jawa dan Bali ini bercerita perihal kelahiran sistem kalender. Persisnya nama-nama dan sistem mingguan dalam kalendar mereka. Dengan sedikit variasi, pada versi Bali, yang masih pekat diyakini oleh penduduknya disbanding Jawa, Watugunung adalah juga cerita perihal terbit dan pentingnya pengetahuan dalam tatanan hidup bersama (Yudi Ahmad Tajudin, 2002:11). TG mengolah teks mitos Jawa Watugunung, sebagai inspirasi awal maka disusunlah sinopsis mitos Watugunung sebagai berikut: Watugunung yang tinggal dengan ibunya baru pulang dari bermain dan minta makan.Ibu yang sedang bekerja menanak nasi tak mau diganggu dan mengibaskan enthong yang dipegangnya,melukai kepala Watugunung. Watugunung berdarah marah dan pergi tak pernah berjanji kembali. Tinggal ibu yang selalu menanti. Waktu mempertemukan dia dengan anaknya sebagai sepasang kekasih. Demi melihat bencana itu Sinta, sang ibu berusaha menjauhkan dirinya dengan anaknya dengan segala cara. Terakhir dia meminta Watugunung untuk memperistri tujuh bidadari dari kayangan dan itu berarti Watugunung harus melawan dewa-dewa. Hanya kemalangan dan bencana yang terulang sebab Watugunung akhirnya mati di tangan satu-satunya dewa ang bisa membunuhnya, Wisnu. Sinta terus menangisi nasibnya hingga mengguncangkan kayangan. Ia terus menangis meski dewa-dewa berusaha melerainya. Ia hanya akan berhenti menangis jika dewa-dewa mau mengangkat Watugunung dan saudara-saudaranya ke kayangan. Permintaan Sinta dikabulkan oleh dewa-dewa, secara bergantian seminggu sekali, saudara-saudara Watugunung diangkat ke kayangan. Dari peristiwa itu dinaimailah wuku-wuku dengan nama Watugunung, Sinta, Landep dan saudara-saudara Watugunung (Sinopsis Mitologi Watugunung ini dikutip dari Katalog Waktu Batu. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta:Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002:1; baca Katalog Waktu Batu. Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah, Yogyakarta: Teater Garasi, 2003: 04-05; Katalog Waktu Batu. Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu, Yogyakarta: Teater Garasi, 2004: 4; dan Andri Nur Latif, Maryanto, Gunawan., Prasad, Ugoran., Waktu Batu, Teater Garasi Laboratorium Penciptaan Teater 2001-2004, Magelang: Indonesiatera, 2004: 77-81).
Setelah memastikan mitos Watugunung sebagai pijakan awal, Yudi Ahmad Tajudin bersama anggota TG pada tanggal 24 Agustus 2001 melanjutkan pengembangan idenya ke candi Sukuh, sebagaiamana diungkapkannya demikian: Pada tanggal 24 Agustus 2001 , saya dan beberapa aktor TG berangkat ke candi Sukuh. Kenapa Sukuh? Karena saya mendapat informasi bahwa candi itu arsitekturnya bisa dibilang ganjil jika dibandingkan dengan candi-candi lain di Jawa, relief dan arca-arca di sana banyak memunculkan teks-teks ‘sukerta’ dan ‘ruwatan’. Di sana, kami bertemu dengan Sudamala dan tafsir kami atas atmosfir yang mirip antara latar belakang dibangunnya candi tersebut dengan tiga perkara yang hendak kami lacak itu; terutama perihal transisi dan kegentingannya. Dari teks kami membaca bahwa Sukuh dibangun sekitar abad XlV, pada akhir zaman kejayaan Majapahit. Candi Sukuh dibangun oleh penduduk Majapahit yang agamanya Hindu, sementara di sisi lain mereka menolak untuk bersepakat dengan sistem nilai agama yang baru masuk ke Jawa: Islam. Mereka, sebagian penduduk Majapahit, kemudian lari ke bukit-bukit, barangkali hampir putus asa, dan menemukan harapan pada sistem nilai dan kepercayaan Jawa lama yang ada sebelum datang agama Hindu (Yudi Ahmad Tajudin, ”Kenapa perjalanan ini Ditempuh” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, Sasosno Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta, 2-4 Juli 2002, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002: 10-11).

Hasil dari pengamatan di candi Sukuh ditemukan relief dan arca-arca yang banyak memunculkan teks-teks ‘sukerta’ dan ‘ruwatan’ maka mitos Murwakala juga menjadi sumber inspirasi, Adapun sinopsis mitos Murwakala sebagai berikut: Uma tak mau melayani nafsu birahi yang sudah memuncak dari suaminya, Batara Guru, maka muncratlah maninya ke laut. Mereka saling menyalahkan, saling kutuk. Uma menjelma Durga, Batara Guru bermuka raksasa sementara mani yang terbuang ke dalam laut telah tumbuh menjadi sosok raksasa yang mengerikan yang tak diinginkan oleh siapapun termasuk dewa-dewa dan orang tuanya. Meski berbagai upaya dilakukan untuk membinasakannya, kepastian mengatakan lain. Ia tumbuh dan mencari bapaknya. Batara Guru akhirnya mengakui ia sebagai anaknya dan memberikan daftar makanan yang adalah manusia sesuai dengan ketetntuan yang ia berikan, mulai dari anak kembar laki, kembar perempuan hingga orang-orang yang melakukan beberapa kesalahan. Wisnu dan dewa-dewa yang lain khawatir bahwa dengan daftar makanan itu, manusia bisa musnah maka dia dengan dibantu oleh dewa-dewa yang lain dan dengan seijin Batara Guru bermaksud menyelamatkan orang-orang yang termasuk dalam daftar makanan Kala dengan jalan menyamar sebagai seorang dalang (yang bisa membaca rahasianya dan karenanya ia harus tunduk) yang akan meruwat orang-orang itu agar tidak dimangsa Kala (Sinopsis Mitologi Murwakala ini dikutip dari Katalog Waktu Batu. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, (Yogyakarta:Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002), 1; baca Katalog ‘Waktu Batu. Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’, Yogyakarta: Teater Garasi, 2003:05; Katalog ‘Waktu Batu. Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu’, Yogyakarta: Teater Garasi, 2004: 5 dan Andri Nur Latif, Maryanto, Gunawan., Prasad, Ugoran., 2004: 82-84). Kemudian secara ekplisit dalam pengamatan mereka ’di sana, kami pun bertemu dengan Sudamala’ atas penemuan tersebut mitos Sudamala juga menjadi inspirasi penting. Adapun sinopsisnya sebagai berikut: Adalah Uma, kekasih Siwa yang berselingkuh dengan dewa Bhrahma telah dikutuk oleh Siwa menjadi Durga dan diusir dari kayangan untuk menempati Sentragandamayit memimpin segala jenis iblis, jin dan demit sampai waktu dua belas tahun di mana ia dijanjikan oleh Siwa akan diruwat menjadi dirinya yang semula oleh seorang laki-laki beroman muka merah bernama Sadewa yang kelak akan disebut juga sebagai Sudamala yang dalam bahasa Jawa berarti Peluntur Bencana.Sudamala pelepas mala muncul dalam tokoh Sadewa titisan Siwa membebaskan Uma dari kutuk Durga. Konon menurut cerita, barang siapa membaca atau mendengar kisah Sudamala atau kisah ruwatan yang lain sampai selesai, ia akan terlepas dari segala noda dan derita (Sinopsis Mitologi Sudamala ini dikutip dari Katalog Waktu Batu. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta:Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002: 1; baca Katalog ‘Waktu Batu. Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’, Yogyakarta: Teater Garasi, 2003: 06; Katalog ‘Waktu Batu. Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu’, Yogyakarta: Teater Garasi, 2004: 5 dan Andri Nur Latif, Maryanto, Gunawan., Prasad, Ugoran., 2004, 85-88).
Selanjutnya dalam pengamatan di candi Sukuh ”… kami membaca bahwa Sukuh dibangun sekitar abad XlV, pada akhir zaman kejayaan Majapahit.” Dari penemuan tersebut teks besar ’sejarah Majapahit akhir’ sinopsisnya sebagai berikut: Tahun 1511, tepat pada tanggal 10 Agustus, Portugis menguasai Malaka.Sebulan kemudian, sepasukan armada dari Jawa, dihancurkan di Selat Malaka. Kapal-kapal mereka yang berisi harta benda berharga ditenggelamkan dalam perjalanan kembali ke Goa.Pada saat itu kampung-kampung pengungsi Hindu Majapahit tertua di Bali sudah berusia 43 tahun. Majapahit tak pernah benar-benar sembuh dari kisah-kisah pemberontakan. Brawijaya Girindhawardhana, sang raja terakhir, bukan tak mendapat kabar bahwa Malaka sudah jatuh ke tangan orang-orang asing.

Tahun 1603 Kantor pusat VOC didirikan di Banten. Tahun 1619 Kota Batavia didirikan. Sejarah Jawa semenjak saat itu adalah sebuah sejarah pertaningan panjang, yang tidak seimbang antara kekuatan VOC yang dinamis dan kekuatan Mataram yang menyurut. Majapahit gagal berhadapan dengan kekuasaan perniagaan lepas pantai. Mataram berhadapan dengan kenyataan serupa, sungguhpun selain Batavia dan Banten, seluruh daerah pesisir sudah ada digenggamannya. Segalanya sudah terianjur berubah. Dalam kecepatan dan percepatan yang selama beratus-ratus tahun menyusun permutasi di Nusantara, dan lalu sebuah negara muda bernama Indonesia, terbukanya gerbang-gerbang dari dunia seluas-luasnya tanpa kemampuan dan kekuatan untuk mengunyah seperti sebelumnya, tidak bisa tidak, sedang menyusun identitas yang terbelah dan terus terbelah (Sinopsis ’Sejarah Majapahit Akhir’ ini dikutip dari Katalog ‘Waktu Batu.Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’, Yogyakarta: Teater Garasi, 2003:06-08; dan Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:89-98).
Pada diskusi “Mitos sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni” (22 Juni 2002) di LIP Yogyakarta pembicara antropolog UGM, Dr. Heddi Shri Ahimsa Putra dan Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya UGM, Drs. Anung Tedjowirawan mengemukakan sebagai berikut: Benang merah bahwa masyarakat modern pada dasarnya tetap memiliki penanda yang sama dengan masyarakat primitif yaitu peri kehidupan totemik, yang mengkaitkan kehidupan riil dengan simbol-simbol kedewaan. Perbedaan mendasar muncul dalam penghayatan dan berkat peranan tradisi pendidikan modern, yang memungkinkan masyarakat modern melakukan reinterpretasi mitos (“Mitos sebagai Sumber Kreativitas Dimaknai Melalui Reinterpretasi Penghayatan”, Jakarta: SKH. Kompas, Senin 24 Juni 2002).

Ide atau gagasan dasar untuk pijakan proses kreatif pertunjukan lakon Waktu Batu adalah mitos tentang waktu. Penyusuran mitos Watugunung, Murwakala, dan Sudamala dilakukan dengan sungguh-sungguh. Teks mitos Watugunung ditelusuri dan keterkaitan antar narasi mitos Murwakala dan Sudamala, keduanya mitos tentang terciptanya penguasa waktu dan kekuasaan waktu atas manusia. Pelacakan tim penulis melihat pula keterkaitannya mitos dengan satu periode sejarah di Jawa pada abad XIV-XV, saat terjadi trasformasi sistem kepercayaan, dari Hindu ke Islam. Transformasi sistem sosial, dari Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak, dari Pesesiran lalu ke Kerajaan Mataram di Pedalaman. Pergeseran berlangsung pada wilayah kehidupan yang jauh, luas dan menyimpan bentuk-bentuk perbenturan politik dan kebudayaan tertentu di dalamnya. Selama se-abad itu, mitos Watugunung yang disusun dalam kosmologi Hindu, terkecuali di Bali. Agama Hindu terdesak oleh kuatnya pengaruh agama Islam di pulau Jawa. Berdirinya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, penanda yang jelas, tegas atas runtuhnya Majapahit sekaligus memasuki masa akhir kejayaan kepercayaan Hindu di Pulau Jawa
Pilihan teks-teks tradisi pada mitos menjadi landasan kerja kreatif TG. Seperti dikatakan Claude Levi-Strauss demikian: Seturut pemahaman bahwa dalam mitos menyimpan semacam pandangan hidup tertentu atas bagaimana manusia berhadapan dengan fenomena alam dan kebudayaan. Sebuah mitos selalu terkait denganb peristiwa dari masa lalu “sebelum terciptanya dunia” atau “pada masa-masa awal”. Nilai intinsik yang diberikan mitos berasal dari peristiwa yang ditaksir terjadi pada suatu masa tertentu juga membentuk sebuah struktur yang permanen. Struktur ini dalam waktu yang bersamaan terkait dengan masa lalu, masa sekarang dan masa depan (Claude Levi-Strauss, Antropologi Struktural, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005:280). Dengan demikian jelaslah teks mitos Watugunung memiliki keterkaitan antar narasi mitoss dengan Murwakala dan Sudamala, keduanya mitos tentang terciptanya penguasa waktu dan kekuasaan waktu atas manusia. Kemudian sebuah teks besar ’sejarah Majapahit akhir’ memiliki keterkaitan dengan satu periode sejarah di Jawa pada abad XIV-XV, saat terjadinya semacam trasformasi sistem kepercayaan, perbenturan sosial, kebudayaan, politik, dari Hindu ke Islam.
Seniman sering mendapatkan inspirasi idenya dari ‘ilham’(Ilham: petunjuk Tuhan yang timbul di hati; pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati; sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta dalam Hasan Alwi, dkk. 2003:432). Yudi Ahmad Tajudin karena gelisah perihal teater, seni pertunjukan yang telah ia geluti lebih dari sepuluh tahun. Dalam lingkungan yang tengah bergerak menuju entah, apakah ‘teater’? Kemudian obrolan yang cukup inspiratif dengan Slamet Gundono perihal ‘sukerta’ dan ‘ruwatan’ dalam tradisi Jawa, serta bacaan esai Octavio Paz perihal orientasi dan persepsi waktu akan menentukan cara dan bentuk penyikapan terhadap realitas, kegelisahan-kegelisahan itu lalu mengkristal ke dalam tiga pertanyaan besar sebagai ide tema: ‘waktu’, ‘transisi’, beserta kegentingan yang menyertainya; dan ‘identitas’, nama-nama yang tertera di seluruh diriku; dari manakah mereka? Terutama konsep waktu da¬lam tradisi penanggalan Jawa . Seseorang dalam proses kreatif tidak dapat lepas dari ‘memori’ (Memori: kesadaran akan pengalaman masa lampau yang hidup kembali; ingatan dalam Hasan Alwi, dkk., 2003:730). Yudi pun sejak masa anak-anak sampai dewasa memiliki ‘memori’ yang dapat dijadikan bekal dalam proses kreatif.
Penemuan dan lahirnya gagasan yang cemerlang, setelah mendapat ‘ilham’ dan adanya ‘memori’ masih diperlukan ‘referensi’ (Referensi: sumber acuan, rujukan, petunjuk dalam Hasan Alwi, dkk., 2003: 939). Berangkat dari konsep waktu dalam tradisi Jawa, Yudi bersama Ugoran Prasad, Gunawan Maryanto, dan Andri Nurlatif melakukan pembacaan referensi tertulis tentang mitos Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan ditambah pembacaan referensi ’Sejarah Majapahit Akhir’.
Referensi tertulis mitos Watugunung dalam proses kreatif sebagai berikut: Referensi cerita Watugunung, dari Watugunung versi Bali berdasar tuturan Jean Coteau; versi Pawukon Jawa, Babat Tanah Jawi, Kitab Watugunung, Sri Rama, Babad Watugunung, Babat Watugunung Giligwesi dan lakon wayang Watugunung dengan dalang Ki Gondo Sudarman Surakarta (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:81). Selanjutnya referensi tertulis mitos Murwakala sebagai berikut: Referensi kisah Murwakala dari versi Serat Centhini, Kyai Demang Reditanaya, Raden Mas Citrakusuma, KGPAA Mangkunegara VII, Pakem lakon Wayang Purwa Riyasudibyaprana, versi Tegal, versi Karangjati Bagelen (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 83). Referensi tertulis mitos Sudamala sebagaiu berikut: Sedang referensi kisah Sudamala dari Kidung Sudamala, sebuah kitab dengan bahasa Jawa Tengahan bahkan merujuk pada relief-relief Candi Sukuh dan Tigawangi yang sumbernya juga Kidung Sudamala, Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 87. Kemudian referensi tertulis ’sejarah Majapahit akhir’ sebagai berikut: Referensi ‘Sejarah Majapahit Akhir’ merujuk pada tulisan Hasan Djafar berjudul Girindawarhana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir, Jakarta, Budhis Nalanda, 1978; Denys Lombard berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2000; Slamet Mulyana berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negar Islam Nusantara, Jakarta, Bharata, 1965; dan Menuju Puncak Kemegahan, Sejarah Kerajaan Majapahit, Jakarta, Balai Pustaka, 1965:59.

Referensi-referensi tadi berfungsi untuk mematangkan ide yang kemudian dilanjutkan melakukan ‘observasi’ (Observasi : peninjauan secara cermat dalam Hasan Alwi, dkk., 2003: 794; Observasi: teknik pengamatan yang dilakukan terhadap keadaan sekitar dan terhadap diri sendiri untuk mencari identitas peran, dalam Suyatna Anirun, menjadi Sutradara, Bandung: STSI Press Bandung, 2002:167. Sebagaimana di katalog pertunjukan disebutkan sebagai berikut: Ke Candi Sukuh Sukoharjo Jateng , 24-26 Agustus 2001; Riset ke beberapa situs candi di sekitar Yogyakarta, November 2001; Workshop Tonalitas Pesisiran bersama Ki Slamet Gundono di Pendopo TG Yogyakarta, 15-17 Januari 2002; Workshop dan Riset Gandrung Banyuwangi di desa Kemiren Glagah Banyuwangi dan pendakian Gunung Penanggungan Malang Jatim, 22-29 Januari 2002; Workshop dan Diskusi Bahasa Tubuh Relief di Pendopo TG Yogyakarta, Februari 2002; ‘Batu Demi Batu Waktu Batu” dalam Katalog Waktu Batu. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta:Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002: 3. Merunut ide, gagasan pertunjukan lakon Waktu Batu dapat diformulasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

Gambar 16. Bagan 5. Penemuan Ide Tema Lakon Waktu Batu,
Bagan dibuat oleh Nur Iswantara. page 17.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yudi Ahmad Tajudin sebagai teaterawan semasa remaja pernah memiliki ’memori’ berupa pengalaman melihat ’gerhana matahari’ dimana alam semesta gelap gulita beberapa saat. Peristiwa ini melalui bawah sadarnya terekam dalam ingatannya bahkan memiliki nilai ’memori estetis’, ingatan itu mungkin ‘wacana yang gelap’ sehingga semakin menjadikan kegelisahannya tentang waktu pun dijadikan bekal dalam berproses kreatif pertunjukan lakon Waktu Batu. Penemuan ide, Yudi Ahmad Tajudin bermula dari ‘ilham’ diperkuat ‘memori’, ‘referensi’ dimatangkan ’observasi’ dengan riset, ekplorasi, apresiasi, dan workshop bersama tim TG secara realistis. Penemuan ide tematik ’waktu’, ‘transisi’ dan ‘identitas’ ditumbuh-kembangkan untuk mencipta pertunjukan lakon Waktu Batu.
C.3. Produksi Pertunjukan Lakon Waktu Batu. Manajemen produksi dalam pertunjukan lakon Waktu Batu dilaksankan mulai dari ‘Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1); ‘Waktu Batu.

Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’ (WB 2) dan ‘Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu’ (WB 3).
Adapun personil yang terlibat dalam manajemen produksi pertunjukan lakon WB 1 yakni. Produksi TG, ‘Laboratorium Penciptaan Teater’ dan Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta 2001- 2002. Pimpinan Produksi: Kusworo Bayu Aji, Pelaksana Produksi: Yustina W Neni, Staf Produksi: Octalyna Puspa Wardhani. Ide Tema dan Sutradara: Yudi Ahmad Tajudin; Tim Penulis Teks: Andri Nur Latif, Cindhil Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad. Pemeran: Andreas Ari Dwianto (Watugunung muda, Kura-kura Ninja), Bahrun Ulum (Kalanjana, Narator, Kura-kura Ninja), Citra Pratiwi (Sinta), Erythrina Baskorowati (Durga), Jamaluddin Latif (Siwa, Kala), Kusworo Bayu Aji (Watugunung dewasa), Naomi Srikandi (Sinta), Sri Qadariatin (Uma, Kali), Theodorus Christanto (Kalantaka, Narator, Kura-kura Ninja), lbu Anggi Minarni (Suara pembaca teks berbahasa Belanda). Stage Manager: Sri Qadariatin, Desain Artistik: Andy Seno Aji, Penata Musik: M Rizqy Sasono. Pewujud Set dan Penata Cahaya: Clink Sugiarto. Desain Kostum dan MakeUp: Retno Ratih Damayanti, Pengolah lmaji Visual: Jompet. Tim Musik: Black Sugiarto, Indra Setya Rini, Sinyo Prasetyo BM. Periset Data: Dwi Istanto, M Cipta Rangga Adi Nugroho (lepas). Koreografi untuk adegan peperangan Watugunung – Wisnu: Bagus Budi Indarto. Kru Panggung: Banjar Tri Andaru Cahyo, Gombloh Safrudin Haryanto, Ferry Gardanalla, Agus Gardanalla, Wawan Hari Dewanto. Pengolah Dokumentasi: Jompet dkk. Pengolah Katalog Pertunjukan: Tim Penulis. Desain Grafis: Muhammad Marzuki.

Selanjutnya personil manajemen produksi pertunjukan lakon WB 2 yakni: Pimpinan produksi: Kusworo Bayu Aji, Ide Tema dan sutradara: Yudi Ahmad Tajudin. Penulis Teks Dramatik: Andri Nur Latif, Cindhil Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad. Aktor: Andreas Ari Dwianto (Watugunung muda), Bahrul Ulum (Narator, Garudeya, Kalanjana, Orang berpakaian Kerajaan, Lelaki berkepala dandang. Kura-kura Ninja), Citra Pratiwi (Sinta), Erytrina Baskorowati (Durga), Hidra Setya Rini (Saksi yang menyanyi), Jamaluddin Latif (Siwa, Kala), Naomi Srikandi (Sinta), Sri Qadariatin (Uma, Kali), Theodorus Christanto (Kalantaka, Lelaki berkepala dandang, Watugunung dewasa). Pengisi Suara: Ibu Anggi Minarni, Citra Pratiwi, Erytrina Baskorowati, Jamaluddin Latif, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto. Stage Manager: Theodorus Christanto. Asissten Stage Manager: Endah Sri W.H. Perancang Set, Perancang Grafis: Andy Seno Aji, Penata Musik: M Rizqy Sasono. Penata Cahaya: Ignatius Sugiarto. Perancang Kostum dan MakeUp: Retno Ratih Damayanti, Pengolah Imaji Visual: Jompet. Pemain Musik: Rizky Sasono, Sinyo Prasetyo BM. Pewujud Set: Ignatius Sugiarto, Suwerko Ari Nugroho, Lik Warsito. Kru Artistik: Banjar Tri Andaru Cahyo, Safrudin Haryanto, Suwerko Ari Nugroho. Dokumentasi Foto: Mohamad Amin. Pengolah Katalog: Tim Penulis WB.

Personil manajemen produksi pertujukan lakon WB 3 sebagai berikut: Pimpinan Produksi dan Manajer Produksi: Kusworo Bayu Aji, Ide Tema dan sutradara: Yudi Ahmad Tajudin. Teks: Andri Nur Latif, Cindhil Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad. Assisten Sutradara: Retno Ratih, Gunawan Maryanto. Pemeran: Andreas Ari, Bahrul Ulum, Citra Pratiwi, Erytrina Baskorowati, Hidra Setya Rini, Jamaluddin Latif, Naomi Srikandi, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, Tomomi Yokosuka. Musik dan Soundscape: Melancholic Bitch, Disain Kostum: Retno Ratih, Abraham Puspo, Didit. Disain Lampu: Clink Sugiarto, Pewujud Visual: Warsito, Pewujud Instalasi Kepala: Rita Dharani. Konsultan Elektrik Kereta: Budi Gemak. Manajer Panggung: Johan Didik, Syafrudin Haryanto. Kru Panggung: Syah Al-Latief, Tagor Syahlani, Taufik Al-Barabasi. Tata Rupa: Andi Senaji, Jompet Kuswidananto. Tim Manajemen: Staff Yayasan TG Yogyakarta.

Berkat kerjasama yang baik anggota TG maka pengelolaan kelompok mampu meningkatkan kualitas SDM anggotanya. Anggota TG secara individu maupun tim kerja yang terdiri generasi muda baik berasal dari lingkungan Fisip UGM dan lainnya. TG cukup berhasil dalam pengelolaan kelompok dalam ‘medan teater’ di Indonesia. Manajemen sangat mendukung proses kreatif dalam meningkatkan kualitas kinerja anggota TG khususnya melalui pertunjukan lakon WB merupakan pertunjukan yang berkualitas sehingga dapat dinikmati penonton. Memahami pengelolaan kelompok TGY sudah dilakukan dengan baik. TG sebagai kelompok seni teater memiliki kesejarahan yang jelas, visi dan misi konkrit, bahkan didukung akta yayasan sebagai organisasi secara formal. Adapun yang dikelola meliputi manajemen kelompok yang terpusat pada SDM, pengorganisasian dan mekanisme kerja, manajemen produksi pementasan teater, dan manajemen produksi. Pertunjukan lakon WB merupakan pilot project ‘laboratorium penciptaan teater’ yang mulai dari penemuan ide dan produksinya di dukung manajemen yang baik. Dengan demikian manajemen merupakan pendukung proses kreatif TGY dalam mewujudkan pertunjukan lakon WB. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 25 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan