Kendal. Suaraglobal.news – Bertempat di Gedung Sastra dan Sosial Boja, Jl. Frans Kafka, Beberangan, Boja, Kendal, Jawa Tengah pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026 pukul 19.00 – 21.00 WIB akan digelar acara Screening dan Diskusi Film Dokumenter Puitik MANUSIA JAWA & TUMBUHAN dari karya puisi Iman Budi Santosa (1948-2020), filmologi hasil karya dan sutradara Wicak Baskoro, astrada Ndaru Murdopo.
Narasumber yang akan membahas yakni Pawang Surya Kencana, putra sulung Iman Budi Santosa; Yafi Yahya, Duta Genre Kabupaten Kendal 2025; Giri Basuki, Seniman, pegiat Teater Koma Jakarta; Suparmin, sahabat seperjuangan Iman Budi Santosa dan Moderatao Heri CS, Pembina KLM Boja. Dimeriahkan pembacaan puisi karya Iman Budi Santosa oleh Siraj Lintang, Naely Karin, Ahmad Dawud, Anton Rius dan Anish.
Pemutaran perdana Film Dokumenter Puitik MANUSIA JAWA & TUMBUHAN dari karya puisi Iman Budi Santosa (1948-2020) karya dan sutradara Wicak Baskoro, astrada Ndaru Murdopo pernah dilaksanakan di Auditorium IFI Yogyakarta pada hari Selasa, 29 September 2026 pukul 19.30 WIB.
Puisi Iman Budhi Santosa tidak pernah jauh dari akar. Jika penyair lain mengejar langit, Mas Iman lebih menunduk: menatap sawo kecik, tembuni, lempuyang, dan rumput ilalang. Tafsir atas kedekatan itu kini dijahit menjadi film dokumenter puitik “Manusia Jawa dan Tumbuhan”.
Film pendek ini adalah apresiasi terhadap sepilihan puisi Iman Budhi Santosa dari masa ke masa yang dikreasi oleh sutradara Wicak Baskoro, astrada Ndaru Murdopo. Jika pada pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026 pukul 19.00 – 21.00 WIB akan digelar acara Screening dan Diskusi Film Dokumenter Puitik MANUSIA JAWA & TUMBUHAN dari karya Iman Budi Santosa (1948-2020) maka kehadiran penonton diharapkan memperkaya tafsir publik atas puisi-puisi karya Iman Budi Santosa itu. Dan juga menjadi bentuk menghargai dan mengenang bersama ikhtiar dan kontribusi Mas Iman Budi Santosa dalam ranah sastra Indonesia, khususon puisi-puisinya.
Mas Iman Budi Santosa, lewat Tumbuhan, mengingatkan dalam menjalani laku prihatin pun orang Jawa tidak dapat meninggalkan anasir tumbuhan. Ada lelaku nyirik (berpantang) makan daging hingga yang bersangkutan menjadi vegetarian. Ketika puasa mutih, mereka tidak makan garam. Dalam puasa ngrowot, mereka tidak makan nasi dan hanya makan umbi-umbian.
Tetapi, pada hakikatnya manusia Jawa tetap menjadikan hasil tumbuhan sebagai makanan dan kebutuhan utama untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Tumbuhan ibarat mesiu bagi sebuah peluru. Mereka percaya, tanpa khasiat yang didapat dari tumbuhan manusia tidak akan mampu menunaikan hidupnya dengan sempurna, sehat lahir batin. (https://www.caknun.com/2020/tumbuhan).
Memetik Nilai-Nilai Kehidupan dari Tumbuhan bagi Iman Budi Santosa penting. Keberadaan tumbuhan yang sudah sedemikian dekat nyaris menyatu dengan kehidupan di perdesaan, pada saatnya telah mendorong terjadinya peningkatan pemahaman orang Jawa terhadap nilai makna yang dikandungnya.
Pelan namun pasti, pandangan mereka pun berkembang meninggalkan hubungan yang bersifat relasi material dan fisikal belaka. Sehingga tumbuhan bukan lagi berhenti dipahami pada tataran flora yang berdaya guna saja. Namun telah berubah sebagai fenomena yang merasuki dimensi spiritual, filosofis, dan pemikiran. Sekali waktu menjelma sedulur sinarawedi, lain waktu menjelma formula simbol atau padanan dalam tanah kreativitas.
Contohnya, berkat intensitas kebersamaan hidup dengan tumbuhan, orang Jawa telah berhasil meningkatkan nilai tumbuhan sebagai materi nasihat hidup dan kearifan mereka. Misalnya seperti tercermin dalam upaya mewujudkan sikap narima ing pandum yang terkesan diangkat dari hasil pengkajian mereka terhadap sikap perilaku tumbuhan yang hidup di sekitarnya (https://www.caknun.com/2020/memetik-nilai-nilai-kehidupan-dari-tumbuhan).
Tumbuhan sebagai Sedulur Sinarawedi. Pemberian nama desa di Jawa menggunakan nama tumbuhan jelas merupakan pilihan, bukan kebetulan, karena sejak berabad lalu orang Jawa memiliki hubungan batin yang intens dengan tumbuhan. Sekali lagi, tumbuhan bagi orang Jawa adalah sedulur sinarawedi. Maka tidak mengherankan ketika anaknya lahir banyak orang tua yang masih nggegegi tradisi kejawaannya akan menanam pohon tertentu sebagai penanda kelahiran si anak tadi.
Secara empiris, penulis mengalami sendiri peristiwa tersebut. Tiga hari sebelum khitan (1960), oleh simbah saya diminta menggali lubang di kebun untuk menanam cikal kelapa. Sehari sebelum khitan diharuskan puasa. Kemudian sore harinya, lepas Ashar diajak ke kebun untuk menanam cikal kelapa puyuh yang telah disiapkan beliau (https://www.caknun.com/2020/tumbuhan-sebagai-sedulur-sinarawedi).
Iman Budhi Santosa (1948-2020) sungguh Istimewa. “Teks sastra yang ditulis Iman Budhi Santosa liris dengan bahasa sederhana. Namun, dalam kesederhanaan itu terkandung falsafah yang dalam. Selain itu, Iman banyak menulis tentang tanaman. Mungkin hal itu karena Penyair Jebolan PSK Malioboro ini pernah menjadi pegawai negeri sipil yang bertugas di bidang perkebunan,” kata Ganjar Harimansyah, salah seorang pengamat sastra Indonesia, dalam 100 hari wafatnya sang penyair.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang mengenalnya kurang lebih 51 tahun menyebut, “Mas Iman itu guru kita bab alam dan tumbuhan. Mas Iman saya kira sudah mengelaborasi semua pengetahuan menjadi kebijaksanaan.” “Buku ini menyadarkan kita bahwa manusia Jawa, khususnya wong cilik, punya hubungan khusus dengan tumbuh-tumbuhan. Bukan sekadar berkaitan dengan mata pencaharian, atau kesukaan dan klangenan, tetapi interaksi mereka dengan tumbuhan itu menjelma sebuah dunia tersendiri,” tulis Emha di CakNun.com mengulas karya Iman. Dari buku-bukunya publik juga tahu betapa nama desa di Jawa diambil dari tumbuhan, misalnya Gondangrawe di Boyolali dari pohon Rawe, Randublatung di Blora dari Randu, hingga Sulang di Rembang (https://mabur.co/budaya/menonton-film-manusia-jawa-dan-tumbuhan-merawat-ingatan-tentang-sastrawan-iman-budhi-santosa). Produksi film ini didanai oleh Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI melalui skema Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro 2025. *** (Penulis & Fotoeditor: Nur Iswantara)


Komentar