SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SENI & BUDAYA
Beranda / SENI & BUDAYA / Wayang Orang Lampahan Bajrang Walagar Pawiyatan Seni Cahyo Yuwono Indonesia Harmonisasi Tradisi dan Inovasi

Wayang Orang Lampahan Bajrang Walagar Pawiyatan Seni Cahyo Yuwono Indonesia Harmonisasi Tradisi dan Inovasi

Tulungagung, suaraglobal.news. Bertempat di Angkringan RUINS Tulungagung Jawa Timur Sabtu, 27 Juni 2026 pukul 20.00 – selesai Pawiyatan Seni Cahyo Yuwono Indonesia pimpinan Andi Prasetya kerjasama dengan Angkringan RUINS milik Bapak Danang Priambodo dan Ibu Imelda Nurfi Maulida mengadakan Pagelaran Sendratari Wayang Orang Lampahan Bajrang Walagar.

Pawiyatan Seni Cahyo Yuwono Indonesia hadir dengan Gaya Surakarta menyajikan Lampahan Bajra Walagar mengkisahkan kepahlawanan Anoman (Bajra Senggana) sebagai utusan Prabu Rama dalam mencari Dewi Sinta di Alengkapura hingga peristiwa dibakarnya Kerajaan Alengka sebagai lambang kemenangan dharma atas adharma.

 

Sendratari Wayang Orang merupakan seni pertunjukan tradisional Jawa yang memadukan unsur tari, drama, musik, sastra, tata artistik, dan visual panggung menjadi satu kesatuan dramatik. Seni pertunjukan yang mengkisahkan kepahlawanan Bajra Senggana dalam epos Ramayana ini menjadi bukti seni teater tradisional masih diminati masyarakat. Warisan budaya tak benda (ingtangible) teater tradisional Wayang Orang akan dapat terus hidup dan berkembang melalui sentuhan artistik yang inovatif tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Lakon Lampahan Bajrang Walagar mengisahkan perjalanan Bajra Senggana sebagai utusan Prabu Rama Regawa untuk mencari Dewi Sinta di Alengka Pura. Perjalanan tersebut dipenuhi berbagai rintangan, mulai dari menghadapi pasukan Rahwana hingga peristiwa legendaris pembakaran Alengka Pura yang menjadi simbol kemenangan dharma atas adharma. Kisah ini tidak hanya menghadirkan tontonan yang menarik, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang keberanian, kesetiaan, kejujuran, dan pengabdian kepada kebenaran.

5 Besar Festival Teater Pelajar Piala Sri Murtono 2026 Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal

Keunikan pagelaran tampak pada konsep artistik yang memadukan pakem Wayang Orang dengan teknologi pertunjukan modern. Panggung terbuka berlatar arsitektur candi menghadirkan nuansa megah yang mendukung alur cerita. Tata cahaya dirancang mengikuti perkembangan dramatik setiap adegan, sementara penggunaan obor dan api sungguhan memberikan efek visual yang kuat pada adegan pembakaran Alengka Pura dengan tetap mengutamakan standar keselamatan.

Dari sisi koreografi, pertunjukan berpijak pada baku tari klasik gaya Surakarta yang dikembangkan melalui pola lantai, dinamika kelompok, dan komposisi gerak yang lebih teatrikal. Sementara itu, unsur musikal memadukan live recording gamelan dengan instrumen digital (MIDI), menghasilkan suasana dramatik yang tetap berakar pada karakter karawitan Jawa namun lebih dekat dengan selera penonton masa kini.

Proses penciptaan karya dilakukan melalui tahapan eksplorasi, improvisasi, komposisi, latihan, evaluasi, hingga penyempurnaan. Seluruh proses tersebut didasarkan pada kajian naskah Ramayana, pakem Wayang Orang, serta kebutuhan artistik pertunjukan sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki kualitas estetis, tetapi juga nilai edukatif dan filosofis.

Lebih dari sekadar hiburan, Lampahan Bajrang Walagar menjadi media pelestarian budaya yang memperkenalkan kembali nilai-nilai luhur dalam kisah Ramayana kepada generasi muda. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan hiburan modern, pertunjukan ini membuktikan bahwa seni tradisi tetap memiliki ruang untuk berkembang melalui inovasi kreatif yang tetap menghormati akar budayanya.

Melalui perpaduan tata panggung, tata cahaya, tata busana, tata rias, koreografi, serta iringan musik yang harmonis, pagelaran ini menghadirkan pengalaman estetis yang mampu membangkitkan kebanggaan terhadap kekayaan seni budaya Indonesia. Sendratari Wayang Orang tidak hanya menjadi warisan masa lalu, melainkan juga inspirasi bagi masa depan pelestarian budaya Nusantara.

Menyulam Jiwa Dewi Sri yang Robek di Hutan Nusantara Naskah dan Sutradara Rano Sumarno, M.Sn.

Pertunjukan Wayang orang ini dengan penulis lakon dan sutradara Andi Prasetya. Pemain : Dewa-Dasamuka; Alex-Rama Regawa; Gita-Sinta; Lesmana-Rofik; Trijatha-Gysca; Anoman-Lutfi; Indrajit-Bagus; Kala Marica-Bimo; Kidang-Nafila. Penata artistik Sutawijaya Audio. Seni pertunjukan Wayang Orang Siswa-siswi Pawiyatan Seni Cahyo Yuwono Indonesia, Nomor Induk Kesenian:400.6/419/35.04.28.02/NBK.KNIOK/2025 dengan Krtua Andi Prasetya yang bekerja bareng Angkringan RUINS kagungan Bapak Danang Priambodo dan Ibu Imelda Nurfi Maulida ini sungguh luar biasa, bagus dan prestisius.

Penyajian pertunjukan dikemas melalui perpaduan koreografi tari klasik gaya Surakarta, dramatika, tata panggung, tata cahaya, tata rias, tata busana, serta iringan yang memadukan live recording gamelan dan musik MIDI sehingga menghasilkan pertunjukan yang komunikatif tanpa meninggalkan pakem Wayang Orang. Pagelaran ini tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya serta penyampaian nilai-nilai moral mengenai keberanian, kesetiaan, pengorbanan, dan kejujuran.

Setidaknya sebuah upaya nyata menampilkan Wayang Orang Lampahan Bajrang Walagar Pawiyatan Seni Cahyo Yuwono Indonesia Harmonisasi Tradisi dan Inovasi ini memberikan nilai tambah dalam eksistensi seni budaya di Tulungagung. Sukses selalu. *** (Tim Penulis: Nur Iswantara dan Andi Prasetya).

Pertunjukan Puti Bungsu Lirik Sutradara Wendy Hs., S.Sn., M.A. Mengusung Total Body Performance Method

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement