L
Memuat...
SENI & BUDAYA

Tahlil Singiran: Merawat Doa Menjaga Tradisi Sarasehan Budaya DKB di Makam Sono Pakis Kidul Ngestiharjo Kasihan Bantul

Sarasehan Budaya Tahlil Singiran: Merawat Doa Menjaga Tradisi
Fasilitasi Dewan Kebudayaan Kabupaten Bantul
(Foto Nur Iswantara) 

Bantul. suaraglobal.news – Bertempat di Makam Jati Sasonoraga, Sonopakis Kidul, Kalurahan Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dewan Kebudyaan Kabupaten Bantul (DKB) mengadakan Sarasehan Budaya Tahlil Singiran: Merawat Doa Menjaga Tradisi. Pada hari Jum’at tanggal 21 Agustus 2026 pukul 19.30 WIB – Selesai. Narasumber Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., K.H. Jadul Maula, Firman Muhammad. Moderator Hariyadi dan Pembawa Acara Iswanto Waluyo,

Tema satasehan budaya Tahlil Singiran: Merawat Doa, Menjaga Tradisi. Sambutan Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Bantul Drs. Gatot Mujiyana, M.M. menegaskan bahwa kegiatan Tahlilan dan Singiran setiap malam Hari Jumat malam Sabtu Legi ini sudah selayaknya dilestarikan dan dilanjutkan. Hal ini sebagai bentuk mendoakan para leluhur, keluarga dan saudara sesama muslim yang sudah meninggal dunia. Sisi lain sebagai bentuk kebersamaan dalam bermasyarakat, kegiatan dengan gotong royonng yang penuh guyub rukun.

Sementara itu sambutan Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul yang diwakili oleh Sekretarais Dinas Kebudayaan Sarjiman, S.IP., M.E., dalam sambutannya menyampaikan penghargaan yang tinggi, tahlil dan singiran sebagai kegiatan budaya yang bernilai Islami sebagai wujud merawat doa dan menjaga tradisi perlu dilanjutkan terus.

Sementara itu narasumber Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., menyampaikan di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, ada satu tradisi yang tetap hidup dan mengakar kuat di banyak daerah di Indonesia: tahlilan. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan berkumpul untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antarsesama, menguatkan solidaritas sosial, dan menjaga nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tahlil Singiran wujud nyata dari akulturasi budaya Islam-Jawa yang berfungsi sebagai media dakwah, pelestarian doa, dan benteng pertahanan tradisi lokal. Di beberapa wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, pelantunan bait-bait singir -syair religius berbahasa Jawa- disisipkan di sela-sela atau mengiringi bacaan tahlilan yang Bahasa Arab.
Esensi dan Fungsi Tahlil Singiran: 1). Merawat Doa untuk Ahli Kubur. Inti dari amaliah tahlilan tetap berfokus pada pengiriman doa, istighfar, ayat suci Al-Qur’an, dan kalimat tauhid kepada kerabat yang telah meninggal. 2).Pengingat Kematian (Melingeling). Syair berbahasa Jawa dalam singiran dikemas secara menyentuh agar jamaah mengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. 4). Media Pembelajaran Agama. Melalui lirik berima yang mudah dihafal (purwakanthi), masyarakat awam dapat belajar mengenai rukun Islam, akidah, dan etika hidup (akhlaq) tanpa merasa digurui. 5). Perekat Hubungan Sosial (Hablum Minannas). Saat singiran dinyanyikan bersama secara komunal dengan irama berlaras pelog atau slendro, tercipta pergeseran orientasi yang mempererat kerukunan dan kebersamaan antar-warga.
K.H. Jadul Maula sebagai narasumber menyampaikan bahwa dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, tahlilan biasanya dilaksanakan pada malam pertama hingga ketujuh setelah seseorang wafat, kemudian dilanjutkan pada hari ke-40, ke-100, setahun, hingga haul tahunan. Meskipun tata cara dan waktunya dapat berbeda di setiap daerah, esensi yang dijaga tetap sama, yakni mendoakan sesama Muslim dan memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Di Indonesia, tradisi tahlilan juga mendapat perhatian besar dari para ulama pesantren. KH. Hasyim Asy’ari, misalnya, menekankan pentingnya menjaga tradisi keagamaan yang berisi dzikir, doa, dan silaturahmi selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena itu, tahlilan tidak hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.

Moderator: Hariyadi (, Narasumber: Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum.,
K.H. Jadul Maula, dan Firman Muhammad.

Anjuran untuk mendoakan orang yang telah meninggal memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 10: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami.” Pada tradisi yang berkembang di masyarakat, tahlilan biasanya dilaksanakan pada malam pertama hingga ketujuh setelah seseorang wafat, kemudian dilanjutkan pada hari ke-40, ke-100, setahun, hingga haul tahunan. Meskipun tata cara dan waktunya dapat berbeda di setiap daerah, esensi yang dijaga tetap sama, yakni mendoakan sesama Muslim dan memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah juga banyak menjelaskan mengenai keutamaan doa dan bacaan yang dihadiahkan kepada mayit. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa doa kaum Muslimin dapat memberikan manfaat bagi orang yang telah meninggal. Sementara itu, Ibnu Hajar Al-Haitami menerangkan bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada mayit merupakan pendapat yang diterima oleh banyak ulama. Hal serupa juga dijelaskan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dalam berbagai karya beliau.
Jika diperhatikan lebih jauh, nilai yang terkandung dalam tahlilan sesungguhnya sangat besar. Tradisi ini menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling menguatkan ketika ada yang tertimpa musibah. Di saat yang sama, tahlilan juga menumbuhkan budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar. Tidak sedikit hubungan antartetangga yang semakin erat karena sering bertemu dan berinteraksi dalam kegiatan-kegiatan semacam ini. Kiranya sangat bagus jika dilestarikan, ungkap Mas Udik, anggota Dewan Kebudayaan Bantul yang sambil senyum berucap, perlu dukungan dari Dinas Kebudayaan Bantul yang diwakili Bapak Sarjiman, S.IP., M.E., dan Ketua DKB, Drs. Gatot Mujiyana, M.M.,
Pada akhirnya, tahlilan mengajarkan bahwa duka tidak harus dipikul sendirian. Dalam setiap lantunan tahlil dan doa yang dipanjatkan bersama, tersimpan pesan tentang pentingnya saling menguatkan, saling mendoakan, dan menjaga ikatan kemanusiaan. Sebuah tradisi yang tidak hanya menghubungkan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mempererat hubungan antarmanusia dalam bingkai ukhuwah dan kebersamaan.
Dewan Kebudayaan Bantul memandang Singiran bukan sekadar cara melantunkan syair dengan nada tertentu. Singiran merupakan ruang perjumpaan antara ajaran agama, bahasa Jawa, seni suara, sastra, dan kehidupan sosial masyarakat. Melalui Singiran, nasihat tentang keimanan, akhlak, kehidupan, dan penghormatan kepada leluhur disampaikan dengan bahasa yang sederhana, indah, dan mudah diingat.

Memberikan Sambutan Ketua DKB, Drs. Gatot Mujiyana, M.M.,
sebelah kanan, Sarjiman, S.IP., M.E., Sekretaris Dinas Kebudayaan Bantul

Hadir dalam sarasehan ini Lurah Ngestiharjo Bapak Fathoni Aribowo, Kepala Dusun (Dukuh) Ibu Istiana Rahmawati Nur Afifah, S.Kom. Bapak-bapak warga dusun : Kintoko, Firman, Waluyo, Ade Pramudya, Ajik, Anto, Sugiyono, Anas, Sujadi, Arga P, Toddie, Surjoko, Kholiq, Iim, Sarjiman, Bejo, Hari Budiyono, Supriyanta, Sugeng, Mujiyono, Teguh, Basiran, Suprapto, Suyadi, Murdiman, Suryadi, Joko Santoso, Prihandoko, Sukardi, Supadi, Triyono, Ichsan, Sugiman, Bagyo, Binuko, Panut Riyadi, Basuki, Darto, Agus, Slamet, Tugiyono, Tato, Sariman, Binuko R., Anggit, Nur Iman, Nanang, Karyadi, Tono, Basiran dan Ibu-ibu warga dusun. Tahlil Singiran: Merawat Doa Menjaga Tradisi sebuah konsep, tema, yang mengangkat keindahan akulturasi budaya Islam Nusantara. Tradisi ini menggabungkan ketauhidan lewat tahlil dengan kearifan lokal singiran (syair Jawa/Nusantara yang dilagukan).
*** [Penulis: Nur Iswantara]

BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.