Bandung, suaraglobal.news – Reenchantment of Intercultualizing Theater Traditions. Berlangsung pada hari Selasa – Jum’at, tanggal 15 s.d. 17 September 2026 diselenggarakan oleh Jurusan Seni Teater (Juste) Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung.
Adapun aktivitas meliputi Seminar, Selasa 15 September 2026. Sub tema Interkulturalitas: Masih Mempesoan atau Sudah Ditinggalakan. Sesi 1, 10.00n-n12.15 WIB., Pembicara: Prof. Dr. Dra. Yudiaryani, M.A. (Yogyakarta), Dr. Retno Dwimarwati, S.Sn., M.Hum. (Bandung), Fathul A. Husein, S.Sn., M.Sn. (Bandung), Yusef Muldiana (Bandung), moderator: Dr. Tatang Abdullah, S.Sn., M.Hum. Sesi 2, 13.15 –n15.15 WIB. Pembicara: Erwin Sirajudin, S.Sn., M.Sn. (Makassar), Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.Sn. (Padang Panjang), Tirta Nugraha Pratama, S.Sn. (Banten), moderator Dr. Afri Wita, S.Pd., M.A.
Pertunjukan Teater: Selasa, 15 September 2026, pukul 19.30 – 21.00 WIB di Studio Teater ISBI Bandung dengan judul karya “Disertasi Hutan: Bab Reforestasi Dewi Sri”, karya & sutradara : Rano Sumarno, M.Sn. dari Prodi Seni Teater ISI Yogyakarta.
Rabu, 16 September 2026, pukul 13.30 – 15.00 WIB. Di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung judul karya “Pabrik Begal” Karya & sutradara: Yusel Muldiyana, pertujukan dari Laskar Panggung Bandung. Masih di GK Sunan Ambu judul “Puti Bungsu Lirik” Karya Pandu Birowo, S.Sn., M.A., Sutradara Wendy HS., S.Sn., M.A, Pertunjukan dari Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang.
Kamis, 17 September 2026 pukul 13.30 – 15.00 WIB., Di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung judul karya “Teater Film (TERFI) A’RATE” karya & Sutradara Erwin Sirajudin, S.Sn., M.Sn. Pertunjukan dari Prodi Seni Teater ISBI Sulawesi Selatan. Terakhir waktu tempat sama pukul 19.30-21.15 judul “Oemoen Dengan Sepoetjoek Soeratnja” Karya Tirta Nugraha Pratama, S.Sn. Pertunjukan dari Wayang Nganjar Indonesia.
Pada kali ini secara khusus menyoroti pertunjukan “Puti Bungsu Lirik” Karya Pandu Birowo, S.Sn., M.A., Sutradara Wendy HS., S.Sn., M.A, Pertunjukan dari Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang. Sinopsis. Puti Bungsu terbujuk oleh rayuan Cindur Mato untuk ikut dengannya ke Pagaruyung. Ia, yang baru saja menikah dua hari lalu, sudah berada di Pagaruyung sore jelang malam itu. Sementara itu, Bundo Kanduang, Raja Pagaruyung, tidak berkenan dengan kehadirannya. Ia tak ingin Pagaruyung dipermalukan dan menyuruh Puti Bungsu kembali ke Sikalawi malam itu juga.
Puti terluka dan menengok ke dalam dirinya. Ia merenungi nasibnya dan menangisi hatinya. Ia mengenangkan cintanya kepada Sutan Rumanduang sang putra mahkota. Ia juga mengenangkan kasih dan suaminya Imbang Jayo dengan lirik. Sangat lirik. Dan Ia memutuskan untuk tak lagi memilih kedua lelaki yang pernah dicintainya itu. Ia memilih dirinya dan hanya ingin pulang ke dalam dirinya malam itu. Lakon ini adalah keluh kesahnya, adalah lirik hatinya yang paling dalam; sebelum Ia pergi entah ke mana.
Konsep Penyutradaraan. Wendy Hs., S.Sn., M.A. menggunakan konsep totalitas tubuh berdasarkan metode Total Body Performance Method (TBPM) yg saya susun. Secara general, konsep ini menggunakan prinsip komposisi peristiwa panggung yang mengintegrasikan acting (lelakuan), dancing (gegerakan) dan musicing (bebunyian) dari tubuh aktor secara internal di atas panggung. Konsep TBPM ini, dinamakan oleh Dede Pramayoza dengan konsep TOBO (Total Body) untuk teater kontemporer.
Berdasarkan pola TOBO, maka penyutradaraan saya menjadi upaya mengorganisir peristiwa panggung atas unsur laku, gerak dan bunyi yang dilangsungkan aktor secara internal di atas panggung… Saya menyatukan peran aktor, peran penari dan peran pemusik serta peran crew artistik berlangsung dalam tubuh performer selama pertunjukan. konsep TBPM atau TOBO itu berdasarkan inovasi saya atas hasil riset saya pada elemen artistik ketubuhan dalam Randai Minangkabau yang disebut Tapuak Galemboang.
Wendy Hs., mewujudkannya dengan konsep ketubuhan TBPM yang dia kembangkan dari konsep elemen artistik Tapuak Galemboang dalam tradisi Randai Minangkabau. Postdramatik atau pasca dramatik adalah bentuk teater atau pertunjukan yang beroperasi di luar dominasi naskah atau teks drama tradisional. Istilah ini dipopulerkan oleh teoretikus teater Hans-Thies Lehmann. Dalam konsep ini, pementasan tidak lagi tunduk pada alur cerita, karakterisasi, atau dialog yang kaku dari seorang penulis naskah.

“Puti Bungsu Lirik: Menafsir Ulang Tradisi Melalui Dramaturgi Realasional” hasil amatan Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A., (https://www.facebook.com/share/p/1H2v2LjHF8/) mempertegas keberhasilan Wendy Hs dalam penyutdaraaan. Puti Bungsu Lirik, berdasarkan monolog karya Pandu Birowo dan disutradarai Wendy HS dari ISI Padangpanjang, berani keluar dari arus utama Randai sebagai identitas budaya Sumatera Barat. Hampir tidak ditemukan bentuk Randai secara utuh. Jejak budaya sumber hadir melalui kisah Cindur Mato, khususnya bagian Puti Bungsu; kostum tiga aktor; instrumen musik sebagai aksen dialog; serta sedikit gerak galembong. Tradisi tidak direproduksi sebagai bentuk yang harus dipertahankan, melainkan ditafsir ulang melalui bahasa panggung kontemporer. Strategi ini menunjukkan kesadaran penyutradaraan Wendy Hs. untuk memperluas daya komunikasi tradisi kepada penonton yang mungkin tidak berasal dari budaya sumber.
Menurut Prof Yudiaryani, Penafsiran Pandu Birowo terhadap kisah Cindur Mato menempatkan keberanian Puti Bungsu mendedah adat Bundo Kanduang dalam konteks perempuan Minang masa kini—perempuan yang merantau, menentukan sikap, bahkan memilih untuk tidak kembali pulang. Dengan demikian, “pilihan” menjadi titik temu antara teks lama dan pengalaman perempuan masa kini. Dan di sinilah dramaturgi relasional menemukan relevansinya. Interkulturalitas tidak sekadar mempertemukan tradisi Minangkabau dengan dramaturgi modern, tetapi menciptakan relasi antara teks lama, tubuh perempuan, ruang, musik, gerak, dan sensibilitas penonton masa kini. Namun, relasi tersebut masih dapat diperdalam melalui komposisi penyutradaraan agar gagasan tentang “pilihan” memperoleh daya dramatik yang lebih kuat.

Dalam konsep TOBO (Total Body), saya melihat kemungkinan membawa pengalaman personal Puti Bungsu menuju pengalaman kolektif. Pada pertunjukan ini, penyutradaraan masih cukup bertumpu pada kata-kata dan ekspresi personal tokoh. Prof Yudiaryani berharap bahkan membayangkan, misalnya, deretan kor menarikan galembong secara bertingkat sambil membunyikan instrumen, sementara Puti Bungsu di depan melakukan gerak silat sebagai simbol keberhasilannya menentukan pilihan, meskipun dialognya masih disampaikan dengan terisak. Ketangguhan perempuan Minang tidak lagi hanya diucapkan, tetapi hadir melalui hubungan tubuh individual dan tubuh kolektif. Dalam komposisi tersebut, akting, dialog, silat, musik, dan kor dapat menjadi satu dramaturgi relasional yang mempertemukan perempuan masa lalu dengan perempuan masa kini. Galembong tidak sekadar menjadi kutipan tradisi, tetapi berubah menjadi energi tubuh yang menopang keputusan Puti Bungsu.
Karena itu, memesonakan kembali tradisi interkultural membutuhkan lebih dari sekadar keberanian meninggalkan bentuk lama. Ia membutuhkan keterampilan penyutradaraan modern dalam mengolah ritme, tubuh, ruang, komposisi, musik, fokus, kontras, dan transisi. Expanded dramaturgy diperlukan agar tradisi tidak berhenti sebagai aksen, tetapi menjadi relasi aktif yang menghasilkan pengalaman dan makna baru.
Dengan demikian, Puti Bungsu Lirik memperlihatkan kemungkinan intercultural becoming: tradisi tidak diulang, tetapi terus menjadi ketika berjumpa dengan persoalan masa kini. Interkulturalitas menjadi mempesona ketika tradisi berani berubah dan perubahan itu diiringi keterampilan penyutradaraan yang mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa panggung masa kini. Tradisi tidak kehilangan identitasnya; ia menemukan kehidupan baru melalui tubuh, pilihan, dan pengalaman penonton yang terus berubah. Demikian ungkap Prof Yudiaryani, terimakasih atas suportnya, salam sehat selalu.

Mencermati pertunjukan Puti Bungsu Lirik (https://www.youtube.com/live/T9JuQNmFnuo) garapan sutradara Wendy Hs. tampak mengusung ciri Teater Postdramatik berpusat pada Pengalaman. Fokus bergeser dari isi cerita teks ke peristiwa langsung yang dialami penonton di ruang dan waktu yang sama. Dekonstruksi Narasi, menggunakan alur non-linier, episodik, atau potongan-potongan (fragmentasi) alih-alih cerita yang lurus dari awal sampai akhir. Penekanan Visual dan Fisik, lebih mengutamakan elemen tubuh, gerak, suara, tata cahaya, musik, dan suasana visual. Teks sebagai bahan Terbuka: Jika ada teks, naskah diperlakukan sebagai bahan mentah yang bebas diubah, bukan aturan suci yang harus dihafal dan diikuti.
TBPM adalah sebuah sistem pelatihan dan metode ketubuhan modern yang dikembangkan oleh akademisi dan seniman teater Indonesia, Wendy Hs. Konsep utama dari metode ini adalah meleburkan batas disiplin seni (teater, tari-silat, dan musik) guna mencapai totalitas kesadaran dan kehadiran tubuh aktor atau penampil di atas panggung pertunjukan kontemporer.
Poin-poin penting untuk memahami konsep TBPM: Kesatu, Akar Tradisi Budaya (Minangkabau). Metode ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan diformulasikan dari riset mendalam terhadap elemen artistik Tapuak Galemboang dalam tradisi Randai di Minangkabau, Sumatera Barat. Konstruksi gerakan dasarnya mengadopsi posisi ketubuhan dan kewaspadaan yang ada pada Silek (Silat Minangkabau).
Kedua, Formulasi Tiga Elemen Utama (Trinitas Performative) TBPM menyatukan tiga aspek performatif yang biasanya dipelajari secara terpisah menjadi satu kesatuan laku yang simultan: i). Laku Panggung (Acting): Fokus pada kehadiran mental, ekspresi, karakterisasi, dan naskah/konsep pertunjukan. ii). Gerak Tubuh (Dancing): Fokus pada estetika gerak, kelenturan, kekuatan, kontrol ruang, dan koreografi tubuh. iii). Bunyi Performatif (Musicing): Fokus pada pengolahan vokal, ritme, pernapasan, dan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh penampil itu sendiri (seperti tepukan atau hentakan).
Ketiga, Membangun Kesadaran dan Keseimbangan TubuhDalam praktik TBPM, aktor dilatih secara metodis untuk mengenali arah, berat, dan pusat gravitasi mereka sendiri. Tujuannya adalah agar penampil mampu membangun kesadaran penuh (body awareness), sehingga dalam pose atau posisi sesulit apa pun di panggung, tubuh mereka tetap fleksibel, seimbang, dan siap merespons.
Keempat, Relevansi pada Pertunjukan KontemporerDi era modern, batas antara aktor, penari, dan pemusik semakin menipis. TBPM hadir sebagai panduan praktis bagi para seniman lintas disiplin untuk mencapai “totalitas tubuh”. Ketika seorang penampil menguasai metode ini, mereka tidak lagi hanya menjadi aktor yang berdialog, melainkan tubuh yang utuh yang bergerak secara visual sekaligus bermusik lewat suaranya. Wendi Hs., S.Sn., M.A., mencipta seni pertunjukan Puti Bungsu Lirik penuh totalitas nan meyakinkan. Ditunggu karya seni pertunjukan selanjutnya Wendy Hs. *** [Penulis & Fotoeditor: Nur Iswantara].


Komentar