SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SENI & BUDAYA
Beranda / SENI & BUDAYA / Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu Ziarah ke Makam Sri Murtono Pendiri Asdrafi dan Tokoh Teater Indonesia

Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu Ziarah ke Makam Sri Murtono Pendiri Asdrafi dan Tokoh Teater Indonesia

Yogyakarta. suaraglobal.news. Bertempat di Makam Gajahan Jl. Kusuma Negara Yogyakarta, Sabtu 20 Juni 2026 pukul 11.00 – selesai. Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) Kendal Jawa Tengah Ziarah Ke Makam Sri Murtono Pendiri ASDRAFI dan Tokoh Teater Indonesia.
Ziarah Ke Makam Sri Murtono Pendiri ASDRAFI dan Tokoh Teater Indonesia ini berkenaan akan diadakan Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono oleh Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal Jawa Tengah pada bulan Juni – Juli 2026. Kegiatan Festival ini disuport oleh Kemendikdasmen RI – Badan Pengembangan Bahasa dan Pembinaan Bahasa yang ber-Badan Bahasa Bermartabat Bermanfaat.
Pada hari Jum’at, 26 Juni 2026 pukul 10.30 WIB mas Mahmud Alqadrian bersama penulis hunting ke makam Gajahan yang bagian selatan mencari batu nisan almarhum Pak Sri Murtono belum dapat diketemukan. Kami salat jumat dulu. Lantas penulis bersma Mas Mahmud sehabis jumatan kami menemui juru kunci pak Harsoyo untuk dibukakan pintu bagian utara guna mencari batu nisan makam Sri Murtono itu.

Kami berdua dari satu batu nisan ke batu nisan, dari cungkup ke cungkup meneluri batu nisan almarhum Pak Sri Murtono tak ketemu jua. Hal yang tak terduga bin aneh kami berdua bertemu di depan makam keluarga yang pintu besi cat hijau digembok. Secara instingtif saya membaca nama-nama batu nisan yang ada didalamnya tertulis keluarga bangsawan Jawa. Saya ada keyakinan kemungkinan makam Pak Sri Murtono ada didalamnya.
Dengan udara panas membakar, letih terasa siang itu Pak Harsoyo datang ke makam. Kami ceritakan tak menemukan batu nisan almarhum Pak Sri Murtono. Kami tunjukkan ada makam yang tergembok dan di dalamnya terdapat batu nisan bertulisakan nama-nama dari keluarga bangsawan Jawa. Secara cepat Pak Harsoyo mengajak kami berdua ke keluarga Mas Si Mul dan Mas Tono yang dipasrahi kunci makam keluarga tersebut.

 

Barokah hari Jum’at ada keajaiban atas petunjuk dari Allah SWT, ketika makam keluarga Trah Pringgopadmopuspito yang selesai dipugar pada tanggal 30 Agustus 1998 dibuka. Kami menelusuri dari satu nisan ke nisan lainnya. Mas Mahmud yang dibagian paling selatan makam keluarga penuh khidmad bin hapi menemukan batu nisan Pak Sri Murtono dengan dibagian selatan. Batu nisan tersebut dari pualam putih yang tertera tulisan R. Sri Moertono Lahir 23-0-1916, wafat 30-6-1986. Disebelah barat makam istrinya Ibu Sumery. Lega sudah ketemu batu nisan Pak Sri Murtono c.q. namanya tepahat dengan jelas sebagai R. Sri Moertono. Kami berdua pun mohon ijin ke penjaga makam keluarga tersebut pulang dengan perasaan bahagia. Keesokan hari ketika tamu dari Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal Jawa Tengah hendak ziarah sudah pasti.
Mengenang biografik Pak Sri Murtono menjadi hal yang tak terhindarkan. Pada buku Sri Murtono Teatr tak Pernah Usai Sebuah Biografi, (Nur Iswantara, 2004) penerbit Intra Pustaka Semarang Timur tertuliskan Sri Murtono lahir tanggal 23 September 1916 di Kendal Jawa Tengah Semarang Jawa Tengah. Ayahnya Raden Broto Hadi Sudarmno, seorang asisten wedono Cepiring. Ibunya Sri Kusmadinah, keluarga pengusaha batik Panembahan Kasultanan Yogyakarta. Sri Murtono anak ke dua: 1. Sri Murtini, 2. Sri Murtono, dan 3. Sri Murtinah (Nur Iswantara, 2004:7).
Dalam pengantar penerbit dituliskan Ia (Sri Murtono) adalah godfather teater Indonesia. Hidup diantara lima jaman: Penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, masa revolusi serta dua orde, lama dan baru, tak membuatnya surut dalam totalitas kreasi dalam genre ini. Dengan teater ia melakukan perlawanan wacana terhadap penjajahan Belanda, dengan teater pula ia kobarkan nasionalisme pada setiap anak bangsa sebagai counter nasionalisme yang ditanamkan Jepang pada republik ini. Tak lain dengan pertunjukan-pertunjukan yang ia lakukan dari barak ke barak di setiap kantung perlawanan.
Sri Murtono besar dalam keluarga yang sangat kental terhadap kebudayaan Jawa, sehingga hamper dari karya yang ia hasilkan dikerubuti oleh penokohan dan alur yang diadaptasi dari cerita dan legenda masyarakat Jawa. Sumpah Gadjah Mada dan Genderang Bharatayudha, dua masterpiece Sri Murtono lahir dari epos Bharatayudha dan legenda patih paling ambisius yang pernah dimiliki Majapahit. Pun meski ia besar di lingkungan Jawa yang kental, tidak kemudian menyepitkan pola pemikiran Sri Murtono pada aktivitas yang terbelenggu oleh pola pemikiran Jawa an sich, hal ini terlihat dalam karya Sumpah Gadjah Mada yang terinspirasi oleh pertunjukan drama terbuka di negara-negara maju seperti Passie Oberammergau di Jerman Nancy Perancis, atau di Tegelen Belanda.
Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta yang ia dirikan adalah kawah canderadimuka yang telah melahirkan seniman besar seperti Putu Wijaya, Teguh Karya, Alex Suprapto Yudo dan Hendra Cipta yang menjadi icon sdni teater kontemporer. Sebagai seorangSebagai seorang pekerja seni, Sri Murtono sangat konsisten dalam perjuangan dan pengembangan seni teater di Indonesia. Saat Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama Lekra menyusup di komunitas dan Lembaga ASDRAFI, Pak Sri begitu ia biasa dipanggil lebih memilih untuk mundur dari ASDRAFI. Sri Murtono sangat tidak setuju apabila kampus diwarnai aktivitas politik. Konsistensi dan keteguhan hati Sri Murtono jelas terlihat pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965, dimana ia mau kembali ke dunia teater menangani dan mengajar di ASDRAFI Yogyakarta.
Pada hari sabtu , 27 Juni 2026 sekitar pukul 10.00 WIB rombongan Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) Kendal Jawa Tengah tiba di Pendapa nDalem Pakuningratan Jl. Sompilan 12 Ngasem Yogyakarta, dahulu sebagai Kampus ASDRAFI Yogyakarta (1955-2022) yang legendaris itu. Di pendapa diterima oleh Mbak Rina, Mas Mahmud dan penulis. Silaturhami pun terjadi. Adapun tamu yang hadir antara lain Mas Bahrul Ulum A. Malik (Presiden PSK), M. Lukluk Asmara Anjana (Sekjen PSK), Chadon Ichsan (Benedahara PSK), Baru Lukman dan Sofyan Hadi.
Pada acara silaturhami kali ini begitu familiar. Mbak Rina Nikandaru telah menyuguhi teh hangat dan kue-kue. Pembicaraan pun asyik. Mas Mahmud selaku tuan rumah mempersilahkan tamunya untuk menyampaikan apa maksud kedatangannya. M. Lukluk Asmara Anjana mengawali pembicaraan menyampaikan maksud kedatangannya. Bahwa PSK akan punya gawe Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono. Untuk itu mohon dukungan dan saran dari Yayasan GRK Yogyakarta dan Alumni ASDRAFI Yogyakarta.
Pada silaturhami ini Mas Bahrul Ulum A. Malik menyampaikan agenda dilakukan Ziarah ke Makam Sri Murtono di Makam Gajahan Jl. Kusuma Negara Yogyakarta. Selanjutnya mohon masukan naskah drama karya Sri Murtono sebagai materi festival dan kemungkinan naskah karya Sri Murtono dipentaskan oleh PSK. Kemudian mengusulkan 2 (dua) Juri Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono dari Alumni ASDRAFI Yogyakarta yang sudah berkiprah di Jawa Tengah.

5 Besar Festival Teater Pelajar Piala Sri Murtono 2026 Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal


Dalam silaturhami ini diputuskan untuk ziarah ke Makam almarhum Sri Murtono terlebih dahulu. Selanjutnya menemukan 4 (empat) naskah materi festival dan 1 (satu) naskah dipentaskan PSK di Perpustakaan Pribadi Nur Iswantara. Sebelum ke makam Sri Murtono dilakukan penyerahan buku Lelabuh Asmara (2026) karya Sili Suli toleh Mas Mahmud, buku ini akan didiskusikan di Yogyakarta. Dilanjutkan penyerahan buku oleh Nur Iswantara, penulisnya berjudul: Novel Dewi Arimbi (2024), Sejarah Teater Timur (2019), Metode Pembelajaran Pantomim Indonesia (2018). Ditutup oleh Mbak Rina Nikandaru dengan penyerahan buku Antologi Puisi Negeri Sontoloyo## ANGIN Bersenandung (2025).
Acara ziarah almarhum Sri Murtono di makam Gajahan Jl. Kusuma Negara Yogyakarta. Di cungkup Pasareyan Pringgopadmopuspito dibukakan Mas Tono dan Mas Supri. Kami serombongan menuju batu nisan Pak Sri Murtono. Seperti dikomando, kami pun mengelilingi batu nisan Pak Sri Murtono dan istrinya. Di tengah hari yang panas menyengat membuat berkeringat. Mas Bahrul Ulum A. Malik bertindak sebagai imam dalam doa ziarah. Semua mengikutinya dengan khusuk mengamini di akhir. Usai mendoakan secara Islam, kami beristirahat sejenak di pasareyan nan indah-sejuk. Semoga dengan ziarah ini acara Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono bulan Juni – Juli 2026 yang dilksanakan PSK berlangsung dengan selamat, lancer, membahagiakan dan sukses.

Usai ziarah menuju rumah Nur Iswantara di Jl. Wates Km. 10 dusun Surobayan Argomulyo Sedayu Bantul. Dimasa libur jalanan Yogya ramai-padat menjadi lambat merambat asal selamat. Sampai tujuan, tetamu santai di teras. Air mineral tersedia, tetamu salat duhur. Sohibul bait, membuka perpusnya kluarkan koleksi naskah-naskah drama karya Sri Murtono guna dicermati -dipilih.
Aktivitas pembacaan karya-karya Sri Murtono berlangsung penuh kesungguhan. Disela pemilihan naskah, dua tamu datang membopong satu keresek besar nasi padang dan minumannya. Breaks sejenak menikmati makan siang bersama-sama. Selesai makan minum, dilanjut berdiskusi dan bermusyawarah tim PSK menentukan pilihan naskah drama berjudul: Ida, Letkol Polri Jarot, Malam Lebaran dan Kampus Gembira Loka yang terhimpun dalam buku Ampat Drama Kontemporer Untuk Remaja (Penerbit Ikhwan Jakarta, 1983). Selanjutnya dipilih dan ditentukan satu naskah yang akan dipentaskan PSK berjudul Wahyu Sasongko Jati. Usai memilih naskah Keluarga KSP ijin untuk kembali ke Kendal. Silaturhami dalam rangka Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono bulan Juni – Juli 2026 berlangsung dengan damai dan menggembirakan.***** (Penulis Nur Iswantara).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement