SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontributor
Beranda / Kontributor / Sarasehan Suluk Makripattolah Nilai Ajaran Spiritual Kiai Ahmad Kategan

Sarasehan Suluk Makripattolah Nilai Ajaran Spiritual Kiai Ahmad Kategan

Bantul. Suaraglobal.news. Bertempat di Omah Budaya Kahangnan, Pringgading RT 1, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 55751. Pustaka Widya Yantra divisi perpustakaan Omah budaya Kahangnan   pada hari Jum’at, 23 Oktober 2026 pukul 15.00 – 17.00 WIB mengadakan Sarasehan Buku “Suluk Makripattolah” karya Kangjeng Syekh Ahmad Kategan. Narasumber Supriyadi, S.Fil., dan Dr. Muhammad Eko Yulianto moderator Hangno Hartono.

Buku “Suluk Makripattolah” berisi nilai-nilai ajaran sufistik dalam naskah cetak 1957 yang dinisbatkan kepada Kiai Ahmad Kategan, Penghulu Dalem Sultan Agung. Penerbit · Soemodidjojo Mahadewa, Pradja Dalem Ngajogjakarta Hadiningrat, 1957. Isi : 3 pupuh macapat · 81 pada · 12 halaman teks.

Diskusi “Suluk Makripattolah” ini menurut Hangno Hartono moderator sekaligus funding-father Omah Budaya Kahangnan dan Pustaka Widya Yantra divisi perpustakaan Omah budaya Kahangnan   dilaksankan karena memiliki arti dan makna yang penting dan mencerahkan dalam keberlangsungan kebudayaan era sekarang.
Buku “Suluk Makripattolah” merupakan naskah, penisbatan, dan bentuk. Sebelum membaca isinya, tiga hal perlu didudukkan: siapa yang dinisbati, bagaimana bentuk sastranya, dan sejauh mana teks yang kita pegang dapat dianggap otentik. Penisbatan: Teks ini dinisbatkan kepada Kiai Ageng Ahmad Kategan, penghulu keraton (semacam menteri urusan agama) pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (bertakhta 1613–1645). Dalam tradisi lisan Yogyakarta ia dikenang sebagai bagian dari “tripandurat” — segitiga Sultan Agung, Tumenggung Singaranu, dan Kiai Kategan — dan makamnya diziarahi di kompleks Kanggotan, Pleret, Bantul. Suluk Makripatolah memang disebut sebagai karya utamanya.

Catatan kehati-hatian. Penisbatan ini bersifat tradisional, bukan terverifikasi secara filologis. Tidak ada kolofon, tahun penyalinan, atau silsilah naskah dalam cetakan 1957 ini. Bahasa, diksi, dan konvensi macapatnya sejalan dengan gaya suluk Surakarta–Yogyakarta abad ke-19 — artinya teks yang kita baca hampir pasti telah melewati proses penyalinan dan penggubahan ulang yang panjang. Yang paling jujur dikatakan: ini adalah tradisi Kategan sebagaimana diwariskan dan dicetak pada 1957, bukan autograf abad ke-17. Hal ini tidak mengurangi nilainya sebagai dokumen tasawuf Jawa; ia hanya mengubah jenis klaim historis yang boleh kita ajukan atasnya.

Bentuk: tiga pupuh macapat. Suluk ini bukan prosa melainkan tembang macapat — puisi bermetrum ketat dengan jumlah baris (guru gatra), jumlah suku kata per baris (guru wilangan), dan bunyi vokal akhir (guru lagu) yang sudah tertentu. Pemilihan metrumnya sendiri membawa makna, sebab tiap metrum punya watak yang diakui dalam tradisi.

Pimpinan Redakasi suaraglobal.news Ajak Rawat Fondasi Kebangsaan di Hari Sumpah Pemuda ke-98

Ki Supriyadi, S. Fil., mengemukakan inti dari seluruh eksistensi keilmuan Kyai Pengulu Ahmad Kategan termaktub di dalam ajaran-ajaran spiritualitas tasawufnya yang mendalam. Warisan pemikiran beliau yang paling berharga dan otentik adalah sebuah kitab anggitannya yang berjudul Suluk Makripatolah (atau Ma’rifatullah). Dalam tradisi kesusastraan Islam Jawa, sebuah karya yang menyandang nama “suluk” bukanlah sekadar karangan fiktif atau teori teologis belaka, melainkan sebuah rekam jejak dan manifestasi nyata dari perjalanan batin (suluk) yang dialami sendiri secara empiris oleh sang penganggitnya.

Ditamabahkan oleh Dr. Muhammad Eko Yulianto bahwa Suluk Makripatolah memiliki kedudukan yang setara dengan pentingnya Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah dalam bangunan Tarekat Syadziliyah di tanah Arab.Salah satu warisan pemikiran beliau yang paling monumental dituliskan oleh Ronggowarsito dalam Wirid Ma’lumat Jati. Dalam sebuah forum sarasehan makrifat bersama Sultan Agung, Kyai Ahmad Kategan mengeluarkan sebuah diktum yang menjadi kaidah utama ilmu tasawuf Jawa:”…teranging ngelmu kasampurnan punika gumantung wonten ing kawicaksanan” (terangnya ilmu kesempurnaan itu bergantung dan bertumpu pada kebijaksanaan).

Ajaran Kiai Ahmad Kategan menurut Ki Supriyadi, S. Fil., mengarahkan manusia agar tidak hanya berhenti pada pemahaman syariat lahiriah, melainkan mampu menembus delapan dimensi wirid utama kebatinan Jawa yang tertuang dalam Wirid Maklumat Jati, yang meliputi Wirayat-Jati (hakikat jumbuhing kawula-Gusti), Karana-Jati (sangkan-paraning dumadi), Purba Jati (hakikat Dzat sejati), Saloka-Jati (ilmu perlambang bahasa Tuhan), Sasmita-Jati (ketajaman batin membaca tanda kematian), dan Wasana-Jati (kondisi ruh pasca-kematian). Keunikan utama dari ajaran Kyai Kategan adalah kemampuan beliau mengemas konsep radikal tentang ketundukan jiwa (nrima) dengan gaya bahasa yang penuh kejenakaan tingkat tinggi.

Narasumber Supriyadi, S.Fil., dan Dr. Muhammad Eko Yulianto
dan moderator Hangno Hartono.
Hal ini terlihat jelas dalam nukilan teks “Suluk Makripatolah” yang digubah dalam bentuk tembang Macapat bermetrum Sinom berikut. //Dadi mantep temen nrima/ serik-serik sampun sumingkir/ sukure kandas ing manah/ trimane katiban sakit/tan ngrasula sajekti/ manggih mulja tuhu sukur/mupangate wong nrima/ gunging gudha padha wedi/kang nireksa sakarate tanpa godha//. //Gampang angiling sekarat/ gampange jen muta tuli/rumangsa tan duwe dunga/ nrimo mati dadi dhemit/nadyan dadija sapi, dadi wedhus dadi asu/tanapi dipun gada, tijinemplungken nraka api/legalira tan ajrih sumanggeng karsa//.
Melalui bait-bait tembang Sinom ini, Kyai Kategan mengajarkan buah manis dari maqam nrima dan pengetahuan yang tuntas tentang Gusti Allah. Ketika seorang hamba telah mencapai kepasrahan mutlak, segala keraguan dan rasa mengeluh akan sirna. Bahkan secara jenaka beliau menyatakan bahwa orang yang telah buta dan tuli dari kepentingan duniawi tidak akan lagi ketakutan menghadapi sakaratul maut; jiwanya merasa pasrah total (sumanggeng karsa), sampai-sampai berseloroh rela diposisikan menjadi apa saja—menjadi demit, sapi, kambing, anjing, atau dicemplungkan ke neraka sekalipun—karena hatinya sudah sepenuhnya lebur dan rida di dalam kehendak mutlak Sang Pencipta.
Mencermati tiga pupuh “Suluk Makripatolah” mulai dari pupuh Dhandhanggula yang watak dan fungsinya di sini luwes dan manis, cocok untuk segala isi — dipakai membentangkan doktrin ketuhanan: tauhid, wujud, fana, sangkan paran. Pupuh Mijil (keluar/lahir) watak dan fungsinya dipakai untuk keluarnya ruh — zikir batin, pertanyaan tentang maut, perjalanan suksma. Dan pupuh Sinom (Anom/muda) watak dan fungsinya piwulang kepada yang muda — memuat kerangka empat tingkat dan polemik paling tajam.

Awarding Festival Seni Pelajar Nasional 2026 HMJ Pendidikan Seni Pertunjukan FSP ISI Yogyakarta

 

Dari sarasehan buku pupuh “Suluk Makripatolah” karya Kiai Ahmad Kategan, Penghulu Dalem Sultan Agung tersebut. Rupanya kini, warisan fisik dan spiritual beliau melestari di Kampung-Kubur Kenanga Mulya, yang terletak tepat di sebelah barat Masjid Taqorrub, Kanggotan, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Kompleks pasarean ini menjadi saksi bisu pusat keramaian dan kejayaan Karaton Kerta pada masa Sultan Agung.
Menurut Ki Supriyadi, S.Fil., makam Kiai Ahmad Kategan sangat unik dan berwibawa; pada patok kijingnya terpahat tulisan namanya menggunakan huruf Jawa Pegon serta dikelilingi oleh inskripsi indah nan rumit di keempat penjuru mata anginnya. Satu ciri khas visual yang paling menonjol pada nisan beliau adalah ukiran gambar bulan tumanggal (wulan tumanggal atau bulan sabit). Berdasarkan pawidyan (epistemologi) pribumi, lambang bulan sabit tersebut bukanlah simbol kekhilafahan Turki Usmani, melainkan sebuah sandi filosofis Jawa bernafas keislaman yang bermakna “wala-nata-manggala”. Sebuah simbol visual yang menegaskan peran historis beliau sebagai penuntun umat yang selalu membawa cahaya spiritual di tengah kegelapan duniawi. (Penulis & fotografer: Nur Iswantara).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement