Bantul. Suaraglobal.news. Bertempat di Galeri Kahangnan, Pringgading RT 1, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 55751. Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) pada hari Minggu Legi, 2 Agustus 2026 pukul 11.00 – selesai mengadakan Workshop Tatah Sungging, Pentas Lakon Dewaruci dan Diskusi Wayang Kontemporer. JWK dapar berkegiatan tidak lepas dari tiga serangkai koordinatornya: Hangno Hartono, Jantan Putra Bangsa dan Kus Antara.

Peserta Workshop Tatah Sungging Praktikal Langsung. page 3.
Workshop Tatah Sungging dilaksanakan oleh Alumni Kriya Kulit Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya Yogyakarta (AKNSBY) pukul 11.00 – 12.00 WIB di Studio Galeri Kahahnan. Selanjutnya pukul 13.00 – selesai di Pendapa Galeri Kahangnan digelar Pementasan Wayang Kontemporer Lakon Dewaruci dalang Ki Supriyadi, S.Fil. (Dalang dan Sastrawan Jawa) disambung Diskusi Wayang Kontemporer dengan narasumber M. Yasir Arafat, M.A. (Dosen UIN Yogyakarta) dan Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum. (Dosen PSP FSP ISI Yogyakarta, Anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Bantul), Moderator Mas Ardian Kresna (Seniman dan Penulis Buku).
Hangno Hartono mengemukan bahwa tujuan JWK: 1. Eksistensi dan aktualisasi kreator wayang kontemporer; 2. Sebagai laboratorium performance, tata pentas, panggung dan penguatan tema; 3. Menciptakan jaringan; 4. Menciptakan genre baru sebagai konsekuensi dinamis kebudayaan; 5. Wayang kontemporer bukan lawan wayang Klasik tetapi sebagi dinamika budaya. Mencermati tujuan JWK didirikan kiranya ideal sebagai gerakan budaya nyata dan harus terus menerus berkegiatan dalam jagat Wayang Kontemporer itu.

Pentas Lakon Dewaruci Dalang Ki Supriyadi
disaksikan Mas Hangno Hartono bersama tetamu. page 4.
Seni pertunjukan dapat berupa dengan kata-kata maupun tidak dengan kata-kata atau dialog. Salah satu seni pertunjukan yang menggunakan kata-kata adalah drama atau teater (Richard Levin,1960). Seni teater bukanlah produk dari satu bagian masyarakat di belahan dunia Barat saja tetapi juga terdapat di belahan dunia Timur. Seni teater dikembangkan di banyak lingkungan sosial. Situasi dan kondisi seni teater berkembang sebagaimana mestinya. Dalam perkembangan cukup berbeda dan telah meninggalkan jejak-jejak yang kuat hingga mungkin untuk mengidentifikasinya. Minimal ada empat Tradisi-tradisi Teater Timur, yang utama atas dasar lingkungan sosialnya yaitu: tradisi teater rakyat, tradisi teater istana, tradisi teater populer, dan tradisi teater Barat (Nur Iswantara, 2019).
Negara Kesatan Republik Indonesia (NKRI) yang luas, memiliki moto dan sifat Bhineka Tunggal Ika. NKRI yang terdiri dari aneka suku bangsa, bahasa, adat istiadat mempunyai corak kebudayaan yang sangat beragam sehingga melahirkan corak kesenian yang beragam dan unik. Di bidang seni teater, corak dan keragaman ini memiliki kesejarahan tersendiri dan ciri-ciri yang spesifik kedaerahan, yang menggambarkan ciri kedaerahan sesuai dengan kebudayaan lingkungannya. Teater di Indonesia dikategorisasikan menjadi dua yakni, Teater Tradisional dan Teater Modern (A. Kasim Achmad, 2006; Nur Iswantara, 2019).
Sejarah Teater Tradisonal Indonesia, membicarakan teater tradisional sebenarnya bicara teater masa lampau. Pada sudut pandang sosiologis, kesenian pada umumnya dan teater pada khususnya, tidak dapat dipandang lepas dari tata hidup dan kehidupan masyarakat di sekelilingnya. Masyarakat lingkungan merupakan tempat berproses dan sekaligus pengolahan seni teater. Disadari atau tidak sadari, seni pada umumnya, lingkungan masyarakat dengan tata kehidupannya merupakan sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya sebagai sumber penciptaan seni teater maupun untuk materi pengkajian. Teater Tradisional juga disebut Teater Daerah, karena umumnya berbahasa daerah.
Teater Tradisional, ialah suatu bentuk teater yang lahir, tumbuh dan berkembang di suatu daerah etnik, yang merupakan hasil kreativitas kebersamaan dari suatu suku bangsa di Indonesia. Berakar dari budaya etnik setempat.dan dikenal oleh masyarakat lingkungannya. Teater Tradisional dari suatu daerah umumnya bertolak dari sastra lisan, yang berupa pantun, syair, legenda, dongeng dan cerita-cerita rakyat setempat. Teater tradisional lahir dari spontanitas kehidupan dan dihayati oleh masyarakat lingkungannya, karena ia merupakan warisan budaya nenek moyangnya. Warisan budaya guyub (kebersamaan dan kekeluargaan) yang sangat kuat melekat pada masyarakat di Indonesia. Uraian dan penjelasan mengenai teater tradisional di bawah ini disarikan dari Mengenal Teater Tradisonal Indonesia, tulisan Kasim Achamd (Dewan Kesenian Jakarta, 2006; Nur Iswantara, 2019).

Pak Topo ngantri Nasi Liwet masakan Ibu Siandhajani. page 6.
Dengan demikian teater tradisional merupakan teater dalam suatu masyarakat etnik tertentu yang cara berkeseniannya mengikuti tata cara, tingkah laku, tradisi, lingkungan budaya dan ajaran turun-temurun dari nenek moyangnya. Teater tradisional bersumber, berakar dan telah dirasakan sebagai milik sendiri dan diterima oleh masyarakat. pendukungnya. Biasanya merupakan pewarisan dari angkatan tua ke generasi yang lebih muda. Pertunjukan dilakukan atas dasar tata cara tradisi setempat.
Lahirnya teater tradisional di Indonesia sebagian besar dimulai pada saat teater melepaskan diri dari kaitannya dengan upacara baik adat ataupun upacara keagamaan. Pertumbuhan dan perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan kehidupan kesenian serta kebudayaan. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbeda-beda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. I Made Bandem dan Sal Murgiyanto (1996) dalam bentuk-bentuk teater daerah di Indonesia menyebutkan ada: Teater Mula/ Bertutur, Teater Istana dan Teater di Luar Istana. Sedang D. Djajakusuma membagi Teater Tradisional menjadi dua kategori, yakni Teater Orang dan Teater Boneka, masing-masing kelompok teater dibagi lagi menjadi Teater Istana dan Teater Rakyat (Jakob Sumardjo, 1992).
Kasim Achmad (2006: 3) menjelaskan di Indonesia dan kawasan Asia pada umumnya, terdapat 2 bentuk teater dilihat dari wujudnya, yaitu: 1). Teater yang dimainkan oleh orang. 2). Teater boneka yang umumnya terbuat dari kayu (bentuknya 3 dimensional). Wayang adalah teater boneka yang pipih terbuat dari kulit (bentuknya 2 dimensional). Dengan demikian dapat dipahami bahwa bentuk teater tradisional di Indonesia meliputi: 1). Teater tradisional yang lahir dari sarana upacara (Teater Ritual) 2). Teater tradisional yang lahir dari tradisi lisan (Teater Tutur/Teater Mula), 3). Teater tradisioal yang lahir dari permainan (Teater rakyat/teater di luar istana), 4). Teater tradisional yang berasal dari lingkungan istana/kraton (Teater Klasik/Teater Istana) (Nur Iswantara, 2019).
.
Teater Klasik. Sifat teater ini sudah mapan, kebanyakan lahir di pusat-pusat kerajaan (Istana/kraton) dan sudah mencapai hasil puncak. Kesenian istana bersifat profesional dalam arti dikembangkan oleh para seniman yang melulu hidup dari kesenian. Hal ini mungkin karena para seniman itu dihidupi oleh raja. Para seniman yang dipilih untuk menjadi pelengkap istana dalam tugas-tugas religiusnya dan tugas-tugas mengangkat kebesaran atau kemuliaan rajanya. Sebagai pegawai dan aparat raja, mereka juga mempunyai jenjang kepangkatan. Hanya mereka yang telah menduduki puncak kepangkatannya saja dapat menciptakan karya-karya yang mewakili istana dan kerajaan. Dapat dikatakan bahwa karya seni keraton merupakan puncak karya seni kerajaan yang paling baik, paling mulia dan paling luhur saja yang dapat diakui sebagai karya istana. Karya-karya seni demikian sering disebut adiluhung, bukan saja karena mutu seninya tetapi juga isi dan makna religinya (Jakob Sumardjo, 1992). Ciri-ciri teater klasik: a. Adanya pakem yang menjadi dasar dalam penggarapan pementasan. b. Tempat pertunjukan tidak sebebas teater rakyat tetapi tempat-tempat dilingkungan kerajaan. c. Ada unsur tari, nyanyi (tembang) dan musik dikerjakan lebih hati-hati dan teliti. d. Improvisasi hampir tidak ada hanya adegan tertentu saja. e. Dibawah pengawasan seorang raja dan senimannya dihidupi oleh raja. Sedangkan fungsi dari teater klasik ini, yakni untuk mendukung kekuasaan raja dan keagungan raja. Yang termasuk dalam teater klasik, yakni Wayang Purwa atau Wayang Kulit, Wayang Wong, Langendriya (Nur Iswantara, 2019).
Wayang Kulit Purwa merupakan suatu bentuk teater tradisional yang sangat tua, dan dapat ditelusuri bagaimana asal muasalnya. Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada zaman Raja Jawa, pada masa Raja Balitung dari Kerajaan Mataram Kuna. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan Wayang seperti yang terdapat pada Prasasti Balitung dengan tahun 907 A.D. Prasasti tersebut mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang. Petunjuk semacam itu juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada Zaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang sangat tua.
Keberadaan wayang juga ditengarai pada saat Prabu Jayabaya bertakhta di Mamonang pada tahun 930. Sang Prabu ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar yang kemudian dinamakan Wayang Purwa. Dalam gambaran itu diinginkan wajah para dewa dan manusia Zaman Purba. Pada mulanya hanya digambar di dalam rontal (daun tal). Orang sering menyebutnya daun lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit purwa sebagaimana dikenal sekarang.
Nilai klasik wayang kulit purwa diungkapkan oleh Junaidi (2012), wayang kulit purwa gaya Surakarta merupakan hasil pengembangan dari wayang zaman terdahulu yaitu: zaman Kartasura, Mataram, Pajang, Demak dan sebelumya. Namun secara eksplisit disebut gaya Surakarta baru sejak selesainya perjanjian Giyanti, yaitu pembagian wilayah Surakarta menjadi dua kerajaan yang kemudian diberi nama Surakarta Hadiningrat (Surakarta atau Solo) dan Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta atau Mataram). Pembagian warisan kerajaan juga diikuti pembagian kesenian, salah satunya adalah seni wayang. Sampai sekarang kedua gaya wayang tersebut mash tetap bertahan, karena karya seni merupakan salah satu identitas budaya daerah yang paling tampak. Terbentuknya gaya seni Surakarta dan Yogyakarta erat kaitannya dengan kehidupan keraton masing-masing, sehingga secara fisik masih dibedakan dan dipertahankan eksistensinya.
Teater kontemporer sebuah istilah cukup dikenal dalam dunia seni kontemporer. Seni kontemporer bagian dari pelafalan konsep kontemporer, selalu membebaskan diri dari kemacetan pada satu nilai yang semula disangka sebagai sumber segalanya, padahal segala sesuatu itu ternyata sudah bergeser dan menjungkir balik segala-galanya. Karena semua tak tercegah, tak dapat disekap dari hukum kehidupan, untuk selalu bergerak mengikuti waktu, ruang serta tak takut terus tumbuh. Pertumbuhan yang abadi. Ketika kehidupan diupayakan oleh manusia untuk hadir lebih baik, mendarat lebih lentur, lebih berarti dan lebih menghayat, segalanya juga ikut bergulir (Putu Wijaya, 1994).
Pertunjukan Indonesia kontemporer merupakan anak dari konsep kontemporer. Segala tontonan yang mengandung arti, misi, gebrakan bahkan cukup percobaan, untuk membebaskan diri dari kungkungan waktu, tempat, situasi. Pertunjukan kontemporer bukan hanya tontonan yang diciptakan dan dilaksanakan oleh manusia masa kini, tetapi harus tidak boleh kurang dari pertunjukan yang mencerminkan cita-rasa pembebasan akan usaha untuk pencarian-pencarian idiom dan bahasa pengucapan yang baru atau segar. Dapat berwujud pertunjukan yang sudah diterima oleh masyarakat, namun memberikan nuansa yang baru atau lain atau lebih segar dari sebelumnya (Putu Wijaya, 1994).

Narasumber M Yasir Arfat, Moderator Ardian Kresna dan
Narasumber Nur Iswantara Diskusi Wayang Kontemporer. page 5.
Seni pertunjukan kontemporer Indonesia ekspresi seni paling semarak yang mendapat dukungan kuat dari pedukungnya. Sambutan dari kalangan kritisi seperti teater kontemporer, — termasuk wayang konteporer– disebabkan dua hal. Pertama, seni pertunjukan kontemporer merupakan media yang dapat mencerminkan kebebasan seniman mengaktualisasikan dirinya dalam situasi sosial yang melingkupinya. Kedua, bentuk kesenian ini merupakan media ideal apa yang disebut sebagai ‘kemungkinan’ Indonesia (Direktori Seni Pertunjukan Kontemporer, 1999).
Pertunjukan wayang kontemporer lakon Dewaruci dalang Ki Supriyadi secara materi bagus cukup komplit membabar perjalanan rohani Jawa menemukan kesejatian diri. Untuk ilustrasi musik masih kurang dan performa masih kurang atraktif,ungkap Mas Hangno. M. Yasir Arafat membahas tentang pola spiritual khas Jawa selain terdapat di naskah dan cerita pewayangan seperti lakon Dewaruci terdapat di makam Bayat, bangunan masjid kraton patok nagari. Tanggapan Pak Topo pun begitu menyala, berkenaan dengan ajaran hidup dalam wayang.
Nur Iswantara ungkap konsep menuju wayang kontemporer dapat mengadopsi dramaturgi model Kernodle. Ada enam kemungkinan nilai-nilai dramatik yang dapat menyusun bangunan wayang kontemporer, Struktur terdiri : plot, tokoh, tema, dan tektur terdiri : dialog, suasana dan spektakel. Kernodle menegaskan struktur adalah bentuk dari drama sebelum dipentaskan, sedangkan tekstur segala sesuatu yang secara lagsung dapat dilihat, didengar, dan dirasakan sebagai mood (suasana) melalui keseluruhan pengalaman visual dan aural. Tawaran ini dikuatkan oleh Eko Winardi, untuk menuju Wayang Kontemporer dramaturgi model Kornodle dapat diaplikasikan oleh rekan-rekan di Jaringan Wayang Kontemporer.
Pada akhirnya kegiatan seharian Jaringan Wayang Kontemporer sungguh menarik bagi peserta yang masih bertahan hingga selesai. Segenap rekan Jaringan Wayang Kontemporer tetap bertahan hingga usai diskusi Wayang Kontemporer. *** [Penulis & Fotografi: Nur Iswantara].
