L
Memuat...
SENI & BUDAYA

Suanggi Ilmu Kutukan Film Drama Horor Kisah dari Indonesia Timur

Yogyakarta//suaraglobal.news. Mutiara Films & Subtube Studio secara resmi menggelar Special Screening karya seni layar lebar betjudul Suanggi Ilmu Kutukan di Empire XXI Jl. Urip Sukoharjo No. 104, Klitren, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Jum’at tanggal 21 Agustus 2026 pukul 17.15 WIB hingga usai. Film Suanggi: Ilmu Kutukan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 10 September 2026.

Film Suanggi Ilmu Kutukan garapan sutradara: Dom Dharmo, Penulis cerita Baskoro Adi Wuryanto. Executive Producer: Ernes Yauwalata, Adrian Sugiono; Produser: Yanti Wijaya, Bona Pascal, Milka Gracia, Firdauzi Trizkiyanto. Aktor-aktris: Carissa Perusset, Pangeran Lantang, Iwa K, John Yewen, Dayu Wijanto, Endhita, Stany Imbiry, Euginia Y., Atina Akinoref, Keanu Azka, Ian Williams, Obi Mesakh, Alm. Pace Cello, Douglas Krump, Arnold Kobagau, Hendra Louis “Botak Bicara”.

Sinopsis, Tokoh Beni (Pangeran Lantang) yang terlilit utang ratusan juta, pulang ke kampung halamannya di Pulau Kladum, bersama kekasihnya Gia (Carissa Perusset) dengan alasan menjenguk ibu angkatnya, Mama Lin (Dayu Wijanto) yang sedang sakit keras. Akan tetapi, tujuan sebenarnya yakni mencuri harta tersembunyi keluarganya untuk menutupi hutang. Setelah tigabelas (13) tahun pergi dan kembali ke kampung halamannya, Beni diteror kekuatan gaib kiriman Aroba (Iwa K) seorang Suanggi yang mengirim serangan lalat untuk membunuh keluarga Mama Lin dan warga Pulau Kladum, sekaligus mengungkap rahasia kelam yang selama ini disembunyikan Beni.

Film yang pada mulanya lahir dari rahim teknologi fotografi sesungguhnya bertumpu pada ilusi realitas. Realitas yang tampil dalam film, seperti kita tahu, adalah realitas tangan kedua. Sebentuk realitas yang tak lagi utuh, lengkap dan apa adanya. Ini karena kamera musti melakukan seleksi atas realitas dan pada gilirannya realitas akan mengalami pemolesan sebelum diproyeksikan ke atas layar. Maka, Film bukanlah cermin dari realitas, melainkan representasi realitas.

Aspek yang membedakan film dengan fotografi terletak pada elemen gerak dan adanya nalar kontinuitas. Selembar foto betapapun jauh lebih bisa berbicara ketimbang tulisan yang berpanjang-panjang, tetap saja realitas yang beku dan kaku. Ini sungguh berbeda dengan watak film. Karena itu, tak aneh pada masa awal perkembangan film banyak berkutat dengan peristiwa yang kaya dengan gerak, seperti: kereta api yang melaju, orang menunggang kuda, orang yang tengah menari.

Ruang dan waktu dalam film mengalami pemadatan, sehingga tercipta waktu dan ruang sinematik. Waktu mampu diringkas dan ruang mampu diciutkan dalam film. Orientasi ruang dan waktu khalayak, dengan demikian, sepenuhnya ditentukan oleh sinema. Barangkali sejumlah karakteristik itulah yang menjadi alasan mengapa kebanyakan orang mencemaskan pengaruh dari sinema. Telah banyak tema horor yang diangkat melalui film dalam beberapa hal, karakteristik horor memang berimpit dengan karakteristik film.
Istilah drama berangkat dari bahasa Yunani yaitu “draomai”, yang mana memiliki arti sebagai yang berbuat, berlaku, bertindak, dan beraksi. Berdasarkan sejarah kata tersebut, teks drama dapat dipahami sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang ditulis dan selanjutnya digunakan dalam pementasan di sebuah panggung. Bahkan pengertian drama merambah kedunia perfilman. Dikarenakan drama memiliki kekuatan dramatic, dramatis, yaitu hal yang bersifat seperti drama, sangat emosional, mencolok, atau mendadak dan mengejutkan.

Horor artinya sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan suasana, cerita, atau genre film yang membuat orang merinding (KBBI). Film horor di Indonesia adalah fiksi dan film bergenre horor yang diproduksi oleh industri film Indonesia. Seringkali terinspirasi oleh cerita rakyat lokal dan unsur keagamaan, dramatis, yaitu hal yang bersifat seperti drama, sangat emosional, mencolok, atau mendadak dan mengejutkan.

 

Film horor Indonesia telah diproduksi di negara ini sejak tahun 1960an. Film horror di Indonesia seperti Badai Selatan sutradara Sofia WD (1961) pernah diikutkan Festival Internasional di Berlin tahun 1962, Beranak Dalam Kubur (1971), Mistics in Bali (1981), Sundelbolong (1981), Telaga Angker (1984), Malam Jumat Kliwon (1984), Pengabdi Setan – Series (1981, 1917, 2022, 2027), Lady Terminator (1988). Santet: Ilmu Pelebur Nyawa (1988), Santet 2: Wanita Harimau (1989), Suzzanna: Witchcraft (2026) Remake of Santet: Ilmu Pelebur Nyawa (1988), Pancasona (1989), Jelangkung Series – Jelangkung (2001), Tusuk Jelangkung (2003), Angkerbatu (2007), Jelangkung 3 (2007), Jailangkung (2017), Jailangkung 2 (2018), Jailangkung: Sandekala (2022). Kafir Series: Kafir (2002), Kafir: A Deal with the Devil (2018), Kafir: The Spirit Gate (2026), Kuntilanak Series – Kuntilanak 1 (2006), Kuntilanak 2 (2007), Kuntilanak 3 (2008), Kuntilanak 1 (2018), Kuntilanak 2 (2019), Mangkujiwo (2020), Kuntilanak 3 (2022), Mangkujiwo 2 (2023), Dara/Macabre by The Mo Brothers: Dara (2007), Takut: Faces of Fear (2008) Segment: ‘Dara”, Macabre (2009), Based on Pintu Terlarang (2004) by Sekar Ayu Asmara. The Forbidden Door (2009), Shackled (2012), Ritual (2012), Hi5teria (2012), Killers (2014), Firegate (2016), Danur Series by Risa Saraswati – Danur: I Can See Ghosts (2017), Danur 2: Maddah (2018), Danur 3: Sunyaruri (2019), Danur: The Last Chapter (2026). Asih 1 (2018), Asih 2 (2020), Ivanna (2022), Ivanna 2 (TBA). The 3rd Eye Series – The 3rd Eye 1 (2017), The 3rd Eye 2 (2019), Gasing Tengkorak (2017). Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati (2018), Dread Out series by Digital Happiness.

Dread Out (2018), Pamali based on Pamali: Indonesian Folklore Horror by StoryTale Studios Pamali (2022), Pamali: The Corpse Village (2023), Pamali: The Little Devil (2025), The Doll Series, The Doll (2016), The Doll 2 (2017), Sabrina (2018), The Doll 3 (2022), The Doll: Ghawiah (2026), Panggonan Wingit Series The Haunted Hotel (2023), The Haunted Apartment – Miss K (2024), Rasuk (2018), Pacar Hantu Perawan (2011), a film about lagic powers bathing rituals, with Vicky Vette, Dewi Persik and Olga Syahputra. Sakral (2018), Alas Pati: Hutan Mati (2018), Perjanjian dengan Iblis (2019), Impetigore (2019), MatiAnak (2019), Tembang Lingsir (2019), Ratu Ilmu Hitam (1981), The Queen of Black Magic (2019) Reboot of Ratu Ilmu Hitam (1981), Kutuk (2019), Lukisan Ratu Kidul (2019), Makmum (2019), Affliction (2021), Desa Penari Series, KKN di Desa Penari (2022), Badarawuhi di Desa Penari (2024). Qodrat Series – Qodrat (2022), Qodrat 2 (2025), Dance of the Damned (2026), Qodrat 3 (TBA), Dance of the Damned 2 (TBA), Hidayah (2023), Sewu Dino Series -Sewu Dino (2023), Janur Ireng (2025). Waktu Mahgrib Series – Waktu Mahgrib (2023), Waktu Mahgrib 2 (2025), Grave Torture (2024), Do You See What I See (2024), Respati by Ragiel JP, Malam Pencabut Nyawa (2024), Kereta Berdarah (2024), Menjelang Ajal (2024), Pembantaian Dukun Santet (2025), Almarhum (2025), Pabrik Gula (2025), Jalan Pulang (2025), The Book of Sijjin and Illiyyin (2025), The Elixir (2025), Alas Roban (2026), Ghost in the Cell (2026);
Terbaru Suanggi Ilmu Kutuan (2026) Suanggi merupakan salah satu kisah yang dikenal luas di daerah Papua, Sulawesi, Maluku, NTT, NTB, dan sejumlah wilayah Indonesia Timur. Warisan budaya ini punya pengalaman berbeda di setiap daerah, ada yang mengenal Suanggi sebagai sosok nenek atau kakek tua, ada yang melihat mata merahnya, dan ada yang melihat dalam bentuk bola api, dan sebagainya. Melalui film ini, cerita tersebut diadaptasi secara kreatif sebagai karya fiksi yang menghormati nilai-nilai budaya lokal, sekaligus menyajikannya dalam narasi yang relevan bagi penonton masa kini.

Dom Dharmo, Sutradara Film Suanggi: Ilmu Kutukan mengatakan, “Indonesia memiliki kekayaan cerita rakyat yang luar biasa dan layak mendapat ruang lebih luas di industri kreatif. Kami menelusuri dalam tentang Suanggi dan mencoba memadukan bagaimana budaya Indonesia Timur ini punya nilai universal yang dapat dinikmati siapa saja se-Nusantara karena film ini juga bicara tentang keluarga, kepercayaan, ketakutan, dan perjuangan manusia.”
Suanggi: Ilmu Kutukan beda dengan film horor lainnya yang banyak mengambil inspirasi dari mitos populer di Pulau Jawa. Suanggi: Ilmu Kutukan menghadirkan perspektif baru. Dari sisi produksi, Mutiara Films & Subtube Studio memadukan riset budaya, pengembangan karakter yang kuat, sinematografi yang menampilkan lanskap khas Indonesia Timur, serta tata suara yang dirancang untuk membangun atmosfer horor yang autentik.

Bona Pascal, salah satu produser film Suanggi: Ilmu Kutukan, mengatakan: “Memang kami ingin cari suasana lain dari perfilman indonesia, tidak itu-itu saja, dari Indonesia Barat. Kami mewakili bukan cuma Papua, tetapi mewakili orang Indonesia Timur.

Suanggi itu adalah kekuatan yang amat berbahaya jika berada di tangan yang salah. Segala sesuatu yang berlebihan atau berkekurangan adalah tidak baik. Suanggi ini awalnya bukan ilmu yang jahat, memang ilmu ini banyak membantu, seperti untuk penyembuhan, mencari nafkah, sesuatu yang baik, mereka melakukan ini. Ketika ilmu jatuh di tangan yang salah, karena punya kekuatan, akhirnya berubah fungsi atau disalahgunakan.”

Carissa Perusset, salah satu pemeran utama Suanggi: Ilmu Kutukan, mengungkapkan bahwa film ini sungguh menantang dan membuatnya banyak belajar budaya baru. “Persiapan saya dibantu dengan adanya coach dan teman-teman casts dari Papua. Saya memerankan karakter Gia yang merupakan outsider, pacarnya si Beni. Sebenarnya saya dan karakter Gia tidak beda jauh, sama-sama introvert, tapi tetap saja saya banyak belajar di film ini dengan karakter yang baru.”.
Sementara itu, Iwa K yang memerankan karakter Aroba mengaku melakukan observasi dengan sungguh-sungguh. “Persiapan memang jadi PR, bagaimana intonasi (dialek Indonesia Timur), segala macam. Untungnya ada coach Bobi, ada casts lain, Yewen, jadi sesama pemain support. Itu yang bikin seru proses pembuatan film ini. Saya punya cara sendiri untuk observasi karakter. Intinya menyenangkan eksplor dan riset hal baru. Suanggi ini energi luar biasa yang akhirnya kami tumpahkan ke media film ini,” ungkap Iwa K.

Berbeda dari pemain lainnya, John Yewen, komedian asal Papua ini merasa tertantang dengan perannya sebagai Bapa John. “Sebenarnya menjadi pastor adalah cita-cita yang diinginkan mama untuk Yewen dan akhirnya tercapai walau akting. Namun, Yewen yakin mama bangga jika ia masih ada dan bisa melihat Yewen di film ini,” kata John Yewen yang juga ternyata mengalami pengalaman mistis saat mempelajari naskah di tempat tinggalnya bersama Ian Williams karakter Reynold.
Suanggi: Ilmu Kutukan merupakan jenis film drama horor Indonesia dimana asal muasal inspirasinya sebuah warisan budaya lisan masyarakat Indonesia Timur. Mengintegrasikan unsur drama, horror dan budaya dalam bentuk filmologis. Unsur horror dihadirkan menguatkn nilai dramatik sebagai kisah yang menegangkan sekalian menggiring penonton memahami folklor Nusantara dalam pendekatan sinematik kekinian.
Perkembangan industri perfilman Indonesia terus bergerak maju pantang mundur dengan mengangkat kisah-kisah kehidupan berakarkan kekayaan nilai budaya Nusantara. Tahun ini, film Suanggi: Ilmu Kutukan produksi Mutiara Films & Subtube Studio tampil sebagai kreasi seni horor inspirasinya dari salah satu foklor-warisan budaya lisan masyarakat Indonesia Timur yang hingga kini ada dan nyata.
Apakah film Suanggi: Ilmu Kutukan akankah menjadi daya tarik sebagaimana film horror Indonesia lainnya. Film Suanggi: Ilmu Kutukan akan mulai tayang di bioskop-bioskop di Indonesia pada 10 September 2026. Semoga menjadi daya tarik yang unik. Penonton pun dibawa dalam kengerian yang betul-betul istimewa sebagai film horror dari Indonesia Timur. [Penulis & Fotografer: Nur Iswantara].

BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.