Oleh Tito Pangesthi Adji
suaraglobal.news – Ada kalanya kita membaca bukan karena sedang mencari sesuatu.
Kita hanya melihat.
Lalu tiba-tiba, yang kita lihat seperti sedang membaca kita.
Peristiwa kecil semacam itulah yang pernah saya alami ketika memperhatikan Aksara Carakan
Pada mulanya ia hanyalah tulisan.
Formasi 20 Aksara Djawa Nglegena, dengan pola penyusunan Alur Tutur
Dalam pengamatan saya Carakan Sebuah Rajah.
Sebuah susunan tanda.
Sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang cukup dilihat sebagai deretan aksara.
Tetapi bagi orang yang terbiasa memperhatikan aksara sebagai sesuatu yang lebih daripada sekadar alat tulis, tanda-tanda itu dapat membuka pintu lain.
Sebab aksara tidak selalu berhenti pada bunyi.
Ia dapat menjadi penanda.
Dan ketika penanda itu disusun, ia dapat berubah menjadi rajah.
Rajah bukan semata-mata tulisan yang sulit dibaca. Rajah adalah tanda yang mengundang kita untuk membaca lebih dalam daripada apa yang tampak.
Maka saya pun mempelajari Carakan.
Bukan hanya Carakan sebagai sistem aksara.
Melainkan Carakan sebagai sebuah warisan pengetahuan.
—
Ada dua puluh wanda dalam aksara Jawa Nglegena.
Dua puluh.
Angka yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia menarik untuk direnungkan.
Kita terbiasa melihat dua puluh aksara itu sebagai urutan:
ha na ca ra ka,
da ta sa wa la,
pa dha ja ya nya,
ma ga ba tha nga.
Tetapi bagaimana jika urutan itu tidak hanya kita baca sebagai susunan bunyi?
Bagaimana jika ia kita perlakukan sebagai jejak pikiran?
Maka aksara tidak lagi hanya menjawab pertanyaan:
> “Bagaimana ini dibaca?”
Melainkan mulaimengajukan pertanyaan:
> “Apa yang sedang hendak dikatakan melalui susunan ini?”
Di situlah rajah mulai bekerja.
Ia tidak memaksa.
Ia tidak berteriak.
Ia hanya menyediakan tanda.
Dan manusia yang melihatnya dipersilakan menemukan hubungan di antara tanda-tanda itu.
Barangkali karena itulah warisan leluhur sering tidak seluruhnya ditinggalkan dalam bentuk uraian panjang.
Ada yang ditinggalkan dalam bentuk tanda.
Ada yang ditanamkan dalam bentuk nama.
Ada yang dipahat menjadi prasasti.
Ada pula yang diwariskan melalui cerita, laku, simbol, dan aksara.
—
Maka kata prasasti menjadi menarik.
Prasasti pada pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang dituliskan agar tidak lenyap.
Dulu batu menjadi medianya.
Sekarang mungkin kain.
Mungkin tembok.
Mungkin buku.
Mungkin layar telepon.
Mungkin sebuah gambar yang beredar dari satu tangan ke tangan yang lain.
Medianya berubah.
Tetapi kehendaknya tetap sama:
jangan biarkan makna hilang.
Di sinilah saya menemukan kemungkinan lain dari istilah Prasasti Wingsati.
Wingsati artinya 20 (Dua Puluh) , Radjah Wingsati artinya Wujud Corekan Tanda, Rajah atau Aksara yang berjumlah 20 Wanda. Itu yang lebih dikenal dengan sebutan Carakan.
Ia dapat kita dekati sebagai sesuatu yang berkaitan dengan wiji atau benih ilmu yang hendak tumbuh—sebuah penamaan yang dalam tafsir bebas justru menarik karena prasasti tidak harus menjadi benda mati.
Prasasti dapat menjadi benih yang hidup di dalam ingatan.
Apa yang ditulis hari ini mungkin baru akan dibaca maknanya bertahun-tahun kemudian.
Seperti sebuah pesan yang sengaja dititipkan kepada masa depan.

Lalu pikiran saya melompat lebih jauh.
Kepada Adjisaka.
Kepada Sabdo Palon.
Dua nama yang dalam ingatan kebudayaan Jawa telah menempati ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar tokoh dalam cerita.
Saya tidak sedang hendak membuktikan siapa mereka secara sejarah.
Bukan itu persoalannya.
Yang menarik bagi saya justru warisan gagasannya.
Adjisaka dapat dibaca sebagai lambang hadirnya pengetahuan yang membawa keteraturan.
Adji : berharga, ilmu
Saka : tiang, cagak
Adjisaka : Hidup Bertiang Ilmu.
Sementara Sabdo Palon dapat dibaca,
Sabdo : Ucapan, PangandikaNe Gusti, Firman Tuhan,
Palon : Paelon, Elu, Melu, sing di Eloni, Firman yang jadi Anutan, Pengajaran.
PangandikaNe Gusti, Ajaran IlmuNya,
Suara yang muncul dalan hati,
Suara Nurani,
Suara yang menjaga ingatan—suara yang tidak mudah hilang meskipun zaman berubah.
Jika keduanya kita tempatkan di dalam ruang kebudayaan, maka kita menemukan sebuah pertanyaan:
Apa yang sesungguhnya diwariskan kepada kita?
Apakah hanya aksaranya?
Apakah hanya kisahnya?
Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam:
cara manusia membaca kehidupan?
—
Mungkin inilah sebabnya saya tertarik pada rajah, menyemak:
Daya Yang Tak Tampak
Gerak Yang Tak Tampak,
Namun bisa diikuti untuk mewujudkan tulisan dari Ajaran yang tersemak tadi.
Itulah Thatwa Kawedhar.
____
Mengeja Rajah Wingsati
Menuliskan Thatwa Kawedhar
Rajah memerlukan pembaca.
Ia tidak selesai ketika selesai dibuat.
Ia justru mulai hidup ketika seseorang datang dan bertanya:
Apa yang bisa disemak?
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi dari pertanyaan sederhana itulah pengetahuan dapat tumbuh.
Kita melihat tanda.
Kita mencoba membacanya.
Kita menemukan hubungan.
Kita menyusun pengertian.
Kemudian pengertian itu menggerakkan tindakan.
Pada titik itu, kata menjadi laku.
Dan laku menghasilkan Tulisan.
Tulisan menjadi warisan.
—
Daya Yang Tampak, Gerak Yang Tak Tampak yang bisa disemak dengan mengeja Rajah Wingsati yang kemudian melahirkan Ribuan Thatwa , isi dari Prasasti itu,
tidak lagi berada di ruang yang dianggap “sakral” , setelah ia membukakan Ajaran yang sebelumnya masih sebuah rahasia.
Ini tersirat dalam formasi Carakan, bait keempat, “Maga Bathanga”
Saya menemukan bunyi edja yang berbeda ” Batang’,
artinya : Tebak,
Batangen : tebaklsh Cangkriman yang tersirat dari Kisah dalam Alur Tutur :
Hana Carakan, Data SawalaꦽPadha Jayanya,, Maga Bathanga
Seperti ajakan untuk menjawab Cangkriman (,tebak – tebaka) dari kisah Adjisaka dan dua abdinya.
Rajah Wingsati terselumuri tabir misteri.
Ada Petunjuk, Rajah Wingsati bisa dibaca oleh yang menerima WangsitNya.
Carakan telah ditafsirkan oleh banyak orang dari waktu ke waktu.
Tetapi masih tetap menyimpan kemungkinan bunyi lainnya, dan itulah yang dituliskan Di Tjarik menjadi Catatan Perjalanan yang sangat panjang.
_____
Daya Yang Tak Tampak
Gerak Yang Tak Tampak tadi
berjalan bersama manusia yang mengikuti Usig dan Aba – AbaNya.
Termasuk membagikan tulisan itu ke ruang publik.
Dengan demikian, tulisan itu tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya disimpan untuk penulisnya sendiri
Ia menjadi tanda yang berjalan.
Barangkali di sinilah makna kebudayaan menjadi semakin menarik.
Warisan tidak selalu harus disimpan di museum agar disebut warisan.
Kadang warisan justru perlu dibawa berjalan, agar terus bertemu dengan zaman.
Sebab sesuatu yang hanya disimpan dapat menjadi benda.
Tetapi sesuatu yang terus dibaca dapat menjadi pengetahuan.
Dan sesuatu yang terus diamalkan dapat menjadi laku kebudayaan.
_____
Rajah Wingsati.
Dua puluh wanda Carakan saya pandang bukan sebagai dua puluh benda yang berdiri sendiri.
Ia seperti sebuah ruang.
Di dalamnya ada kemungkinan untuk membaca.
Ada kemungkinan untuk menafsir.
Ada kemungkinan untuk menemukan hubungan antara bunyi, kata, tanda, manusia, dan kehidupan.
Mungkin karena itu saya lebih suka mengatakan membaca rajah, daripada sekadar membaca tulisan.
Sebab membaca rajah menuntut kita untuk tidak buru-buru selesai.
Rajah mengajarkan kesabaran.
Melihat.
Menimbang.
Menghubungkan.
Kemudian menangkap
Mengungkap
Bukan sekadar mengetahui.
—
Dan ketika sesuatu telah tertangkap oleh pikiran, ada pertanyaan berikutnya:
Apa yang akan kita tuliskan?
Di sinilah judul ini menemukan pasangannya:
Membaca Rajah, Menulis Prasasti Wingsati.
Kita membaca warisan yang ditinggalkan leluhur.
Lalu kita tidak berhenti pada kekaguman.
Kita menulis kembali.
Bukan dengan cara mengulang masa lalu.
Melainkan dengan menghadirkan makna masa lalu ke dalam kebutuhan hari ini.
Mungkin itulah cara sebuah kebudayaan tetap hidup.
Ia tidak hanya berkata:
> “Dahulu begini.”
Tetapi bertanya:
> “Setelah kita mengetahui ini, apa yang akan kita lakukan?”
—
Pikiran dapat berjalan menuju aksara.
Dari aksara, menuju rajah.
Dari rajah, menuju prasasti.
Dari prasasti, menuju warisan bagi generasi yang akan datang
Dan dari warisan, kembali kepada manusia yang hidup hari ini.
Sebuah perjalanan yang sebenarnya tidak jauh.
Hanya dari tanda menuju makna.

Mungkin di sinilah kita perlu memahami kembali apa yang disebut warisan.
Warisan bukan sesuatu yang otomatis kita miliki hanya karena kita dilahirkan sesudah para leluhur.
Warisan baru menjadi milik kita ketika kita mampu membacanya.
Lebih jauh lagi, ketika kita mampu meneruskannya.
Karena warisan yang tidak dibaca akan menjadi benda.
Warisan yang dibaca tetapi tidak dipahami akan menjadi hafalan.
Warisan yang dipahami tetapi tidak diamalkan akan menjadi pengetahuan yang berhenti pada kepala.
Tetapi warisan yang dibaca, dipahami, dan diamalkan—
akan menjadi laku.
Dan laku itulah yang sesungguhnya dapat menulis prasasti baru.
Bukan pada batu.
Melainkan pada kehidupan.
—
Maka mungkin Prasasti Wingsati bukanlah sebuah prasasti yang sudah selesai.
Ia justru sebuah prasasti yang sedang ditulis.
Kita semua ikut menulisnya.
Dengan cara kita menjaga kata.
Dengan cara kita memperlakukan sesama.
Dengan cara kita merawat tanah dan air.
Dengan cara kita membaca kembali aksara warisan leluhur.
Dengan cara kita meneruskan pengetahuan tanpa merasa menjadi pemilik tunggal atas pengetahuan itu.
Dan terutama, dengan cara kita mengubah pengetahuan menjadi perbuatan.
Sebab pada akhirnya:
yang paling kuat bukan tulisan yang dipahat pada batu,
melainkan nilai yang tertanam dalam perilaku manusia.
—
Adjisaka , jika sekedar dimaknai sebagai mitos atau legenda Sosok dari seberang yang datang ke Pulau Jawa, membawa 2 orang abdi yang kemudian digambarkan 2 utusan yang bertengkar dan saling membunuh, mungkin telah berlalu.
Sabdo Palon, jika sekedar di maknai sosok figur dalam Serat Sastra atau Babad terkait Prabu Brawijaya Majapahit dan Perjanjiannya dengan Syeh Subakir di Gunung Tidar, mungkin tinggal dalam ingatan dan cerita belaka
Batu-batu prasasti mungkin telah tua.
Aksara-aksara mungkin pernah mengalami perubahan bentuk.
Tetapi sesuatu yang benar-benar diwariskan tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya menunggu seseorang datang untuk membacanya kembali.
Mungkin kita adalah pembacanya.
Mungkin juga kita adalah penulis berikutnya.
Dan kalau demikian, pertanyaannya bukan lagi:
“Apa yang diwariskan kepada kita?”
Melainkan:
“Warisan apa yang
akan kita tinggalkan?”
Di situlah rajah berubah menjadi prasasti.
Dan prasasti berubah menjadi laku.
Membaca Rajah.
Menulis Prasasti Wingsati.
Sebab setiap zaman mempunyai batunya sendiri.
Setiap generasi mempunyai caranya sendiri untuk menulis.
Dan barangkali, pada zaman kita sekarang, prasasti itu tidak lagi harus dipahat.
Ia dapat ditulis pada layar.
Dicetak pada kain.
Dibaca di jalan.
Diteruskan melalui pesan.
Dihidupkan melalui tindakan.
Lalu, tanpa kita sadari, sebuah “kata” yang mula-mula hanya berupa tanda—
menjadi “kita”
Dan ketika “kata telah menjadi kita”,
barangkali saat itulah Pangawikan tidak lagi sekadar pengetahuan.
Ia telah menjadi kehadiran.
Ia telah menjadi amal bersama.
Dan ia telah mulai menulis prasastinya sendiri.
———–
Salah satu Prasasti Wingsati :
(Salinan Thatwa, Pakuwon, Rebo Pahing, 13 Januari 2016)
꧁ꦛꦢꦝꦪꦩꦤꦔꦱꦛꦭ ꦲꦮꦗꦕꦒꦏꦫꦥꦚꦠ꧂
Edja Pa-matja-ne Mubeng ;
01/ ∆ ” Budi Dhaya’ manungsa ta holehe wudjuti oyage karepan yeti !” ∆
Ranggadjati
13/01/2016, 23.12
02/ ∆ ” Udi adohe – ayu mau, neng esthi : oleha wadi – ayu,
Tjagak – Rupan
Uyut Aba !” ∆
Ranggadjati
13/01/2016, 23.21
03/ ∆ ” Di Hayomi Unen Gusti – Alah,
wau adjate – ayu, gek arep Niyati – Budi ” ∆
Ranggadjati
13/01/2016, 23.29
04/ ∆ ” Ya wau nangise – ati holehe awiti – ayu.
Tjagak – Urip, nyat Budi – Adi !” ∆
Ranggadjati
13/01/2016, 23.44
05/ ∆ ” Iman, ing istilahe wau Adjat – Ayu uga Karepan – Ayu .
Ati Bade Udi – Hayu !” ∆
Ranggadjati
13/01/2016, 23.50
06/ ∆ ” Unen Gusti, halihe : Widya, Tayu igu : Ukara Panayu – Ati.
Abdi di Hayomi !” ∆
Ranggadjati
13/01/2016, 23.59
——– >
07/ ∆ ” Ngasi Tuhu – oleh wudjut – oyage iku. Rupan – Yeti
Budi Dhaya’ waune !” ∆
Ranggadjati
Pakuwon, Kemis Pon
14/01/2016, 00.06
08/ ∆ ” Sat – Alah mau Dekat – Ayu.
Ugu : Ukara Panyetha Aba – DuduhE.
Ya mau UnenE igu !” ∆
Ranggadjati
14/01/2016, 00.16
09/ ∆ ” Ta, Alah mau ‘Daya – Tayu’ igu.
‘AKU – URIP : NYATU’
ABA Dad – Hayu
Muni – Negesi !” ~
Ranggadjati
14/01/2016, 00.39
10/ ∆ ” Olehe awidi – ayu, ta oyage – akire :
‘Pana – Yeti.
‘Abdi, dohe ya manungsa, ta ?! ” ∆
Ranggadjati
14/01/2016, 00.39
11/ ∆ ” Ha, Widya, ta – oyage ?
Kerepa nayu – ati.
Eba – Udi Adah – Ayu.
Mau, ‘Unen – Ugu’ : Isi !” ∆
Ranggadjati
14/02016, 01.21
12/ ∆ ” Widayat – Ayu igu Kauripan – Ayu, ta ?
Budidhaya manungsa to – holahe ?!” ∆
Ranggadjati,
14/01/2016, 01.28
13/ ∆ ” Udjut – Yuga iku Rupan – Ayu .
Tiba Duduhi – Ayu,
Menangi – Estu holehe – wau !” ∆
Ranggadjati
24/01/2016, 01.37
14/ ∆ ” Ta, iya agek-ira Pana – Yeti Aba Adidhaya!
Mau, Anan Gos,
ta halihe wau : Adji !” ∆
Ranggadjati
15/01/2016, 13.02
15/ ∆ ‘ Ugu – Ukara Pauni’ – Ayu, ta : Aba Adidhaya mau !
Unen Gusti Allah, Widya Ati – Ayu !” ∆
Ranggadjati
15/01/2016, 13.09
16/ ∆ ” Karepan – Ayu Ati – Abdi wau Udi HayomaNe – Gusti.
Holehe : Widya , Tayu uga !” ~
Ranggadjati
15/01/2016, 13.22
17/ ∆ ” Ira, Panyetha :
Abdi diHayomi.
Ana ing – Asta olehe – wudjuti Ayu – Ugu iku ! ” ∆
18/ ∆ ” Pena – Ayu, ta uba : Duduhi – Ayu!
Imane – Ngesthi
Olehe – Widya,
Tjage – Ukire..!” ∆
Ranggadjati
15/01/2016, 13.46
19/ ∆ ” Nyata !
Budidhaya manungsa ta olehe – wudjut ya uga “AKU” arepe !” ∆
Ranggadjati
15/01/2016, 14.00
20/ ∆ ” Ta, Budi, dohe ya Iman, Agesthi – Alah !
Widayat Ayu,
uga Kauripan Ayu !” ∆
Ranggadjati,
Pakuwon
15 Januari 2016, 14.09
————————————
**/ Disalin 14/08/2026
Oleh Tito Pangesthiadji
Bale Tjarakan’
Tanpa terjemahan.
Sebagai Lampiran dari artikel ini
Demikian Tuntunan yang saya terima,
Demikian yang saya tuliskan.
Yogyakarta,
23 Agustus 2026
