L
Memuat...
SENI & BUDAYA

Rahim Besi Teater Futuristik Menggugat Jati Diri Manusia Di Era Kecerdasan Buatan

Yogyakarta, suaraglobal.news – Rahim Besi Teater Futuristik Produksi Metaphor Project dalam Rangkaian Pentas Dosen ISI Yogyakarta
Yogyakarta, Agustus 2026.

Perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi yang semakin mengambil alih berbagai fungsi manusia memunculkan kembali pertanyaan mendasar tentang hakikat keberadaan manusia:

~”Siapa kita ketika ingatan, tubuh, relasi, bahkan kelahiran dapat direkayasa oleh sistem? ~

Pertanyaan tersebut menjadi inti pertunjukan teater “Rahim Besi”, karya terbaru Metaphor Project yang akan dipentaskan pada 24 dan 25 Agustus 2026 di Teater Arena ISI Yogyakarta dengan open gate pukul 18.00 WIB.

Pertunjukan ini merupakan kelanjutan dari karya sebelumnya, “Sih Semu Ing Lelabuh”, dan menghadirkan eksplorasi yang lebih mendalam mengenai krisis eksistensial manusia pada masa depan. Dengan subjudul filosofis “Ada yang diciptakan, ada yang dilahirkan, tapi adakah yang benar-benar hidup?”

“Rahim Besi” membawa penonton ke dunia pasca keruntuhan peradaban ketika manusia tidak lagi dilahirkan secara alami, melainkan diaktifkan melalui teknologi rahim buatan dan sistem kecerdasan artifisial.

Dalam pertunjukan ini, teknologi tidak sekadar hadir sebagai alat, tetapi sebagai kekuasaan yang membentuk identitas manusia.

Tokoh-tokohnya hidup dalam dunia yang efisien, terukur, dan terkendali, namun kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia: merasakan makna keberadaan.

Melalui tema eksistensialisme pasca kehilangan jati diri di peradaban AI, pertunjukan ini menyoroti kesepian di tengah konektivitas, kebebasan yang diprogram, serta cinta yang harus dibuktikan ketika segala sesuatu dapat disimulasikan.

Secara artistik, “Rahim Besi” memadukan dialog filosofis dengan visual cyberpunk bernuansa biru elektrik, merah neon, dan silver metalik, tata cahaya sinematik, tata suara imersif bernuansa mekanis-industrial, serta pendekatan akting yang menekankan konflik batin tokoh.

Seluruh elemen tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman teater yang tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan berlanjut menjadi refleksi personal bagi penonton.

Wahid Nurcahyono, selaku karya dan sutradara, menyatakan :
~“Rahim Besi” lahir dari kegelisahan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia masa kini”

Menurut Wahid Nurcahyono, teknologi berkembang begitu cepat, tetapi manusia justru semakin mudah kehilangan arah, relasi, dan dirinya sendiri. Ia berharap penonton pulang dengan pertanyaan yang terus mengusik: jika semua hal dapat diprogram, apakah cinta, pilihan, dan kemanusiaan masih memiliki makna?

Produksi ini merupakan hasil kolaborasi antara Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta), HMJ Teater ISI Yogyakarta, dan berbagai komunitas lintas angkatan mahasiswa Teater ISI Yogyakarta.

Kolaborasi tersebut mempertemukan dosen, mahasiswa, alumni, dan komunitas kreatif dalam satu ruang penciptaan bersama yang menekankan pertukaran gagasan, riset artistik, dan eksperimen pertunjukan kontemporer.

Panji, pimpinan produksi, menegaskan bahwa semangat utama produksi ini adalah gotong royong artistik lintas generasi.

~“Rahim Besi bukan hanya pertunjukan, melainkan ruang belajar bersama tentang bagaimana seni membaca perubahan zaman,” ujarnya.

“Rahim Besi” juga menjadi bagian dari Rangkaian Pentas Dosen ISI Yogyakarta, sebuah program yang menghadirkan karya-karya dosen sebagai bentuk tanggung jawab akademik sekaligus kontribusi artistik kepada publik. Kehadirannya dalam program tersebut menegaskan posisi teater sebagai medium penelitian, penciptaan, dan dialog sosial yang hidup di lingkungan perguruan tinggi seni.

Pertunjukan ini turut menghadirkan penampilan khusus solis seriosa Sherina, yang memberikan kontras emosional antara dinginnya lanskap teknologi dan hangatnya ekspresi suara manusia.

Selain pertunjukan utama, penyelenggara juga mengadakan Diskusi/Dialog Karya pada 25 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB di Lobby Gedung Teater ISI Yogyakarta sebagai ruang pertemuan antara seniman, akademisi, dan publik.

Penyelenggara mengundang masyarakat, akademisi, pegiat seni, pelajar, mahasiswa, dan seluruh pencinta teater untuk menyaksikan pertunjukan ini. Kapasitas kursi terbatas, dan reservasi dapat dilakukan melalui kanal resmi publikasi Metaphor Project dan HMJ Teater ISI Yogyakarta.

Di era ketika manusia semakin menyerahkan keputusan kepada mesin, “Rahim Besi” mengingatkan bahwa pertanyaan tentang keberadaan tidak pernah dapat sepenuhnya dijawab oleh teknologi.

Pertunjukan ini tidak menawarkan kepastian, melainkan kegelisahan yang layak dipikirkan bersama.

Ketika lampu panggung padam dan detak mekanis berhenti, satu pertanyaan akan tetap tinggal dalam benak penonton:

~“Apakah aku benar-benar hidup, atau hanya menjalankan program yang ditulis oleh sesuatu yang lebih besar?” ~

RAHIM BESI adalah sebuah pertunjukan teater futuristik tentang cinta, identitas, dan perlawanan manusia terhadap kehilangan dirinya sendiri.

[Tito Pangesthi Adji]

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 60 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan