Kostum Watugunung (kanan) celana lebar, bermahkota; kostum Orang
berkepala dandang di WB 2 (2003) Teater Garasi Yogyakarta
di-screenshoot untuk Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1. (Dokumentasi Nur Iswantara)
Yogyakarta, Suaraglobal.news// C.2. Tata Artistik ‘Waktu Batu. Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’ (WB 2). Pertunjukan WB 2 adegannya sebagai berikut, Prolog; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Anakku Dua Puluh Tujuh. Dua Puluh Delapan dengan Suamiku; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Amnesia Amnesia; Di Ruang Tunggu. Sinta; Kala Memakan Rembulan; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal; dan Epilog.
a. Set Panggung dan Pencahayaan. Proses pembuatan set panggung ini diawali dengan mempelajari teks WB 2 yang ditulis oleh Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, dan Ugoran Prasad. Andi Seno Aji (perancang set, perancang grafis) terlebih dahulu melakukan diskusi dengan tim penulis naskah dan Yudi Ahmad Tajudin selaku sutradara. Mengingat WB 2 merupakan ritus seratus kecemasan dan wajah siapa yang terbelah.
Hasil kesepakatan Andi dengan tim penulis dan sutradara membuat panggung sebagai konteks schizophrenia, lorong dan rumah sakit. Desain artsitik pada WB 2 lebih dikedepankan. Tim artistik menemu atas ruang tunggu menajam pada sebuah adegan yang menyusun simulasi ruang-ruang tunggu di rumah sakit. Di ruang tunggu rumah sakit itulah, ditemukan bahwa tiga teks besar yang menjadi arketipe Waktu Batu: waktu, transisi dan identitas terwujud.
Schizopherenia datang dari proses WB 1 sebagai penunjuk realita modern yang pecah. Schizophrenia mengantarkan pada wajah waktu yang bertabrakan, identitas yang tak lain adalah fashion, dan transisi yang berubah menjadi mimpi buruk. Lorong datang sebagai wacana melalui eksplorasi desain artistik. Lorong sebagai sebuah ide diyakini bisa mengantarkan arketipe Waktu Batu, baik sebagai metafora maupun sebagai peristiwa yang terbangun di dalamnya. Pada bagian prolog, set panggung ditata secara asimetris dengan sebuah frame, kerangka besi dan ranjang rumah sakit. Pada pertunjukan WB 2, perancang set tetap menghadirkan ’Kura-kura’ tetapi diwujudkan dalam bentuk patung ’Kura-Kura berkepala manusia’.

Kura-Kura bergerak pada adegan Prolog pada pertunjukan lakon WB 2 (2003). page 2.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
’Kura-Kura berkepala manusia’ ini dapat bergerak bebas melintasi ruang pertunjukan yang diatur dengan radio control sehingga semakin artistik sebagai simbolisasi waktu yang terus berputar. Selanjutnya pada adegan Terjadinya Kala. Terjadinya Durga, bercerita terjadinya Kala.. Suara berdentum berbarengan muncul gambar multimedia. Semua dijejalkan menteror indra penonton. Tatkala kelahiran Kala terjadi maka cahaya merah dengan kuat menyorot panggung. Kala pun lahir di dunia.
Set dekorasi adegan Anakku Duapuluh Tujuh. Duapuluh Delapan dengan Suamiku, menceritakan tentang kegundahan Sinta setelah mengetahui bahwa suaminya selama ini adalah anaknya. Tiada sengaja, Sinta mengetahui dari bekas luka yang ada di kepala Watugunung saat mereka sedang bercinta.
Layar belakang adegan ini lampu temaram, panggung bagian tengah kuning, lalu berabah ke oranye. Set panggung ditata dengan empat buah kerangka besi secara berjajar pada panggung bagian belakang. Kerangka besi ditata awak panggung dibantu oleh aktor berseling antara yang menutup plastik transparan dengan yang tidak. Di layar transparan imaji visual kepala luka karya Jompet (pengolah imaji visual). Kepala yang luka itu mengingatkan kepada Watugunung Kecil yang pernh Sinta pukul di bagian kepalanya.
Bagian set diperkuat dengan teknik multi media berupa imaji visual olahan Jompet seperti adegan Terjadinya Kala dengan imaji pusaran semesta. Imaji visual, juga pada adegan Perang, Kematian dan mendaratnya kapal-Kapal, yang digambarkan perkelahian seperti di ring tinju, di layar belakang ada tulisan ‘kapov’

Imaji visual ‘Clang’ dalam adegan Perang,
Kematian dan mendaratnya kapal-Kapal lakon WB 2 (2003). page 3.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
b. Busana dan Rias (kostum dan make-up). Retno Ratih Damayanti (Desain Kostum dan MakeUp) mencipta kostum para tokohnya pada pertunjukan lakon WB 2 dengan berbagai modifikasi beberapa bagian. Hal itu dilakukan mengingat pada versi 2 ini lebih cenderung menguatkan konteks schizophrenia, yang tidak semata psikologi klinis, tetapi lebih visualisasi abstrak.
Kostum Durga dan Kali tetap seperti pada pertunjukan WB 1 hanya rambut mengekplorasi rambut asli para aktrisnya. Sedang kostum Watugunung (Theodorus Christanto) tetap, berubah pada mahkota yang dimodifikasi sekaligus menyatu sebagai topeng berwarna keemasan.
Pada pertunjukan lakon WB 2, masih memakai tata rias karakter karena untuk memperjelas karakter pemain dalam kepentingan pertunjukan, seperti tokoh Watugunung, Kala, Kura-Kura Ninja. Pada tokoh Uma, Sinta, Sinta Yang Lain, Durga, lebih mengetengahkan tata rias korektif yang tujuannya untuk memperjelas dan mempercantik diri. Hal itu dikarenakan konteks fashion menjadi rujukan dalam pertunjukan lakon WB 2.
c. Ilustrasi Musik. Pada pertunjukan lakon WB 2, musik oleh M Rizqy Sasono (penata musik) dan pemain musik : Rizky Sasono, Sinyo Prasetyo B.M. Lagu-lagu pada pertunjukan WB 1 masih dimainkan seperti Lagu Batu terdiri: Aku kapang sliramu, syair Cindil Gunawan Maryanto, lagu Indra, aransemen Rizky; dan Penyu Bermata Biru (pesisiran), syair Andri Nur Latif, aransemen Rizky. Musik mampu menciptakan nuansa dan memperkuat adegan sehingga dinamis karena musikalitas yang beragam.
d. Property dan Hand Property. Property dipanggung meliputi: ranjang rumah sakit (1 buah) ranjang yang biasa digunakan di rumah sakit; perahu (1 buah). Kemudian hand property: dandang kuningan (2 buah) sebagai tempat memasak dan topeng ketika menari; enthong besar (4 buah), enthong kecil (2 buah) untuk mengaduk masakan dan pemukulan kepala Watugunung kecil oleh Sinta.
Piring seng (6 buah) digunakan pada saat adegan Kunjungan Terakhir di Wilayah Donestik.; rumput kalanjana (2 ikat) dalam mitos Jawa, rumput kalanjana adalah rumput biasa yang terkena air kehidupan, sehingga tumbuh menjadi rumput raksasa pada pementasan kali ini digunakan sebagai pengusir wabah penyakit; sayap Garudeya (1 set), sepasang sayap terbuat dari plastik, kerangka kawat besi sebagai perwujudan sayap Garudeya.
Tiang infuse (1 buah); infuse (1 buah); patung kepala manusia dari fiber (5 buah); patung kepala manusia dari gerabah (5 buah); peta Indonesia (1 lembar); senter besar (1 buah) dan senter kecil (6 buah), .Tempayan kuningan ( 2 buah); robot/patung kura-kura berkepala manusia (1 buah) yang diatur dengan radio control sehingga dapat begerak bebas dipanggung, semakin artistik dan sebagai simbolisasi waktu yang terus berputar dalam kehidupan. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].


Komentar