Tokoh Wayang Bathari Durga (Gaya Yogyakarta),
sumber inspirasi penciptaan tokoh Durga dieksplorasi Erythrina Baskorowati
untuk pertunjukan lakon Waktu Batu WB 1 – 2002,
Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot keperluan
Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Yogyakarta, suaraglobal.news Erythrina Baskorowati mencipta karakter Durga. Erythrina Baskorowati lahir di Bantul, 31 Maret 1975. Sarjana Psikologi UGM terlibat di Teater Garasi sejak pemenatasan Wah (1995). Menjadi pemeran dalam karya penyutradaraan Robert Wilson I Lagaligo (Change Performing Art Italia, 2004), terlibat proyek Waktu Batu sejak 2001, berperan sebagai Durga.
Ery Baskorowati dalam ekplorasi keaktoran mengemukakan sebagai berikut: Proses kali ini bagiku adalah hal ‘pertama’ di mana aku menemukan kesulitan-kesulitan yang belum pernah kutemui dalam proses yang lain. Karena baru saat ini aku melakukan ekplorasi secara keseluruhan. Modal aktor benar-benar dimaksimalkan: tubuh, vokal, emosi, pemahaman analisa, yang kali ini juga diperluas. Ketika kubandingkan dengan proses yang lain, saat ini menuntut kesatuan dari modal aktor yang kusebut di atas”. (Wawacara dengan Erythrina Baskorowati di Sanggar Teater Garasi, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta, tanggal 21 Juli 2013).
Menjalani eksplorasi sesi lumpur mampu membawa aktor pada suasana yang purba, seperti diakui oleh Ery sebagai berikut: Walau tidak secara langsung mampu memberi ilham tentang gesture tokoh Durga, tetapi lumpur itu merupakan media untuk bereksplorasi membawa kami pada sensasi menjadi manusia masa lampau. Menajamkan kepekaan indera perasa, kepekaan indera penciuman membaui aroma lumpur yang khas. Lumpur yang melekat di sekujur tubuh, membuat aktor melakukan gerakan-gerakan yang berbeda dari biasanya menjadi lebih lambat dan berat. Berekloasi dengan lumpur pada tengah malam, jam 24.00 WIB, melatih para aktor untuk semakin peka dengan masa transisi, perpindahan dari malam ke pagi. Proses mengolah emosi ini lebih menekankan bersama lawan main, memberi respons aktor lain sehingga terbiasa dengan lumpur dan tidak menganggapnya sebagai halangan untuk mendalami karakter tokoh yang diperankannya (Wawacara dengan Erythrina Baskorowati, tanggal 21 Juli 2013).
Lebih lanjut Ery dalam mengeksplorasi karakter Durga dengan media lumpur memaparkan demikian: Bagaimana menubuhkan bahasa, bagaimana mendialogkan narasi yang puitis. Hal yang paling sulit bagiku. Penghayatan saja tidak cukup, di pross lalu hal ini lebih diprioritaskan. Saat ini semua berjalan sejajar. Awal mula adalah kebingungan, itu pasti. Narasi yang menurutku sudah sangat kuat, kesulitan bagaimana tidak mendistorsinya ketika ia ditubuhkan, karena narasi ini benar-benar: hanya sekedar diucapkan/dibacakan saja malah justru kena. Ning ya mengko dadi dramatic reading! Sampai saat ini keingintahuanku: akan jadi apa ini nanti? Sering membuat aku deg-degan, dalam arti bergairah! Seperti menunggu pacar yang lama gak jumpa. Capek! Pasti itu, walaupun dua jam setelah itu juga sembuh. Karena yang kita kuras seluruhnya. Tenaga dan pikiran. (Katalog Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2-4 Juli 2002: 4).
Ery menemukan beberapa sumber mengenai tokoh Durga, baik di mitos Jawa, mitos India. Ery memaparkan sebagai berikut: Dalam Kidung Sudamala tokoh Durga secara rinci disebutkan: 1. Seperti kapur jatuh diatas kunyit, merembes merata tak ada selat maka segera menjadi merah, beruntai-untai, bergumpal-gumpal melekat rambut Sang Huma. Badannya menjadi besar dan tinggi; 2. Matanya menyerupai matahari kembar, mulut seperti gua ternganga, panjang tajam menonjol keluar taring, hidung berlubang besar seperti sepasang perigi. Sedang menurut Kitab Manikmaya, tokoh Durga disebutkan sebagai perempuan dengan badan berbentuk raksesi (raksasa perempuan) dengan rambut berjumbai-jumbai dan kalau bersuara menjerit-jerit. Demikianlah perwujudan fisiologisnya. (Wawacara dengan Erythrina Baskorowati, 21 Juli 2013).
Intertektualitas seperti naskah dan pertunjukan lakon Waktu Batu tejadi pula pada nama tokoh Durga pada adegan Terjadinya Kala. Terjadinya Durga yang referensinya mitos Jawa berkaitan dengan tokoh Bathari Durga di Wayang Jawa. (Bathari Durga adalah raja para jin di Kayangan Dandangmangore. Wajahnya jelek, hidung ngungkal gerang, mata kiyipan, mulut mrèngès, pandangan menunduk, rambut odhol géndhong, tubuh agak tinggi besar, dan kulitnya kuning. Pakaian dan hiasan yang dipakai yaitu: jamang bersusun, pengikat bledhégan, sunting sorèngpati, subang, kalung ulur-ulur, selendang, kelatbau naga karangrang, gelang calumpringan, kemben, kain panjang batik parangrusak, kroncong binggel, dan sepatu. Sifat dan tindakannya usil, dan kasar). Hal itu semakin mempertegas adanya intertektualitas.

Erythrina Baskorowati eksplorasi tokoh Durga
di studio lumpur penciptaan karakter Durga untuk Pertunjukan lakon Waktu Batu 1 (WB 1 – 2002) Teater Garasi Yogyakarta. page 3
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Ery menginterpretasikan sosok Durga menjadi besar bukanlah karena tubuh Durga raksesi itu, melainkan lebih pada energi sangat besar yang terkandung dalam sosok Durga. Ery merasa bahwa karakter Durga besar, tegas, sangat bertolak belakang dengan karakter dirinya yang bersalal dari suku Jawa, lemah lembut dan bergerak lambat. Ery mencoba menjembataninya dengan belajar tari Bali untuk mendapatkan gesture yang besar, ritmenya cepat dan gerakannya tegas.
Pada waktu pementasan ada tambahan lonceng-lonceng kecil yang diikatkan pada jubah Durga. Simbol kejahatan dan kematian karena itu kemunculannya sangat tidak diharapkan. Mereka biasanya menyebutkan ada hal-hal yang menandai kedatangan Durga. Dalam mewujudkan hal itu dipilih lonceng kecil yang selalu berbunyi pada waktu Durga bergerak, dan semakin nyaring ketika Durga berlari dalam kemarahannya. Durga dan Kali berasal dari satu sosok, yaitu Dewi Uma. Artefak yang dibawanya juga berupa rumput Kalanjana. Pada waktu Durga marah dia menunjukkannya dengan mengibaskan rumput Kalanjana tersebut. Demikianlah upaya Ery mengeksplorasi karakter Durga dapat diterima sutradra maka ciptaan karakter Durga pun terekspresikan dalam pertunjukan lakon WB 1, WB 2, dan WB 3.
4). Sri Qadariatin mencipta karakter Uma dan Kali. Sri Qadariatin sapaan akrab Uung. Perempuan ini lahir di Bali, 28 Oktober1978. Lulusan D3 Komunikasi UGM Yogyakarta. Mulai aktif di Teater Garasi sejak tahun 1996. Bekerja sebagai Asisten Manajer Program Teater Garasi. Jadi pemeran dalam karya penyutradaraan Robert Wilson: I Lagaligo (Change Performing Art – Italia, 2004) dan sebagai tokoh ‘Persphone’ dalam Persphone (Change Performing Art Italia, 2004). Terlibat produksi pertunjukan lakon Waktu Batu sejak 2001 berperan sebagai tokoh Uma dan Kali dan mejabat Manajer Panggung.
Tokoh Kali merupakan suatu bentuk energi yang lain dan Dewi Uma. Masyarakat Jawa tidak banyak yang mengenal adanya tokoh Kali ini karena tingkat kemarahan yang dibawanya melebihi Durga. Dia adalah sosok yang selalu mengejar sesuatu, bengis, bukan hanya membuat orang ketakutan tetapi juga mampu menghancurkan dunia. Kali merupakan simbol dari tingkat kemarahan perempuan yang paling menakutkan.
Tokoh yang ditampilkan adalah tokoh mitos, ini membawa konsekuensi perlunya pencarian dan eksplorasi yang total dari para aktris untuk dapat membawakan karakter dari tokoh tersebut. Tubuh para aktor-aktris yang bisa dikatakan sebagai tubuh-tubuh modern tentunya sangat berlainan dengan tokoh mitos tersebut. Perbedaan waktu yang ada juga membuat pola hidup menjadi sangat berbeda. Untuk menjembatani kondisi itu, hal-hal yang dianggap bisa mewakili aura kepurbaan coba diterapkan selama proses kreatif ini berlangsung. Untuk menuju kepurbaan, Teater Garasi memilih lumpur sebagai media untuk ekplorasi. Lumpur ini dekat identik dengan bumi, tanah. Selain itu ada kesan bahwa manusia zaman dulu dalam kehidupan sehan-hari dekat dengan lumpur. Badan dan rambut yang terbalut lumpur juga gerakan-gerakan yang dihasilkan pada waktu bergulat dengan lumpur ternyata sedikit banyak mampu membuat para aktor merasakan sensasi kepurbaan yang lebih kental daripada dengan materi lain, air misalnya.
Sri Qadaryatin yang berperan sebagai Kali dan Uma juga merasakan hal itu, bagaimana rasanya mencoba menjadi manusia yang hidup di masa lalu.Selama proses bergelut dengan lumpur, Uung memaksimalkan gerakannya untuk mencoba menubuhkan energi dari Kali. Salah satu eseng Kali adalah kebengisan terhadap manusia. Uung melakukan satu gerakan yang mewujudkan kebengisannya dalam arti mampu membunuh manusia. Untuk memahami kepurbaan Uung masuk dalam ekplorasi sesi lumpur penuh totalitas. Lumpur alami, natural. Uung menyatukan seluruh tubuhnya berendam lumpur.
Uung sudah mencoba untuk menyelami apa makna dari penamaan Kali yang serba hitam, dengan selalu berpakainan hitam-hitam setidaknya satu bagian dari Kali sudah melekat pada tubuhnya. Untuk mencipta karakter Kali dan Uma, Uung melakukan analisis sebagai berikut: Analisis karakter saya pakai meliputi dua tahap yaitu pemurnian pengamatan, dari sekian banyak data terrtulis, interview, rekaman audio visual difokuskan pada physical appearance, gesture dan artefact, ketiga aspek itu merupakan kode penampilan. Berlanjut pada pemecahan teka-teki untuk proses kreatif mencipta karakter Kali dan Uma apa sudah cocok dengan misi sebagai ‘Laboratorium Penciptaan Teater’. (Wawacara dengan Sri Qadariatin di Sanggar Teater Garasi, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta, tanggal 21 Juli 2013).

Sri Qadaryatin eksplorasi tokoh Uma
di studio lumpur penciptaan karakter Uma dan Kali untuk Pertunjukan lakon Waktu Batu 1 (WB 1 – 2002) Teater Garasi Yogyakarta. page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Penampilan fisik tokoh Kali dan Uma dicapai Uung dalam ekplorasi melakukan gerakan akrobatik untuk mewujudkan Kali dan Uma yang lebih dipercaya sebagai energi yang bergerak cepat. Kostum berwarna hitam untuk atasan maupun bawahan. Untuk kesan besar, Kali memakai jubah jaring. Uma feminin modis. Uung temukan berbagai bentuk gesture dari relief di beberapa candi Hindu yang dia kunjungi. Hal tersebut sedikit banyak memberikan gambaran tentang bagaimana gerakan-gerakan tokoh mitos. Hanya pada candi Sukuh, tokoh Kali digambarkan sebagai sosok yang menyimpan dendam pada dewa-dewa, sehingga tangannya sering mengajung ke atas dengan kepala mendongak.
Kali wujud energi kemarahan yang sangat mengerikan. Uung mendongakkan kepala seakan hendak menantang penguasa alam tanpa rasa takut sedikitpun. Kali digambarkan mempunyai banyak sekali senjata. Akan tetapi dalam pementasan ini Kali mempunyai dua murid raksasa, Kalanjana dan Kalantaka, dan kebetulan adalah nama rumput maka diambillah ‘rumput kalanjana’ sebagai artefak untuk menegaskan karakter Kali. Selain itu dari segi artistik, rumput temyata dirasa lebih mendekati pada efek yang alamiah. Kehidupan di masa purba lebih banyak berhubungan dengan benda-benda yang berasal dari alam lingkungan. Pada proses keaktoran tokoh Kali dan Uma, Uung mengatakan: Waktu Batu – Ruwatan Batu-Batu. Bismillahiramanirahim. Semoga pergi segala cela, segala bala, segala goda. Pada akhirnya keraguan hanya telikung niat berangkat. Hayat diri, hayati ruang maka tak ada yang akan tumbang; proses ini sempat hampir-hampir menenggelamkan aku dalam keruwetan yang remeh dan receh. Tampaknya sebuah kalimat slogan yang selalu diteriakkan seseorang itu, suatu waktu mampu membuat bertahan dalam semangat yang hampir mustahil. Tapi demikianlah, justru pada saat yang rawan ini aku sedikitnya dipaksa mengeja diri, dalam sebuah ruang tunggu kontemplasi bersama Maa’ Uma dan maa’ Kali. ( Wawacara dengan Sri Qadariatin, 21 Juli 2013; periksa Katalog Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2-4 Juli 2002:5). Melalui ekplorasi, Uung pun berhasil mencapai karakter Kali dan Uma dengan standar artistik yang diharapkan dalam pertunjukan lakon WB 1 dan WB 2.
5). Citra Pertiwi mencipta karakter Sinta. Citra Pertiwi lahir di Pati, 31 Oktober 1981. Pendidikan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Terlibat di Teater Garasi sejak tahun 2001, ikut proyek Waktu Batu sebagai aktris pemeran Sinta. Proses Waktu Batu penuh bayang-bayang kebahagiaan yang absurd. Citra menuturkan demikian: Teks yang saya terima dan saya telaah, menjadi keintiman tersendiri. Hal itu melahirkan pemikiran baru tentang banyak hal. Penciptaan teater berbentuk entah, pokok yang saya pegang adalah mensugestikan mitos yang hidup ke tiap kepala penonton. Mereka mati dalam bayang-bayang sendiri, bayang-bayang kebahagiaan absurd. ‘Waktu Batu’ percakapan kita, mitos, keadaan sekarang (modern?) bertabrakan dalam tempo kecepatan waktu (Ungkapan Citra Pertiwi dalam Katalog Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2-4 Juli 2002: 4).
Citra ketika mencipta karakter Sinta sangat bersandar pada sosok ibu jaman sekarang. Citra mengungkapkan demikian: Menjadi Sinta adalah sosok Ibu jaman sekarang, tuntutan dualisme tugas menjadi single parent, punya anak yang nakal, kesabaran lama-kelamaan habis, penyesalan tak habis-habis, untuk ukuran ibu purba. Sinta adalah sosok feminis pada abad itu, dan ia seharusnya mendapat penghargaan ibu tergagah sepanjang abad. Pokoknya keseluruhan proses ini avand garde….(Ungkapan Citra Pertiwi, 2002: 4).
Intertektualitas tokoh Sinta pada adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik yang berkaitan dengan tokoh Sinta di Wayang dan keseriusan Citra dalam proses mencipta karakter Sinta tiada sia-sia. Citra mampu menghidupkan tokoh Sinta dalam pertunjukan lakon WB 1, WB 2, dan WB 3.

Wayang Dewi Sinta (Gaya Yogyakarta),
sumber inspirasi penciptaan tokoh Sinta dieksplorasi Citra Pertiwi
untuk pertunjukan lakon Waktu Batu 1 (WB 1 – 2002) Teater Garasi Yogyakarta. page 7
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Citra pun mengikuti proses proyek Waktu Batu masuk dalam ekplorasi keaktoran mencipta karakter Sinta secara total. Baginya Waktu Batu adalah proses terlama yang pernah dialaminya. Dia merasa banyak belajar tentang penggalian-penggalian keaktoran, baik dalam segi pemeranan maupun pandangan intelektual. Otentitas diri dipertajam tanpa menghilangkan dinamika kelompok dan tokoh Sintamampu diwujudkan dalampertunukan lakon WB 1, WB 2, dan WB 3.
6). Naomi Srikandi mencipta karakter Sinta — Yang Lain. Naomi Srikandi lahir di Yogyakarta, 27 September 1975. Seorang ibu rumah tangga. Bergabung Teater Garasi sejak tahun 1994. Terlibat proyek Waktu Batu sejak 2001, memerankan Sinta — Yang Lain. Naomi mengikuti proyek pertunjukan lakon Waktu Batu serasa ‘hidup-tumbuh’. “Aku belum mati. Masih berdenyut. Dan sekarang mulai berlendir, bertulang, berurat…aku berkedip, tubuh baruku tumbuh.” (Ungkapan Naomi Srikandi dalam Katalog Waktu Batu. Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2-4 Juli 2002:4).
Naomi sangat suntuk mengikuti produksi pertunjukan lakon Waktu Batu, khususnya ekplorasi untuk mencipta karakter Sinta – Yang Lain. Naomi menuturkan demikian: Mengikuti proses ini (dan berada di dalamnya) seperti membuat sebuah puisi panjang, terserah kita bagaimana merasakannya, tapi ‘keindahan’ (di luar moralitasnya) itu tercipta sebuah aliran. Padaku ada pagi kering dan kerampul embun beku. Lalu ada imaji tentang telunjuk-telunjuk yang runduk, menyeka legam malam yang membawanya tersesat di hamparan kalanjana, yang ujungnya (jika ada ujung) lebih pekat lagi dari sebelumnya.

Naomi Srikandi sebagai Sinta Yan Lain, baju putih,
tampak feminin dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu 1 (WB1 – 2002).Teater Garasi Yogyakarta. page 8.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
‘Durga Ruwat’ dan yang lainnya dengan segala macamnya, bagaimana bisa? Aku meragukan kualitas batinku untuk membuatnya semata-mata berharga. Aku memiliki konteks kura-kura yang mengawetkan kesedihan. Maka yang bisa kulakukan adalah, dengan sisa lara, menelisik lebih dalam lagi padang kalanjana itu, yang kini menghutan dan berhantu (sehingga setelah memasukinya aku takut menoleh ke belakang dan mendapati bahwa yang di sana adalah bayanganku sendiri) (Ungkapan Naomi Srikandi, 2002:4).Akhirnya Naomi Srikandi dapat dan mampu menghidupi karakter tokoh Sinta—Yang Lain dalam pertunjukan lakon WB 1, WB 2, dan WB 3.*** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].


Komentar