SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontributor
Beranda / Kontributor / Proses Kreatif Teter Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu (Bag.9)

Proses Kreatif Teter Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu (Bag.9)

Siwa dan Uma bercinta, dibagian latar belakang
tampak robot manakin laki menindih perempuan dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta
discreenshoot keperluan Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, Suaraglobal.news// B.3. Pengadeganan Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu (WB 3). 1. Adegan Terjadinya Kala. Terjadinya Durga. Panggung prosenium. Adegan pembuka. Gong bergelegar. Panggung penuh cahaya biru. Ditengah belakang robot kura-kura berkepala manusia dinaiki Seorang Ibu. Seorang Perempuan berpakaian warna kuning berjalan menuju bagian kiri depan menyanyi. //Aku menangis./Semua orang tahu itu. /Tapi mereka nggak tahu sejak kapan./ Dan sampai kapan./ Aku saja tak tahu. /Mungkin sejak laki-laki itu pergi./ Mungkin sampai laki-laki itu kembali. /Aku tak bisa tidur./ Tak ada acara-acara yang menghibur./ Parahnya lagi aku aku tak bisa menuliskannya./ Diaryku kosong.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:70).
Pada penggal syair ‘Mungkin sejak laki-laki itu pergi’ muncul sebuah kotak bercahaya berisi seorang Anak didorong Ibunya. Nyanyian Seorang Perempuan ditimpa senandung Ibu yang tadi mendorong Anak dalam kotak. Ibu yang berada di atas punggung robot kura-kura berdialog dengan Anak. //Anak: Di mana bulan, Bu? Apakah berteduh dari hujan?/ Ibu: Tidakkah kau lihat ia menipis kemarin? Mungkin sudah habis…./ Anak: Siapa yang menghabisinya, Bu?/ Ibu:Kala./Anak:Apakah ia juga akan menghabisi kita, Bu?/Ibu:Tidurlah. Ibu akan menjagamu.Ini hanya dongeng. Cuma dongeng../Anak:Aku takut, Bu. Aku takut jadi batu…( Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:70-74).
Panggung penuh warna biru. Dialog Ibu dan Anak ditimpa oleh senandung dan nyanyian. Pada penggalan dialog Anak “Aku takut, Bu. Aku takut jadi batu…” disusul bunyi gelegar. Ibu masuk ke kanan, seorang lelaki mengikuti. Robot kura-kura menuju arah kiri. Tinggal anak dalam kotak bercahaya sendirian bergetaran bagai kena sengatan tenaga listrik. Musik terus berbunyi. Di kanan muncul Seorang lelaki bersayap berhenti diam dekat kotak bercahaya berisi anak lelaki. Dari arah kiri muncul tiga orang berjalan dengan satu tangan memegangi kepala dan tangan yang satunya menunjuk ke depan menuju tengah panggung. Ketika sampai ditengah suara berderit mengeras, ketiga tokoh, Lelaki bersayap dan anak dalam kotak bercahaya bergetaran bagai kena sengatan tenaga listrik beberapa saat, ketiga tokoh menuju arah kanan. Lelaki pun seperti nganga mulutnya, suara lelaki pun berkisah.//Seorang lelaki bersayap lebar yang bercerita kepadamu: Sepasang kekasih melintas di atas samudera. Camar-camar telah menjadi sore. Bukan hujan, hanya gerimis menyusun horizon yang jauh. Sore yang setengah bercinta sejak semula memanggil kupu-kupu, meletakkan lelah warnanya di dada Uma. Siwa dengan nyala di matanya semacam bertanya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:11).

 

Gambar 42. Lahir Kala ..terjadilah Kala dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 2.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Sebuah Renungan di Emperan Bale Tjarakan’ pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81

Pada awal kisah “Sepasang kekasih….” di bagian panggung belakang dari arah kanan muncul robot manakin sepasang kekasih menuju ke kiri panggung diikuti tokoh lain yang merangkak. Dari arah kanan muncul Siwa (Jamaluddin Latif) dengan pakaian jubah rambut merah dan dari kiri muncul Uma (Tomomi Yokusuka) dengan gaun hitam bercelana panjang merah muda. Pada suara Lelaki “Siwa dengan nyala di matanya semacam bertanya” Siwa bergulung, mengejar Uma dan berkata. “Siwa: Bolehkah kuletakkan lelahku di dadamu? Uma: Apa yang sedang kautatap, Siwa? Kurasa kau tak sedang menatap senja?” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:12).
Ketika suara Siwa terdengar, robot manakin sepasang kekasih melintas dari arah kiri ke kanan. Suara Uma meniru suara tokoh wanita dalam dialog pertunjukan Wayang Wong, pelan, lembut, jelas (las-lasan) membalas pertanyaan Siwa disertai gerakan seperti menari dan lanjutkan Uma bertanya. “Uma: Tidakkah kaulihat, sore sedang tumbuh di antara gerai gerimis? Siwa: Tidak, aku tidak melihatnya!” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:12).
Dialog diatas diulang tiga kali, Siwa dengan Uma berkejaran dengan berbagai laku. Siwa dengan Uma bergejolak birahinya berkejaran. Panggung pun biru romantis. Pemeran lainnya memperagakan gerakan sensual bahkan ada perempuan dengan posisi kakinya diatas diangkat seorang lelaki. Ketika Siwa mengangkat tubuh Uma di pudaknya Uma mengempit kepala Siwa. Dialog “ Anjing!! Becintalah dengan malam!” panggung yang biru perlahan berubah merah.
Para tokoh lain diam mematung. Panggung merah. Uma membenamkan kepala Siwa ke dalam rawa. Siwa membenamkan wajah kekasihnya ke dalam rawa. Panggung memerah darah menandai kelahiran Kala ke jagad raya. Orang-orang pun menanyakan dengan bergeremang “siapa kamu?” “Kala: Aku ada tidak sengaja. Aku adalah kecelakaan dan celakalah dirimu karena mengenalku. Baik. Aku adalah dentuman besar di lubang kosmos dan setelahnya.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:13).

Adegan Watugunung kalah melawan Kala
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 14.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Di panggung tengah kiri, terjadlah Kala. Kala telah lahir, musik mengeras. Terjadilah Kala, hidung panjang, rambut merah, berpakaian ketat warna coklat. Kemudian disusul lengkingan perempuan menandai terjadinya Durga. Durga (Erytrina Baskorowati) dalam kotak bok mengenakan gaun merah.Terjadilah Kali (Sri Qadariatin) mengenakan gaun hitam. Keduanya berdialog. “Durga: Telah kunikahi kegelapan, telah kunikahi malam, Kali: dan bersama dirinya, kami buat pesta persetubuhan, Durga: dan beranak-pinak setiap kali bulan kutelan.” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:14). Dialog Durga dan Kali dengan nada berat menambah ketegangan dan menakutkan.
2. Adegan Anakku Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Delapan dengan Suamiku. Adegan ini ditandai adanya suara musik bergeremang. Panggung membiru dan lima lampu gantung menyala netral menyerupai batu runcing. Sinta dan dua orang perempuan bergerak dalam bayangan sendiri. Satu orang ditengah kedinginan dan dua orang menari dengan selendang merah.

Pemandangan Alam Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur

Sinta bergerak dalam bayangan diri bersama dengan
anak-anakdalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 4.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Seorang lelaki berkepala dandang merangkak masuk dari arah kiri panggung. Ia menuju tengah dan duduk menghadap ke kiri panggung. Ia lantas membuka dandangnya kemudian berkata seperti orang membaca mantra. Dari arah kanan muncul robot lokomotif lampunya menyala berjalan suara menderu. Orang-orang berlarian melintasi panggung. Kemudian orang-orang pun berdialog penuh tanda tanya.//Seseorang: Apa yang harus kita lakukan?//Seseorang:Apa yang kita tunggu?/Seseorang:Kita akan kalah kali ini, bukan begitu?/Seseorang:Perasaanku mengatakan demikian./Seorang ibu yang berteriak memanggil anaknya:Kaukah yang berada di kapal-kapal itu anakku? Kaukah yang melambai-lambaikan tangan itu? Tapi kenapa rambutmu terbakar dan matamu biru? (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:63). Adegan ini merupakan kesedihan Sinta yang menyadari bahwa Watugunung, suaminya yang dicintainya adalah anaknya yang dulu pergi dan tak kembali.
3. Adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik. Panggung gelap ke temaram, seorang bocah bernama Watugunung Muda (Andreas Ari Dwianto) bercelana panjang warna gelap berbaju rompi kain lurik hijau dan bermonolog. //Watugunung Muda: Belum terlalu siang, tapi aku memutuskan untuk pulang. Aku lapar. Adakah emak sudah memasak untukku hari ini? Aku langsung menuju pintu dapur, melihat emak hatiku bungah. Benar, dia sedang memasak untukku rupanya. Kulihat ia sedang mengaduk nasi yang ditanaknya. Asap mengepul menuju jendela yang terbuka. Baunya membuat perutku semakin lapar saja. Ah, emak sayang, tentu ia akan girang jika tahu aku telah pulang. Mak….( Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 24-25).
Pada penggal kata “melihat emak hatiku bungah” dari arah kanan dan kiri panggung bagian belakang muncul dua kotak vertikal menyala netral. Di bagian kanan dalam kotak vertikal tampak Sinta Yang Lain menghidupkan alat dapur, Mixer mengaduk makanan. Di bagian kiri dalam kotak vertikal Sinta sedang membaca majalah, rambutnya bergerai dikeringkan dengan alat pengering rambut, (hairdriyer) oleh seorang penata rambut seperti di salon-salon kecantikan. Watugunung Muda terus bermonolog dalam wilayah domestik.

Sinta dan Sinta Yang Lain marah
Watugunung Muda dan Bocah-Bocah kena pukulan enthong
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Sinta dengan Sinta Yang Lain asyik dalam wilayah domestik. Bocah-bocah kelaparan tak diberi makan, mereka memukul-mukulkan piring seng ke lantai. Keduanya hilang kesabaran dan marah. Mereka mengangkat enthong tinggi-tinggi. Bocah-bocah kena pukul enthong, terpental dan terluka di kepala. Watugunung Muda menjadi korban terluka. Watugunung Muda pelan-pelan menjelma kura-kura. Ia pun berkata.//Watugunung Muda:Panggil aku hari pertama di awal musim. Di mana segalanya bermula dan bermuara! Aku karang tempat burung-burung bersarang, bukan langit tempat mereka menari dan terbang. Sudah, …aku karang tempat kelak burung-burung yang melintas samudera menabraknya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:31-32).
Kura-kura pergi, Sinta dan Sinta Yang Lain mengejar.Sinta tersesat, tak menemukan apa-apa. Sinta adalah Uma yang telah menjelma raksesi. Durga dan Kali yang ada dibelakang Kura-kura jelmaan Watugunung Muda. Durga berjubah merah topeng (penthul) hitam dan Kali jubah hitam topeng (bejher) merah. Durga dan Kali merobek-robek malam. Menguyah bulan, berjalan mengelilingi jagat.
Durga dan Kali penuh amarah. Sekelompok orang dan anak-anak menari kesurupan. Durga dan Kali meminta makan anak-anak sukerta sebagai makananannya. //Durga dan Kali: Bathang ucap-ucap, jisin lumaku, gotong mayit,wong kang ngalang-alangi lakune Bathara Kala,wong kang ora ngrampungke anggone mayoni omah, wong ngrubuhake dandang, wong nugelake pipisan utawa gandhik, bocah julung sungsang,bocah julung pujud, bocah julung wangi, wongngeblakake lawang wayah candikala, wong gawewewadhah tanpa tutup, wong mbuwang uwuh ing longan, wong mbuwang uwu metu jendhela, wong turu wayah pletheking srengenge, wong turu wayah surup, wong turu wayah bedhug, wong nggorohi marang darbeke, bocah jempina, bocah marga, wong simpen ajang isih reged (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:33; pada Dokumentasi DVD “Waktu Batu 3 Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta 27-28 September 2004, menit 22.58-25.20 tampak dialog Durga dan Kali bergantian menyebut nama anak sukerta, gerak menari seperti gerak Warok Reog Ponorogo dan Jathilan dan permaianan cahaya dalam tata rupa panggung sangat warnawarni).
Anak-anak sukerta menari-nari dengan iringan gejog lesung. Mereka seperti pemain jathilan (kuda lumping) menaiki kuda lumping dari enthong besar, tongkat yang diujungnya ada patung kepala bahkan tariannya meniru gerak-grik warok Reog Ponorogo. Suara iringan dan teriakan bergantian. Ibu-ibu (Sinta, Sinta Yang Lain) dalam cemas. Inti adegan ini bahwa para Ibu-ibu tidak menyadari kalau kekerasan dalam wilayah domestik atau lingkungan rumah tangga dapat melahirkan malapetaka bagi anak-anak serta dirinya.
4. Adegan Menggambar Bulan Menari dibawah Kakiku. Panggung temaram Seorang Lelaki berkepala dandang (Bahrul Ulum) dengan rompi hijau kuning masuk dari arah kiri panggung sampai ditengah berjalan lurus menghadap ke penonton lantas bercerita.//Seorang lelaki berkepala dandang bercerita kepadamu:Di sebuah taman kerajaan. Angin tenang. Daun-daun tak bergoyang. Tapi takkah kau Iihat ada yang sedikit berubah pada arah? Pada yang berkaca di dasar kolam yang semakin meninggalkanmu. Segalanya hanya sesaat. Terdengar suara ketel dipukul Lelaki memegangi kepalanya./Lelaki berkepala dandang: Bangsat! Kenapa kau lakukan itu?!/ Lelaki berkepala dandang: Bathara Guru! Bathara Guru!! Bapaaa…!!! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:18-19).

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu  (Bag.21.Akhir)

Adegan menggambar bulan Robot Replika Lokomotf
melintas,Watugunung berbaju putih berdialog denan Garudeya.
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 7.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Panggung gelap, Lelaki pergi, panggung berubah warna biru. Di bagian panggung belakang kanan telah berdiri Sinta (Citra Pertiwi) dan di tengah Sinta Yang Lain (Naomi Srikandi) pun berdiri diam. Sinta dengan lembut, penuh perasaan.//Sinta: Semuanya bermula di hari ini, pada semacam senja yang kering tua ketika, sekalipun tenang, bau bencana sedang turun deras-derasnya, seperti hujan. laki-laki itu Watugunung suamiku, mendekat ke dadaku, perlahan, hampir-hampir seperti meyelinap dari dirinya yang ditinggalkan di atas ranjang. Ia letakkan kepalanya di antara dua buah susuku. Kemarilah, mendekatlah. ‘Belailah, bacalah. Aku ingin kau meneduhkanku,’ katanya mengulurkan kepalanya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:19).
Pada penggal dialog Sinta “Kemarilah, mendekatlah” (dua) 2 Lelaki pembawa enthong berdekapan dengan Sinta dan Sinta Yang Lain. Sehabis dialog Sinta dilanjutkan oleh Sinta Yang Lain. //Sinta yang lain: Di antara dua susuku, kepalanya menebar kerinduan, yang entah mengapa, selalu putus asa. Kubelai rambutnya yang hitam, yang dari setiap helainya berisi dendam. Kepingin kuberikan sebanyak kedamaian yang ada, tapi kedua tanganku ini terlanjur didera dosa. Dari kepalanya aku membaca peta-peta dari raja-raja yang tumbang. Kubaca negeri-negeri yang terbakar. Kubaca kesedihan yang berlarat dalam kidung-kidung yang dinyanyikan burung-burung hantu. Kubaca rasa takutnya pada Siwa dan pada segala kuasa yang melebihi kuasanya. Kubaca dirinya, yang menyerahkan segalanya untuk kubaca (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:20).
Sinta sambil berdekapan dengan seorang lelaki berdialog penuh penghayatan. //Sinta: Lalu pecah berserak dan apa yang telah kulakukan? Mengapa aku melukaimu? Mengapa cintaku melukaimu? Mengapa aku mencintaimu. Mengapa aku membiarkan diriku mencintaimu? Terperangkap pada dirimu. Bagaimana cara melepaskan belenggu ini.Apakah kau, Apakah kau, yang beredar di sekelilingku. Apakah kau yang kucari untuk menebusku? Kemana kau pergi? Kemana kau pergi? Kau harus kembali padaku, menjadi milikku selamanya. Kau akan datang dan datang lagi padaku, merebutku, merampasku dari ambang, rebut aku. Rebut aku. Maukah kau merebutku? Datang kembali padaku? Tak apa jika kau ingin pergi lagi, tapi kemudian, kembalilah. Rebut aku (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:22).
Sinta terus berbicara dengan sangat perih. Pada penggal dialog “Mengapa aku melukaimu?” dari arah kiri panggung seorang berpakaian dokter hijau melintas membawa potonga kepala. Disusul tokoh lelaki merambat dilantai bagai ular melintas. Pada penggal dialog “Rebut aku” yang diucapkan Sinta penuh permohonan dan Sinta yang Lain seperti bersuara tapi hanya suara lengkingan. Hal ini menunjukkan bahwa adegan ini penyesalan perih Sinta dan Sinta Yang Lain.
Panggung bercahaya hijau dilatar belakang. Musik berdentam keras. Para aktris menari lenggak-lenggok dari sisi kanan dan kiri panggung. Seorang aktor berpakaian petinju, memakai celana panjang hijau dan sarung tangan muncul dari arah kanan ke kiri bergaya petinju profesional. Seorang stage crew mendorong kotak vertikal menyala netral, meletakkan di sisi kiri.
Crew lainnya membawa kursi panjang diletakkan di tengah. Crew lainnya mendorong kotak vertikal diletakkan di sebelah kanan kursi. Kotak vertikal yang diatasnya ada tokoh perempuan bersayap didorong seorang crew berhenti disebelah kanan kotak vertikal di sisi kiri yang di dalamnya ada kursi. Di lantai dipasang rel kereta. Suasana seperti di stasiun kereta. Di sisi kanan beberapa kursi ditata.
Seorang perempuan berpakaian merah membawa tas berlarian dari arah kiri, duduk di kursi sebelah kiri. Seorang Lelaki berpakaian hitam muncul memandang beberapa saat ke perempuan dan duduk di kursi sebelah kanan. Dari kanan seorang lelaki berbaju putih lengan panjang, celana hitam, memakai topi laken hitam membawa tas melintas. Dari bagian belakang panggung muncul robot replika lokomotif lampunya menyala melintas mengikuti alur rel. Keramaian stasiun terjadi. Orang mengepel lantai. Orang-orang berlalu lalang. Seorang perempuan memasuki box telepon umum. Seorang berbusana pelajar duduk di kursi menunggu. Suara orang menyapa di telpon “halo” dan seorang menyeret tas koper memasuki ruangan.
Perempuan bersayap (Garudeya) dimainkan Tomomi Yokosuka) di atas kotak vertikal menanya dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia kepada Watugunung, dijawab “siang”, “malam” “kekuasaan” “27 Bhre” “27 gunung.” Perempuan bersayap kembali tanya “Apa lagi Bhre?” dijawab “aku menggambar cahaya” “menggambar langit tenggelam dibawah kakiku” “menggambar raja dari segala raja.” Garudeya berceloteh dengan bahasa Jepang, dan Watugunung menembaknya “door!”, roboh.
Beberapa saat perempuan dan tokoh Kala (Jamaluddin Latif) yang ada didalam kotak ketawa. Kala mencecar Watugunung dengan pertanyaan. Watugunung menggambar “senja, kesumat, laut, langit, kekuasaan.” Watugunung terus menggambar entah. Setengah berteriak di atas kotak vertikal bergerak, Kala bergelantungna dan berkata. “Sudahlah. Kau semakin tidak menggambar apa-apa. Hanya batu-batu, tentu…”.(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:38).
Adegan ini memiliki arti bahwa tingkah laku Kala yang selalu mengikuti, membayangi dan mendesak Watugunung menjadikannya marah dan sebagai cikal bakal perkelahian tidak dapat terhindarkan.
5. Adegan Amnesia, Amnesia. Panggung gelap gulita, dari arah kiri panggung muncul kotak vertikal bercahaya netral di dorong oleh seorang lelaki. Di dalam kotak seorang perempuan (Tomomi Yokosuka) bersayap berdiri mengangkang. Di lantai kotak tampak patung kepala di depan kaki perempuan itu. Dari arah kiri seorang perempuan berjalan jongkok (laku dodok) sampai sisi kanan.
Sebuah kotak horisontal berlampu netral berisi seorang lelaki tidur dari arah kanan didorong menuju ke bagian belakang kiri sejajar dengan kotak yang ada di tengah. Disusul kotak vertikal bercahaya netral yang didalamnya bagian bawah ada seorang lelaki tertidur meringkuk dihadapannya ada patung kepala. Di bagian atas ada seseorang berdiri dengan kepala mengkleng diletakkan di sisi kanan yang dibelakangnya tampak kain vertikal menjadi latar belakang. Seorang perempuan diantara dua kotak vertikal bercahaya dan satu kotak horisontal tampak indah di panggung.

Sinta dan Sinta Yang Lain marah
Watugunung Muda dan Bocah-Bocah kena pukulan enthong
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Dari arah kiri muncul seorang perempuan merangkak menuju kiri dan disusul seorang lelaki memakai egrang berjalan. Lalu seorang perempuan berjalan mundur berhenti diantara kotak vertikal, seorang perempuan yang lain di sebelah kanan. Terdengar suara “Kau tidur berminggu-minggu” diulang-ulang. Tokoh dalam kotak horisontal seperti kejang-kejang. Ada sosok patung kepala manusia dan telapak tangan membayangi. Lantas terjadilah dialog. Keduanya memasuki kejadian dan pembicaraan amnesia-amnesia. //Prajurit: Perlahan, diam-diam dan dalam kecepatan yang melumpuhkan ingatan. Mereka memaksakan wajah-wajah asing, tubuh-tubuh asing untuk dikenakan/Sinta yang lain:Tuberculosis…/Prajurit:Dan segalanya tak lagi sama Bhre, bangkitlah. Hamba mohon, hentikanlah waktu./ Watugunung:Pasangkan lentera!/Sinta yang lain:Amnesia…/Prajurit:Bhre, di manakah kutemukan lentera?/Watugunung:Persetan! Bawakan padaku apapun./Sinta yang lain:Amnesia…/Watugunung:Lentera palsu sekalipun. Bawakan padaku lentera./Sinta yang lain:Amnesia…/Watugunung:Persetan (Dialog tidak persis yang ditulis oleh Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:43-45; akan tetapi sudah disesuaikan dengan keperluan pemanggungan untuk mencapai nilai dramatic, hal itu dapat dilihat pada Dokumentasi DVD “Waktu Batu 3 Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta 27-28 September 2004, menit 34.12-35.37).
Watugunung sangat marah pada Prajurit, tampak ia bangkit berdiri dalam kotak horizontal. Sinta dan Sinta Yang lain pun semakin duka ketika Prajurit datang mengabarkan malapetaka. Keduanya berbicara. //Sinta yang lain:Kalau saja kepalamu terbuat dari batu, tentu tak kan mengalir darah itu. Kalau saja waktu….Demi masa, siapa yang akan bersaksi kini?/Sinta:Kau bicara dengan siapa?/Watugunung:Ia datang dari barat dan menjatuhkan senjaku./Sinta:Siapa dia?/Watugunung:Kala. Kau tak melihatnya?/Sinta:Suaranya seperti seringkali aku dengar. Dulu…./Watugunung:Pernahkah kita berjumpa sebelum itu?/Watugunung:Pernahkah kita bercinta sebelum ini?/Watugunung:Pernahkah kita membangun rumah? Pernahkah kita punya anak? Sebelum semua ini?/Watugunung:Pernahkah aku tinggal di dalam perutmu?/Watugunung:Bagaimana kau bisa melakukannya?/Sinta:(Bukankah Kala telah memakan rembulan?/ Sinta yang lain:Dan sehabis bulan kaulah mangsa berikutnya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 46-48).
Usai dialog musik pun terdengar mengeras. Akhir adegan tokoh dalam kotak vertikal paling kanan berdiri melambaikan tangan ke penonton. Prajurit atau Lelaki Berkepala Dandang berdiri diatas kotak vertikal yang ditengah berdiri melampaikan tangan ke penonton. Demikian juga Watugunung, tokoh dalam kotak horisontal pun berdiri ikut melambaikan tangan ke penonton. Dua orang berguling-guling di lantai. Hadirnya tokoh Watugunung dan Watugunung Yang Lain, Prajurit, Sinta, Sinta Yang Lain dan peristiwa datangnya wabah menjadikan duka dan amnesia.
6. Adegan Di Ruang Tunggu. Sinta. Panggung gelap. Suara musik mengalun. Panggung bercahaya remang. Narator samar terlihat hanya patung kepala manusia agak nampak. Narator pun berkisah “…kelelehanan pergilah ke pantai-pantai yang jauh.” //Sinta Yang Lain, Sinta, Durga dan Kali mengenakan busana putih duduk di sofa berderet. Lampu hanya menerangi pada mereka. Sinta Yang Lain dengan suara perlahan berucap.//Sinta yang lain:Hanya gemericik daun jatuh dalam perapian yang membuatku selalu menyeru namamu seperti menyeru nama-nama malam yang tak pernah tahu jalan pulang, tak berharap pulang… Begitu banyak jejak, begitu banyak tanda, begitu banyak tak kumengerti sebagaimana tak berartinya mereka. Begitu banyak burung terbang mengibas-ibas langit, menjauh dari sejarah yang gersang.Duhai Ibu Durga, cerita sedih macam apakah yang bisa mengalirkan anakku di depanku./Sinta:Pada kegelapan yang hingga saat ini terus mengikat kami. Aku tak pemah sungguh-sungguh tahu apa yang terjadi. Bahkan tak kuingat di mana kuletakkan tubuhku, kedua tanganku, saat itu. Lalu apa itu yang berbunyi pecah terbanting dan berserakan?/Patung kepala manusia di sebelah kananya pecah berantakan./Bocah-bocah:Mak, kenapa kau memukulku? (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:49-50).

Adegan Sinta Yang Lain, Sinta, Durga, Kali, di awal
Di Ruang Tunggu Sinta, panggung penuh cahaya biru, romantis.
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 12.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Ketakutan dan kecemasannya Sinta dan Sinta Yang Lain menjelma kemarahan yang tak tertanggungkan seperti Durga dan Kali. //Kali: Hei! Kaukah itu, Siwa, kaukah yang berdiam dalam hujan ini? Hei, belum bosan-bosan juga kau pada tubuhku? Ayo, gigilkan tubuhku! Jangan reda dulu! Lumat tubuhku! Lantakkan aku!/Durga:Oooiii! Kalantaka! Kalanjana! Tutup jalan-jalan! Jangan biarkan seekor burungpun lepas dari kesedihanku! //Panggung memerah, amarah merasuk ke Sinta dan Sinta Yang Lain.//Sinta dan Sinta yang Lain: Tak ada makanan. Kalau mau makan cari saja di jalan! Bapakmu mati dimangsa anjing!Ibu capek ngurusi kamu! Cari saja di jalan! Cari saja di jalan! Cari saja di jalan! Batu !!! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:53-54).
Adegan ini bermakna ketika anaknya Watugunung selalu membayangi Sinta dan Sinta Yang Lain dan Syiwa yang membuat amarah Durga dan Kali sehingga di ruang tunggu kemarahan dan rasa meradang tidak dapat terhindarkan.
7. Adegan Kala Memakan Rembulan. Panggung gelap gulita. Adegan dimulai dengan kotak vertikal paling tengah menyala di dalamnya ada seorang perempuan. Diikuti kotak vertikal sebelah kanan menyala di dalamnya seorang lelaki memakai daster dan kotak vertikal kiri menyala berisi seorang lelaki. Tampak latar belakang tiga kotak disatukan membentuk gambaran peta Indonesia.

Adegan Watugunung diapit dua Perempuan
dialog dengan Prajurit yang ada di atas kotak vertikal.
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 13.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Musik mengalun disisi kanan belakang tiga kotak muncul kepala seorang perempuan. Ketika kepala perlahan tak nampak ketiga tokoh dalam kotak vertikal bergerak membuat sikap tubuh lurus. Di belakang tiga kotak sisi kiri ‘nongol’ tangan dan kepala seorang perempuan nongol dan di sisi kanan kaki mengangkang. Musik terus mengalun, tokoh perempuan dalam kotak mengangkat tangan ke atas dan berdiri satu kaki kiri. Sedang tokoh lelaki di kotak kanan dan kiri merubah sikap tubuhnya lebih rendah. Tokoh lelaki dalam kotak vertikal paling kanan berjalan menuju kanan diikuti tokoh lainnya. Sedang dua tokoh perempuan di belakang tiga kotak vertikal berjalan menuju arah kiri panggung.
Panggung membiru. Dari atas muncul dua manakin perempuan dan di lantai manakin tanpa kepala dirobohkan begitu saja. Orang-orang berlalu lalang (sistim tanda gerak). Seorang perempuan berbaju putih tiduran miring dengan kepala menghadap penonton. Ia pun wicara sendiri. //Suara perempuan dari dalam sebuah rumah yang ditinggalkan Daendels: (Seperti membacakan suratnya yang tak pemah tersampaikan) Aku pingin ganti baju. Aku pingin pakai bajumu. Aku cantik kan, Suster? Anakku saja berulangkali meniduriku. Berarti aku masih cantik kan, Suster?Ia mengira aku pacamya. Ia mengajakku jalan-jalan ke kebun binatang. Dan sepanjang jalan ia tak henti menciumi seluruh tubuhku. Ia tak tahu aku ibunya. Waktu itu aku juga tak tahu bahwa aku ibunya. Di pinggir kandang kijang ia melamarku. Dan aku menerimanya.Lalu kami kawin, Suster. Anak kami dua puluh tujuh. Ah, dua puluh delapan dengan suamiku (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 23). Ketika dialog diucapkan oleh seorang perempuan yang tiduran, di latar belakang panggung disorotkan berbagai gambar multi: tubuh-tubuh perempuan pakaian minim.
Musik terdengar pelan. Kedua manakin yang tergantung rendah ditarik ke atas. Ketiga kotak vertikal yang menyala digeser sehingga tinggal kotak ditengah menyala dan di atasnya tampak seorang Prajurit. Kotak didorong dan ditarik dua perempuan di dalam kotak ada Watugunung yang diapit dua perempuan. Prajurit dengan Watugunung berdialog.
8. Adegan Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal. Panggung bermandikan biru. Seorang perempuan di kehidupan. Dua orang anak perempuan berjalan di pematang dengan menjaga keseimbangan tubuhnya merentangkan tangan biar tidak jatuh. Muncul berurutan dari arah kanan tiga perempuan membawa patung kepala manusia menyala bagai lentera. Lantas berlari menuju panggung sebelah kiri. Panggung masih membiru. Dari arah kiri muncul Watugunung berlari membawa bendera dari kanan Kala dengan kaki egrang muncul.

Adegan Watugunung kalah melawan Kala
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Deus ex Machina dan
Perasaan-perasaan Padamu (WB 3) Teater Garasi Yogyakarta. page 14.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Keduanya saling berkejaran. Pangung mulai memerah. Dari arah kanan dua orang sedang bertinju. Kala merebut bendera yang dibawa Watugunung. Musik semakin mengeras. Bendera ketangkap Kala, Watugunung pun terpental. Yang tinju semakin seru dan akhirnya yang berkostum hijau kalah, di angkat pergi. Kala mengalahkan Watugunung.
Kotak vertikal menyala bersliweran di panggung. Kala ketawa semakin keras musik pun keras.// Orang-orang:Raksasa telah mengalahkan Sang Prabu! Raksasa telah mengalahkan Sang Prabu! Kepalanya hancur terburai! Tubuhnya diseret sepanjang waktu! Padamkan lentera-lentera! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 69).
Kala telah mengalahkan sang Prabu. Peperangan itu akhirnya terjadi. Antara Watugunung dan Wisnu, Sang pemelihara dunia. // Anak: Di mana bulan, Bu?/ Ibu: Tidakkah kau lihat kemarin ia sudah menipis ? Mungkin sudah habis…/ Anak: Siapa yang menghabisinya, Bu?/Ibu: Kala. Musik pun semakin mengeras. Kala mendorong kotak vertikal bergambar peta Indonesia dan Ibu/ Anak:Apakah ia juga akan menghabisi kita, Bu?/ Ibu: Tidurlah. Ibu akan menjagamu, … Ini hanya dongeng. Cuma dongeng../ Anak: Aku takut, Bu. (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 70-72).
Musik Band terus berlangsung. Melancholic Bith mengalun.//Seorang Perempuan:Sambil membawa kepala yang baru. Sepasang tangan yang telah memberimu kehidupan.adalah sepasang tangan yang merebutnya kembali.(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 69). Musik Band terus berdentam. //Seorang Lelaki bersayap:Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang,Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasia, Julungpujud, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Madangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut,Watugunung….(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 72). Musik Band terus menghentak keras. Pertunjukan usai. Adegan Kala dengan Watugunung mengakibatkan peperangan, ketakutan. Sepasang tangan yang telah memberimu kehidupan adalah sepasang tangan yang merebutnya kembali.Ini semua hanya dongeng. Durasi pentas WB 3 sekitar 1 jam 19 menit.
Pertunjukan lakon WB 3, menghadirkan mesin-mesin, teknologi, dunia fashion yang casual bahkan musikalitas pop. Hal ini semakin menegaskan bahwa pertunjukan lebih menguatkan ide besar tentang konsep waktu, transisi dan identitas yang diekspresikan dalam bentuk karya teater oleh tim artistik dan tim produksi secara serius sehingga menghasilkan pertunjukan yang berkualitas dapat diapresiasi oleh penonton.
Setelah memahami pengadegaan naskah dan pertunjukan lakon WB 1, WB 2 dan WB 3 didapatkan bagan sebagai berikut.

Bagan Proses Kreatif Pengadeganan Lakon
Waktu Batu 1, 2, dan 3, bagan dibuat oleh Nur Iswantara.page 16.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Setelah mengkaji penulisan naskah dan pengadegaan pertunjukan lakon WB 1, WB 2 dan WB 3 didapatkan kejelasan yang komprehensif seperti ditunjukkan pada bagan 3.2. Adapun penjelasannya sebagai berikut. Naskah WB (2004) terdiri tiga belas (13) adegan yang meliputi: Prolog; Kecemasan di Tepian Pantai; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Anakku Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Delapan dengan Suamiku; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Saat itu adalah Suatu Masa Ketika Usia Telah Dinamai; Amnesia-Amnesia; Di Ruang Tunggu. Sinta; Mengamuk di Jalan-Jalan; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal; Peperangan dan Dongeng-Dongeng yang Tak Selesai-Selesai; Epilog.
Pertunjukan lakon WB 1 (2002) terdiri duabelas (12) adegan meliputi: Prolog; Perihal Kapal-Kapal Yang Datang dari Balik Laut; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Pemukulan Ketel: Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Penemuan Luka Yang Membekas Nganga di Kepala; Di Ruang Tunggu. Sinta; Mengamuk di Jalan-Jalan; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal; Peperangan dan Dongeng-Dongeng yang Tak Selesai-Selesai; Nama-Nama Diciptakan. Nama-Nama Yang Menunjuk Entah. Dengan durasi pertujkan 1 jam 26 menit.
Pertunjukan lakon WB 2 (2003) terdiri sepuluh (10) adegan meliputi: Prolog; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Anakku Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Delapan dengan Suamiku; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Amnesia-Amnesia; Di Ruang Tunggu. Sinta; Kala Memakan Rembulan; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal; Epilog. Durasi pertunjukan lakon WB 2 adalah 1 jam 26 menit.
Pertunjukan lakon WB 3 (2004) terdiri sembilan (9) adegan meliputi: Prolog; Terjadinya Kala. Terjadinya Durga; Anakku Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Delapan dengan Suamiku; Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik; Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku; Amnesia-Amnesia; Di Ruang Tunggu. Sinta; Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal.; Epilog. Durasi pertunjukan lakon WB 3 adalah 1 jam 19 menit.
Berdasarkan kajian pengadeganan naskah dan pertunjukan lakon WB 1, WB 2, dan WB 3 pada proses kreatif kelompok Teater Garasi Yogyakarta ditemukan hasil bahwa pertunjukan lakon Waktu Batu merupakan sebuah pilot project sebagai langkah awal pijakan membangun sebuah ‘laboratorium penciptaan teater’ yang menetapkan tiga aktivitas: pertama, riset dan eksplorasi; kedua, dokumentasi; ketiga, penciptaan sehingga mampu menempatkan dan mewujudkan naskah dengan pertunjukan lakon Waktu Batu dalam kesetaraan kerja produksi pementasan teater.
Hal ini semakin menegaskan bahwa kerjasama yang baik anggota Teater Garasi Yogyakarta dalam pengelolaan kelompok mampu meningkatkan kualitas SDM anggotanya. Anggota Teater Garasi yang masuk tim produksi dan tim artistik bekerja keras dalam produksi pementasan teater. Artinya ada usaha untuk mewujudkan sebuah ide atau gagasan melalui media seni pertunjukan teater. Dalam usaha tersebut ada beberapa pihak yang terlibat, sesuai dengan kompetensinya, dan langkah-langkah yang sistematis dan strategis dilakukan agar tujuan dari usaha tersebut berhasil secara optimal.
Proses kreatif Teater Garasi Yogyakarta cukup berhasil dalam pengelolaan kelompok, kerja tim produksi dan tim artistik sehingga sangat mendukung dalam mewujudkan pengadeganan naskah dan pertunjukan lakon Waktu Batu sebagai pementasan yang berkualitas dan dapat dinikmati penonton dalam dinamikan teater kontemporer di Yogyakarta khususnya dan di Indonesia pada umumnya. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement