Sinta menemu bekas luka di kepala Watugunung dalam
Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (WB1) Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot untuk keperluan Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Yogyakarta, suaraglobal.news. 6.Adegan Menggambar Bulan Menari Dibawah Kakiku.Adegan ditandai kehadiran tokoh Kala (Jamaluddin Latif) berdiri tegak dengan satu kaki kanan, tangan kanan diangkat tinggi keatas, kaki kiri ditekuk dan tangan kiri menyilang di depan perut. Dada terbuka, celana panjang warna putih. Musik perkusi bergema.
Segala gerak-gerik Watugunung diikuti Kala dan selalu ditanya menggambar tentang apa. Kala pun bertanya, “Kau sedang menggambar apa?” dijawab Watugunung “Siang.” (Sembari menggambar entah pada udara).89 Watugunung mengeja kata-kata yang tadi untuk menjawab pertanyaan Kala. //Kala: Bre….Bre…./Kau sedang tidak menggambar apa-apa./Kau sedang tidak memetakan apa-apa./Hanya batu-batu, tentu….(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:37-38).
Pada akhir adegan Kala terus mencecar dengan bahasa verbal sedangkan Watugunung lebih banyak dengan gerak-gerik bagai orang bisu yang cenderung berbahasa isyarat. (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:41.91). Cahaya kuning kuat menyorot Watugunung yang kesakitan memegangi kepalanya. Durasi adegan ini sekitar 8 menit 36 detik. Watugunung yang luka tak sedang menggambar apa-apa! Watugunung tak sedang memetakan apa-apa! Hanya batu-batu, tentu! Watugunung menggambar setiap nyerinya, setiap inginnya, setiap yang menakutkannya.

Sinta menemu bekas luka di kepala Watugunung dalam
Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu
(WB1) Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot untuk keperluan Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 2.(Dokumentasi Nur Iswantara)
7. Adegan Penemuan Luka Yang Membekas Nganga di Kepala. Adegan dimulai dari tokoh-tokoh bergerak lambat. Musik berirama padang pasir ditimpa bunyi melengking dan senandung perempuan mendayu, merdu. Tokoh-tokoh pun tetap bergerak lambat dilingkupi warna memerah. Narator berkata ”Kelelahan, pergilah bersama angin ke pantai-pantai yang jauh…” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:41). Dialog ini diulang berkali-kali. Di atas kura-kura besar Sinta Yang Lain duduk, di pangkuannya Watugunung Yang Lain tidur tetapi bergerak-gerak diterangi cahaya kuning. Sedang diatas perahu yang diletakkan miring Sinta duduk diujung dan Watugunung tidur membujur diterangi cahaya kekuningan. Sinta yang masih membelai kepala Watugunung, menemukan luka yang membekas nganga di kepala, seperti pada Kain anak Adam dan terkesiap. Ia meraba kepalanya sendiri, meraba ingatan yang tak pernah enyah, yang tak bisa pergi hanya dengan sedih, hanya dengan tangis (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:42-43).
Melalui petunjuk pemanggungan dan akting tokoh Sinta memangku Watugunung ditemukanlah luka yang membekas di kepala Watugunung. Tiba-tiba ada suara derap kaki. Dua orang dengan pakain hijau mirip dokter, mulutnya ditutup. Keduanya mendekati Watugunung yang tidur di atas perahu. Kemudian derap kaki bagai tentara baris pun pergi. Sinta yang lain: (Sembari memeluk anaknya yang dipenuhi rasa takut, menyebut nama-nama penyakit yang dating dan mengusirnya enyah)/ Influenza…/Cacar…/ Disentri…/Tuberculosis…// Prajurit: Wabah ini, wabah ini meracuni pikiran orang-orang./ Wabah ini membunuh mereka, dan mereka mati/ sembari tertawa kegirangan (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:43-44). Tokoh Watugunung pada adegan menggambar bulan menari di bawah kakiku lebih banyak berbahasa isyarat ketika menjawab pertanyaan tokoh Kala. Sistim tanda mimik, mime, bahkan sering disebut sebagai pantomim merupakan seni gerak tubuh yang mengutamakan wajah ekspresif melalui bahsa isyarat (Nur Iswantara, Wajah Pantomim Indonesia Dari Sena Didi Mime Hingga Gabungan Aktor Pantomim Yogyakarta, Yogyakarta: Media Kreativa,2007:5; mimik atau mime sebagai sistim tanda yang terkait dengan komunikasi tubuh dan gerak dapat otonom, Nur Sahid, 2004:86).
Di atas kura-kura besar95 Sinta Yang Lain memangku Watugunung Yang Lain yang tidur. Ia mengangkat ikatan rumput kalanjana untuk mengusir wabah penyakit, diterangi cahaya yang menyoroti berwarna kuning. Suasana semakin gawat, wabah telah menyebar. Ada suara ketawa yang membahana mengguncang alam. Bahkan seorang prajurit memohon menghentikan waktu pada Watugunung. Akan tetapi wabah menyebar. Ketika tersadar dari amnesia. Watugunung dengan emosional bangkit berdiri di atas perahu dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi menunjuk ke langit.

Narator menceritakan Sinta yang berdiri di atas batu dalam
Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu
(WB1) Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot untuk keperluan
Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 4.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Sikap penuh kemarahan megguncang perahu miring. Suara ketawa ‘wabah’ semakin keras bergema. Tubuh-tubuh kejang, meregang-regang. Sesaat sepi. Watugunung memegang kepalanya sambil membungkuk di atas perahu miring. Cahaya merah memenuhi ruang. Watugunung membungkuk, seseorang dalam perahu memberikan potongan kepala yang berserak kepada Watugunung. Watugunung pun turun membawanya pergi.
Musik bagai pantulan suara bersambung. Perempuan menyanyi mengharu biru. Durasi adegan ini sekitar 9 menit 13 detik. Kelelahan pergilah bersama angin ke pantai-pantai yang jauh! Raja Watugunung hanya bisa rebah di pangkuan istrinya Sinta, gigil dan demam. Saat itulah Sinta menemu tanda luka dari masa lalu di kepala suaminya. “Lalu siapa kamu?” “Aku istrimu!” “Aku ibumu!”
8.Adegan Di Ruang Tunggu. Sinta. Musik pelan, bunyinya memantul-mantul di semesta. Narator berbaju warna hijau, menuju area permainan, dari arah lain Sinta pun muncul. Narator jalan, berkisah kemudian menelungkupkan perahu yang tadi miring bersama Sinta. Perahu telungkup sebagai batu an atau gunung. Sinta dengan mata tertutup kain hitam pun naik di atas batu itu. Panggung bercahaya kuning. Di atas Kura-kura Sinta Yang Lain matanya ditutup kain hitam berdiri. Dialog dengan suara merdu. //Sinta Yang Lain: Karena ia tak juga pulang aku akan mencarinya! Aku/ berlari dan mengejarnya dengan tubuh yang / kupinjam dari dewa-dewa, membelah kegelapan/ yang sempurna, tak kan kubiarkan ia pergi, tak kan/ kubiarkan ia berlari sendiri//. Dialog pun kembali perlahan. Suara musik bertalu-talu. Durga menyeruak gelap. Cahaya merah menyinari. Durga memegang Kalanjana. Suara parau berat. Tiupann seruling menyusupi malam. //Durga: Namun malam memusuhiku./Suaranya kering dipenuhi batu yang terusir dari /gunung-gunung. Sebab ia adalah Durga./ Muncul Kali dengan suara lebih parau dan berat berucap.// Kali: Hanya seribu tahun, kau ingat! Kau ingat yang kaukatakan padaku saat itu? “Uma! Jadilah kau istri abadi sumpah serapah! Jadilah kau ibu para siluman! /Jadilah kau penguasa belukar gelap berisi setan dan haram jadah!” /Lalu terbangun dari tidurku malam itu, dengan tubuh yang tak kukenali. /Dilaknat sampai suatu kali, jika kau berkendak, atau karena cuaca sedang baik, kau akan memaafkanku./ Seluruh langit bisa saja sekutumu,/ tapi tak ada satupun yang akan membuatku melupakan semua celaka./Celakalah kau, Syiwa. Apa yang sedang kau lakukan? /Apa yang telah aku lakukan? Seribu tahun ini tumbuh lagi kini, dalam benci dan tak ternamai!// Durga: Oooiii! Kalantaka! Kalanjana! Tutup jalan-jalan! / Jangan biarkan seekor burungpun lepas dari kesedihanku! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran
Penggalan adegan Durga dan Kali menegangkan. Suaranya parau, cahaya panggung memerah. Musik perkusi gamelan berdentang. Kali memain-mainkan ‘kalanjana’ memuncak pada penggal dialog “Oooiii! Kalantaka!” muncullah raksasa Kalantaka dan dialog “Kalanjana” muncullah raksasa Kalanjana. Ketika ‘kalanjana’ dikibaskan kedua raksasa pergi. Kali mengutuk Syiwa. Cahaya meredup. Durasi adegan ini sekitar 10 menit 38 detik. Di ruang tunggu, dimana berdiam Sinta, Sitawaka, Durga dan Kali. Menunggu yang tak kunjung datang. Sementara hujan turun demikian deras menghapus setiap bekas. Ia tak juga datang. Anaknya tak juga datang. Suaminya tak juga datang. Yang meneduhkannya tak juga datang.
9. Adegan Mengamuk di Jalan-Jalan. Adegan dimulai dari tokoh Kali yang mengucapkan dialog “Kalau mau makan cari saja di jalan!”. Disusul beberapa pemeran meroda, bagai batu bergelundungan. Tokoh Kali lenyap di gelap malam. Cahaya panggung pun merah. Sinta dan Sinta Yang Lain berdiri. Di tangannya membawa ethong, mata keduanya tertutup kain hitam, tubuhnya berguncangan. Di latar panggung sorot multimedia dengan berbagai gambar orang-orang panik. Batu bergelundungan bahkan mengenai tubuh. Keduanya berbarengan berteriak keras: “Batu…!” //Seseorang: Hei, kenapa gelap sekali?/Seseorang: Pukul sesuatu!/ Seseorang: Hei, kenapa gelap sekali?/ Seseorang: Tutup jalan-jalan?/ Seseorang: Kamu dimana?/ Seseorang: Di sini! Seseorang: Nyalakan lampu! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 54-55).
Beberapa saat senyap. Sinta diatas batu berdiri, membawa enthong dengan mata tertutup kain hitam pun mengeja nama-nama: Tritresta, Watugunung (Panggung gelap gulita), Gutaka, Sawela, Gutama, Dasabahu, Sawantana, Abiyasa, Pandu Dewanata (Beberapa orang membawa lentera nyala, bergerak mendekati Sinta.Cahaya terang. Sinta pun diberi satu lentera), Suyudana, Puntadewa, Parikesit, Udayana, Angling Darma, Jaya Misena, Puspa Jaya, Puspa Wijaya, Kusuma Wicitra, Aji Nirmala, Bisura Campaka, Angling Dria, Jaya Bava, Sela Prawata, Jaya Langkara, Dewa Kusuma, Lalean, Banjaran Sari, Mudaningkung, Mudasari, Raden Pankas, Ciung Wanara, Prabu Anom, Udaningkung, Prabu Kenya, Lembu Amisani, Brama Tunggung, Brawijaya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:57-59).
Cahaya kuning hanya menyorot di Sinta. Orang-orang membawa lampu atau lentera. Suara musik ngungkung bagai mesin ditimpa suara pukulan palu. Durasi adegan ini sekitar 3 menit 32 detik. Orang-orang panik, berteriak dan berlarian. Tapi tak ada yang dapat menghentikan. Sinta, Sitawaka, Durga dan Kali menerabas hujan deras. Segalanya memang berbatas demikian juga kekuatan untuk menahan rasa cemas. Mereka mengamuk di jalan-jalan. Tidak ada yang dapat menghentikannya. Kekacauan telah melanda tepian pantai yang jauh. Orang-orang pun panik, berteriak dan berlarian. Tidak ada yang dapat menghentikan.

Sinta mengeja nama-nama dalam gelap beberapa orang membawa lampu
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu
(WB1) Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot untuk keperluan
Disertasi PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
10. Adegan Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal. Raksasa itu menjelma kapal-kapal. Kapal-kapal itu merapat menjelma mesin-mesin. Adegan bergerak dari suara Sinta yang masih mengeja nama-nama dari adegan sebelumnya. Cahaya multimedia pun berkilatan. Orang-orang pun berdialog menunjukkan kehadiran kapal-kapal secara jelas. Kemudian disusul dialog lagi.
// Seseorang: Kita akan kalah kali ini, bukan begitu?/ Seseorang: Perasaanku mengatakan demikian./ Seorang ibu yang berteriak memanggil anaknya: Kaukah yang berada di kapal-kapal itu anakku? Kaukah yang melambai-lambaikan tangan itu? Tapi kenapa rambutmu terbakar dan matamu biru? Tepat di belakang orang-orang itu, seorang laki-laki yang telah kehilangan senjanya tegak berdiri di atas kura-kura. Salah seorang dari para pembawa lentera, berbalik dan menghadap./ Prajurit: Bhre, kapal-kapal itu segera merapat. Hamba terpaksa menyusun peta penyelamatan./ Watugunung: Kemana?/ Prajurit: Ke gunung./ Watugunung di atas kura-kura lelah menatap laut (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:63-64).
Dialog Seseorang, Seorang ibu yang berteriak memanggil anaknya, Prajurit, Watugunung (sistim tanda kata/bahasa dan nada), dan Watugunung yang duduk kelelahan di atas kura-kura menatap laut (sistim tanda gesture). Kemudian dilanjutkan dialog. //Prajurit: Maaf Bhre, kita tidak punya waktu lama lagi./ Watugunung: Kapan?!/ Kapan aku pemah memilikinya? Kapan ia pemah berpihak padaku? ….Bagaimana? Waktu memangsaku semenjak hari pertama jiwaku dititiskan kembali. Jika saja bias kubunuh ia. Jika saja bisa kubunuh ia. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mencapai puncak gunung? Tidak selamanya! Tidak seribu kali selamanya! Masihkah aku harus berlari? Bersembunyi seperti pengecut. Hei, Kala. Hei, hadapi aku! Jika aku pergi, apakah masih ada yang tersisa padaku? Aku adalah penguasa gunung-gunung, penguasa pusat dunia! Dan aku, hei kau mendengarkanku? Aku tak bisa mati, tak bisa mati. Panggilkan, sang pemasang matahari! (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:64-650.
Dialog Watugunung dengan Kala dan segala gerak-gerik Watugunung selalu dibayangi Kala. Akhirnya Watugunung meminta ”Panggilkan, sang pemasang matahari.’ Tangan menunjuk langit dan suara mesin melengking disusul keleneng gamelan. Adegan ini berlangsung kurang lebih 7 menit 5 detik. Mesin-mesin itu semakin dekat dan dekat menjelma kekalahan. Kekalahan yang sudah jauh hari terbayang kini datang dan tak terelakkan.

Watugunung perang melawan Kala di atas gunung
dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu
di Ruang Tunggu (WB1) Teater Garasi Yogyakarta. page 8.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
11. Adegan Peperangan dan Dongeng-Dongeng yang Tak Selesai-Selesai. Adegan diiringi irama keleneng gamelan. Watugunung berhadapan Kala di dekat batu. Keduanya lantas melompat sambil menari gagah. Kemudian beradu kekuatan tangan, dilanjutkan mengadu keperkasaan, berhadapan berangkulan saling mendorong. Tiba-tiba suara terompet tanda peperangan pun burbunyi. Keduanya melepas rangkulan bergerak mundur untuk ancang-ancang melompat ke atas batu saling menyerang.
Kala kena pukul, Watugunung terlempar ke bawah. Kala kembali menyerang Watugunung. Di background panggung sorot multi media menggambarkan berbagai tulisan ilustrasi peperangan dalam komik. Kura-kura ninja perang lawan dua ksatria seperti permainan play station (PS). Di atas batu dan atau gunung Kala mencekal kepala Watugunung memutarnya, putus terlempar. Seorang perempuan menyerahkan kepada baru kepada Kala yang berdiri angkuh. Kala menerima potongan kepala, mengamati dengan gaya robot. Seorang Perempuan itu pun berkata. //Seorang Perempuan: Sepasang tangan yang telah memberimu kehidupan adalah sepasang tangan yang akan merebutnya kembali (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:69).
Kejadian menyerahkan kepala baru oleh Seorang perempuan berulang sampai empat kali. Kala selalu menghancurkan. Semua bergaya akting seperti robot-robot. Perempuan itu tak datang lagi. Kala pun ketawa keras-keras. Orang-orang pun panik. //Orang-orang: Raksasa telah mengalahkan Sang Prabu! Raksasa telah mengalahkan Sang Prabu! Kepalanya hancur terburai! Tubuhnya diseret sepanjang waktu! Padamkan lentera-lentera! // Di kaki sebuah gunung (diatas batu/perahu terbalik) yang tak lagi bisa menawarkan ketinggian dan rasa aman. Tubuh lelaki yang terkalahkan pelan-pelan membatu Dongeng-dongeng masa kecil, pertanyaan-pertanyaan yang lelah sebelum lidur, seorang perempuan yang menyanyikan lagu-lagu dengan syair yang datang dari balik laut (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:69).
Seorang Ibu yang duduk diatas gunung dan atau batu menyanyi disamping Watugunung untuk menenangkan seluruh kekacauan yang mendekam dalam ingatannya. Di sisi lain Seorang Ibu lain memangku anaknya berkata. // Anak: Aku takut, Bu./ Ibu: Jangan menangis. Tak apa, semuanya hanya dongeng. Hanya mimpi buruk./ Anak: Aku takut, Bu. Aku takut menjadi batu……..slap, kindje, slap….(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 70-72).
Ketika dialog Ibu dengan Anak pada penggal “Ini hanya dongeng….” hadir suara merdu yang menambah suasana adegan semakin hidup. // Seorang perempuan: (Menyanyikannya dalam lagu pesisir pantai) Hei, Penyu bermata biru/ Berenang, renanglah kepadaku /Bawakan surut laut itu/ Bawa aku bermain bersamamu/ Ayo kawan, mari bersama-sama/ Membuat taman bunga dan kupu-kupu/ Sambil menari bersuka ria/ Tuk hilangkan hati sedih selalu (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 59-60).
Ibu duduk diujung kaki Watugunung yang tidur terlentang membatu diatas gunung dan atau batu. Ibu mengutarakan semua isi perasaanya. //Ibu: Pada laki-laki yang duduk membatu itu/ aku telah menangis sepanjang tiga puluh minggu/ dari tangismu mengalir hujan yang mendera-dera/ seluruh penjuru, seperti hasrat cintaku yang tak habis-habis tapi ia bergeming membatu…kupanggil namanya tak sedikitpun ia bicara duduk ia di singgasananya di atas gunung/ para raja / tiga puluh minggu yang basah dan sedih ini/ hanya ada perasaan yang tumbuh lalu/ berkembang lalu membentang seluruh lembah, lalu layu lalu mati. (Perempuan pun perlahan berdiri sambil meneruskan dialog) lalu biji-biji yang ditebar angin, benih-benih baru/ bermunculan lalu berkembang lalu menyebar/ seluruh lembah lalu mati (Dialog tokoh Ibu ini hasil dari transkrip pertunjukan lakon WB 1 pada menit ke 60-63.31’ tidak ditemukan pada teks pertunjukan Waktu Batu dalam buku tulisan Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Ugoran Prasad, 2004).
Perempuan itu pun berdiri merentangkan kedua tangannya disusul musik yang mencekam. Muncul Durga berpakain warna merah, rambut berantakan, ditangannya membawa senjata ‘kalanjana’ dan berkata. // Durga: Namun malam memusuhiku/ Aku yang selalu menyiapkan tungku agar malam/ tak kedinginan, tak mendapat balasan yang sepadan./ Tak pernah sekalipun kukecewakan malam, tapi / malam malah membenciku. Hujan yang lebat (Datang hujan, air benar-benar jatuh membasahi Ibu./ Durga tetap berbicara dengan suara parau)/ menghancurkan bau tubuh anakku malang,/ merajamnya dengan deras, tak menyisakan apa-apa / padaku, selain kesunyian yang berada di sana, tersesat bersamaku (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 52).

Watugunung lelah, duduk di atas kura-kura menatap
lautan lepas dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (WB1) Teater Garasi Yogyakarta. page 6.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Bersama berakhirnya kalimat Durga, Watugunung pun membatu. Ibu masih sempat menenangkannya. Hujan turun dari langit. Ibu basah kuyub. Menyebut nama-nama, yang terkutuk bersamanya. // Ibu: Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasia, Julungpujud, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Madangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut, Watugunung…(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:72). Ibu kemudian menangis bahkan menjerit dan mengguncang kerajaan langit. Berakhirnya dialog Ibu maka adegan ini pun berakhir. Durasi adegan ini kurang lebih selama 10 menit 36 detik. Seribu tahun kematian raja-raja, kehancuran gunung-gunung dan terampasnya tepian pantai. Lalu kapal itu membunyikan peluitnya. Sekali dan sepertinya tak mau berhenti. Hanya tinggal dongeng-dongeng.
12. Adegan Nama-Nama Diciptakan. Nama-Nama Yang Menunjuk Entah. Adegan ini merupakan adegan terakhir pada pertunjukan lakon WB 1. Hujan turun membasahi Ibu. Suara gesekan biola semakin menambah sendu. Ketika Ibu mengucapkan akhir dialog “Watugunung” dipanggung dari gelap malam suara parau Durga memecah malam. Terdengar suara pembaca teks berbahasa Belanda (Ibu Anggi Minarni).
//Suara: Twee zeer belangnjke feiten hebben de toestand van / de Archipel ten sterkste beinvloed: het verdwijnen / van de invloed van het Hindoeisme in verband met / het opdringen van de Islam, en de vernietiging van / de Oosterse zeehandel door de Westeriingen, met / name do Portugezen./Sedert de Islam zich steeds krachtiger in / Voor-Indie deed gelden (na 1200 vooral), Bagdad na/ Zijn verwoesting in 1258 door de Mongolen meer en/ meer vervangen werd door Kairo als handelsmarkt / voor Oosterse waren, werd het aandeel, dat de / Hindoe’s in de handel op de Archipel bezaten, /steeds geringer. In de loop van de tijd werd de / handelsweg van de Middellandse Zee tot de / Molukken geheel Moslims en de Zuidelijke zeeen /werden enkel door Islamietische grrothanddelaars bevaren….(Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 1-2. Untuk memahami peneliti dibantu di-Indonesia-kan: oleh Ibu Vini, atas rekomendasi mbak Anggi Minarti, Kepala Karta Pustaka Yogyakarta, sebagai berikut: “Dua fakta yang sangat penting telah memberi pengaruh yang sangat kuat terhadap situasi di Nusantara: hilangnya pengaruh Hindu sehubungan dengan masuknya Islam dan hancurnya perdagangan laut bangsa Timur oleh orang-orang Barat, yaitu oleh orang Portugis. Sejak Islam menjadi semakin kuat di Hindia Awal (terutama setelah tahun 1200), peran Bagdad sebagai pusat perdagangan bangsa-bangsa Timur setelah kehancuran pada tahun 1258 oleh orang-orang Mongol semakin digantikan oleh Kairo. Maka peran sebelumnya dimiliki oleh pedagang-pedagang Hindu dalam perdagangan di Nusantara, menjadi semakin kecil. Seiring dengan berlalunya waktu, jalur perdagangan dari Laut tengah sampai ke Maluku dan laut-laut di Selatan hanya dilayari oleh saudagar-saudagar Islam….”).
Diantara kura-kura raksasa dengan perahu, batu, gunung ada Lelaki duduk dengan pakain batik. Di hadapannya ada anglo, perangkat pembakar kemenyan. Ia merapal mantra.. //Lelaki yang duduk di sudut: Adam dan Hawa berputra Nabi Sis. Nabi Sis dan Sitti Mulat berputra Sayid Anwar dan Sayid Anwar. Sayid Anwar berputra Sultan Kinan. Sultan Kinan berputra Sultan Manail. Sultan Manail berputra Sultan Barat. Sultan Barat berputra Kanjeng Nabi Idris. …Kanjeng Maulana Iskak berputra Sech Wali Lanang. Sech Wali Lanang berputra Sang Prabuatmata. Sang Prabu Satmata berputra Susuhunan Giri Kedua. Susuhunan Giri Kedua berputraPangeran Saba. Pangeran Saba berputra Seorang Perempuan yang dikawini Kiai Ageng Mataram.Seorang Perempuan istrinya Kiai Ageng Mataram berputra Panembahan Senapati Ingalaga Mataram (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 3-5).
Suara pembacaan teks bahasa Belanda dengan suara rapal mantra seakan berlomba bahkan tumpang tindih (overlaping). Di latar panggung (background) berbagai gambar multimedia seperti orang berlari, gandala diputar terus-menerus. Musik pun sangat riuh dengan berbagai dentingan dawai gitar dan sound-effect yang begitu gaduh. Pembacaan teks bahasa Belanda lebih dominan pada penggal “…Islamietische grrothanddelaars bevaren….” lampu panggung gelap.
Seluruh durasi pertunjukan WB 1 selama 1 jam 30 menit. Pertunjukan WB 1 menunjukkan tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi yang dapat dibaca. Hanya jalan panjang terkapar telanjang dan jejak luka di sekujur tubuhnya. Hanya kesunyian melayang-layang tak bisa pulang. Hanya yang kalah dan terusir, melata di lereng-lereng gunung, melambai-lambai pada jendela terbuka rumah mereka yang tinggal rawa-rawa. Di akhir pertunjukan merupakan sebuah ruwatan budaya dalam karya teatrikal yang penuh nilai artistik. Menikmati pertunjukan lakon WB 1 tampak totalitas aktor dan tata artistik yang meyakinkan penonton.

Ibu dengan basah kuyub, menangis, menjerit dan
mengutuk kerajaan langit dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu,
Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (WB1) Teater Garasi Yogyakarta. page 10.
(Dokumentasi Nur Iswantara).
Suara tepuk tangan penonton bergemuruh. Lampu menyala terang. Sutradara beserta semua awak pertunjukan, masuk panggung, hormat penonton. Penonton bertepuk. Awak panggung kebelakang, angkat kedua tangan hormat lagi. Tepuk masih gemuruh. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].


Komentar