L
Memuat...
UMUM

Guru Besar Prodi Teater FSP ISI Yogyakarta Memaknai Purnabakti Bukan Sebagai Akhir, Melainkan Reboot

Yudiaryani saat berakting menyutradarai pergelaran teater kolaborasi Indonesia-Austria dalam lakon “Oidipus Tyrannos” (Sophocles), dalam rangka Dies Natalis ISI Yogyakarta ke-23, tahun 2007.

Bantul//suaraglobal.news. Prof. Dr. Yudiaryani, M.A. lahir di Jakarta, 30 Juni 1956 seorang akademisi dan Guru Besar Teater di Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Prof Yudiaryani home base di Prodi Teater, beliau pernah menjabat Ketua Jurusan Teater, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.
Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A, lahir di Jakarta tahun 1956. Pendidikan: Strata 1 (Dra) Sarjana Sastra Perancis UGM. Strata 2 (M.A) Theatre and Film Studies, University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia. Strata 3 (Dr) Seni Pertunjukan dan Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Guru Besar Teater di ISI Yogyakarta. Jabatan/Pangkat/Golongan: Guru Besar/Pembina Utama / IVe.
Ia dikenal luas sebagai sutradara, peneliti, dan penulis buku. Ia juga aktif mementaskan teater, dan ikut memprakarsai berbagai festival teater perempuan, sekaligus pendiri komunitas bernama Lembaga Teater Perempuan (LTP). Peneliti dalam beberapa program hibah Penelitian DRPM Kemristekdikti. Pemakalah dan Penulis Artikel di Jurnal Seni dan Kebudayaan. Pembicara di seminar di dalam negeri dan luar negeri. Penulis buku teater, penerjemah buku ajar teater, dan penerjemah naskah drama.
Mnjelang masa purnabakti Prof. Dr. Yudiaryani, M.A. menulis buku BEYOND THE STAGE: DRAMATURGY REBOOT.

Dramaturgi sebagai Praktik Pengetahuan & Era Intermedial. Setelah hampir empat puluh tahun mengabdi di ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Yudiaryani, M.A. memaknai purnabakti bukan sebagai akhir, melainkan reboot—jeda untuk menengok kembali perjalanan pemikiran dan membuka kemungkinan baru.
Berangkat dari pengalaman mengajar, menyutradarai, meneliti, dan berkarya, ia melihat dramaturgi tidak lagi sekadar tata kelola pertunjukan, melainkan sebagai cara berpikir dan praktik produksi pengetahuan. Dalam era intermedial, tubuh, ruang, cahaya, bunyi, media digital, arsip, teknologi, dan kecerdasan artifisial membentuk makna melalui relasi. Melalui pendekatan Practice as Research (PaR), latihan menjadi eksperimen, improvisasi menjadi metode, dokumentasi menjadi arsip pengetahuan, dan pertunjukan menjadi argumentasi artistik.
Selain buku Prof. Dr. Yudiaryani, M.A. akan menyutradarai pertunjukan Desa Di Mulut Kala naskah Dr. Hirwan Kwardhani. Desa Di Mulut Kala Posthuman dan Tragedi Tanah yang Ditelan Kemajuan “Aku melahirkan manusia. Tetapi manusia menciptakan Kala.”

Demikian Suara Bumi membuka kisah Desa di Mulut Kala, sebuah pertunjukan yang menghadirkan kembali sosok Kala dalam tafsir yang berbeda. Kala bukan lagi sekadar raksasa mitologis, pemangsa waktu, atau simbol kehancuran. Kala menjelma menjadi sesuatu yang diciptakan manusia sendiri: sebuah sistem yang tumbuh dari pertemuan teknologi, kekuasaan, kapital, birokrasi, militerisme, dan ketamakan.
Di sebuah desa, tanah bukan sekadar tempat berpijak. Tanah adalah tubuh kehidupan. Di sanalah ari-ari manusia ditanam, padi tumbuh, leluhur diingat, dan kebudayaan diwariskan. Namun ketika tanah mulai dipandang sebagai komoditas dan desa harus berhadapan dengan logika pembangunan, perlahan-lahan kehidupan terdesak ke dalam mulut Kala.

Bayangan Kala hadir bukan sebagai monster dari dunia gaib. Ia adalah bayangan yang tumbuh dari manusia sendiri—dari ketamakan, ketakutan, kebisuan, dan sikap menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang biasa. Kala bekerja ketika manusia memilih diam; Kala membesar ketika tanah dijual atas nama kemajuan; dan Kala menjadi kuat ketika kebudayaan kehilangan daya hidupnya.
Di tengah situasi tersebut, hadir tokoh-tokoh perempuan yang membawa berbagai wajah pengalaman manusia: tubuh yang dikomodifikasi, tanah yang dirampas, tradisi yang dimanipulasi, migrasi yang dipaksakan, sekaligus harapan yang terus dipertahankan. Mereka menjadi penjaga ingatan dan kehidupan ketika dunia di sekeliling mereka terus berubah.
Desa di Mulut Kala merupakan pertemuan antara mitologi Jawa dan kegelisahan Indonesia kontemporer. Teknologi tidak ditempatkan sebagai musuh, tetapi dipertanyakan ketika ia kehilangan dimensi etik dan kemanusiaannya. Melalui dramaturgi visual dan intermedial, pertunjukan ini mengajak kita melihat bahwa Kala tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berubah bentuk.
Pada akhirnya, pertunjukan ini tidak semata-mata berbicara tentang tanah, pembangunan, atau konflik antara desa dan kekuasaan. Ia mengajak kita bertanya: Ketika segala sesuatu dapat diperjualbelikan, masihkah manusia mampu menjaga tanah? Ketika kebudayaan berubah menjadi komoditas, masihkah kita mampu menjaga ingatan? Dan yang paling penting— mampukah kita mengenali Kala ketika ia tidak lagi hadir sebagai raksasa, tetapi sebagai sistem yang bekerja diam-diam di sekitar kita?
Desa di Mulut Kala mengingatkan kita bahwa mempertahankan tanah pada akhirnya bukan hanya mempertahankan ruang hidup, tetapi mempertahankan kemanusiaan itu sendiri. Sebab, seperti pesan Suara Bumi: “Belajarlah dari tanah. Jika kau harus menjadi kuat, jadilah kuat seperti bumi: diinjak, tetapi tetap menumbuhkan kehidupan.”
Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A, merupakan Dosen Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Pengajar, Penguji, dan Pembimbing Program Penciptaan dan Pengkajian Pascasarjana ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, ISI Surakarta, dan Sekolah Pascasarjana UGM. Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI PPRA XLIX 2013.

Board Members of Asia Pasific Bond (APB) for Theatre Schools Festival and Directors Meeting. Sebagai Pimpinan dan Sutradara di komunitas Lembaga Teater Perempuan (LTP) Yogyakarta. Juri dan instruktur workshop teater modern. Pimpinan Produksi Muhibah Seni Pertunjukan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta ke beberapa negara sahabat, seperti Taiwan, Singapura, India, Cina, Thailand, Malaysia. Karya Buku: Panggung Teater Dunia, Pustaka Gondho Suli, 2002; WS Rendra dan Teater Mini Kata, Galang Pustaka, 2015; Karya Cipta Seni Pertunjukan, JB Publisher, 2017; Melacak Jejak Pertunjukan Teater, BP ISI Yogyakarta, 2019; Karya Teater: Pilihan Pembayun, Konde Yang Terburai, Pusaran, Dialog Antigone. *** [Penulis & Fotoeditor: Nur Iswantara].

BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.