Bantul // suaraglobal.news. Bertempat di Teater Arena Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Rabu tanggal 29 Juli 2026 jam 08.00 – 12.00 WIB Residency Artist dan Workshop FSP – Australia – Project Eleven, bertajuk Mengakses Pendanaan Internasional: Strategi dan Praktik Bagi Seniman Pertunjukan Indonesia. Narasumber Mas John Cheong-Holdaway Gamelan DanAnda Australia dan Mbak Dewi Sartika Bukit, Director Project Eleven Indonesia moderator Evi Putrianti, S.Sn., M.Pd., Gr., Dosen Prodi Pendidikan Seni Perpuntukan (PSP) FSP ISI Yogyakarta.
Berbeda dengan sesi sebelumnya yang menitikberatkan pada identitas budaya dan diplomasi seni, pembahasan kali ini berfokus pada aspek strategis dalam mengubah gagasan artistik menjadi proyek yang layak didukung oleh lembaga pendanaan internasional. Kali ini Mas John memaparkan dan menegaskan bahwa penyelenggaraan sebuah pertunjukan seni bukan hanya persoalan kreativitas, tetapi juga kemampuan mengelola proyek secara profesional.
John Cheong-Holdaway founder Gamelan DanAnda Australia merupakan Sarjana Ilmu Komputer/Diploma Bahasa Modern (Bahasa Indonesia) Universitas Melbourne (2000 – 2004), Magister Manajemen (Ekonomi), Universitas Melbourne (2010 – 2011) dan Program Kepemimpinan Asialink, Asialink (2023). John seorang musisi, produser kreatif, dan pemimpin seni yang berpengalaman dalam penyampaian proyek dan program artistik mulai dari pembuatan dan penggalangan dana, hingga pelaksanaan dan pertanggungjawaban.
“Saya berpikir mendalam tentang bagaimana membuat proyek yang mendorong batas-batas dan menciptakan platform untuk inklusi radikal serta kolaborasi antarbudaya dan antargenerasi. Selain pengalaman musik saya yang luas, saya memiliki banyak pengalaman di bidang keuangan, akuntansi, kebijakan, manajemen proyek, tata kelola perusahaan, dan strategi, setelah menghabiskan 18 tahun sebagai ekonom yang bekerja di bidang kebijakan infrastruktur dan sebagai konsultan yang memberikan nasihat di berbagai industri. Saya dikenal sebagai komunikator yang jelas lintas budaya, disiplin ilmu, dan bahasa, serta memiliki semangat untuk berkolaborasi.” ungkap John dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Menurutnya, seni membutuhkan sumber daya manusia, perencanaan, dan dukungan finansial yang matang. Oleh karena itu, setiap seniman perlu memahami bahwa tidak ada pendekatan yang berlaku untuk semua lembaga pendanaan. Setiap funder memiliki karakteristik, prioritas, dan tujuan program yang berbeda, sehingga pelamar harus mampu membaca kebutuhan tersebut sebelum menyusun proposal.
Mas John membagikan sejumlah strategi penting dalam proses pengajuan hibah. Ia mendorong peserta untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi penolakan, melainkan menjadikannya sebagai kesempatan untuk meminta umpan balik dan memperbaiki proposal. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membaca persyaratan dengan cermat, berhati-hati dalam memilih lembaga pendanaan yang kredibel, serta tidak bergantung sepenuhnya pada kecerdasan buatan dalam menyusun proposal. Keberagaman ide, keberanian menolak peluang yang tidak sesuai, dan kemampuan membangun identitas atau personal branding juga menjadi bekal penting dalam membangun karier di tingkat internasional.
Tidak hanya proposal, kesiapan dokumen pendukung juga menjadi perhatian utama. Dokumentasi berupa foto dan video berkualitas, aset artistik, biografi profesional, stage plot, surat dukungan (letter of support), hingga rancangan anggaran yang logis dinilai sebagai elemen yang menentukan tingkat kepercayaan lembaga pendanaan terhadap sebuah proyek. Menurutnya, kolaborasi dengan tim yang profesional dan mitra yang tepat akan memperkuat kualitas proyek sekaligus mempermudah proses pelaksanaannya.
Dewi Bukit, Director Project Eleven Indonesia seorang fotografer, seniman, trainer, dan peneliti yang berbasis di Yogyakarta. Lahir di Kabanjahe, Sumatera Utara, ia menempuh pendidikan Sarjana dan Magister Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Praktiknya berfokus pada fotografi dokumenter, riset sosial-budaya, pendidikan fotografi, serta pengembangan kerja-kerja kreatif berbasis komunitas.

Dalam praktik keseniannya, Dewi banyak mengeksplorasi hubungan antara fotografi, tradisi, perempuan, dan pengetahuan budaya. Salah satu proyek pentingnya adalah Invisible Maestro: Kisah Perempuan dan Ulos di Tanah Batak, sebuah proyek fotografi dan film dokumenter yang mengangkat kehidupan perempuan serta keberlanjutan tradisi ulos di Tanah Batak. Proyek tersebut kemudian dipresentasikan dalam pameran tunggal di Salihara Art Center dan Galeri Pandeng ISI Yogyakarta pada 2023 dan pada acara Indonesia Group Discussion Australia National University Canberra. Ia juga menerima berbagai dukungan riset, termasuk dari Project Eleven Australia, Badan Ekonomi Kreatif, serta Dana Indonesiana–LPDP Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Selain aktif berkarya, Dewi Sartika Bukit memiliki pengalaman sebagai pengajar fotografi di sejumlah institusi pendidikan dan terlibat dalam berbagai program pelatihan fotografi serta pengembangan ekonomi kreatif. Ia juga aktif dalam kerja kolaboratif melalui Kultura Collectiva. Karya dan pemikirannya telah dibawa dalam berbagai pameran, program kolektif, konferensi, serta kegiatan artistik di Indonesia, Australia, Jepang, New York dan Swedia.
Pada 2019, ia terpilih sebagai salah satu dari 15 fotografer perempuan Indonesia oleh Canon Indonesia. Melalui pendekatan yang mempertemukan praktik artistik, riset, pendidikan, dan kerja komunitas, Dewi Bukit terus mengembangkan fotografi sebagai medium untuk membaca persoalan sosial dan budaya secara lebih mendalam. Sejak 2022 Dewi menjabat sebagai Director of Indonesian Office Project Eleven sebuah philanthropy asal Melbourne Australia
Melengkapi materi John, Mbak Dewi mengajak peserta melihat proses pencarian pendanaan sebagai upaya aktif dalam menciptakan peluang. Ia menekankan bahwa proposal yang baik tidak harus panjang, tetapi harus mampu menjelaskan secara jelas siapa pengusulnya, apa tujuan proyeknya, serta mengapa proyek tersebut penting untuk didukung. Pertanyaan mendasar seperti mengapa proyek ini penting, mengapa harus dilakukan sekarang, dan mengapa lembaga pendanaan perlu memilih proyek tersebut menjadi inti dari sebuah proposal yang meyakinkan.

Mbak Dewi juga mengingatkan bahwa kejujuran dalam menulis proposal, konsistensi dalam membangun portofolio, serta kemampuan menentukan tema yang relevan merupakan faktor yang tidak kalah penting. Judul proposal menjadi pintu pertama yang menarik perhatian penilai, sehingga harus mampu merepresentasikan gagasan secara kuat dan mudah diingat. Selain itu, publikasi karya melalui media sosial maupun media massa menjadi bagian dari rekam jejak profesional yang semakin diperhatikan oleh banyak lembaga pendanaan.
Dalam sesi diskusi, beberapa penanya merespon seperti Mas Hari Yoga – dosen Penciptaan Musik; Mas Dipta – Dosen Pendidikn Musik dan Nur Iswantara – Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan mengangkat isu mengenai peluang bagi dosen, termasuk aparatur sipil negara, untuk mengakses pendanaan internasional dan mengintegrasikan proyek seni ke dalam kegiatan akademik seperti penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat. Para narasumber menekankan bahwa status profesi bukanlah penghalang selama persyaratan administratif dapat dipenuhi dan proyek yang diajukan memiliki kualitas, relevansi, serta didukung oleh portofolio dan rekam jejak yang baik.
Melalui sesi ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan memperoleh pendanaan internasional tidak hanya ditentukan oleh kualitas ide artistik, tetapi juga oleh kemampuan menyusun proposal yang strategis, membangun jejaring profesional, serta menunjukkan rekam jejak yang konsisten. Workshop hari ketiga pun menjadi bekal penting bagi para seniman, akademisi, dan pegiat seni pertunjukan untuk lebih siap menghadirkan karya-karya Indonesia di tingkat global melalui dukungan pendanaan yang berkelanjutan.
Hadir dalam acara Residency Artist dan Workshop FSP – Australia – Project Eleven: Pimpinan Fakultas Seni Pertunjukan, Dekan: Dr. I Nyoman Cau Arsana, S.Sn., M.Hum., Wakil Dekan Bidang Akademik: Dindin Heryadi, S.Sn., M.Sn., Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum: Dr. Bayu Wijayanto, M.Sn., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni: Ayub Prasetiyo, M.Sn., Ketua Prodi S-1 Karawitan: Dr.Sn. Asep Saepudin, S.Sn., M.A., Sekretaris Prodi S-1 Teater: Silvia Anggreni Purba, M.Sn., Koordinator Prodi S-1 Teater:Wahid Nurcahyono, M.Sn., Koordinator Prodi D-4 Teater Musikal : Retno Dwi Intarti, S.Sn., M.A., Ketua Prodi S-1 Etnomusikologi:Dr. Citra Aryandari, S.Sn., M.A., Ketua Prodi S-1 Pedalangan: Endah Budiarti, S.S., M.A., Ketua Prodi S-1 Penciptaan Musik:Dr. Kardi Laksono, S.Fil., M.Phil., Ketua Prodi D-4 Penyajian Musik: Rahmat Raharjo, M.Sn.,Ketua Prodi S-1 Pendidikan Seni Pertunjukan:Dra. Agustina Ratri Probosini, M.Sn., Sekretaris Prodi S-1 Pendidikan Seni Pertunjukan: Dilla Octavianingrum, S.Pd., M.Pd. Segenap dosen FSP: Linda Sitinjak, S.Sn., M.Sn., Joanes Catur Wibono, S.Sn., M.Sn., Dra. Sutrisni, M.Sn., Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum. dan mahasiswa FSP ISI Yogyakarta. Acara pun berlangsung dengan lancar sejak awal penerima tamu Mbak Santi menyilakan isi daftar hadir membagikan dos – blocknote hingga berakhir ketika Master of Ceremoni Mbak Nafisah Aini, S.Sn., M.A. menutup secara resmi.*** [Penulis & Fotografer: Nur Iswantara & Evi Putrianti].
