Yogyakarta//suaraglobal.news. Delapan (8) Alumni Prodi Seni Grafis Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Pameran After Fifty di Bolo Space Kota Baru Yogyakarta mulai hari Selasa, tanggal 21 Juli – Minggu, 2 Agustus 2026 jam 17.00 – 23.00 WIB. Ke delapan alumni Seni Grafis ISI Yogyakarta angkatan 1993: Soni Irawan, Agung Pekik, Agus Heru Prasetyo, Endang Lies Suseno, Puji Bagio, Daru Sukamto, Imam Ghozali dan Susilo Dwi Murwanto pada tahun ini rata-rata usianya sudah lolos lima puluh tahun. After fifty years.
Disela-sela kesibukan kerja, tugas domestik lainnya, kedelapan perupa ini masih merasakan kerinduan menjadi pameris. Alhasil, tercetuslah ide Pameran After Fifty ini sebagai upaya melampiaskan kerinduan itu sekaligus mengalami kembali hiruk-pikuk praktik seni cetak grafis hari ini.
Jarak domisili yang saling memisahkan para pameris tak menjadi persoalan pelik yang menghambat proses brainstorming dan persiapan pameran. Soni Irawan, sebagai inisiator awal pameran, mengandalkan grup Whatsapp untuk mengorkestrasi serta memantau proses kekaryaan ketujuh teman seangkatannya yang lain. Kembali mendisiplinkan diri pada kerja studio penciptaan seni cetak grafis memang bukan perkara mudah di saat beban pekerjaan dan tugas domestik sudah kuat melekat pada keseharian. Namun, proses terus berjalan dan hasil menunjukkan bahwa semua karya telah rampung serta siap dipamerkan.
Britto Wirajati, kurator pameran seni grafis ini dalam katalog mengatakan: Secara garis besar, seluruh karya yang dipamerkan oleh delapan perupa ini punya DNA seni cetak grafis yang pastinya menonjol. Dalam pilihan karya dari Agung Pekik dan Agus Heru Prasetyo, keprihatinan atas kondisi lingkungan dan degradasi moral manusia terhadapnya menjadi konteks yang mengikat tema karya. Pilihan tema ini kemudian dieksekusi menggunakan pendekatan teknis intaglio (cetak dalam).

Agung Pekik pun Berhari-hari Tidur Terlentang (2026) page 2
Agung Pekik berujar : Ada sebuah ungkapan “BUMI INI BUKAN WARISAN LELUHUR TETAPI TITIPAN ANAK CUCU” semoga generasi sekarang menyadarinya…Agung memamerkan empat karya: Berhari-hari Tidur Terlentang (2026), Planograph On Paper 31 x 45 Cm.; Berjalan sempoyongan (2026), Planograph On Paper 45 x 31cm.; Ternyata Cuma Anak Ayam (2026), Planograph On Paper 45 x 31cm. dan Gak nanam tapi manen, miris (2026) Planograph On Paper 31 x 45 Cm.
Agung Pekik, Tempat/Tanggal Lahir : Yogyakarta 11 Februari 1970 Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Sindurejan WB 3/ 92 Yogyakarta, Indonesia 55251 Telpon : +6287877185888; E-mail : agungpekik@gmail.com. Aktivitas Seni dan Pameran Pilihan (2026), Pameran ‘JEJAK DAN RESONANSI’ INDIE art space’ Yogyakarta; Pameran ‘OPEN STUDIO BERSAMA’ Soni Irawan Studio, Yogyakarta; Pameran ‘LISONG’ STAIR’, Yogyakarta (2025); Pameran ‘DOKEMENTASI PERJALANAN’ TBY kota Yogyakarta; Pameran ‘REFLECTION’ SANTRIAN galery,Bali Pameran ‘LOREM IPSUM’, T SPACE, Bintaro, Tangerang Selatan; Artistik patung taman komplek rusun POLRI, IKN Penajam, Kaltim; Artistik patung taman komplek rusun BIN, IKN Penajam, Kaltim; Pameran Tunggal (2011); ‘BEAUTY SCREAM’ Bentara Budaya Yogyakarta (2002); ‘let’S GeT @Rt ‘n FuN wiTh m3,oK’, Griya KR, Yogyakarta. ‘DUNIA ANAK-ANAK’, Rumah Dinas Walikota,Yogyakarta. Masuk 4 besar kategori favorit penonton ‘GREY ART AWARD I’. Finalis “JAKARTA Art Award 2012” (2012), Pemenang Tropi Emas karya terbaik Pinastika Award 2010 (2010), Kategori craftmanship 2008: Finalis “ The 2nd Bangkok Triennial International Print and Drawing Exhibition 2008”;Finalis Triennial 2 grafis Indonesia (kolaborasi Fawsta Bayu Arta) (2026); 4 besar lomba Mural Jateng DIY (2005); Finalis “ Bangladesh Asean Art Bienalle 2004”; Finalis 80 besar “Indonesia Art Award 2003”; 11 besar Karya Terbaik “INDOFOOD ART AWARD 2003” ; Finalis 100 besar “Indonesia Art Award 2000” ;Karya Seni Grafis Terbaik Lustrum ISI III (1988).

Agus Heru Prasetyo sudah lah Ben Wae (2026) page 3
Agus Heru Prasetyo berucap: Lingkungan menggoresku. Kegelisahanku kugoreskan kembali. Agus memamerkan empat karya : Ben Wae (2026) Cetak Intaglio Diatas Kertas 19,5 x 28 Cm; Manusia Rakus (2026), Cetak Intaglio Diatas Kertas 19,5 x 28 Cm.; Inner iscussion (2026), Cetak Intaglio Diatas Kertas 19,5 x 28 Cm.; Empty argument (2026) Cetak Intaglio Diatas Kertas 19,5 x 28 Cm.
Agus Lahir di Kudus, 17 Agustus 1971. Saat ini berdomisili di Gading Serpong. Pendidikan: Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta, angkatan 1993. Aktif mengikuti berbagai pameran dan kompetisi seni semasa kuliah. Penghargaan: Finalis Philip Morris Art Awards (2002). Karier Televisi (2002–2022): •Graphic Designer — Metro TV; •Graphic Design Section Head — Jak TV; •Research and Development (R&D); •Graphic Department — Metro TV; •Art Director — Berita Satu TV; Aktivitas Sekarang: Founder “Harmony Kitchen”. Pameran Terakhir: Pameran Reuni “Jejak dan Resonansi” di IndieArt House, Yogyakarta (2025).
Kurator Britto Wirajati lebih lanjut mengatakan pada karya Soni Irawan, Endang Lies Suseno dan Puji Bagio, komposisi jadi tulang punggung visualnya. Puji Bagio merekayasa visualnya dengan pendekatan kolase atas objek-objek fotografis untuk bercerita mengenai gegar budaya perpindahan desa-kota yang dialaminya. Eksekusi lantas dilakukan dengan teknik cetak tinggi. Soni Irawan juga menggunakan pendekatan kolase atas aset visual dari karya-karya sebelumnya yang kemudian dicetak dengan teknik screen print guna bercerita tentang perjalanannya menembus usia 50 tahun, di mana kebosanan, persahabatan dan usaha bertahan hidup jadi aspek yang mewarnainya. Pada karya Endang Lies Suseno, cyanotype jadi pilihan teknis untuk mengekspresikan pelindung batinnya sebagai perempuan muslimah, melalui komposisi objek hijab (kerudung) dan tasbih serta belati?

Soni Irawan sedang Good Trip (2025) page 4
Soni Irawan berkata : Tentang perjalanan hidup setelah lewat 50 tahun.. Tentang kebosanan, persahabatan dan usaha tetap bertahan hidup. Soni memamerkan dua karya seni gtafis: Good Trip (2025), Silk Screen Print On Paper 42 x 60 Cm. ; White Man In The Black Day (2025) Silk Screen Print On Paper 42 x 60 Cm.
R.M. Soni Irawan, lahir di Yogyakarta, 1975, adalah seniman visual yang menempuh pendidikan Seni Grafis di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Berangkat dari disiplin grafis, praktik artistiknya berkembang melintasi berbagai medium, mulai dari lukisan, objek, instalasi, hingga eksplorasi material yang berangkat dari budaya urban dan kehidupan sehari-hari. Selama lebih dari dua dekade, Soni dikenal melalui pendekatan visual yang khas, memadukan sensibilitas seni jalanan, budaya populer, serta ketertarikannya pada transformasi benda dan ruang sebagai medium pembacaan sosial maupun kultural.
Karier artistiknya ditandai oleh sejumlah pameran tunggal penting, di antaranya Ode to Permata Unguku (Semarang Gallery, Jakarta, 2010), You and Me and Everyone We Know (Vivi Yip Art Room, Jakarta, 2011), Mellow Yellow (Kendra Gallery, Bali, 2012), Psychedelic Jungle (Phnom Penh, 2015), From Zero to Zorro (Paris, 2017), Nothing Perfect Noise (Jakarta, 2017), hingga Electric Jungle (Melbourne, 2018). Selain aktif berpartisipasi dalam berbagai ajang seni rupa nasional dan internasional seperti ARTJOG, Art Jakarta, Art Stage Singapore, Java Art Energy Paris, hingga Indonesia Connecting the World di Washington D.C., karya-karyanya juga telah menjadi bagian dari berbagai koleksi institusi, museum, dan kolektor privat di Indonesia maupun mancanegara. Konsistensinya dalam berkarya telah memperoleh pengakuan sejak awal kariernya melalui penghargaan Best Printmaking (1998) serta masuk dalam jajaran Best Five dan finalis Phillip Morris Indonesian Art Award (2001), salah satu penghargaan seni rupa paling bergengsi pada masanya.
Endang Lies Suseno selalu Held. page 5
Endang ‘LIES’ Suseno. Memadukan teknik cyanotype dengan kerudung renda tua dan tasbih sebagai simbol identitas, keteguhan, dan perlindungan bagi seorang muslimah. Warna biru menggambarkan ketenangan, dan susunan elemen- elemen membentuk visual yang menggambarkan perisai yang melindungi tubuh. Melalui karya ini, hijab dan dzikir dimaknai sebagai sumber kekuatan, ketenangan,dan pelindung batin bagi perempuan.
Adapun karya Endang: HELD (2026) Cyanotype On Paper, 42 x 59,4 Cm.; GUARDED (2026) Cyanotype On Paper, 42 x 59,4 Cm. ; RESOLVE (2026), Cyanotype On Paper, 42 x 59,4 Cm. ; STEADFAST (2026), Cyanotype On Paper, 42 x 59,4 Cm.; FAITHFUL (2026), Cyanotype On Paper, 42 x 59,4 Cm.; VEILED (2026), Cyanotype On Paper, 42 x 59,4 Cm.; SHELTER (2026), Cyanotype on paper, 42 x 59,4 cm.
Endang ‘LIES’ Suseno Lahir Pandeglang, 24 Januari 1974. Alamat Villa Pamulang, Jalan Pandu 3 Blok DD3 No.22, Pamulang, Tangerang Selatan, 15406. Pendidikan Seni Murni, prodi Seni Grafis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Email endangsulistyawati74@gmail.com., Telepon 0812 8111 3221. Pendidikan
1979-1987 : TK, SD, dan SMP di Rangkasbitung, Banten; 1989-1991 : SMA Pius Bhakti Utama,Purworejo dan SMAN 1 Rangkasbitung, Banten; 1993-1999 : Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jurusan Seni Murni, Seni Grafis; 2023-2026: Pasca Sarjana IKJ – Penciptaan Seni. Aktivitas: 1995- Desainer kaos di Dadung Klaten; 1999-2001 : Desainer Merchandiser di MBG Racing Yogyakarta; 2001-2003: Desainer di Jelajah Indonesia Adv. Jakarta Selatan; 2003-2005:Art Director di Pentacom Indonesia Jakarta; 2005-2006: Art Director di Primrose Adv. Jakarta; 2006-2022:Freelancer desainer; 2006-2018 :Mengajar seni rupa dan bahasa di beberapa TK; 2015-2017: Mengajar Desain Grafis di AMIK Wahana Mandiri Pondok Cabe; 2017-2022:Mengajar Bimbel bahasa & seni rupa; 2020-2024:Mengajar di SMK DuaMei dan TK.
Pameran: 2024 – Pameran EMPU RUPA “MENERA LINIMASA” di Galeri RJ.Katamsi Yogyakarta; Pameran EMPU RUPA “TEMPATAN” di Galeri Nasional; Pameran EMPU RUPA “HER TEA STORY” di Mason Galeri, Malang; Pameran NOW and THEN, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 2025 – Pameran MISI Grafis 93, Indie Art House, Jogjakarta; Pameran “LOOKING FOR EAST” Museum Bahari, Jakarta. Tahun 2026 – Pameran Bulan Menggambar Galeri Katamsi, Sewon, Yogyakarta; Pameran Bulan Menggambar Palakali Creative Space, Jakarta; Pameran Empu Gampingan Bersama kolektif Anjastha, Mahasiswa TKS ISI.

Puji Bagio memasuki KETERASINGAN I (2026) page 6
Puji Bagio: Tentang perasaan terasing orang daerah yang hidup di jakarta meskipun sudah lama menetap di ibukota, usia yg sudah setengah abad membuat kita ibaratnya kerbau meskipun rajin dan kuat bekerja tp lamban dan kurang gesit dalam menghadapi cepatnya perkembangan kota. Ada empat karya Puji Bagio yang dipamerkan: TENTANG KETERASINGAN I (2026), Lino Cut Cetak Diatas Kertas 50 x 50 Cm. ; TENTANG KETERASINGAN II (2026), Lino Cut Cetak Diatas Kertas 50 x 50 Cm.; TENTANG KETERASINGAN III (2026), Lino Cut Cetak Diatas Kertas 50 x 50 Cm.; TENTANG KETERASINGAN IV (2026) Lino Cut Cetak Diatas Kertas 70 x 45 Cm.
Puji Bagio lahir di Magelang pada 5 Agustus 1974, tapitumbuh dan besar diBanjarnegara,pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Seni Grafis. lama berkecimpung di industri periklanan dan kini berprofesi sebagai ilustrator lepas. Di dunia seni, telah ikut berpartisipasi dalam beberapa pameran kelompok, termasuk pameran ilustrasi, fotografi, lukisan, dan seni grafis.
Recent Exhibitions from 2024 to 2026: Pameran Pajang Karya di Galeri Nasional Indonesia; Pameran Art the Fact 3.0 di Museum Bahari Jakarta; Pameran Seni Rupa “Kirana Dakara” di Gedung DNA, Denpasar, Bali; Pameran “Pressing Forward: A journey through 3 years of Devfto” di Titik Dua Galeri Bali; Pameran “Jejak Karbon”, Manusia dan Alam di Smiljan Space, Tangerang Selatan; Pameran Ber7, “Welas Asih” di Ruang Garasi Jakarta; Pameran Merayakan ke-Indonesiaan, di Contemporary Art Gallery TMII; Pameran Out of Nowhere “Nge Heng Mental Reflection” di Galeri Semesta Jakarta; Pameran “Hello Juni, Apakabar Juli di Kopi Cukil Jakarta; Pameran “Jejak Integritas Bung Hatta dan Mereka yang Berjuang Hingga Akhir Hayat” di Tanah Kusir, Jakarta; Pameran Reuni “Jejak dan resonansi” di IndieArt, Yogyakarta; Pameran “Buah Tangan” di Magelang, Jawa Tengah; Pameran Civilization’s Imprint-China-ASEAN international Printmaking Exhibition di Akademi Seni & Desain Universitas Tsinghua, Beijing.
Kurator Britto Wirajati lebih lanjut menyebut ketiga pameris lainnya, Imam Ghozali, Daru Sukamto dan Susilo Dwi Murwanto, masing-masing mengangkat tema tentang percampuran medium dalam seni cetak grafis, hobi dan identitas lokal serta keprihatinan atas kondisi politik global. Imam Ghozali menghadirkan sebuah capaian visual yang Ia raih melalui percampuran medium antara cetak grafis, khususnya woodcut, dengan teknik lukis. Sedangkan Daru Sukamto mengarahkan tema visual dari karya-karyanya pada kecintaannya terhadap sepak bola dan simbol lokalitas Yogyakarta. Terakhir, karya-karya Susilo Dwi Murwanto lahir dari keprihatinan mendalam atas situasi konflik global yang tengah memanas melalui studi kasus blokade Selat Hormuz.
Imam Ghozali berkata Berkesenian adalah upaya merayakan puja puji syukur atas nikmat semesta demi kemaslahatan bersama. Seni rupa adalah agama q. Imam memamerkan dua karya seni grafis: Self Reminder (2026) Monoprint On Canvas 50 x 50 cm dan Green Object (2026) Stencil on Canvas 50 x 40 cm.

Imam Ghozali mengajak Self Reminder (2026) page 8
Imam Ghozali lahir di Tuban 17 April 1974. Pendidikan Seni : S-1 Seni Murni ISI Yogyakarta Pengalaman Organisasi : Ketua Komunitas Seni Rupa Tulungagung ( SERAT ); Sekretaris Dewan Kesenian Tulungagung ( DKT ) 2015 – 2019; Ketua Kelompok Belajar Masyarakat. “ Teras Pitu ” Tulungagung.
Pengalaman pameran : 2025:Ras Diversity. Komunitas Marga. Yoyok Siswoyo Studio Tulungagung; Candi. Ingatan & Spirit Masa Lalu. Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur Surabaya; Trace of Artistry. Panic Art Fest. 2025; Pago Creative Space Tulungagung; Jejak & Resonansi. MISI Grafis ’93, Indieart House, Yogyakarta; Ruang Rindu. Komunitas Serat, Ngomah Gallery, Tulungagung; Buah Tangan. Sebuah Pajang Karya Bersama, Utun Cafe Magelang. Tahun 2026: Worth It. Indieart House (Ground) Yogyakarta; Grup Afterfifty. Open Studio Soni Irawan Yogyakarta; Nawak. Hamur Art Space Malang.
Daru Sukamto berucap : Sepak bola bukan sekedar permainan ,tetapi ruang pengalaman dan belajar, seperti sebuah “dopamine” yang lahir dari proses, perjuangan, dan kemungkinan. Memamerkan dua karya seni grafis: Mood Booster (2026), Lino Cut On Paper 42 x 59,4 Cm dan Algeria (2026) Lino Cut On Paper 42 X 59,4 Cm.

Daru Sukamto kena Algeria (2026) page 9
Lahir di Yogyakarta, 4 Februari 1974 dan bertempat tinggal di Yogyakarta. Menempuh pendidikan di Jurusan Seni Murni program studi Seni Grafis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Selama setahun terakhir (2025) mengikuti Pameran: “Buah Tangan” di Utun cafe Magelang dan Pameran Reuni “Jejak dan Resonansi” di IndieArt, Yogyakarta.
Susilo Dwi Murwanto penuh kesadaran berkata “Selat Hormuz: Persimpangan Peradaban dan Konflik Sepanjang Zaman.” Ada dua karya seni grafis yang dipamerkan Mas Sus: Hormuz Dahulu..(2026), Linocut On Paper 30 x 42 Cm. dan Hormuz Sekarang (2026), Linocut On Paper 30 x 42 Cm.
Mas Susilo secara konseptual mengekspresikan Selat Hormuz dalam seni grafisnya : “Selat Hormuz memilik peran penting sejak jaman dahulu, selat ini adalah persimpangan perabadan yaitu dari dunia barat menuju dunia timur, Selat Hormuz juga jalur utama ekonomi dunia karena sebagai jalur perdagangan, namun di sisi lain, posisi strategisnya ini menjadikan Selat Hormuz sebagai area perebutan kekuasaan dan konflik militer yang terus berlanjut dari masa ke masa.”
Pada “Hormuz dahulu”…kisah Halid bin Walid yang berperang satu lawan satu melawan Hormuz (Jenderal Persia) dimasa kegemilangan kekalifahan Islam. Konflik ini terjadi karena kerajaan persia meminta pajak yang terlalu tinggi dan merugikan pihak-pihak yang melewati selat Hormus (dahulu blm dinamakan Hormuz) untuk berniaga….dalam perang itu…Hormuz kalah dan terbunuh sehingga namanya dipakai untuk nama selat ini.”

Susilo Dwi Murwanto berada di Hormuz Sekarang (2026), page 10
Susilo Dwi Murwanto lahir di Temangung,6 Februari 1972. Saat ini tinggal di Wonosari, Donoharjo, Ngaglik, Sleman. FSRD isi seni grafis angkatan 93 Pameran Senirupa hanya pernah diikuti ketika jaman kuliah saja. Aktifitas seni yang dilakoni : 1995-FKY,Moslem Art Rally; 1996- Dialog 2 Kota I ; 1996 – Pameran MiSi Grafis- Galeria Mall; 2018 – Pemeran kartun Safe KPK – gedung KPK; 2018 – Pameran Stand Up Kartun – galeria Mall 2018; 2019 – Pameran Karton Prambanan – Candi Prambanan; 2023 – Pameran Mahrojan-kota lama Semarang 2025 – Pameran misi grafis 93 -Indieart house. Perjalanan hidup lebih banyak di dunia Animasi: 2000 – 2003 Animator di Jutakira Sdn Bhd Kuala Lumpur; 2003 – 2006 Animator di Funcel Sdn Bhd; 2006 – 2008 Mendirikan Javalight Animation; 2008 – 2009 Plan B Studio; 2010 – 2011 Sweatbox Studio; 2011 – sekarang Funymation Studio.
Sebagai simpulan, Kurator Britto Wirajati mengatakan : Pameran After Fifty ini adalah peristiwa kesenian yang menunjukkan bahwa disiplin studio grafis dari para pamerisnya di masa lalu telah membentuk memori pada tubuh mereka masing-masing. Kondisi ini yang terus-menerus memanggil gairah berpameran, yang meskipun kadang lirih dan sayup-sayup, namun tak pernah surut total hingga melewati usia lima puluh tahun. Salut untuk para pameris dan selamat menikmati pameran! *** Penulis: Nur Iswantara.


Komentar