Bantul. Suaraglobal.news. Bertempat di Galeri Kahangnan, Pringgading RT 1, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 55751. Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) pada hari Minggu Legi, 11 Oktober 2026 pukul 13.00 – selesai pentas wayang kontemporer lakon Kisah Jataka, Pengorbanan Kelinci Sasha dalang Hangno Hartono di Pendapa Galeri Kahangnan dilanjut diskusi dengan narasumber Dr. Drs. Nur Iswantara, M. Hum., (Dosen ISI Yogyakarta) dan Syelwa Kumar (Budayawan) dan moderator Ficky Tri Sajaya (pantomime).
Workshop Tatah Sungging dilaksanakan oleh Alumni Kriya Kulit Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya Yogyakarta (AKNSBY) pukul 11.00 – 12.00 WIB di Studio Galeri Kahahnan diadakan Workshop Tatah Sungging oleh Made Singa Murjaya (Alumni AKNSBY Kriya Seni). Kegiatan rutin JWK tidak lepas dari tiga serangkai koordinatornya: Hangno Hartono, Jantan Putra Bangsa dan Kus Antara.
Hangno Hartono mengemukan bahwa tujuan JWK: 1. Eksistensi dan aktualisasi kreator wayang kontemporer; 2. Sebagai laboratorium performance, tata pentas, panggung dan penguatan tema; 3. Menciptakan jaringan; 4. Menciptakan genre baru sebagai konsekuensi dinamis kebudayaan; 5. Wayang kontemporer bukan lawan wayang Klasik tetapi sebagi dinamika budaya. Mencermati tujuan JWK didirikan kiranya ideal sebagai gerakan budaya nyata dan harus terus menerus berkegiatan dalam jagat Wayang Kontemporer itu.
Seni teater bukanlah produk dari satu bagian masyarakat di belahan dunia Barat saja tetapi juga terdapat di belahan dunia Timur. Seni teater dikembangkan di banyak lingkungan sosial. Situasi dan kondisi seni teater berkembang sebagaimana mestinya. Dalam perkembangan cukup berbeda dan telah meninggalkan jejak-jejak yang kuat hingga mungkin untuk mengidentifikasinya. Minimal ada empat Tradisi-tradisi Teater Timur, yang utama atas dasar lingkungan sosialnya yaitu: tradisi teater rakyat, tradisi teater istana, tradisi teater populer, dan tradisi teater Barat (Nur Iswantara, 2019).
Pentas Lakon Kisah Jataka “Pengorbanan Kelinci Sasha”
Dalang Hangno Hartono.

Pentas Lakon Kisah Jataka “Pengorbanan Kelinci Sasha”
Dalang Hangno Hartono. #
Seni pertunjukan kontemporer Indonesia ekspresi seni paling semarak yang mendapat dukungan kuat dari pedukungnya. Sambutan dari kalangan kritisi seperti teater kontemporer, — termasuk wayang konteporer– disebabkan dua hal. Pertama, seni pertunjukan kontemporer merupakan media yang dapat mencerminkan kebebasan seniman mengaktualisasikan dirinya dalam situasi sosial yang melingkupinya. Kedua, bentuk kesenian ini merupakan media ideal apa yang disebut sebagai ‘kemungkinan’ Indonesia (Direktori Seni Pertunjukan Kontemporer, 1999).
Pertunjukan wayang kontemporer lakon Lakon Kisah Jataka “Pengorbanan Kelinci Sasha” Dalang Hangno Hartono. Hangno berkreasi tema Jataka dari Candi Borobudur dikarenakan lahir, tumbuh, kanak-kanak dan dewasa di Muntilan yang sangat dekat dengan ekologi Borobudur. Naskah Wayang Jataka Lakon Sasa-Dharma Sang Kelinci Naskah karya/angitan Hangno Hartono ditulis pada waisak 2023. Babak I. #Tanjep gunungan wayang Jataka. #Tembang sambil memainkan Gunungan. #Taru Bodhi. Silo nang ngisore taru bodhi Do sumeleh yo ngolah semedi Noto howo, pikiran, lan ati Ben dadi mulya budi pakerti. Laku bodhisatwa go netepi Mulyaning urip sagung dumadi Andab asor, becik, resiki ati Tumprap liyan tan sah migunani.

Narasumber Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., Dalang Hangno Hartono dan narasumber Syelwa Kumar dan moderator Ficky Tri Sajaya.
Narasumber Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., Dalang Hangno Hartono
dan Syelwa Kumar dan moderator Ficky Tri Sajaya.
#Dalang memainkan empat sekawan, Kelinci, Monyet, Rubah dan Kelinci: Berangberang. #Kelinci. #Tembang “yo ayo Yo konco konco reneo Padang bulan koyo rino Yo ayo yo……yo ayo yo 3X. #yo ayo poro konco kinasih yuk podo nyanyi bebarengan yuk…. #Monyet: Adalah siap….kruek….kruek….kruek ojo podo kere…ayo nguyu wae……..kruek….kruek. #Rubah adalah karena oleh karena itu siap juga….jebleng jebleng podo mlebu metu blang bleng. #Semau tertawa: ha….ha…haaaa…#Bersama sama menyanyikan tembang Ayak-Ayak. #Dalang Dilanjut nyet hokyahokya jos gandos kotos kotos…. dalang memainkan karakter gerak monyet. Monyet nyanyl: “laku becik”. Kecik kecik laku becik Telo telo ojo gelo Duwet duwet ora ruwet Gedang rojo dadi mulyo. #Dalang: lanjut bah….hokya hokya jos gandos kotos kotos…sambil memainkan karakter rubah. Rubah menyanyi: “Semende Eee……ojo semende…jesss Ndang ndang cekat ceket….jesss Das des nyambut gawe….jesss Ben dadi karepe….jesss. *Dalang: lanjut rang….hokya..hokya…jos gandos kotos kotos….sambil memainkan karakter berang berang Tembang “slulup”. Slulap slulup nangon kali progo Golek geblek tekan wonosobo Jo dur angkoro mundak sengsoro. Lanjut Babak II dan III.
Dan akhirnya Kelinci sasa; duhai tepapa agung aku tidak punya makanan yang layak buat menjamu kehadiran pertapa di hutan Pager luhur Wonosuko ini tak mungkin aku hanya mempersembahkan rumput…ini aku rela iklas mendermakan tubuhku untuk persembahan buat pertapa. #Pertapa; duhai kelinci yang mulia…..aku tidak perlu pemngorbananmu, dan tugasmu dalam menyebarkan dharma masih ditunggu oleh para rekan sejawatmu di wono Pager Luhur wonosuko ini, #Dalang, Wauto sang kelinci Sasa tidak bergeming dengan tekad bulatnya dalam berdarma, tanpa banyak pertimbanagan kelinci lalu menceburkan kedalam api unggun, tetapi anehnya Bot kelinci sasa tidak terbakar, apipun menjadi dingin….suasana alam semestapun tampak cerah dan semerbak aroma bunga hutan serantak wewangi. #Tembang sumilir. Ilir…..ilir tandure wis sumilir Neruske laku Nyempurnake jiwa Kanggo nglangengake songgo buwono. Ilir ilir tandure wis sumilir Angine mribit gondo pandan arum Kanggo memayu hayuning bawano. Ilir….ilir tandure wis sumilir Pasrah sumeleh pati kui ora ono Tansah urip nginteri bawono gung. Dalang; wauto kisah darma cerita jataka kisah kelinci Sasa, inkarnasi bodhisatwa, tauladan dharma kepasrahan sempurna.cerita ini terdapat dalam candi Borobucur lorong panel relief lantai satu sisi sebelah timur. Demikianlah, dan tancep kayon. Hong bawono langgeng. Urutan tembang Wayang Jataka: 1. Taru Bodi, 2. Yo ayo, 3. Ayak ayak, 4. Laku becik, 5. Semende, 6. Slulup, 7. Sumilir, 8. Bahasa Cinta, 9. Semeleh, 10. Andap Asor, 11. Laku becik, 12. Sumulir.
Nur Iswantara sesudah pertunjukan usai dalam diskusi ungkapkan perlunya ekplorasi bentuk wayang misal dipertajam detil dalam tatah sungging sehingga basic image wayang kuat dan menarik. Lakon dikembangkan mengingat kisah Jataka karakternya seratus lebih. Nur Is menawarkan konsep menuju wayang kontemporer dapat mengadopsi dramaturgi model Kernodle. Ada enam kemungkinan nilai-nilai dramatik menyusun bangunan wayang kontemporer, Struktur terdiri : plot, tokoh, tema, dan tektur terdiri : dialog, suasana dan spektakel. Kernodle menegaskan struktur adalah bentuk dari drama sebelum dipentaskan, sedangkan tekstur segala sesuatu yang secara lagsung dapat dilihat, didengar, dan dirasakan sebagai mood (suasana) melalui keseluruhan pengalaman visual dan aural.
Syelwa Kumar menyatakan bahwa situasi sosial candi Borobudur perlu mendapat perhatian apalagi jika dijadikan pertunjukan wayang kontemporer. Contoh pembangunan candi Borobudur sebagai proyek nasional apakah memiliki dampak ekonomis bagi warga masyarakat lingkungannya. Seorang peserta diskusi Tito Pangesti Aji, mengatakan kisah Jataka dari Candi Borobudur dapat diangkat sebagai cerita yang serius dan kolosal. Borobudur kan warisan dunia yang memiliki ajaran moral, abadi sehingga dapat dicipta karya film. Peserta diskusi lain, BJ Arifin melontarkan ide program wayang kontemoprer di lingkungan sekolah sebagai untuk memahami warisan budaya dunia. Pada akhirnya kegiatan seharian JWK sungguh menarik bagi peserta yang masih bertahan hingga selesai. Segenap rekan JWK tetap bertahan hingga usai diskusi Wayang Kontemporer. *** [Penulis & Fotografi: Nur Iswantara].



Komentar