L
Memuat...
Kontributor

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu (Bag. 3)

Gambar 9. Undangan Buka Rumah Baru TG
Dengan Diskusi Buku Bertukar Tangkap Dengan
Lepas Sesilangan dan Lintasan 20 Tahun TG dalam Esai, page.1
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, suaraglobal.news. BAB II. PENGELOLAAN KELOMPOK TEATER GARASI YOGYAKARTA. A. Sejarah Singkat dan Empat Fase Konsepsi Pemikiran. Teatr Garasi (TG) berdiri pada tanggal 4 Desember 1993 di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dengan pendirinya Yudi Ahmad Tajudin, Kusworo Bayu Aji dan Puthut Yulianto (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji , 19 Januari 2008). TG awal mulanya berbentuk sebuah kelompok teater kampus yang berbasis komunitas. Maksud basis komunitas di sini ialah kelompok atau organisasi yang dibangun atas dasar suatu pemikiran, cita-cita dan gagasan yang sama. Lahir karena adanya jalinan komunikasi dalam persaudaraan. Bukan organisasi teater yang sifatnya temporer tapi lebih kepada tingkatan proses kreativitas yang mempunyai misi dan visi yang jelas.

Selanjutnya dalam mendirikan kelompok teater tersebut Yudhi langsung memegang peranan sebagai sutradara. Kelompok teater ini didirikan juga bagian dari media kebebasan berkreasi mahasiswa dan pendanaan awalnya masih menggandalkan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Di tahun 1998 ini anggota TG menjalani proses perenungan, pemikiran ulang dalam berteater karena selama ini kegiatannya berada dalam lingkungnan kampus Fisip UGM. Untuk itu seluruh anggota pun besepakat menata ulang pengelolaan organisasi, sebagaimana ungkap Tajudin sebagai berikut: Pada tahun ini para pelaku TG mejalani masa perenungan dan pemikiran ulang dalam berorganisasi yang selama ini menjadi bagian kegiatan kampus di Fisip UGM.

Kami menyadari teater masih belum menjadi bagian kesadaran budaya di Indonesia. Teater masih harus berjuang untuk masuk dan menciptakan historisnya sendiri. Oleh karena itu kami memutuskan untuk ’independen’ (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, 19 Juni 2009, periksa “Dari Garasi Fisipol UGM Mencuat Teater Kampus Handal” (Yogyakarta: SKH. Yogya Post), 21-28 Januari 2000, hal.11).
Ungkapan ’independen’ yang disampaikan Tajudin merupakan sebuah upaya lebih mandiri dalam penciptaan (proses kreatif) seni teater kontemporer.

Jika selama ini TG di lingkungan kampus Fisip UGM cenderung menjadi bagian aktivitas mahasiswa yang belajar ilmu komunikasi dengan menggunakan media teater dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Sehingga ada perenungan dan pemikiran ulang, Yudi Ahmad Tajudin bersama TG ingin menjadi bagian kesadaran budaya di Indonesia, mereka akan berjuang untuk mewujudkan kelompok teater kontemporer yang lebih mandiri dalam kreativitas seni teater.
Akhirnya tahun 1999, TG memiliki kesekertariatan organisasi secara tetap dan mandiri. Kantor sekretariat tersebut awalnya di rumah kontarakan daerah kampung Jetis, pindah di daerah kampung Kranggan Yogyakarta. Terakhir pindah kontarakan di daerah Bugisan, jalan Bugisan Selatan 36 A, Tegal Kenongo Yogyakarta, sehingga mencapai usia kelompok 20 tahunan. Visi TG sebagai sebuah laboratorium penciptaan teater, di samping mendasarkan diri pada inspirasi kreatif dan kegelisahan atas soal-soal di dalam lingkungan sosialnya, kerja-kerja TG juga didekati dengan spirit intelektual dan lintas disiplin, berpijak pada riset dan studi atas tradisi-tradisi teater/seni pertunjukan yang telah ada, kemudian menempatkan dan menjajarkannya dengan model/sensibilitas dan imaji-imaji kontemporer.

Misi TG sebuah komunitas kreatif dan laboratorium penciptaan teater yang berupaya mencari dan menciptakan bentuk-bentuk pengucapan artistik yang segar dan, secara tematik, mampu membangun dialektika kritis dengan lingkungannya. Selain itu TG adalah sebuah medan yang mempertemukan orang-orang dan gagasan-gagasan kritis dalam kerja-kerja kreatif dengan pendekatan lintas disiplin. TG berkreativitas dengan menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengelolaan kelompok dan idealisme estetik yang berkelanjutan. TG (1993-2013) berusia 20 tahun. Dinamika kreativitas Teater Garasi Yogyakarta (TGY) tergambarkan pada empat fase evolusi dalam sebuah konsepsi pemikiran. Fase pertama, ‘Pertunjukan Mahasiswa di Akhir Sebuah Era: Awal yang Menentukan Watak’ (1993-1998); fase kedua, ‘Transisi: Merumuskan Ulang Pertanyaan-pertanyaan, Adaptasi dan Apropriasi’ (1999-2001); fase ketiga, ‘Menjelajah Dunia dari Rumah Kaca: Laboratorium Penciptaan Teater’ (2002-2007); dan fase keempat, ‘Keluar ke Jalan, Memasuki Kenyataan di Ruang-ruang Antara: Menuju Garasi Performance Institute’ (2008-2014) (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 9 Desember 2013 di Markas TGY Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta dan tanggal 19 September 2014 di Ruang Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta; periksa Aryo Wisanggeni, ”Teater Garasi Pertanyaan-pertanyaan Yang Menyelamatkan” dalam SKH. Kompas, Minggu, 6 April 2014, hal.23).
Fase pertama, ‘Pertunjukan Mahasiswa di Akhir Sebuah Era: Awal yang Menentukan Watak’ (1993-1998). TG terbentuk dari buih gelombang pasang gerakan politik mahasiswa di awal periode 1990-an, beberapa tahun sebelum gerakan politik itu menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Tanggal 4 Desember 1993, kelahiran TG dari acara ‘Apresiasi Seni dan Politilk’ Fisip UGM. Ketua TG saat itu adalah Ketua Dewan Mahasiswa UGM Titok Haryanto. TG lahir di tengah pertarungan faksi-faksi kelompok gerakan politik mahasiswa. Setelah menjadi “aktor jalanan” di berbagai demonstrasi mahasiswa, ujung-ujungnya para awak TG naik panggung teater. Pentas perdana, lakon “Wah” (2 April 1995) karya Putu Wijaya di Purna Budaya Yogyakarta. Selanjutnya lakon “…Atau Siapa Saja” (1995 dan 1996) adaptasi lakon Caligula karya Albert Camus, Kapai-Kapai (1997) karya Arifin C Noer dan “Caroussel” (1997), “Empat Penggal Kisah Cinta” (1997) dan “Tiga Kisah Cinta” (1998). TG sebagai teater kampus dengan seluruh latar belakang dan dinamikanya menentukan wataknya. Watak tersebut melekat karena pertama, sejarah membuat watak TG yang mengaitkan diri dengan apa yang terjadi di lingkungannya; kedua, TG lahir di Fisip UGM, bukan lahir di sebuah sekolah seni. Akan tetapi sejak awal para anggota TG bukan hanya mahasiswa Fisip UGM saja. TG pada tanggal 11 Desember 1998 sampai dengan 9 April 1999, pentas keliling di kota-kota Pulau Jawa: Yogyakarta, Jakarta, Surabaya dan Surakarta dengan menyajikan pertunjukan lakon Endgame karya Samuel Beckett sutradara Landung Simatupang.

Fase kedua, ‘Transisi: Merumuskan Ulang Pertanyaan-pertanyaan, Adaptasi dan Apropriasi’ (1999-2001). Pada masa transisi TG, tiap anggotanya sedang dalam masa transisi. Masing-masing dari kami juga harus menjawab pertanyaan seperti “kami akan berbuat apa?”, “apakah kami akan menikah?”, dan “apakah kami akan bekerja atau berteater?” Salah satu orang paling penting dalam fase transisi TG adalah Jean Pascal Elbaz, Direktur Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta. Peran penting Pascal itu dimulai akhir 1997 ketika TG mementaskan “Empat Penggal Kisah Cinta” di LIP Yogyakarta. Pada tahun 2000, Pascal memberi kesempatan Yudi menghadiri ‘Avignon Festival’ di Perancis, membuat Yudi melihat banyak kemungkinan baru dalam berteater. Fase transisi TG menurut Yudi adalah demikian. Karena yang ada pada diri kami ketika itu adalah pertanyaan dan pertanyaan, kami tidak membuat-buat jawaban. Kami bertanya tentang apa yang sedang kami lakukan? Kami mendapati bahwa alasan awal keberadaan TG tidak ada lagi karena Orde Baru tidak ada lagi. Pertanyaan besar kami waktu itu, ‘Kalau kami terus dengan cara apa?’ Kami punya banyak pertanyaan tentang diri kami karena kami ingin terus mencari makna pilihan kami. Kami bukan orang-orang yang belajar seni secara formal. Ketika kami memutuskan memasuki disiplin teater, disiplin itu harus kami bangun. Meminjam terminologi Eugenio Barba, training culture, kami membangun kesadaran dan disiplin bahwa kesenian bukan melulu soal ‘rasa’ (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, di Ruang Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, tanggal 19 September 2014).

Pada fase transisi ini TG sejak tahun 1999 benar-benar mandiri. Hal itu ditandai dengan kepindahan alamat kelompok yang awalnya di lingkungan kampus Fisip UGM Yogyakarta ke Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta. Kemudian pentas Sri, Sementara Menunggu Godot (1999), Sketsa-sketsa Negeri Terbakar (2000), ”Repertoar Hujan” (2001). Pada fase transisi ini Yudi Ahmad Tajudin, di bulan Juli 2001 menggagas sebuah proyek pertunjukan lakon ”Waktu Batu” (WB). ”Program kreatif mandiri berupa proyek pertunjukan lakon WB ditopang dengan tindakan mendirikan yayasan sebagai landasan legal-formal secara hukum.” (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tadjudin, 17 Februari 2008 di Sanggar TGY, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta; baca juga Yudi Ahmad Tajudin, ”Kenapa perjalanan ini Ditempuh” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta, 2-4 Juli 2002, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002: 10-12).

Fase ketiga, ‘Menjelajah Dunia dari Rumah Kaca: Laboratorium Penciptaan Teater’ (2002-2007). Menurut Aji sebagai berikut: Kami menerjemahkan dan mencari praktik dari pengertian umum laboratorium. Ada riset, ada latihan yang tidak terkait persiapan pertunjukan. Seorang aktor TG harus mengikuti latihan silat Persatuan Gerak Badan Bangau Putih. Semua anggota TG harus menguasai satu tarian tradisional dan membaca buku. Kami mendokumentasikan setiap proses kreatif berikut pementasannya (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, di Sanggar TGY, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta, 17 Februari 2008).
Laboratorium yang dibangun sebuah upaya mencari satu bentuk ‘laboratorium’ tempat membedah, mengurai hal-hal. Secara eksplisit Kusworo Bayu Aji mengatakan demikian. Pilihan bentuk ‘laboratorium penciptaan teater’; seluruh kegiatannya mesti mendorong terciptanya sebuah karya teater. Sebagai awal pijakan proses membangun sebuah laboratorium penciptaan teater, kami menetapkan tiga gerbong aktivitas laboratorium; pertama, riset & eksplorasi baik gagasan maupun bentuk; kedua, dokumentasi, baik tertulis, tercetak maupun terekam; ketiga, penciptaan, baik publikasi dan audience luas maupun terbatas (Kusworo Bayu Aji, ”Ketika Kami berada di Sini” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, Sasosno Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta, 2-4 Juli 2002, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002: 1).
Dengan demikian ’laboratorium penciptaan teater’ yang dibangun TG sebetulnya sudah termaktub dalam visi dan misi di akta yayasan sebagai berikut: Visi YTG yakni menjadi laboratorium dan ruang penciptaan teater yang berbasis pada kegiatan workshop dan studi. Misi: 1.Menemukan dan/atau mencipta (kembali) bentuk-bentuk pengucapan, bahasa dan idiom teater yang segar, otentik, dan dramatik lewat studi, eksperimentasi dan re-kreasi tradisi (-tradisi) teater yang ada di dalam medan produksi kultural yang melingkupi TG; 2. Melakukan dokumentasi proses studi, eksperimentasi, re-kreasi tersebut dan mempublikasikannya dalam bentuk tertentu (buku, tulisan, atau media-media publikasi lainnya), sehingga bisa diakses oleh publik luas dengan kepentingan tertentu (Muchamad Agus Hanafi S.H., Akta Notaris No. 13 Tahun 2001 tentang Pendirian Yayasan Teater Garasi).

Pada fase transisi TG menghasilkan pertunjukan lakon Waktu Batu (WB) yang terdiri :‘Waktu Batu, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1) (2002), ’Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’ (WB 2) (2003), ‘Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu’ (WB 3) (2004). Proyek WB menerjemahkan konsep pertunjukan yang dibangun berdasarkan riset (research based performance) bukan dibangun dengan naskah yang sudah ada (Yudi Ahmad Tajudin dalam Ary Wisanggeni, ”Teater Garasi Pertanyaan-pertanyaan Yang Menyelamatkan” (Jakarta: SKH. Kompas, Minggu, 6 April 2014, hal. 23). Spirit proses WB adalah sebuah pertunjukan di masa transisi dan pertunjukan itu diperlakukan sebagai ruwatan. Kami harus meruwat diri sendiri antara lain dengan melongok seni tradisi. Bahwa itu kemudian menjadi sebuah pertunjukan atau karya itu kebetulan saja (Kusworo bayu Aji dalam Ary Wisanggeni, ”Teater Garasi Pertanyaan-pertanyaan Yang Menyelamatkan” Jakarta: SKH. Kompas, 6 April 2014 hal.23).
TG pada tanggal 9-11 Juni 2005 menyajikan ‘Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu’ di Auditotium The House of World Cultures kota Berlin. In-Transit Festival merupakan salah satu program ‘The House of World Cultures’ yang menampilkan perkembangan mutakhir dunia tari, musik, dan tea¬ter kontemporer dari seluruh dunia. Di samping pentas, TG mendapat kesempatan mengikuti side event: Knowledge-Lab, sebuah forum diskusi dan workshop bagi para sutradara, koreografer, dan kritikus yang hadir dalam festival tersebut (V GAN, “Teater Garasi Pentas ke Berlin”, Jakarta: SKH. Kompas, 5 Juni 2005). TG pada tahun 2006 melawat ke Jepang berkolaborasi dengan ’Shizuoka Teater Company’ di bawah arahan sutradara Satoshi Miyabi. Pada tanggal 28 Agustus 2007 TG mementaskan sekuel Waktu Batu di Roemah Kemang Timoer Toedjoeh dalam acara ‘Kelola Benefit Dinner’ Yayasan Kelola guna mendukung pengembangan seni pertunjukan Indonesia.

Fase keempat, ‘Keluar ke Jalan, Memasuki Kenyataan di Ruang-ruang Antara: Menuju Garasi Performance Institute’ (2008-2014). Yudi Ahmad Tajudin mengatakan sebagai berikut. Sejak tahun 2008, TG meninggalkan fase laboratoium. Fase laboratorium dan cara kami membangun budaya pelatihan (training culture) itu memang gila-gilaan. Setiap hari, setiap anggota harus berlatih. Dalam perkembangannya, kami khawatir menjadi terlalu kaku steril atas isu dan ide dari tujuan awal penciptaan sebuah karya pertunjukan. Sejak awal 2013 kami menyebutnya TG sebagai institut seni pertunjukan (performance institute).
Lebih lanjut Yudi Ahmad Tajudin menjelaskan demikian: TG memiliki akumulasi pengalaman dan pengetahuan. Kami meyakini, dari pengalaman 20 tahun itu ada yang bisa dibagikan dan itulah gagasan dibalik fase TG menjadi institut seni pertunjukan. TG menggarap berbagai pendekatan teater: teater dokumenter, teater tubuh, teater visual. Konsep estetika TG tidak tunggal. Kami berusaha terus menemukan strategi estetika yang pas atas gagasan yang melandasi penciptaan. Yang mempertemukan kami adalah ‘menggunakan teater sebagai alat baca dan alat ungkap kenyataan’. Kalau kami disebut melintas-lintas metode dan lintas pendekatan, itu semua karena watak awal TG (Yudi Ahmad Tajudin dalam Ary Wisanggeni, ”Teater Garasi Pertanyaan-pertanyaan Yang Menyelamatkan”, Jakarta: SKH. Kompas, Minggu, 6 April 2014 hal.23).
Bulan mei 2008, TG mementaskan lakon “Je.ja.l.an” di Gedung Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta, setelah mereka melakukan riset yang memakan waktu cukup lama sejak 2007. Bulan Februari 2010 untuk pemanasan menjelang ’TG Tour to Japan’, kembali mementaskan lakon ”Je.ja.l.an” di Taman Budaya Yogyakarta. Pada tanggal 26 dan 27 Juni 2010, TG pentas di Kota Shizuoka, kemudian tanggal 29 dan 30 Juni 2010 di Osaka. Kelompok ini akan membawa 17 pemain. Di Osaka, karena dipentaskan di fakultas seni, nanti akan diadakan diskusi seni teater dan kota. Je.ja.l.an dipilih karena lebih kepada keputusan kurator festival. Tapi, isu tentang kota dan segala macam perkembangannya di Indonesia menjadi ketertarikan tersendiri. Segala kejadian dan hiruk pikuk kota di Indonesia, punya nilai khas (Ismi Wahid, ”Teater Garasi Pentas ke Jepang” , Jakarta: Tempo Interaktif, Senin, 22 Februari 2010, jam 15:52 WIB).
Menandai dua dekade kiprah kelompok TG di dunia seni pertunjukkan, pada tanggal 14-23 Januari 2014. Menggelar sebuah agenda seri pertunjukan penciptaan ulang dengan tajuk “Bertukar Tangkap dengan Lepas: Karnaval 20 Tahun TG” di Ark Galeri, Jalan Suryodiningratan 36 A Yogyakarta. Kegiatannya pameran arsip dan dokumentasi kerja 20 tahun TG, perayaan dan refleksi ini juga diwujudkan melalui serangkaian pertunjukan oleh seniman-seniman muda Yogyakarta dan Solo yang menafsir ulang dan menghidupkan kembali karya-karya pertunjukan TG. Seniman dan kelompok seni yang terlibat dalam hajatan ini antara lain adalah Kelompok Sahita, Papermoon Puppet Theatre, Bengkel Mime Theatre, Danang Pamungkas, Adi Wicaksono, Marco Kusumawijaya, Antariksa, Farah Wardani, Mira Lesmana, Titarubi, Syafiatudina, Endah N Rhesa, Yoshi Fajar Kresno Murti, Mella Jarsmaa, Wimo Ambala Bayang dan puluhan seniman-seniman muda Yogyakarta.
Seri pertunjukan terbagi dalam dua (2) pendekatan yakni Recreation (Penciptaan Ulang) dan Reenactment (Pemeragaan). Kelompok Sahita dari Surakarta membuka Seri Pertunjukan dengan penciptaan ulang SUM (14 Januari 2014) menjadi “Cerita dari Rantau” sebuah nomor monolog dari Verry Handayani pada tahun 2008-2009. Kelompok Sahita Tomomi Yokosuka (Jepang) dan Rendra Bagus Pamungkas (Yogyakarta) melakukan penciptaan ulang “Repertoar Hujan” (2001, 2005) karya Gunawan Maryanto (16 Januari 2014). Penciptaan ulang juga dilakukan oleh Bengkel Mime Theatre (Yogyakarta) melalui pertunjukan DEMAM (“Sri Kehujanan di Jalan”). Pertunjukan ini diolah dari “Demam dalam 50 Cm3” (2009), “Sri” (1999), “Repertoar Hujan” (2001), dan “Je.ja.l.an” (2008). Nomor penciptaan ulang lain yang tak kalah menarik dilakukan oleh Danang Pamungkas dan Dewi Galuh Sinta Sari (Surakarta). Danang Pamungkas, koreografer dan penari, yang pernah bergabung dengan koreografer Lin Hwai Min (Taiwan) di Cloud Gate Dance Theater of Taiwan pada tahun 2008-2010 mengolah pertunjukan Waktu Batu (2002-2004). Mereka memberi judul nomor ini “’Grey’ a part of Passion”, pertunjukan digelar pada tanggal 23 Januari 2004. Seri pertunjukan penciptaan ulang ditutup oleh Papermoon Puppet Theatre yang mengkreasi ulang pertunjukan lakon “Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu“ (26 Januari 2014) sekaligus menutup rangkaian pertunjukan penciptaan ulang.
Di samping pertunjukan penciptaan ulang disajikan nomor-nomor Reenactment (pemeragaan) karya-karya pertunjukan TG. Pemeragaan ini dilakukan oleh para alumni peserta studi keaktoran di TG dan pelaku-pelaku teater muda Yogyakarta dari berbagai komunitas. Mereka memilih beberapa karya pertunjukan TG dan memeragakannya. Terakhir, untuk memaknai seluruh rangkaian penciptaan ulang dan peragaan dilangsungkan ‘Diskusi Penciptaan Ulang dan Reenactment” bersama para seniman pelaku penciptaan Ulang dan Reenactment pada tanggal 25 Januari 2014. Yudi Ahmad Tajudin menjelaskan demikian.

Rangkaian karnaval 20 tahun TG adalah upaya dan wujud terimakasih pada publik yang secara langsung maupun tidak turut mendukung keberlangsungan kelompok. Hal ini bentuk berterimakasih pada publik Yogya, karena kami tumbuh dan besar di sini. TG bisa bertahan dan berupaya progresive sebagai suatu kumpulan seniman multi disiplin, karena keterlibatan publik. Publik memaknakan perjalanan teater, awalnya saya dirikan bersama Kusworo Bayu Aji, dan Puthut Yulianto di Yogyakarta, 4 Desember 1993 pada lembaga mahasiswa di kampus Fisip UGM. Kalau masyarakat turut memaknakan akan menjadi modal yang bagus. Itulah kenapa kami sendiri nggak bikin pertunjukan, kami membuat pameran arsip yang dirancang bisa hidup. Kami mengajak seniman-seniman muda Yogya dan Solo, menghidupkan kembali kerja TG menurut selera dan persepsinya sendiri. Karnaval ini bukanlah perayaan dalam arti selebrasi. Kami belum selesai, kami masih ingin dan akan terus (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin di Ruang Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. tanggal 19 Februari 2014).
Berkiprah selama dua puluh (20) tahun di dunia seni pertunjukan, TG ikut berperan dalam perkembangan teater di Indonesia dan tercatat sebagai kelompok teater yang mandiri (independent) dan berhasil mementaskan karya-karyanya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pada tanggal 26 Maret 2014, TG menerima Prince Claus Award dari Pemerintah Kerajaan Belanda melalui Pusat Kebudayaan Belanda yang penyerahannya di Jakarta dan para seniman TG mementaskan “Sehabis Suara #1” di gedung Erasmus Huis Jakarta sebagai bagian dari seremonial pemberian penghargaan tersebut.
Pada usianya yang ke 20 TG pada hari Jum’at tanggal 30 Januari 2015 berpindah alamat dari Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta ke Nitiprayan No. 164 B, RT 04 Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta 55182. Telpon dan Faks: 0274-415844, email: garasi@teatergarasi.org dan web: www.teatergarasi.org. Kepindahan alamat tersebut dilakukan kegitan acara Diskusi Buku Bertukar Tangkap Dengan Lepas Sesilangan dan Lintasan 20 Tahun TG dalam Esai, penyuting Nirwan Ahmad Arsuka sekaligus sebagai tanda Buka Rumah Baru TG/Garasi Performance Institute.
B. Manajemen Teater Garasi. Kreativitas di bidang pengelolaan kelompok teater mengacu pada manajemen yang merupakan salah satu unsur penting dalam menunjang keberhasilan organisasi seni pertunjukan sehingga pertunjukannya dapat tampil dengan baik. Dalam manajemen seni pertunjukan yang harus dikuatkan: profil organisasi seni pertunjukan, konsep dasar manajemen organisasi, perencanaan stratejik, manajemen proyek, manajemen pemasaran, manajemen keuangan dan penggalangan dana (Achsan Permas, Crysanti Hasibuan, L.H. Pranoto, Triono Saputro, Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan, Jakarta: Penerbit PPM, 2003: v). Stephen Langley memaparkan bahwa di Amerika dalam produksi pertunjukan ada model komersial (commercial), populer entertainmen (stock), kelompok kecil (resident), kampus (college), dan sanggar (community) (Stephen Langley, Theatre Management in America Principle and Practice, New York: Drama Book Specialists (Publishers), 1974: 77). Manajemen akan membantu organisasi seni pertunjukan untuk dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.
Kreativitas budaya merupakan sebuah olah cipta yang dikatakan bahwa: the former characterizes creativity by way of it processes, the later by way of its products (Elizabeth Hallam & Tim Ingold, (ed.), Creativity and Cultural Improvisation, New York: Beng Oxford, 2007: 2). Hal ini dapat dimengerti bahwa kreativitas (creativity) budaya sesungguhnya sebuah proses sekaligus hasil dari suatu oleh cipta. Improvisasi budaya mengandung empat hal: 1. generative dalam arti menumbuhkan bentuk-bentuk fenomena kebudayaan sepanjang kehidupan akulturasi yang seimbang; 2. relational, yakni hubungan yang intens dan terus menerus; 3. temporal dalam artian bersifat sementara dan sewaktu-waktu dapat berubah; 4. improvisation, satu cara kerja dalam merefleksi kehidupan (Hallam & Ingold, 2007:3-14).
B.1. Manajemen Kelompok. Karakter spesifik teater dan seni pertunjukan membutuhkan sebuah ‘peristiwa’ untuk kehadirannya. Sementara seni visual dan sastra adalah personal, tidak membutuhkan sebuah ‘peristiwa’. “Dalam usaha mewujudkan peristiwa tersebut dibutuhkan pihak lain, setidaknya ‘pengelolaan penonton’. Maka untuk mewujudkan kesenian perlu orientasi artistik dan proses kreatif.” (Wawancara Kusworo Bayu Aji, selaku Direktur Eksekutif dan Manajer Produksi Teater Garasi, 19 Juni 2009).
Berangkat dari pendapat Kusworo Bayu Aji dalam mengkaji pengelolaan kelompok TG rupanya tidak dapat lepas dari orientasi artistik dan proses kreatifnya. Kusworo Bayu Aji mengatakan sebagai berikut: Ketika membicarakan teater Indonesia, dua persoalan terbesarnya adalah minimnya pertunjukan dan minimnya pertunjukan berkualitas. Mungkin akan lebih sedikit lega apabila hanya menghadapi salah satunya; minim pertunjukan atau minim pertunjukan berkualitas. Sayangnya, kita menghadapi dua persoalan itu sekaligus saat ini. Apa penyebabnya? Tentu saja tidak disebabkan hanya oleh satu faktor. Untuk itu perlu dilihat dari medan teater itu sendiri (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juni 2009).

Gambar. 10. Bagan 1. Medan Teater dibuat oleh Kusworo Bayu Aji, page 10
(Dokumen Nur Iswantara)

Lebih lanjut Kusworo Bayu Aji mengatakan demikian: Teater seperti bidang-bidang yang lain hidup dalam satu ‘medan’ dimana merupakan satu konstelasi, mempunyai kekuatan saling mempengaruhi, memunculkan sebab-akibat, saling menguatkan-melemahkan. Saya sebut ‘medan teater’ dapat digambarkan secara sederhana, jelas terlihat bahwa teater disusun-ditentukan oleh banyak elemen infrastruktur yang dikerjakan-ditanggungjawabi oleh banyak pihak. Dengan kata lain, kehadiran teater sangat ditentukan oleh bagaimana ‘infrastruktur’ yang menyusunnya ada dan bekerja (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juni 2009).
Ketiadaan salah satu ‘infrastruktur’ akan sangat mempengaruhi cara pandang dan strategi para pihak yang berusaha mewujudkan teater. Jika sebagian besar ‘infrastruktur’ teater tidak ada, sementara beberapa pihak yang sangat ingin meng-ada-kan teater. Tentu saja pihak-pihak tersebut akan membangun sendiri ‘infrastruktur’ teater semampunya. “‘Infrastruktur’ yang dibangun pertama kali terdekat demi terwujudnya teater: pelaku, pendidikan seni, dan equipment “ (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juni 2009).
Pihak-pihak yang sangat menginginkan teater ada akan menghimpun beberapa orang untuk bersama-sama mewujudkannya. Medan Teater menurut Kusworo Bayu Aji sebagai berikut: Kontek Indonesia, mereka kemudian secara tidak sadar membagi peran antara sutradara, aktor, penata artistik; melakukan latihan vokal, oleh tubuh; mengadakan beberapa level, kain hitam, lampu taman. Begitulah, mereka tanpa sadar sedang membangun infrastruktur teater. Pelaku (aktor, sutradara, tim art, Pendidikan seni (training, referensi), Equipment pendukung (alat-alat pentas; stage equipment, lighting equipment). Setelah mereka melakukan persiapan beberapa waktu kemudian mereka melakukan pertunjukan. Begitu pertunjukan usai, mereka tidak segera membubarkan diri tetapi membicarakan bagaimana pengalaman latihan yang lalu, bagaimana merawat benda-benda pasca pertunjukan, dan membicarakan kemungkinan cita-cita menjadi aktor, sutradara, atau penata artistik. Mereka membicarakan rencana pentas berikutnya. Pembicaraan dan pertemuan pun berlangsung terus. Sekali lagi tanpa sadar, mereka telah memilih strategi dalam mewujudkan teater melalui pembentukan kelompok (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juni 2009).
Di luar kesadaran dan ketaksadaran, para pelaku teater Indonesia telah melakukan usaha mewujudkan teater di tengah ‘medan teater’ yang ‘infrastruktur’-nya sangat minim. Dalam situasi demikian, strategi yang dipilih membentuk kelompok, bukan membentuk company. Untuk yang terakhir akan mungkin diwujudkan apabila infrastrukrnya ada dengan baik. Posisi manajemen dalam teater tidak jauh berbeda dengan bidang-bidang lain. Ia berada pada posisi sebagai support system atas core yang ada. Dalam hal ini manajemen teater merupakan support system atas ide teater. Sebagai sebuah support system selalu menyesuaikan dengan arah dan strategi teaternya. Berkaitan dengan manajemen teater di Indonesia Kusworo Bayu Aji mengatakan demikian.

Manajemen yang bersifat supportive akan selalu mencari kemungkinan ke segala hal untuk memberikan dukungannya bagi proses pencapaian tujuan teater. Untuk kepentingan teater ambil jenis manajemen paling dasar yang sudah dilakukan oleh pelaku teater Indonesia. Paling tidak, sebagian besar pelaku teater Indonesia, sebenarnya telah menjalankan tiga macam manajemen yaitu Manajemen Kelompok, Manajemen Produksi, dan Manajemen Pendidikan (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juni 2009).

Gambar 11. Bagan 2. Posisi Manajemen dalam
Teater Bagan dibuat oleh Kusworo Bayu Aji. page 12.
(Dokumen Nur Iswantara)

Bagan 2.2. merupakan respon atas situasi medan teater di Indonesia sebagaimana tergambar dalam bagan 2.1. Ketika ‘infrastruktur’-nya miskin, tidak mendukung maka para pelaku berhimpun bersama membentuk kelompok. Di dalamnya mereka mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada mulai dari aktor, penata kostum, sutradara, pemain musik, pengurus rumah tangga, sekretaris, bendahara. Mereka mengelola administrasi dan keuangan kelompok, inventaris benda-benda pendukung pertunjukan, jaringan. Mereka berusaha berhimpun-dalam-satu-wadah. Ada semangat heroisme yang muncul dalam situasi semacam ini, antara lain melalui slogan ‘Kegagahan dalam Kemiskinan’ (Rendra. “Kegagahan Dalam Kemiskinan: Teater Modern Indonesia” dalam Wahyu Sihombing, Slamet Sukirnanto, Ikranegara (ed), Pertemuan Teater 80, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta,1980:3-10); ‘Bertolak dari yang Ada’ (Putu Wijaya, “Jalan Pikiran Teater Mandiri: Bertolak Dari Yang Ada”, dalam Wahyu Sihombing, Slamet Sukirnanto, Ikranegara (ed), Pertemuan Teater 80, Jakarta:Dewan Kesenian Jakarta,1980:11-35).

Elemen paling penting dalam kelompok adalah SDM. Tanpa SDM yang berkualitas maka kelompok apapun akan mengalami kesulitan besar dalam menjalankan misinya meraih cita-cita, demikian juga dengan teater. Oleh karena itu manajemen SDM menjadi satu wilayah yang harus diprioritaskan. Sangat lazim bagi sebuah perusahaan, misalnya, akan mengalokasikan dana yang cukup besar untuk mendapatkan SDM berkualitas yang mereka harapkan. Bidang manajemen SDM ini adalah bidang yang sangat rumit dan berat sekaligus menentukan keberhasilan sebuah kelompok.
Kusworo Bayu Aji menjelaskan pentingnya SDM pada manajemen kelompok teater sebagai berikut: Manajemen SDM untuk teater saya pikir jauh lebih rumit dan berat mengingat reward yang ada tidak se-material yang diberikan oleh institusi-institusi profit. Maka dibutuhkan cara-cara strategi yang cerdas-kreatif untuk dapat mengelola SDM secara optimal. Manajemen kelompok juga harus berhasil memposisikan dengan jelas hubungan antara kelompok dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya. Hal ini penting karena masing-masing orang / SDM adalah pribadi-pribadi yang merdeka atas diri dan hidupnya. Posisi hubungan antara-kelompok dan individu yang tidak jelas akan menggangu dinamika kelompok dan masing-masing orang yang terlibat (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juni 2009).

Gambar 12. Bagan 3. Partisipasi Individu-Pertumbuhan Kelompok,
Bagan dibuat oleh Kusworo Bayu Aji.page 13.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Lebih lanjut Kusworo Bayu Aji menerangkan pentingnya manajemen teater sebagai berikut: Ketika membahas manajemen teater sebagian besar dari penggiat teater akan segera menunjuk hal-hal berikut: penonton, publikasi, dana, sponsorship, perijinan, liputan media, lembaga kesenian, dsb. Bahkan jarang sekali membahas perihal penyusunan sistem, modul latihan dasar, strategi pengelolaan SDM, modal, jaringan, institusionalisasi pengetahuan. Elemen manajemen di kelompok pertama adalah elemen manajemen produksi sedangkan kelompok kedua adalah elemen manajemen kelompok. Jika menyoal keberlanjutan teater akan lebih strategis bila memperhatikan elemen di kelompok kedua, manajemen kelompok. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa karakter manajemen kelompok adalah daily sedangkan manajemen produksi adalah accidental (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Juni 2009).

Teater terjadi ketika ia mempresentasikan dirinya di depan penonton melalui karya pertunjukan. Dalam usaha tersebut maka dibutuhkanlah sebuah manajemen produksi karya teater. Ada beberapa elemen produksi karya teater. Pertama, ide atau gagasan teater. Ide atau gagasan ini bersumber dari bagaimana para pelaku menempatkan teater dalam dirinya. Kedua, ide atau gagasan ini bersumber dari pusatnya ‘Teater’. Ketiga, ide atau gagasan telah ada maka ia butuh untuk diwujudkan oleh para aktor, tim artistik, dan tim manajemen produksi. Di sinilah titik untuk melihat sejauh mana capaian manajemen kelompok dan pendidikan yang telah mereka lakukan setiap harinya. Ide yang bagus akan sangat ditentukan keberhasilan perwujudannya oleh capaian manajemen kelompok yang mengelola SDM, modal, jaringan, administrasi dan keuangan; manajemen pendidikan yang mengolah sistem dan penyusunan modul latihan, terbentuknya satuan-satuan pengetahuan; dan manajemen produksi yang mengelola sebuah event berlangsung secara efektif dan efesien dalam menyampaikan ide atau gagasan pertunjukan kepada penonton. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 27 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan