SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SENI & BUDAYA
Beranda / SENI & BUDAYA / Penulis Buku LAYAR KERTAS dan KAYON Menyuarakan Memori Potongan Sejarah

Penulis Buku LAYAR KERTAS dan KAYON Menyuarakan Memori Potongan Sejarah

Bantul // suaraglobal.news. – Di ruang budaya Joglo Randu Kuning membincang buku: LAYAR KERTAS Dunia Pertunjukan Bocah dan Dramaturgi dari Kediri (1962-1974) – 2025 dan KAYON Falsafah Jawa & Dramaturgi Dalang Cilik dari Kediri (1975-1977) – 2026, Penerbit Interlude Yogyakarta. Diskusi bertempat di Joglo Randu Kuning, Jl. Ambarketawang RT. 08 Brajan Tamantirto Kasihan Bantul, pada hari Jum’at, 10 Juli 2026, pukul.13.00 sd. 17.30 WIB.

Narasumber, kedua penulis buku Dr. Edi Purwanto dan Wasi Ismoyo. Pembahas budayawan Taufik Rahzen dan Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., Pengajar Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan FSP ISI Yogyakarta. Acara dimulai dengan penampilan aktor gaek Mirkun Awali aktivis Teater Gadjah Mada dan alumni Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta yang menyajikan tembang Jawa penuh daya pukau. Sajian ini unik karena sekaligus sebagai ritus sambutan sebelum bedah buku dilaksanakan.
Moderator Cak Kandar seorang penyair dan penulis memandu jalannya acara bedah buku. Dr. Edi Purwanto dan Wasi Ismoyo ismoyo pun dipersilakan duduk di kursi pembicara dilanjut Taufik Rahzen dan Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum. Cak Kandar mempersilakan Dr. Edi Purwanto memaparkan kedua bukunya. Selanjutnya Mas Edi Purwanto membedah buku LAYAR KERTAS Dunia Pertunjukan Bocah dan Dramaturgi dari Kediri (1962-1974) – 2025 yang editornya Wasi Ismoyo.

Mas Edi melalui tayangan ppt menjelaskan bukunya berisi: Bagian 1 : Latar, Bagian 2 : Panggung, Bagian 3 : Ceritaku di Sekolah Dasar, Bagian 4 : Ceritaku di Luar Sekolah, Bagian 5: Berguru Seni dan Falsafah Jawa.
Kehidupan Masa Kecil: Perjuangan orang tuaku dan perubahan dari kekurangan menjadi berkecukupan; Kenangan masa kecil hidup di Desa Pakis, Trenggalek; Ayahku meninggal dunia di usia muda dan berkesempatan berpesan ke ibuku di malam keempat setelah meninggal; Pengalamanku di SD, dari siswa terbelakang menjadi terpintar.
Berkesenian Pasca G30 S PKI: Mendirikan ‘Ludruk’ Edi Warna, Pertentangan antara kelompok santri dan abangan, Belajar menari dan nembang Jawa, Pentas tari Gatutkaca gandrung dan Bermain Ketoprak bocah. Mas Edi pun menjelaskan Tradisi Jawa: Neptu dan slametan bayen; Nama tua; Dongeng nenekku; Permainan tradisional; Nginang; Menyebar garam saat hujan deras; Surup dan kesurupan; Suwuk; Petan dan Ilmu Titen.

5 Besar Festival Teater Pelajar Piala Sri Murtono 2026 Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal

Belajar Falsafah Jawa: Aksara Jawa karya agung nenek moyang; Bahasa Jawa kaya kosa kata; Tembang dan lagu Jawa yang kaya makna; Nama orang dari hewan Endemik Jawa; Pemikiran konservasi di tahun 1863; Hasta Brata dan Kemimpinan Jawa; Adigang-Adigug-Adiguna dan Aja Dumeh.
Buku KAYON Falsafah Jawa & Dramaturgi Dalang Cilik dari Kediri (1975-1977) – 2026 yang ditulis berdua Dr. Edi Purwanto dan Wasi Ismoyo Ismoyo. Terdiri dari Bagian 1 : Merajut Kisah di SMP 3 Kediri; Bagian 2 : Kisah di Luar Sekolah; Bagian 3 : Belajar dari Pandawadan Kurawa, Telaah Menuju Bharatayuda. Merajut Kisah di SMP 3 Kediri: Ujian di Hari Pertama; Bintang Kelas Kontroversial; Pak Sari Wahono; Bu Utari dan Wedhatama; Belajar Bersama Nono; Wayang Garingan; Mendalang di Rumah Nono; Aku Pindah Kelas; Ketika di Kelas 3 ; Keberuntungan di Hari Terakhir.

Selanjutnya Kisah di Luar Sekolah terdiri: Pesan Nenekku; Yu Painah; Main Ketoprak di WO Budi Lestari; Tayub Tulungagungan; Endang Sawitri; Bermain Wayang Kertas; Pentas Wayangku dan Telaah Jaman Kalatida; Pentas Wayangku: Wirata Parwa. Belajar Falsafah Jawa: Serat Wedatama (Pupuh Pangkur), Serat Wulangresh (Pupuh Kinanti); Serat Kalatida (Pupuh Sinom); Pergiliran Zaman: (a) Kalatida (kebingungan, ketidak-adilan& krisis pemimpin); (b) Kalabendu (Kerusakan), dan (c) Kalasuba (kemakmuran dan ketenteraman); Telaah ‘Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu’: (a) Manunggaling Kawula Gusti, (b) Sangkan Paraning Dumadi, (c) Memayu Hayuning Bawana; Cerita Wayang: Telaah Menuju Bharatayuda.

Wasi Ismoyo sebagai editor dan penulis buku menambahkan bahwa dalam konteks mengedit dan menulis bersama Mas Edi dipergunakan konsep dramaturgi ala Hofman berkenaan dengan presentasi diri. Panggung bukan yg maya tapi nyata. Pak Edi belajar sendiri (otodidak). Belajar dengan Kanoman, Kanuragan, Kadonyan Panggung depan dan Panggung belakang.
Dalam Layar Kertas, beliau belajar sendiri dari kaset2: dalang, tari. Layar kertas dari kertas semen. Dalam buku Kayon; kayon itu wit – kawit, pohon. Cerita kisah nyata Edi di jagat pedalangan. Buku Layar Kertas oleh peneliti BRIN disebut sebagai Novel. Pak Edi dalam menulis dari kisah nyata. Yang luar biasa dalam menulis buku ini Pak Edi mengandalkan daya ingatan. Hal ini sebagaimana Pramudya, Tan Malaka. Saya berperan memperkaya di lahan-lahan kosong. Dua buku hadir sebagai kisah nyata. Menurut Mas Wasi dalam menulis buku Pak Edi menyampaikan pesa: 1.Memayunhayuning bawaha dengan mencintai budaya sendiri, dan 2. Mengingatkan bawa bangkrutnya peradaban akan merugikan warga bangsa. Contoh berkembangnya penanaman kelapa sawit konsep dari Barat akan melahirkan kerugian. Akankah terus dijajah?
Sedang pembahas Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum. menanggapi bahwa dua buku dramaturgi seni pertunjukan dari Kediri Jawa Timur tulisan Dr Edi Purwanto pada seri-1 ‘Layar Kertas’ dan seri- 2 ‘Kayon’ ditulis bersama Wasi Ismoyo sebagai wujud kecintaan pada produk budaya Jawa khususnya seni wayang, kethoprak, ludruk dan lainnya. Ada penggambarkan keintiman sebuah keluarga Jawa, petualangan seni panggung dan budaya Jawa yang dicintainya.

Dalam hal ini merekam praktik kehidupan Jawa di masa lalu. Penegasan betapa dalam menjalani kehidupan ini senang dan susah itu selalu datang silih berganti. Kedua buku memuat nilai-nilai moral ajaran Jawa yang tersembunyi dalam serat, petuah, dongeng, tembang dolanan, tembang Jawa, maupun epos pewayangan, yang memberi sentuhan dan kesadaran akan makna sebuah kehidupan.

BudayawaTaufiq Rahzen sangat apresiatif apa yang dilakukan Mas Edi Purwanto dan Wasi Ismoyo melalui kedua buku merupakan liku-liku perjalanan Edi menempuh jenjang tertinggi dalam hirarki seniman Jawa yakni sebagai seorang Dalang. Kisah dimulai saat Edi masuk sekolah menengah pertama (SMP) tahun 1975. Perjalanannya menempuh pendidikan di SMP Edi melaluinya dengan penuh gejolak dan drama-drama menarik juga menggelikan, baik dari guru maupun teman-teman sekolahnya. Jagat panggung baginya sakral dan penuh filosofi kehidupan.

Menyulam Jiwa Dewi Sri yang Robek di Hutan Nusantara Naskah dan Sutradara Rano Sumarno, M.Sn.

Taufiq Rahzen mengungkapkan jika dicermati dengan teori Barucha atau pun Bourdieu, perjalanan laku seni Edi yang terekam dalam buku ini seolah mengukuhkan teorinya. Edi memiliki modal (capital) menjadi seorang dalang karena semasa sekolah dasar Edi setidaknya sudah memiliki dasar bisa nembang. Modal ini ia peroleh selain karena berguru juga karena kebiasaannya (habitus) mendengarkan kaset- kaset pedalangan dari dalang terkenal saat itu seperti Ki Nartosabdo, dan kebiasaannya menonton kesenian panggung di masa SD. Dari habitus dan capital ini Edi memberanikan diri tampil (arena) meski masih dalam bentuk yang disebut dalam buku ini sebagai ‘Wayang Garingan’. Edi mengawali arena itu di ruang kelas di hadapan teman sekelas dan guru, sebelum akhirnya mendapatkan arena yang sebenarnya (layak) ketika mendalang di rumah Nono, teman sekelasnya. Dari pentas ini eksistensinya sebagai seorang dalang cilik pun mulai diakui.

Usai Refleksi Biografi Layar Kertas dan Kayon ditutup dengan pentas Wayang Pulau oleh Mas Nanang Garuda dkk., dengan lakon Wonomurko. Wayang Pulau karya seni inovatif ciptaan Nanang Rakhmad HIdayat alias Nanang Garuda. Pentas kali ini dengan dalang Ki Supriadi Sabda Carita, pemusik Mas Nanang, Buteng, Yopie, Bowie. Tokoh-tokoh wayang: Rakyan Borneo, Rakyan Selebes, Rakyan Andalas, Rakyan Papua, Rakyan Jawadwipa, Batara Angkara (bos antagonis), Kyai Gardala – Garuda Pancasila (Hero). Tokoh lainnya Transformer: mesin penghancur hutan, bias menjadi robot. Ponokewan: Abdi dalem para Rakyan, merupakan binatang endemic masing-masing. Wayang kulit dengan visualisasi peta kepulauan Indonesia. Ada upaya mengenalkan keragaman nusantara dan nilai-nilai Pancasila. Sungguh karya kreatif yang patut diapresiasi.
Akhirnya sepenggal sulukan menutup tulisan ini : Kayune purwa sejati/Pangira jagat godhong kinarya rumembi/Apradapa kekuwung/Kembang lintang salaga langit/Woh surya lan tengsu/Kasirat bun lan udan/Puncak akasa bumi bengkah pratiwi/Oyode bayu bajra (Suluk Pathet Sanga wantah). *** Penulis: Nur Iswantara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement