SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BUDAYA
Beranda / BUDAYA / Anoman Maneges Pagelaran Wayang Kulit Gelar Budaya Dusun Surobayan Argomulyo Sedayu Bantul 

Anoman Maneges Pagelaran Wayang Kulit Gelar Budaya Dusun Surobayan Argomulyo Sedayu Bantul 

Bantul. Suaraglobal.news// Bertempat di Halaman Rumah Bapak Dukuh Juwakir, RT 09 Dusun Surobayan Kalurahan Argomulyo Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pada hari Sabtu, 26 September 2026 Pukul 19.30 WIB – selesai diadakan Gelar Budaya Dusun Surobayan dengan menampilkan Pagelaran Wayang Kulit Sedalu Natas dengan Lakon Anoman Maneges dengan Dalang Ki Totok BM Yunianto. Dengan bintang tamu Elisha Orcarus, Rina Febriana, Mantili, dan Juwakir. Karawitan “Sanggar Suro Pawiro”

Pagelaran Wayang Kulit lakon Anoman Maneges dalam Gelar Budaya Dusun Surobayan Argomulyo Sedayu Bantul DIY dapat terlaksana menurut keterangan Bapak Juwakir, berkah dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dana Keistimewaan dan DWB Center. Acara ini akan dihadiri Kepala Dinas Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Provinsi DIY, Tokoh Masyarakat, Budayawan, Seniman dan Masyarakat.
Lakon Anoman Maneges menurut Dalang Ki Totok BM Yunianto akan mengkisahkan peristiwa di kerajaan Dwarawati. Pada saat itu kerajaan Dwarawati mengadakan pertemuan agung. Dihadiri oleh sang rektana Patih Udawa, Senopati Dwarawati Raden Setyaki dan putra mahkota Raden Samba Wisnu Broto. Tidak disangka pertemuan agung kedatangan tamu agung raja Mandura prabu Baladewa. Prabu Baladewa menceritakan bahwa di negara Hastina ada pandita baru yg bernama Resi Widarbo yg berniat menyatukan Pandawa dan Kurawa dan menggagalkan perang Baratayudha. Adapun dengan syarat menggunakan tumbal darah resi Hanoman. Dari situlah prabu baladewa yang pada saat itu ikut dalam pertemuan pejabat istana Hastina dan juga para Pandawa.
Prabu Baladewa meminta pada adiknya yang tidak lain Raja Dwarawati Prabu Kresna untuk mengecek kebenaran pandita itu, juga untuk menyelamatkan para Pandawa yg masuk dalam perangkat jahat sang Resi Widarbo. Prabu Baladewa dan Prabu Kresna berniat ke Hastina untuk menyelamatkan Pandawa tetapi kedatangan Pandita Durna utusan dari Hastina yang berniat memboyong Prabu Kresna ke Hastina untuk menggagalkan perang Baratayudha. Singkat cerita terjadi pertikaian dan perkelahian antara Kurawa dan para pejabat Dwarawati. Dimenangkan oleh kerajaan Dwarawati.

Selanjutnya pandita Durna mengajak rader Werkudara dan Arjuna untuk menghadap Sang Resi Widarbo di pertapan Sela Gumarang, disitu pandita Durna menyampaikan kegagalan untuk memboyong Kresna ke Hastina dan meminta pertolongan Sang Resi Widarbo diberilah pusaka untuk membunuh Semar.
Selanjutnya dikisahkan di pedukuhan Karang Kabulutan tempat bernaung Ki Semar kedatangan Resi Mayangkara atau dikenal Hanoman, disitu Hanoman ingin mengetahui suwarga untuk tempat Hanoman nantinya. Akan tetaoi Ki Semar menyarankan untuk menghadap langsung pada Sanghyang Wenang di Kayangan Ngondar Andir Bawana. Hanonan menghadap Hyang Wenang dinasehati bahwa saat ini belum waktunya untuk menempati atau melihat surga karena masih banyak tanggung jawab Hanoman didunia.
Kemudian Hanoman bertemu Ki Semar dan Prabu Kresna bahwa pandita yang ada di Hastina bukanlah pandita yang sejati melainkan perwujudan dari raja Rahwana. Hanoman diperintahkan oleh Prabu Kresna untuk membongkar pandita palsu dan mengajak para Pandawa untuk kembali ke Amarta. Dari kisah tersebut menceritakan bahwa seseorang belum bisa masuk surga karena masih belum selesai tanggung jawab didunia. Maka carilah bekal dan bawalah bekal sebanyak-banyaknya untuk bekal di kehidupan selanjutnya yang kekal abadi. *** [Penulis: Nur Iswantara].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement