L
Memuat...
SENI & BUDAYA

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Baru (Bag. 1)

Gambar 1. Logo Teater Garasi
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Halaman 1

Yogyakarta, suaraglobal.news. Intisari: Teater Garasi adalah sebuah kelompok teater
kontemporer berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berhasil mengelola kelompok secara mandiri.

Teater Garasi memiliki visi, misi jelas dan ditopang institusi legalformal Yayasan Teater Garasi. Konsep kerja kreatif Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater, menghasilkan satu karya pertunjukan lakon Waktu Batu (WB) yang terdiri tiga versi berjudul ‘Waktu Batu, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1); ‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’ (WB 2); dan ‘Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu(WB 3)’.

Ide tema pertunjukan lakon WB dari Yudi Ahmad Taudin yang gelisah pengalaman berteater,
pembacaan waktu, ‘sukerto’ dan ‘ruwatan’ menjadi ide tema: waktu, transisi dan identitas.

Pertunjukan lakon WB yang ide temanya dikembangkan dari teks sumber mitologi Jawa: Watugunung, Sudamala, Murwakala, dan teks sejarah Majapahit akhir, merupakan
pertunjukan yang inspiratif, proses kreatif memakan waktu panjang (2001-2004), dan
pertunjukannya mendapat tanggapan penonton, kalangan media dan dipentaskan di beberapa kota di Indonesia dan manca negara.

Penelitian ini menggunakan teori kreativitas, dramaturgi, intertektualitas, dan mise en scene (pengadeganan). Teori kreativitas budaya Elizabeth Hallam dan Tim Ingold; teori kreativitas teatrikal James Roose-Evans, Jerzy Grotowski, dan teori dramaturgi George Kernodle dan Portia Kernodle menganalisis proses kreatif pertunjukan lakon WB.

Teori kreativitas manajemen Stephen Langley dan Achsan Permas, dkk., untuk menganalisis pengelolaan kelompok Teater Garasi. Teori intertektualitas Yulia Kristeva dan teori mise en scene
(pengadeganan). Patrice Pavis untuk menganalisis arti kehadiran petunjukan lakon WB.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kreatif Teater Garasi Yogyakarta dalam
pertunjukan lakon WB merupakan pematangan ide tema: waktu, transisi dan identitas dengan
bersumber mitologi Jawa: Watugunung, Sudamala, Murwakala dan teks sejarah Majapahit akhir dengan kerja kreatif ‘laboratorum penciptaan teater’ mulai proses penulisan teks pertunjukan, ekplorasi keaktoran, ekplorasi artistik, penyutradaraan, dan pengelolaan kelompok dan produksi sehingga menghasilkan pertunjukan lakon WB 1, 2, 3 yang dapat dinikmati penonton.

Bab I PENGANTAR terdiri A. Latar Belakang. Teater Garasi (TG) adalah salah satu kelompok teater kontemporer (Istilah teater kontemporer mengacu pendapat Bakdi Soemanto (2004) bahwa teater kontemporer memiliki pemahaman sebagai berikut:
1. Pementasan teater yang menggunakan dialog dan pengadeganan (mis en scene) ceritanya;
2. Pementasan teater yang dialog-dialognya menggunakan bahasa Indonesia;
3. Pementasan teater yang idiom dan gagasan pemanggungannya bersentuhan dengan konvensi dan gagasan teater Barat;
4. Peristiwa atau event tertentu yang dipersepsi publik sebagai peristiwa teater. Misalnya kasus
pementasan nomor-nomor pendek improvisatoris yang diciptakan Rendra dan Bengkel
Teater-nya (1967-1970-an) yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) dalam drama-drama realisme tetapi berangkat dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan
bebunyian mulut tertentu atas suatu tema, dalam Bakdi Soemanto, et.al., Kepingan Riwayat Teater Kontemporer di Yogyakara, Laporan Penelitian Existing Documentation dalam
Perkembangan Teater Kontemporer di Yogyakarta Periode 1950-1990, (Yogyakarta:
Kalangan Anak Zaman, Pustaka Pelajar dan The Ford Foundation, Pustaka Pelajar, 2004) yang cukup dikenal di Yogyakarta, Indonesia dan manca negara. TG berdiri pada tanggal 4 Desember 1993 di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dengan pendirinya Yudi Ahmad Tajudin, Kusworo Bayu Aji dan Puthut Yulianto (Wawancara dengan Kusworo Bayu Aji, 19 Januari 2008 di Sanggar TG, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta).

Penamaan TG melalui proses yang cukup unik. Pada awalnya bernama ’Kelompok Belajar’. Hal itu dikarenakan mewadahi kegiatan ekstrakurikuler seni teater di Fisip UGM sebagai kelanjutan menyalurkan bakat berteater ketika masih siswa di sekolah menengah atas. Anggota Kelompok Belajar’ masih memiliki banyak kepentingan, ada yang menyukai sastra, menonton film, sekedar mencari teman, dan ada yang benar-benar belajar teater.
Sejak tahun 1994, ’Kelompok Belajar’ berlatih teater di tempat parkir kendaraan mahasiswa
Fisip UGM maka namanya menjadi ’Teater Parkir’.

Tahun 1995 nama ’Teater Parkir’
berganti menjadi ’Teater Garasi’ atau sebutan formal di kampus ’Teater Garasi’ Fisip UGM.
Kelompok ini menjadikan kegiatan teater sebagai media belajar ilmu komunikasi dengan
memanfaatkan teater sebagai media komunikasi.

Kelahiran TG awalnya bukan dari sebuah pentas di panggung teater tetapi dalam acara
’Apresiasi Seni dan Politik’ yang digelar di Fisip UGM bahkan ketua TG waktu itu adalah
ketua Dewan Mahasiswa, Titok Haryanto. TG lahir di tengah pertarungan faksi-faksi kelompok gerakan politik mahasiswa. Setelah menjadi ’aktor jalanan’ di berbagai demonstrasi mahasiswa ujung-ujungnya para anggotanya ingin naik pentas di panggung
teater (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin di Sanggar TG, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta, tanggal 19 Juni 2009).

 

Gambar 2. Yudi Ahmad Tajudin – berdiri: pendiri, direktur artistik,
pelontar ide tema, sutradara; Kusworo Bayu Aji –duduk: pendiri, direktur eksekutif, pimpinan produksi, aktor Watugunung Dewasa
dalam pertunjukan lakon WB 1 (2002)
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Halaman 4

Pada tahun 1995 keinginan dan kemauan anggota kelompok TG Fisip UGM naik panggung begitu kuat. Dilakukanlah merekrutmen anggota baru dari kalangan mahasiswa UGM.

Sejumlah 20 mahasiswa terpilih menjadi anggota, ada yang dari mahasiswa Fisip, Fakultas
Pertanian dan Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin di Sanggar TG, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta,
tanggal 19 Juni 2009).

Pada pentas perdananya, 2 April 1995 di Gedung Purna Budaya
Yogyakarta sekarang PKKH Hardjosumantri UGM Yogyakarta, mementaskan lakon ’Wah’
karya Putu Wijaya (‘Wah’ karya Putu Wijaya, Jakarta, naskah tidak diterbitkan.

Pada dunia teater, istilah lakon, naskah, naskah drama, teks drama, teks dramatik, teks pertunjukan memiliki pengertian yang sama yakni mengacu kepada teks cerita yang menjadi bahan pementasan atau pertunjukan) dengan sutradara Yudi Ahmad Tajudin. Gaya penyajiannya komikal, dimainkan 17 aktor dan mampu memikat penonton kurang lebih 1000 orang.

Pada bulan Oktober 1995 TG pentas keliling ”…Atau Siapa Saja” ke empat kota di Pulau
Jawa: Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Malang. Karya ”…Atau Siapa Saja” adaptasi
Yudi Ahmad Tajudin dari naskah drama Caligula karya Albert Camus (Wawancara dengan
Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 19 Juni 2009). Tahun 1996 TG, tepatnya tanggal 23 Mei 1996
mementaskan ”Panji Koming” di Gedung Purna Budaya Yogyakarta.

Pertunjukan ”Panji Koming” berdasarkan sebuah cerita komik ”Panji Koming” karya kartunis Dwi Kundoro yang diinterpretasi dalam bentuk teater kontemporer oleh Yudi Ahmad Tajudin dan
Dirmawan Hatta (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 19 Juni 2009). Masih di
tahun 1996, TG kembali mementaskan Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer sutradara Yudi
Ahmad Tajudin, Zeni Setyo Nugroho. Tepatnya pentas pada tanggal 1-2 Maret 1996 di
Gedung Purna Budaya Yogyakarta dan tanggal 6-7 Maret 1996 pentas ulang di Gedung
Taman Budaya Surakarta (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 19 Juni 2009).
Gambar 2. Yudi Ahmad Tajudin – berdiri: pendiri, direktur artistik,
pelontar ide tema, sutradara; Kusworo Bayu Aji –duduk: pendiri, direktur eksekutif, pimpinan produksi, aktor Watugunung Dewasa dalam pertunjukan lakon WB 1 (2002) (Dokumentasi Nur Iswantara)

Pada tanggal 11 Juli 1997 dalam acara Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-VII, TG
mementaskan ”Carousel” dengan sutradara Yudi Ahmad Tajudin di Gedung Purna Budaya
Yogyakarta. ”Carousel” merupakan karya kolektif anggota TG yang mengangkat tema
kekerasan. Pentas ”Carousel” tidak sebagaimana biasanya yang berdasarkan naskah drama
akan tetapi dari tema divisualisasikan dalam bentuk pertunjukan. ”Carousel” adalah kisah tentang kekerasan yang menggantung di atap rumah, tumbuh di jalanan, menari di podium-podium, berkibar pada bendera-bendera dan kata-kata. Juga kekerasan yang menghibur kita di TV-TV, dan benda-benda yang memaksa kita masuk dalam puisi (Wawancara dengan
Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 19 Juni 2009).

Pentas ”Carousel” pun mendapat tanggapan dari penonton. Seorang penonton, pengamat
masalah sosial-budaya Aprinus Salam menyatakan sebagai berikut: …Garasi dan Ahmad
Tajudin tahu dan sadar betul bahwa ia sedang memanggungkan sesuatu untuk ditonton.

Kesadaran ini penting bukan dalam pengertian untuk menjaga kemungkinan berkomunikasi dengan penonton yang tidak lagi terbiasa hal-hal yang berbau konvensional, lebih dari itu
semacam siasat untuk menjaga ketegangan dan keasyikan pementasan dan penonton itu
sendiri (Aprinus Salam, ’Carousel’ Adalah Biografi Massa, Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat,
Minggu Legi 20 Juli 1997: 7).
Kemudian aktivis teater, pemerhati budaya Whani Darmawan, mengatakan sebagai berikut.
… ada hal yang patut dicatat dalam hal ini mengenai TG, ialah kekompakan, pencarian dan
semangat yang luar biasa dalam membangun keseriusan berteater. Upaya penggalian materi baik secara ilmiah-intelektuil dan spirituil patut diacungi jempol…(Whani Darmawan, Resensi Teater FKY “Carousel” , Yogyakarta: SKH BERNAS, Minggu Legi, 20 Juli 1997: 8).

Pada tanggal 7 November 1997, TG kembali mementaskan “Twins” di Gedung Bentara
Budaya Yogyakarta. “Twins” merupakan pertunjukan pantomim karya Jamaluddin Latief dan Gunawan Maryanto (Wawancara dengan Gunawan Maryanto, tanggal 19 Juni 2009, di Sanggar TG Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta).

Kemudian TG pada tanggal 11-13 Desember 1997 di Gedung Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta, pentas “Empat Penggal Kisah Cinta” drama realis kisah cinta: ”Pagi Bening”,
”Pernikahan Perak”, ”Tempat Istirahat”, dan ”Teman Terbaik” sutradara Yudi Ahmad Tajudin (Wawancara dengan Gunawan Maryanto, tanggal 19 Juni 2009).
TG pada tanggal 15 September sampai dengan tanggal 15 Oktober 1998 pentas keliling mulai dari Gedung LIP Yogyakarta, Teater Utan Kayu Jakarta, Japan Foundation Jakarta dan Expose Café Jakarta, yang dipentaskan “Tiga Kisah Cinta”. Pertunjukan merupakan
kristalisasi dari ”Empat Penggal Kisah Cinta” minus ”Teman Terbaik” (Wawancara dengan
Gunawan Maryanto, tanggal 19 Juni 2009).

Di tahun 1998 anggota TG menjalani proses pemikiran ulang dalam berteater karena selama
ini kegiatannya berada dalam lingkungnan kampus Fisip UGM. Seluruh anggota pun besepakat menata ulang pengelolaan organisasi, ungkap Tajudin sebagai berikut: Pada tahun
ini para pelaku TG mejalani masa perenungan dan pemikiran ulang dalam berorganisasi yang
selama ini menjadi bagian kegiatan kampus di Fisip UGM. Kami menyadari teater masih
belum menjadi bagian kesadaran budaya di Indonesia. Teater masih harus berjuang untuk
masuk dan menciptakan historisnya sendiri. Oleh karena itu kami memutuskan untuk
’independen’ (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 19 Juni 2009, periksa “Dari Fisipol UGM Mencuat Teater Kampus Handal” , Yogyakarta: SKH. Yogya Post, 21- 28 Januari 2000: 11).

Ungkapan ’independen’ yang disampaikan Tajudin merupakan sebuah upaya lebih mandiri
dalam penciptaan (proses kreatif) seni teater kontemporer. Jika selama ini TG di lingkungan
kampus Fisip UGM cenderung menjadi bagian aktivitas mahasiswa yang belajar ilmu
komunikasi dengan menggunakan media teater dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Pada tanggal 7 November 1997, TG kembali mementaskan “Twins” di Gedung Bentara
Budaya Yogyakarta. “Twins” merupakan pertunjukan pantomim karya Jamaluddin Latief dan Gunawan Maryanto (Wawancara dengan Gunawan Maryanto, tanggal 19 Juni 2009, di Sanggar TG Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta).

Kemudian TG pada tanggal 11-13 Desember 1997 di Gedung Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta, pentas “Empat Penggal Kisah Cinta” drama realis kisah cinta: ”Pagi Bening”,
”Pernikahan Perak”, ”Tempat Istirahat”, dan ”Teman Terbaik” sutradara Yudi Ahmad Tajudin (Wawancara dengan Gunawan Maryanto, tanggal 19 Juni 2009).
TG pada tanggal 15 September sampai dengan tanggal 15 Oktober 1998 pentas keliling mulai dari Gedung LIP Yogyakarta, Teater Utan Kayu Jakarta, Japan Foundation Jakarta dan Expose Café Jakarta, yang dipentaskan “Tiga Kisah Cinta”. Pertunjukan merupakan
kristalisasi dari ”Empat Penggal Kisah Cinta” minus ”Teman Terbaik” (Wawancara dengan
Gunawan Maryanto, tanggal 19 Juni 2009).

Di tahun 1998 anggota TG menjalani proses pemikiran ulang dalam berteater karena selama
ini kegiatannya berada dalam lingkungnan kampus Fisip UGM. Seluruh anggota pun besepakat menata ulang pengelolaan organisasi, ungkap Tajudin sebagai berikut: Pada tahun
ini para pelaku TG mejalani masa perenungan dan pemikiran ulang dalam berorganisasi yang
selama ini menjadi bagian kegiatan kampus di Fisip UGM. Kami menyadari teater masih
belum menjadi bagian kesadaran budaya di Indonesia. Teater masih harus berjuang untuk
masuk dan menciptakan historisnya sendiri. Oleh karena itu kami memutuskan untuk
’independen’ (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 19 Juni 2009, periksa “Dari Fisipol UGM Mencuat Teater Kampus Handal” , Yogyakarta: SKH. Yogya Post, 21- 28 Januari 2000: 11).

Ungkapan ’independen’ yang disampaikan Tajudin merupakan sebuah upaya lebih mandiri
dalam penciptaan (proses kreatif) seni teater kontemporer. Jika selama ini TG di lingkungan
kampus Fisip UGM cenderung menjadi bagian aktivitas mahasiswa yang belajar ilmu
komunikasi dengan menggunakan media teater dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Yudi Ahmad Tajudin bersama TG melaksanakan pemikiran ulang dan ingin menjadi bagian
kesadaran budaya di Indonesia, mereka berjuang untuk mewujudkan kelompok teater
kontemporer yang lebih mandiri dalam kreativitas seni teater.
Semangat kemandirian TG rupanya seiring dengan perubahan tatanan kekuasaan dari Orde Baru (Orba) ke Orde Reformasi (Orref) di Indonesia. H. Soeharto mengundurkan diri
sebagai Presiden RI secara konstitusional dengan menggunakan Pasal 8 UUD 1945.

Kedudukannya digantikan oleh B.J. Habibie, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil
Presiden. Presiden Soeharto sebagai penguasa di era Orba harus meletakkan kekuasaan pada tanggal 21 Mei 1998 (Dewi Ambar Sari, Lazuardi Adi Sage, Pak Harto Habis Manis Sepah
Dibuang Percik Pengkhianatan dan Hujatan, Jakarta: PT. Jakarta Citra, 2007: 169-170).

Pada tanggal 11 Desember 1998 sampai dengan 9 April 1999, TG mementaskan Endgame
karya Samuel Beckett sutradara Landung Simatupang dipertunjukkan 13 kali, keliling kota-kota Pulau Jawa: Yogyakarta, Jakarta, Surabaya dan Surakarta (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, tanggal 19 Juni 2009).
Pertunjukan Endgame dapat dikatakan berhasil, menurut pengamat teater Bakdi Soemanto sebagai berikut: Pementasan TG berjudul Endgame, naskah absurd dari Samuel Beckett itu nyaris tampil sempurna. Sebuah produksi lakon utuh paling mantap di Yogyakarta sejak tiga empat tahun terakhir.

Pentas itu mengisyaratkan persiapan yang sangat serius. Di tangan TG, Endgame menjadi lakon yang tidak menceritakan melainkan menunjukkan kondisi dalam keadaan terdesak.

Keberhasilan pada kemampuan menciptakan kondisi ketegangan seolah dunia akan meledak, kiamat, sehingga penonton menjadi larut (Bakdi Sumanto, ”Endgame”, Jakarta: SKH. Kompas, Minggu 17 Januari 1999).

Keberhasilan secara artistik Endgame sebagaimana disampaikan Bakdi Soemanto tidak lepas dari upaya kreativitas TG lebih mandiri dan sungguh-sungguh dalam meyakinkan Centre Cultural Francaise (CCF) atau LIP Yogyakarta sebagai sponsor utama. Hal itu karena drama Endgame karya Samuel Beckett tersebut mulanya berbahasa Perancis berjudul Fin de partie
(Deirdre Bair, A Biography Samuel Beckett, New York & London: Harcourt Brace Javanovich Book, 1978, pada halaman 347, 447, 462 dituliskan Fin de partie (Endgame); “…. the meaning of Fin de partie, or Endgame 467

TG sejak tahun 1999 benar-benar mandiri. Hal itu ditandai dengan kepindahan alamat kelompok yang awalnya di lingkungan kampus Fisip UGM Yogyakarta ke Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta. Kreativitas TG untuk mandiri itu
tampak dalam kesungguhan mengelola kelompok, proses pelatihan, proses produksi seni
teater, pembiayaan pertunjukan dengan menjual tiket dan menggalang sponsor dengan pihakpihak tertentu.

Gambar 3. Katalog pertunjukan lakon WB 1 (2002)
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Halaman 7
Katalog pertunjukan lakon WB 1 (2002)(Dokumentasi Nur Iswantara)
TG sebagai kelompok teater kontemporer di Yogyakarta semakin menunjukkan kreativitas dan produktifitasnya. Pentas tanggal 1-2 Juni 1999 di Taman Budaya Surakarta dan pada
tanggal 27-28 Juni 1999 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta dalam rangka
Festival Kesenian Yogyakarta XII mementaskan Sri (“Sri” adaptasi dari naskah drama Yerma
karya Federico Garcia Lorca, terjemahan Ramadhan KH., Jakarta: Balai Pustaka, 1960)
dengan sutradara Gunawan Maryanto. Pada tanggal 2-4 Desember 1999, TG pentas lakon Sementara Menunggu Godot adaptasi dari Menunggu Godot, penerjemah Farid Bambang S.,
Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999) dengan sutradara Retno Ratih Damayanti.

TG pada bulan Mei-Juni tahun 2000, mementaskan Sketsa-sketsa Negeri Terbakar ( Jean Ganet, Sketsa-sketsa Negeri Terbakar terjemahan dari Les Paravents, penerjemah JeanPascal Elbaz, Nasrul Nasrullah, Yudi Ahmad Tajudin, Jakarta: Forum Jakarta-Paris bekerjasama dengan Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000) dengan sutradara Yudi Ahmad
Tajudin. Tepatnya pementasannya tanggal 12-13 Mei 2000 di Gedung PPPG Kesenian Jl. Kaliurang Yogyakarta, tanggal 20 Mei 2000 di Auditorium Universitas Widya Mandala Surabaya, tanggal 31 Mei 2000 di Graha Bakti Budaya Jakarta, dan tanggal 3 Juni 2000 di Taman Budaya Bandung, pentas juga didukung seniman-seniman muda dari Aceh yang tinggal di Yogyakarta (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, 19 Juni 2009).
Selanjutnya TG pada bulan Maret-April 2001 pentas keliling mulai dari Yogyakarta di
Gedung STPMD ”APMD”, UGM, Pendopo TG, UII Concat, Kedai Kebun, LIP Yogyakarta.
Pementasan di kota Surakarta di Sanggar Teater Gidag Gidig, Sanggar Teater Ruang,
Sanggar Teater Tokek, Fisip UNS, Sanggar Negeri Suket, dan kota Jakarta di Japan Foundation dengan lakon ”Repertoar Hujan” karya dan sutradara Gunawan Maryanto (Wawancara dengan Gunawan Maryanto, 19 Juni 2009).

Pada bulan Juli 2001, berangkat dari gagasan Yudi Achmad Tajudin, sutradara sekaligus
pendiri TG bersama para anggota TG menyepakati sebuah proyek pertunjukan lakon Waktu
Batu (WB). Kesungguhan program kreatif yang mandiri berupa proyek pertunjukan lakon
WB ditopang dengan tindakan mendirikan yayasan sebagai landasan legal-formal secara
hokum (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tadjudin, 17 Februari 2008 di Sanggar TG, Jl.
Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta; baca juga Yudi Ahmad Tajudin, ”Kenapa perjalanan ini Ditempuh” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, KisahKisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, Sasosno Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan
Yogyakarta, 2-4 Juli 2002, (Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis,
2002).

Yayasan Teater Garasi (YTG) didirikan pada tanggal 8 Agustus 2001 dengan para pendirinya
Ahmad Tajudin, Puthut Yulianto, Yustinus Kusworo Bayu Aji. Kepengurusan YTG, ketua :
Ahmad Tajudin; wakil ketua : Yustinus Kusworo Bayu Aji; sekretaris : Bernadeta Verry
Handayani dan bendahara: Gunawan Maryanto. YTG memiliki visi menjadi laboratorium
dan ruang penciptaan teater yang berbasis pada kegiatan workshop dan studi. Kemudian
memiliki misi: 1.Menemukan dan/atau mencipta (kembali) bentuk-bentuk pengucapan,
bahasa dan idiom teater yang segar, otentik, dan dramatik lewat studi, eksperimentasi dan rekreasi tradisi (-tradisi) teater yang ada di dalam medan produksi kultural yang melingkupi Teater Garasi; 2. Melakukan dokumentasi proses studi, eksperimentasi, dan re-kreasi tersebut dan mempublikasikannya dalam bentuk tertentu (buku, tulisan, ataumedia-media publikasi
lainnya), sehingga bisa diakses oleh publik luas dengan kepentingan tertentu (Muchamad Agus Hanafi S.H., Akta Notaris No. 13 Tahun 2001 tentang Pendirian Yayasan Teater
Garasi).

Sesudah berdiri YTG, TG semakin meningkatkan kegiatan salah satu bukti pada bulan September 2001 dipentaskannya “Percakapan di Ruang Kosong”.

“Percakapan di Ruang
Kosong”, terdiri dua buah repertoar yaitu Komedi karya Samuel Beckett disutradarai Retno Ratih Damayanti dan “Tentang Seorang Lelaki yang Demikian Mencintai Hujan’, reproduksi dari “Repertoar Hujan” karya dan sutradara Gunawan Maryanto. Pementasan ini mendapat bantuan Hibah Seni Yayasan Kelola, tanggal 13-15 September 2001 di Gudang Pabrik Tegel Kunci Yogyakarta, 21-22 September 2001 di Teater Utan Kayu Jakarta dan tanggal 23 September 2001 di Teater Dalam Gang Tuti Indra Malaon Jakarta (Wawancara dengan Gunawan Maryanto, tanggal 19 Juni 2009).

Gambar 4. Katalog pertunjukan lakon WB 2 (2003)
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Halaman 9
Katalog pertunjukan lakon WB 2 (2003) (Dokumentasi Nur Iswantara)
Kelompok TG sudah berusia 20 tahun. Karya seni teater yang telah dihasilkan TG cukup
banyak mendapat apresiasi penonton dengan baik sebagaimana dilansir beberapa media masa. Pentas-pentas TG tersebut diamati dari sisi kegunaannya termasuk seni pertunjukan yang berfungsi sebagai presentasi estetis (R.M. Soedarsono mengatakan bahwa seni pertunjukan yang berfungsi sebagai prestasi estetis memerlukan penggarapan yang serius, bentuk sajian yang bagus karena penonton membeli karcis. Periksa R.M. Soedarsono, Seni
Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, Edisi ketiga, Yogyakarta: Gadjahmada University Press, 2002: 118 dan 216).

Perkembangan kelompok TG dengan karya seni teaternya tidak dapat lepas dari lingkungan
masyarakatnya. Keadaan perkembangan teater kontemporer di Yogyakarta periode 1990-an memiliki pengaruh terhadap kehadiran TG. Antusiasme perteateran di Yogyakarta yang terjadi pada periode 1950-an hingga periode 1990-an membuat generasi seni teater kontemporer yang ada di masa itu mempunyai pengalaman kreativitas yang berbeda tentang
seni teater kontemporer di Yogyakarta (Emha Ainun Nadjib, “Teater Babak Belur di Yogya”, Jakarta: SKH. Kompas, 2 Oktober 1993: 9).

Kreativitas perteateran periode 1990-an ini memberikan nuansa yang berbeda dengan
generasi sebelumnya. Generasi perteateran zaman ini hidup dalam keberlangsungan
perkembangan teater kontemporer yang minim dari kelompok-kelompok teater kontemporer dengan kegiatan-kegiatannya sudah mencapai puncak dan menjadi barometer tersendiri.

Di Yogyakarta kreativitas teater periode 1950-an salah satunya ditandai dengan pementasan
drama terbuka Sumpah Gadjah Mada karya Sri Murtono yang dimainkan oleh siswa-siswi
Sekolah Seni Drama dan Film (SSDRAF). Pementasan perdana dalam rangka Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1952 di Alun-Alun Utara Yogyakarta. Pementasan tersebut konon dinilai merupakan pementasan fenomenal. Jumlah pemain tergolong besar untuk saat itu (Bakdi Soemanto, et.al., 2000) pemain utama siswa-siswi SSDRAF dan 600 figuran.

Beberapa pemula mengaku tertarik kepada teater
kontemporer karena pementasan tersebut. Para pemula tersebut bukan saja berasal dari daerah
disekitar Yogyakarta, tetapi juga dari daerah-daerah di luar pulau Jawa.30 Periode 1950-an
ini merupakan puncak kejayaan Sri Murtono dalam kreativitas berteater. Eksperimen drama
masal terbuka berjudul Sumpah Gadjah Mada sangat monumental dalam catatan perteateran
di zamannya karena menjadi pertunjukan negara setiap tanggal 17 Agustus dari tahun 1952, 1953 dan 1954 (Nur Iswantara, Sri Murtono Teater Tak Pernah Usai Sebuah Biografi,
Semarang: Intra Pustaka Utama, 2004: 91).

Periode 1960-an kreativitas teater kontemporer di Yogyakarta yang menonjol dan mendapat
apresiasi masyarakat yakni pementasan nomor-nomor improvisasi Mini Kata karya Rendra bersama Bengkel Teater (Edi Haryono (penyusun), Menonton Bengkel Teater Rendra, Yogyakarta: Kepel Press, 2005:1-192).

Rendra dan Bengkel Teaternya memperkenalkan nomor-nomor pertunjukan improvisasi, di
antaranya Bip Bop, yaitu gerak indah yang berupa imaji dengan komposisi panggung
sederhana dan akting tanpa dialog, hanya dengan bunyi ujaran ”bip bop…bip bop” dan
desisan ”zzz…zzz”. Bentuk ini merupakan suatu usaha penyadaran akan keterbatasan dunia verbal—sebuah kehendak puisi untuk menghindarkan diri dari kecerewetan kata-kata dan
sedapat mungkin langsung menggambarkan suatu situasi. Pertunjukan improvisasi tersebut oleh Goenawan Mohamad disebut sebagai Mini Kata (Goenawan Mohamad, ”Sebuah
Pembelaan Untuk Teater Indonesia Mutakhir”, dalam Goenawan Mohamad, Seks, Sastra, Kita, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1980: 104-105.

Periksa Yudiaryani, Makna Kehadiran Rendra dan Mini Kata di Dalam Teater Modern Indonesia di Yogyakarta, Disertasi untuk memperoleh Derajat Doktor dalam Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta:
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, 2007).
Periode 1970-an di Yogyakarta kreativitas teater kontemporer masih didominasi Bengkel
Teater yang mementaskan karya-karya asing maupun karya drama Rendra.

Pada tahun ini ada peristiwa penting, gema dan pengaruhnya sangat kuat dalam dinamika lebih lanjut dalam kehidupan teater kontemporer di Yogyakarta yaitu ’Perkemahan Kaum Urakan’. Momentum itu digagas dan digulirkan oleh Rendra dan Bengkel Teaternya (Bakdi.Soemanto, et.al., 2000:
42). Rendra menggagas adanya ‘Perkemahan Kaum Urakan’ (1971) di Parangtritis.

Termasuk lahirnya kelompok Teater Alam pimpinan Azwar AN yang aktif pentas dan melahirkan ‘Arisan Teater’ (1975). Kemudian Teater Dinasti, Teater Sanggar Bambu dan Festival Teater
SLTA yang mampu mempengaruhi dinamika kreativitas perteateran di Yogyakarta.

Periode 1980-an kreativitas teater kontemporer di Yogyakarta begitu marak. Kelompok teater
yang aktif Teater Arena, Teater Shima, Teater Alam, Teater Dinasti, dan yang sangat
fenomenal pada periode ini adalah Teater Gandrik. Teater Gandrik berhasil menjuarai
Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan oleh Departemen Penerangan
Republik Indonesia (Bakdi Soemanto, “Perkembangan Teater di Indonesia: Kasus Kelompok Teater Gandrik di Yogyaklarta” Makalah Pertemuan Teater 1993, Surakarta: Panitia
Pertemuan Nasional, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta dan Sekolah Tinggi Surakarta,
17-22 Juli 1993).

Periode 1990-an kehidupan teater kontemporer di Yogyakarta mencapai titik rendahnya.
Kondisi ini disebabkan, kemajuan industri film dan sinetron, dan informasi hiburan lainnya
hampir “mengecilkan” kreativitas seniman teater. Semakin buruknya pertunjukan yang ada,
minimnya kualitas keaktoran, sepinya penonton, dan buruknya manajemen teater, serta
sulitnya mencari sponsor. Keadaan ini didorong pula dengan silaturahmi yang buruk antar
seniman dan antara seniman dengan kritikus/pengamat /budayawan. Persaingan bebas yang khas dalam dunia teater terasa menghilang dan hanya menyisakan kecurigaan dan “klik-klik” antara seniman dan budayawan (Yudiaryani, ”Teater Modern Indonesia di Yogyakarta:
Analisis Tekstual Pertunjukan Teater Eska dan Teater Garasi”,

Laporan Penelitian dengan
Surat Perjanjian Penelitian Nomor 37/P2IPT/DPPM/III/2003, Jakarta: Proyek Pengkajian dan
Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 2004:4-5).

Kehadiran TG pada era 1990an di saat dunia teater di Yogyakarta sedang lesu. Beberapa
teater besar seperti Teater Gandrik dan Teater Alam sudah lama vakum. Beberapa kelompok yang tokoh-tokohnya berada dalam bagian sejarah pertumbuhan komunitas Teater Dinasti, Teater Titian, Teater Paku, pun tidak jelas perkembangannya. Beberapa kelompok teater kembali pada idiom-idiom tradisi yang sudah berkembang sejak era 1980an. Kelompok Teater Jeprik dan Teater Gandrik menyajikan lakon-lakon bertema sosial-politik dengan idiom teater rakyat seperti wayang, srandul, kethoprak, dan dagelan Mataram.

Terutama Teater Gandrik, awal mulanya pentas gaya teater rakyat karena mengikuti Festival
Pertunjukan Rakyat (Pertunra) Departemen Penerangan Republik Indonesia. Fenomena teater kembali pada tradisi menjadikan Teater Gandrik dikenal dengan gaya sampakan (Gaya sampakan di populerkan oleh Teater Gandrik, ungkap Jakob Sumardjo, “Kelompok Teater Modern di Yogyakarta” dalam Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002:109.

Sebutan estetika sampakan terlanjur melekat pada Teater Gandrik. Padahal sebenarnya akan lebih tepat apabila disebut dengan ’estetika pangkur jenggleng’ karena irama gendhing yang rancak saat mengiringi aksi-aksi tertentu para pemeran tersebut bersumber dari unsur pangkur jenggleng, bukan gendhing sampak, dalam Nur Sahid, ”Dramaturgi Teater Gandrik Yogyakarta dalam Lakon ”Orde Tabung” dan ”Departemen
Borok””, Disertasi Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan Dan Seni Rupa, Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2012: 471).

Kemunculan TG di perteateran Yogyakarta saatnya tepat. Kalau mencari satu nama teater ala
sanggar di Yogya yang paling intens berproses dan melahirkan pementasan yang dapat
dipertanggungjawabkan secara artistik, maka jawabnya adalah Teater Garasi (Indra Tranggono, “Teater Garasi, dari Kampus ke Sanggar”, Yogyakarta: SKH. Kedaulatan Rakyat, 17 Februari 2001). Kreativitas TG dalam kurun waktu tahun 1995 sampai dengan 2004 menghasilkan pertunjukan teater kontemporer sebagai berikut: “Wah” (2 April 1995), ”…Atau Siapa Saja” (Oktober 1995), ”Panji Koming” (23 Mei 1996 ), Kapai-Kapai (1, 2, 6, 7
Maret 1966), “Carousel” (11 Juli 1997), ”Twins” (7 November 1997), “Empat Penggal Kisah Cinta”: ”Pagi Bening”, ”Pernikahan Perak”, ”Tempat Istirahat”, dan ”Teman Terbaik” (11-
13 Desember 1997), “Tiga Kisah Cinta”: ”Pagi Bening”, ”Pernikahan Perak”, ”Tempat Istirahat” (15 September s.d. 15 Oktober 1998), Endgame (11 Desember 1998 s.d. 9 April 1999), “Sri” (1, 2, 27, 28 Juni 1999), Sementara Menunggu Godot (2-4 Desember 1999),
Sketsa-sketsa Negeri Terbakar (12,13,20,31 Mei dan 3 Juni 2000), ”Repertoar Hujan”
(Maret-April 2001), ”Percakapan di Ruang Kosong”: Komedí dan “Tentang Seorang Lelaki
yang Demikian Mencintai Hujan” (13, 15, 21, 22, 23 September 2001), Waktu Batu (WB): “Waktu Batu, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu” (WB 1), (2-4 Juli 2002), ”Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah” (WB 2) (17, 18, 20, 26, 31 Maret 2003), “Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaan Padamu” (WB 3) (27, 28 Desember 2004).

Gambar 4. Katalog pertunjukan Lakon WB 3 (2004)
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Halaman 13

Katalog pertunjukan Lakon WB 3 (2004) (Dokumentasi Nur Iswantara) Mencermati hasil kreativitas TG memiliki kredo estetika yang diperjuangkan. Kredo ini melandasi proses kreatif. Kredo ini sering dikaitkan dengan kreativitas dan ideologi
penciptaan teater. Kredo terbentuk dari kesadaran moral, mental, spiritual, kultural, dan
estetis. Kredo estetik TG adalah ‘Teater Dramatik-Teater Subversif’ (Kredo Estetik TG
pernyataan intisari yang menunjukkan ciri khas karya dari suatu kelompok seni teater
kontemporer maupun seni-seni lainnya. Kredo, dasar filosofis, konsep, sikap yang melandasi
proses kreatif. Periksa Yudi Ahmad Tajudin, “Catatan dari Lima Tahun Teater Garasi Teater
Dramatik, Teater Subversif” Yogyakarta: SKH. BERNAS ), Minggu Pahing, 13 Desember
1998). Kredo ini berasal dari semangat TG yang mencoba memilih spirit of the subversion
yang dalam istilah Prof. Bakdi Soemanto sebagai spirit of the new yang disebut the tradition
of the new (Wawancara dengan Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, SU., di Rumah Jl. Podang No. 2 Demangan Catur Tunggal Depok Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, tanggal 8
Maret 2009).

Tradisi baru dalam seni teater kontemporer menurut Putu Wijaya demikian.
Tradisi Baru adalah citra Indonesia dalam drama modern Indonesia. Bahwa citra teater Barat juga ada dan hidup, adalah bagian yang wajar dalam kehidupan teater Indonesia,
sebagaimana citra teater tradisional dan teater rakyat yang tetap menyala. Semuanya saling
melengkapi. Proses interaksi tak pernah selsai. Semua sah. Kebulatan semua itulah teater
Indonesia. Di masa depan kebulatan itu akan menjadi Tradisi Baru lagi – Tradisi Masa Depan (Putu Wijaya, “Tradisi Baru” dalam Seni Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, II/01 – Januari 1992, Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta, 1992:1-8).

Hal itu tampak dalam pertunjukan lakon “Carousel”, Endgame, Sketsa-sketsa Negeri Yang
terbakar dan “Waktu Batu”. Pada kesempatan ini yang akan diteliti adalah pertunjukan lakon
WB. TG yang kreativitasnya digerakkan oleh semangat tradisi baru dan proses kreatif yang
khas. Keyakinan dasar kreativitas TG dalam penciptaan karya seni teater menarik untuk dikaji dalam perkembangan perteateran di Yogyakarta khusunya dan di Indonesia pada umumnya.

Pertunjukan lakon WB atas gagasan Yudi Achmad Tajudin yang terinspirasi tema tentang
waktu dalam kalender Jawa mengolah mitos Jawa : Watugunung, Sudamala, Murwakala, dan sebuah bayangan sejarah Majapahit akhir (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tadjudin, taggal 17 Februari 2008 di Sanggar TG, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta. Periksa Ugoran Prasad, ”Sedikit Tentang yang Tidak Tertulis di Atas Naskah”
dalam Katalog Pertunjukan ‘Waktu Batu, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’,
Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis.

Pentas atas bekerjasama dengan Seksi Teater FKY 2002 di Gedung Sasono Hinggil Yogyakarta, tanggal 2-4 Juli 2002, 7-9).
Berdasarkan inspirasi tersebut dilangsungkan proses kreatif atau penciptaan teater sehingga
menghasilkan pertunjukan lakon WB.

Dewasa ini proses kreatif atau penciptaan seni belum mendapat tempat yang proporsional
menurut Saini, K.M. sebagai berikut: Proses kreatif atau penciptaan seni masih dianggap
sebagai sesuatu yang misterius, irrasional bahkan berada di luar jangkauan kajian ilmiah.
Sehubungan dengan anggapan itu, senimanpun sering dianggap sebagai orang yang mendapatkan bakat alamiah semata, yang mencipta di luar pengendalian dirinya sendiri sehingga tidak memerlukan pemahaman bakat dan kemampuan itu. Anggapan demikian dapat menyebabkan sedikitnya dua akibat negatife. Pertama, menjadi langkanya penelitian ilmiah tentang proses kreatif dan kedua, menjadinya langka kreativitas.

Jika dibiarkan, kedua hal itu sudah barang tentu akan mengakibatkan kerugian yang berkepanjangan. Dengan
demikian proses kreatif dapat sebagai sasaran kajian ilmiah. Proses kreatif sejauh dapat
diamati secara indrawi, dianalisis dengan pandangan estetik, teori berbagai cabang ilmu yang
relevan, dapat dijadikan sasaran kajian ilmiah. Hasilnya akan bermanfaat, baik sebagai
pemahaman ilmiah terhadap proses kreatif itu sendiri maupun sebagai rujukan bagi para
seniman di dalam kegiatan mereka mencipta (Saini K.M., “Penciptaan Seni, Menapak dan
Meninggi” dalam SENI Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, Yogyakarta:BP ISI
Yogyakarta, IX/02-03 Maret 2003:130).

Teater mempunyai sifat yang unik, teater berbeda dari komunikasi publik pada umumnya.
Teater masuk dalam kategori komunikasi publik terhimpun, yang berarti suatu proses
komunikasi antara seniman dengan para penonton, yang berkumpul dalam suatu ruang dan waktu tertentu.
Cara berkomunikasi yang dipakai dalam teater pun mempunyai sifat yang khas yaitu sangat lekat dengan ruang dan waktu. Proses kreatif pun meliputi gabungan antara pengetahuan, intuisi dan imajinasi. Keunikan perencanaan bagaimana mengemas pesan
dalam teater ditegaskan Viola Spolin sebagai berikut.

Suatu sistem kerja menyatakan bahwa suatu rencana memiliki prosedur, kita dapat mengumpulkan cukup data dan pengalaman untuk mendapatkan pemahaman yang baru
tentang medium tersebut. Mereka yang bekerja di dalam teater dengan sukses mempunyai
jalannya sendiri untuk memproduksi hasil; yang dengan sadar atau tanpa disadari mereka mempunyai suatu system (Viola Spolin, Improvisation for the Theatre A handbook of Teaching and Directing Techniques, Illinois USA: Northwestern University Press, 1969:19).

Proses kreatif yang terjadi dalam teater sudah meliputi prosedur untuk menuju sebuah
pementasan. Latihan-latihan yang dilakukan merupakan sarana yang sangat mendukung
untuk tercapainya pengolahan dan penguasaan tubuh para aktor tetapi ada hal yang penting
dari itu adalah pencapaian kepuasan artistik bersama para seniman yang terlibat di dalamnya.

Proses kreatif seseorang, kelompok teater seringkali hanya dialami sebagai suatu aktivitas
dan banyak menyita energi sehingga tidak ada cukup waktu dan inisiatif untuk menuliskannya secara ilmiah oleh para pelakunya.

Sisi lain proses kreatif memiliki kekhasan karena hal-hal yang dialami tidak pernah sama antara pementasan yang satu dengan
pementasan lainnya Mencermati pertunjukan lakon WB dari ide, proses riset, re-interpretasi teks mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala dan sebuah bayangan sejarah akhir Majapahit, dan ekplorasi artistik hingga menghasilkan 3 (tiga) versi pertunjukan lakon WB: Waktu Batu,

Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu atau WB 1 (2002), Waktu Batu, Ritus Seratus
Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah atau WB 2 (2003), Waktu Batu, Deus ex
Machina dan Perasaan-perasaan Padamu atau WB 3 (2004) tersebut maka penelitian akan
mengkaji proses kreatif kelompok Teater Garasi Yogyakarta (TGY) dalam tiga pertunjukan
lakon WB dan pengelolaan kelompok dalam mendukung proses kreatif pertunjukan tersebut.

[Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara]

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 54 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan