L
Memuat...
SENI & BUDAYA

JEMPARINGAN MERAJUT PASEDULURAN, Melestarikan Warisan Budaya Sarasehan Budaya Dewan Kebudayaan Bantul

Bantul, suaraglobal.news –  Bertempat di Pendapa Harjanan Cungkuk RT 06 Ngestiharjo Kasihan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta di adakan Sarasehan Budaya dengan Tema Jemparingan Merajut Paseduluran dan Melestarikan Warisan Budaya pada Selasa, 23 Juni 2026, jam 08.00 -selesai.
Narasumber kesatu, Dr. Akhir Lusono, S.Sn., M.M., Anggota Dewan Pertimbangan Dewan Kebudayaan Kabupaten Bantul (DKB) dengan materi jemparingan “Merajut Paseduluran Melestarikan Warisan Budaya – Mengenal Jemparingan dan Komunitas di Wilayah DIY”.
Dr. Akhir Lusono, S.Sn., M.M., sebagai anggota Dewan Pertimbangan DKB menyatakan DKB dibentuk berdasarkan Peraturan Bupati Bantul Nomor 9 Tahun 2024 tentang Dewan Kebudayaan. Dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa Dewan Kebudayaan merupakan lembaga yang dibentuk untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Bantul dalam pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan daerah.
Kedudukan DKB meliputi: 1). Nonstruktural, berkedudukan sebagai lembaga nonstruktural; 2). Mitra Strategis, menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Bantul; 3). Bertanggung Jawab, bertanggung jawab kepada Bupati melalui Dinas Kebudayaan; 4). Pertimbangan Kebijakan, menjadi lembaga pertimbangan kebijakan kebudayaan daerah.
Tugas Pokok DKB memberikan rekomendasi kepada Bupati Bantul mengenai kebijakan kebudayaan. Rekomendasi dapat diberikan: Atas permintaan pemerintah daerah dana tau Atas inisiatif Dewan Kebudayaan sendiri. Fungsi Strategis Dewan Kebudayaan bukan sekadar pemberi saran — ia adalah ruang berpikir kebudayaan daerah. Dan meliputi: 1). Pertimbangan Kebijakan seperti Adat istiadat, tradisi, bahasa, kesenian, pengetahuan tradisional, nilai budaya; 2). Pelestarian Kebudayaa seperti Seni pertunjukan, tradisi lisan, permainan & olahraga tradisional, jemparingan; 3). Pengembangan Kebudayaan seperti Dikembangkan, diwariskan, dipromosikan, disesuaikan tanpa kehilangan jati diri; 4). Jembatan Komunitas seperti Menyerap aspirasi seniman, budayawan, pelaku tradisi, komunitas budaya; 5). Ekosistem Kebudayaan seperti Tata nilai, gotong royong, unggah-ungguh, karakter, identitas & ketahanan budaya.
Selanjutnya Mas Dr. Akhir Lusono menyatakan bahwa DKB memiliki peran penting dalam Pelestarian Jemparingan. Hal ini penting karena pelestarian budaya tidak dapat dilakukan hanya oleh komunitas budaya semata, tetapi memerlukan dukungan kelembagaan yang kuat, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Jemparingan sebagai objek Pemajuan Kebudayaan kearah 1). Tradisi, diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi; 2). Pengetahuan Tradisional, memiliki teknik, filosofi, dan tata cara khas Jawa; 3). Kearifan Lokal, mengandung nilai pengendalian diri dan keselarasan hidup; 4). Pendidikan Karakter, mengajarkan sabar, fokus, andhap asor, hormat kepada sesama, paseduluran.
Narasumber kedua, Arif Hidayat dari Komunitas Jemparingan Yogyakarta menyampaikan sejarah singkat Jemparingan yang mulanya dari Cabang Olahraga Resmi di PON I (1948): Saat Indonesia menggelar PON I di Surakarta pada tahun 1948, fasilitas dan peralatan olahraga modern sangat terbatas akibat blokade politik dan ekonomi. Paku Alam VIII mengusulkan dan berhasil memasukkan Jemparingan sebagai cabang olahraga panahan resmi yang dipertandingkan pada ajang nasional pertama tersebut.
Mas Arif juga mengemukakan Keberhasilan Jemparingan di PON I memicu urgensi pembentukan wadah organisasi formal. Paku Alam VIII kemudian memprakarsai berdirinya Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (PERPANI) pada tahun 1953 di Surakarta, dan beliau menjabat sebagai ketua umum pertamanya. Jemparingan inilah sebagai Cikal Bakal Berdirinya PERPANI.
Selanjutnya sisampaikan sasaran utama dalam panahan tradisional Jemparingan disebut sebagai Bandul atau juga dikenal dengan istilah Wong-wongan. Sasaran ini memiliki bentuk dan filosofi yang sangat unik, berbeda jauh dari papan target lingkaran (face target) yang digunakan dalam panahan modern internasional.
Kemudian Arif Hidayat menjelaskan Komponen dan ukuran bandulan. Bandulan berbentuk silinder tegak sepanjang sekitar 30 cm dengan diameter 3-4 cm yang dibungkus kain atau spons. Sasaran ini digantung secara vertikal menggunakan tali dan diberi pemberat di bagian bawahnya agar tidak mudah goyang oleh angin. Komponen warnanya terbagi menjadi beberapa bagian penting: a. Molo (Kepala): Bagian paling atas silinder yang diberi warna merah. Ukurannya sekitar 5 cm. b. Anek (Leher): Batas pemisah kecil antara kepala dan badan silinder, biasanya diberi warna kuning atau putih tipis. C. Awak (Badan): Bagian bawah silinder yang diberi warna putih. Ukurannya sekitar 25 cm.

Aturan dan ukuran skoring tradisional. Tradisional Dalam kompetisi resmi Jemparingan, poin hanya dihitung jika anak panah menancap tepat pada bagian silinder tersebut: a. Nilai 3 (Tiga): Diperoleh jika anak panah mengenai bagian Molo (Kepala Merah). Ketika bagian ini terkena, biasanya panitia akan membunyikan lonceng/gong kecil sebanyak tiga kali sebagai tanda nilai tertinggi. b. Nilai 1 (Satu): Diperoleh jika anak panah mengenai bagian Awak (Badan Putih). Lonceng akan dibunyikan satu kali. c. Nilai 0 (Nol): Jika anak panah luput, hanya mengenai tali gantungan, atau mengenai pembatas di sekitar sasaran.
Mas Arif Hidayat pun menerangkan Jarak dan Tata Letak Sasaran. Jarak Standar: Sasaran digantung sejauh 30 meter (Gagrak Mataraman klasik) dari posisi duduk para pemanah (titik laras). Tinggi Sasaran: Posisi Bandulan digantung sedemikian rupa agar sejajar dengan tinggi mata pemanah saat mereka duduk bersila atau bersimpuh di lantai
Makna Filososfis dibalik Sasaran. a. Bentuk silinder putih berkepala merah ini bukan sekadar target fisik, melainkan simbol perjuangan spiritual manusia: b. Wong-wongan (Miniatur Manusia): Sasaran ini sejatinya merepresentasikan diri sang pemanah itu sendiri atauhawa nafsu manusia. Memanah Bandulan berarti melatih kemampuan untuk menaklukkan ego dan mengendalikan diri sendiri. c. Warna Putih (Awak): Melambangkan kesucian hati, kebersihan niat, dan kebaikan hidup yang harus dijaga. d. Warna Merah (Molo): Melambangkan pikiran, konsentrasi batin, atau pusat kendali manusia. Menembak bagian kepala merah berarti berhasil mencapai puncak fokus dan kejernihan berpikir (sawiji).
Peralatan utama dalam Jemparingan terdiri dari busur tradisional bernama Gandewa dan anak panah bambu bernama Jemparing. Seluruh peralatan ini dibuat secara manual (handmade) dari bahan alam menggunakan keahlian khusus kerajinan kayu lokal untuk mempertahankan nilai otentik tradisi Mataram. Berikut adalah rincian detail komponen, bahan, dan fungsi dari perlengkapan Jemparingan. Bagian-bagiannya meliputi:: a. Gandewa (Busur Panah). Gandewa merupakan busur jenis self-bow atau laminated bow tradisional yang didesain tanpa menggunakan sistem mekanis atau alat bidik (visier). b.Cengkolak (Pegangan): Bagian tengah busur tempat tangan pemanah memegang Gandewa. Biasanya dibuat dari kayu keras dan berserat padat seperti kayu nangka, kayu sonokeling, atau kayu galih asem untuk memastikan kekuatan busur saat ditarik. c. Lar (Sayap/Limbs): Dua bilah sayap (atas dan bawah) yang berfungsi menyimpan energi pegas. Bagian ini dibuat dari bambu petung pilihan yang dikeringkan dengan cara diasapi atau dijemur lama agar elastis, kuat, dan tidak mudah patah. d. Kendheng (Tali Busur/String): Tali yang menghubungkan ujung sayap atas dan bawah. Dahulu dibuat dari serat kulit pohon atau jalinan benang katun khusus, namun saat ini sebagian perajin menggunakan bahan nilon kuat atau dacron modern demi daya tahan.
Peralatan utama dalam Jemparingan: a. Perlengkapan Pendukung (Aksesoris); b. Endhong (Quiver): Kantong wadah untuk menyimpan anak panah saat berada di lapangan. Endhong tradisional biasanya terbuat dari anyaman bambu, kulit sapi, atau kain batik yang dipakai dengan cara diikatkan di pinggang. c. Kloso (Tikar Pandan): Karena Jemparingan wajib dilakukan dalam posisi duduk (bersila untuk pria dan bersimpuh untuk wanita), tikar pandan tradisional digunakan sebagai alas duduk di area penembakan (titik laras). d. Busana Adat Jawa (Pranakan/Surjan/Kebaya): Pakaian ini dikategorikan sebagai perlengkapan wajib dalam kompetisi Gagrak Mataraman. Penggunaan kain jarik, stagen, dan blangkon melatih pemanah adat.
Makna. Makna terdalam dari Jemparingan adalah media olah spiritual, penataan hati, dan pembentukan karakter ksatria, bukan sekadar olahraga ketangkasan fisik. Bagi masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman, Jemparingan dikenal sebagai seni Olah Rasa—sebuah disiplin batin untuk mengendalikan diri sendiri. Berikut adalah rincian filosofi mendalam dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam seni Jemparingan:
Makna Etimologis (Manah): a. Dalam bahasa Jawa kuno dan halus, kata benda untuk anak panah disebut jemparing; b.Sementara itu, kata kerja memanah disebut Manah. Menariknya, kata manah dalam bahasa Jawa juga memiliki arti “hati” atau “pikiran”; c.Oleh karena itu, aktivitas Jemparingan pada hakikatnya diartikan sebagai kegiatan membidik, menata, dan membersihkan hati serta pikiran sendiri, bukan membidik musuh di luar sana.
Makna Empat Filosofi Ksatria (Ajaran Sultan HB I). Jemparingan menjadi sarana fisik untuk menanamkan empat watak utama seorang ksatria yang digagas oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I: a. Sawiji (Fokus/Konsentrasi): Menyatukan seluruh jiwa, raga, dan pikiran ke satu titik tujuan hidup yang mulia. Pemanah harus membuang semua gangguan batin saat menarik busur. b. Greget (Semangat/Daya Hidup): Memiliki motivasi dan energi yang kuat untuk mencapai tujuan, namun tetap terkendali, tidak emosional, dan tidak menggebu-gebu secara destruktif. c. Sengguh (Percaya Diri): Memiliki keyakinan penuh atas kemampuan diri dan takdir Tuhan tanpa berubah menjadi sifat sombong (takabur). D. Ora Mingkuh (Tanggung Jawab/Tangguh): Pantang mundur dalam menghadapi tantangan hidup, jujur, serta berani bertanggung jawab atas setiap keputusan yang telah diambil.
Makna Sasaran (Bandulan/Wong-wongan). a. Target Jemparingan berbentuk silinder tegak berkepala merah yang menyerupai miniatur manusia (wong-wongan). b. Ini adalah simbol cermin spiritual. Saat melepaskan anak panah, pemanah sebenarnya sedang menembak ego, hawa nafsu, dan sifat buruk yang ada di dalam dirinya sendiri. c. Mengenai bagian putih (Awak) melambangkan pencapaian kesucian niat, sedangkan mengenai kepala merah (Molo) melambangkan keberhasilan meraih kejernihan berpikir dan kendali penuh atas diri sendiri.
Narasumber ketiga, Mas Komarudin Ketua Jemparingan Parikesit menjelaskan bahwa Jemparingan Jogja Istimewa (JJI) terdiri beberapa paguyuban. Kotamadya 24 Paguyuban, Sleman 21 Paguyubam, Bantul 20 Paguyuban, Kulon Progo 9 Paguyuban, Gunungkidul 2 Paguyuban. Seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta 76 Paguyuban.
Paguyuban Jempringan Bantul yang terdata di Forum Komunikasi JJI: Bangunjiwo 1 Paguyuban, Banguntapan 4 Paguyuban, Jetis 1 Paguyuban, Kasihan 7 Paguyuban, Sedayu 3 Paguyuban, Sewon 2 Paguyuban, Pleret 1 Paguyuban, jadi seluruh Bantul ada 20 Paguyuban yang ikut JJI.

 

Pesan DKB untuk Komunitas Jemparingan: 1). 1. Rawat Filosofinya, jangan sampai jemparingan hanya menjadi lomba mengenai sasaran. Yang lebih penting adalah mengenai hati dan budi pekerti; 2). Perkuat Regenerasi, libatkan anak-anak, pelajar, mahasiswa, dan generasi muda dalam kegiatan jemparingan; 3). 3. Perkuat Dokumentasi, setiap kegiatan — latihan, festival, sarasehan, kejuaraan — harus terdokumentasi sebagai jejak budaya: 4). . Bangun Jejaring, olaborasi antara komunitas, Dewan Kebudayaan, Dinas, sekolah, kampus, dan ormas. Dan pesat istimewa dari Dr. Akhir Lusono, S.Sn., M.M. yakni Komunitas jemparingan adalah ruang tempat nilai-nilai luhur Jawa dipertahankan, dirayakan, dan diteruskan kepada generasi yang akan datang. ***

Hadir dalam sarasehan budaya: Bapak Yanatun, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Bapak Gatot Mujiono, S.E., M.M., Ketua DKB, juga Segenap Anggota DKB: Prof. Dr. Kasidi, M.Hum., Dr. Drs. Nur Iswantara,M.Hum., Mas Udik, Mujiyono, S.Sn., Joko Tingkir. Segenap pelaku Jemparingan Bantul dan tamu undangan lainnya.***

(Penulis Nur Iswantara)

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 7 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan