Bantul. Suaraglobal.news – Mengenang Peristiwa Budaya Bumi Perdikan Mangir untuk Hidup Kebersamaan Kerakyatan Gotongroyong Guyup Rukun. Pada hari Ahad atau Minggu tanggal 27 September 2026 diadakan acara mengenang Ki Ageng Mangir Wanabaya di Ngancar Mangir Kidul Kalurahan Sendangsari Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada kesempatan ini hadir Bapak H. Abdul Halim Muslih, Bupati Kabupaten, Lurah Sendangsari, Camat Pajangan, Panitia Festival Tempuran 2. Dalam sambutannya Bapak H. Abdul Halim Muslih menyampaikan bahwa bertolak dari sejarah Mangir Bantul menjadi Bumi Satria bisa mengembalikan budaya luhur kejujuran tatakrama Mamayu Hayunìng Bawana menjadi jiwa perjuangan bangsa Indonesia utuk masa depan yang bermartabat di dunia.
Lebih lanjut Bapak Daim Raharjo menyatakan kegiatan berlangsung khidmat meriah dihadiri generasi ťua dan muda. Hal ini menjadi betapa pentingnya sejarah Ki Ageng Mangir dan Mangir dalam sejarah budaya bangsa di Indonesia.
Dimulai dari Abad 15 Masehi bumi Mangir merupakan bagian dari Bumi Mataram Kuno yang ditinggalkan penghuninya karena Bencana Alam meletusnya Gunung Merapi dan Merbabu dalam waktu lama.Mereka meninggalkan benda-benda budayanya berupa lingga-yoni candi-candi termasuk candi Borobudur dan Prambanan yang luluh lantak.

Dimulai dari Abad ke 15 Masehi ketika Ki Megatsari datang di Bumi Mangir keadaan tempat ini merupakan desa peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Abad ke 4 sampai ke 9. Benda-benda budaya lingga-yoni patung sapi dan jembangan batu berserakan di kerumunan semak belukar dan pohon-pohon besar. Terdapat juga ribuan pohon-kelapa yang berbuah lebat menjanjikan kemakmuran bagi manusia yang mau berada disekitarnya.
Kedatangan Ki Megatsari putra Prabu Brawijaya di Bumi Mangir bermaksud menghidupkan kembali peninggalan nenek moyang ini yang dahulunya adalah daratan di tepi laut. Bergelar Ki Ageng Mangir komunitas Ki Megatsari meninggalkan Majapahit membawa budaya luhur untuk kehidupan yang aman tenteram damai dan mandiri bukan kerajaan melainkan kebersamaan gotong royong musyawarah mufakat tuntunan Sunan Kalijaga guru spiritualnya.
Sementara Kerajaan Majapahit akan diteruskan oleh Raden Patah kerabat tertuanya dengan dukungan para Walisongo dan rakyat kebanyakan maka di Bumi Mangir peninggalan Mataram Kuno ini disebutnya Bumi Perdikan. Keberadaan Ki Megatsari bergelar Ki Ageng Mangir disusul Empu Supo Anom bergelar Pangeran Sedayu dan Ki Adipati Terung bergelar Panembahan Bodo atas perintah Sunan Kalijaga.

Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan Sunan Kalijaga sering berkunjung ke Bumi Perdikan Mangir. Sampai Ki Megatsari diteruskan oleh menantunya bernama Ki Wonoboyo (putra abangnya Ki Lembu Misani) maka Sunan Kalijaga terus menerus berkunjung ke Mangir sampai Ki Wonoboyo mantu putranya Joko Wonoboyo. *** [Penulis: Nur Iswantara].


Komentar