SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
UMUM
Beranda / UMUM / TBPM Wendy Hs.S.Sn.,M.A. dalam Rite Of Limen: Roso on the Tongue, Pareso in the Fingers

TBPM Wendy Hs.S.Sn.,M.A. dalam Rite Of Limen: Roso on the Tongue, Pareso in the Fingers

Wendy Hs., S.Sn., M.A., merespons tiga nampan: tengah berisi
daun sirih, pinang, sadahn dan Gambir, kiri dan kanan berisi menyan. 

Yogyakarta, suaraglobal.news. Festival Teater Dosen Indonesia (FTDI) 2026 diselenggarakan oleh Jurusan Teater (Juste) Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berlangsung pada 25–30 Agustus 2026. Festival ini meneguhkan peran kampus seni sebagai ruang penciptaan, penelitian artistik, dialog akademik, sekaligus pertemuan langsung antara karya seni para akademisi dan masyarakat. Tema FTDI 2026 “Panggung Gagasan dalam Estetika Akademik”.

FTDI menghadirkan karya-karya yang lahir dari prosesi riset, dramaturgi kritis, pembacaan dari persoalan sosio-kultural, dan eksplorasi bahasa artistik. Pada kesempatan ini dari forum pertunjukan dan perjumpaan ide artistik para dosen teater berbagai perguruan tinggi di Indonesia ada yang menarik untuk diulik. Pada hari Kamis 27 Agustus 2026 di Teater Arena FSP ISI Yogyakarta pukul 16.30 WIB., Dosen Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Wendy Hs., S.Sn., M.A., mementaskan “Rite Of Limen: Roso on the Tongue, Pareso in the Fingers.”

Wendy Hs., S.Sn., M.A., pada karya teater “Rite Of Limen: Roso on the Tongue, Pareso in the Fingers.” Mengangkat dua (2) basis utama : 1. Alternatif pertunjukan interaktif merujuk konsep post dramatic dan 2. ⁠pengembangan ritual penyambutan menggunakan media sirih pinang dari budaya Minangkabau.

Wendy Hs., mewujudkannya dengan konsep ketubuhan Total Body Performance Method (TBPM) yang dia kembangkan dari konsep elemen artistik Tapuak Galemboang dalam tradisi Randai Minangkabau. Ada 3 nampan: Nampan di tengah berisi daun sirih, pinang, sadah (kayak tepung) dan Gambir. Nampan kiri dan kanannya adalah Kumayan atau Menyan (kiri Kumayan Halus atau pasir dan kanan Kuyaman batu (kasar).

Tragedi Naas Warga Indramayu Jadi Korban Pembacokan, Pelaku Diduga Warga Pendatang

Wendy Hs., S.Sn., M.A., action Silek – Silat Minangkabau.

Postdramatik atau pasca dramatik adalah bentuk teater atau pertunjukan yang beroperasi di luar dominasi naskah atau teks drama tradisional. Istilah ini dipopulerkan oleh teoretikus teater Hans-Thies Lehmann. Dalam konsep ini, pementasan tidak lagi tunduk pada alur cerita, karakterisasi, atau dialog yang kaku dari seorang penulis naskan.

Ciri utama Teater Postdramatik berpusat pada Pengalaman. Fokus bergeser dari isi cerita teks ke peristiwa langsung yang dialami penonton di ruang dan waktu yang sama. Dekonstruksi Narasi, menggunakan alur non-linier, episodik, atau potongan-potongan (fragmentasi) alih-alih cerita yang lurus dari awal sampai akhir. Penekanan Visual dan Fisik, lebih mengutamakan elemen tubuh, gerak, suara, tata cahaya, musik, dan suasana visual. Teks sebagai bahan Terbuka: Jika ada teks, naskah diperlakukan sebagai bahan mentah yang bebas diubah, bukan aturan suci yang harus dihafal dan diikuti.

TBPM adalah sebuah sistem pelatihan dan metode ketubuhan modern yang dikembangkan oleh akademisi dan seniman teater Indonesia, Wendy Hs. Konsep utama dari metode ini adalah meleburkan batas disiplin seni (teater, tari-silat, dan musik) guna mencapai totalitas kesadaran dan kehadiran tubuh aktor atau penampil di atas panggung pertunjukan kontemporer.

Bupati Lamongan Silaturahmi ke Korban Kecelakaan Blesscon, Akan Perkuat Pengecekan Peralatan di Seluruh Pabrik Lamongan

Poin-poin penting untuk memahami konsep TBPM: Kesatu, Akar Tradisi Budaya (Minangkabau). Metode ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan diformulasikan dari riset mendalam terhadap elemen artistik Tapuak Galemboang dalam tradisi Randai di Minangkabau, Sumatera Barat. Konstruksi gerakan dasarnya mengadopsi posisi ketubuhan dan kewaspadaan yang ada pada Silek (Silat Minangkabau).

Kedua, Formulasi Tiga Elemen Utama (Trinitas Performative) TBPM menyatukan tiga aspek performatif yang biasanya dipelajari secara terpisah menjadi satu kesatuan laku yang simultan: i). Laku Panggung (Acting): Fokus pada kehadiran mental, ekspresi, karakterisasi, dan naskah/konsep pertunjukan. ii). Gerak Tubuh (Dancing): Fokus pada estetika gerak, kelenturan, kekuatan, kontrol ruang, dan koreografi tubuh. iii). Bunyi Performatif (Musicing): Fokus pada pengolahan vokal, ritme, pernapasan, dan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh penampil itu sendiri (seperti tepukan atau hentakan).

Wendy Hs., S.Sn., M.A., mengajak penonton mengunyah sirih
untuk terlibat langsung dalam Peristiwa Teater.

Ketiga, Membangun Kesadaran dan Keseimbangan TubuhDalam praktik TBPM, aktor dilatih secara metodis untuk mengenali arah, berat, dan pusat gravitasi mereka sendiri. Tujuannya adalah agar penampil mampu membangun kesadaran penuh (body awareness), sehingga dalam pose atau posisi sesulit apa pun di panggung, tubuh mereka tetap fleksibel, seimbang, dan siap merespons.
Keempat, Relevansi pada Pertunjukan KontemporerDi era modern, batas antara aktor, penari, dan pemusik semakin menipis. TBPM hadir sebagai panduan praktis bagi para seniman lintas disiplin untuk mencapai “totalitas tubuh”. Ketika seorang penampil menguasai metode ini, mereka tidak lagi hanya menjadi aktor yang berdialog, melainkan tubuh yang utuh yang bergerak secara visual sekaligus bermusik lewat suaranya. Wendi Hs., S.Sn., M.A., mencipta Peristiwa Teater Rite Of Limen: Roso on the Tongue, Pareso in the Fingers *** [Penulis dan Fotografer: Nur Iswantara].

Dua Alun-alun Kecamatan Mulai Di Bangun, Pagar Merbau Di Siapkan Jadi Sentral Baru Ekonomi Masyarakat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement