Gambar 17. Sampul Depan, Buku Lakon Waktu Batu (2004),
penulis Andri Nurlatif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Yogyakarta, suaraglobal.news. BAB III. PENGADEGANAN PERTUNJUKAN LAKON WAKTU BATU. A. Penulisan Naskah. Mengkaji pertunjukan teatrikal dengan teori mise en scène berarti menempatkan dalam adegan atau pengadeganan. Pavis menjelaskan, dalam wilayah kajian mise en scène perlu dibedakan antara teks drama dan teks pertunjukan. Teks drama merupakan naskah verbal yang dibaca dan didengar dalam pertunjukan hadir dan bukan teks yang ditulis dan hadir sesudah pelatihan improvisasi atau pertunjukan. Teks pertunjukan merupakan semua apa yang dicipta secara audio-visual di atas panggung, tetapi belum dianggap sebagi suatu sistem makna atau belum disebut sebagai wilayah keterhubungan sistem penandaan pertunjukan sebelum mendapat tanggapan dari penonton (Yudiaryani, WS Rendra dan Teater Mini Kata, Yogyakarta:Galang Pustaka bekerjasama dengan Insitut Seni Indonesia Yogyakarta, 2015:32).
Kreativitas (creativity) budaya sesungguhnya sebuah proses sekaligus hasil dari suatu oleh cipta. Improvisasi budaya mengandung empat hal: 1. generative dalam arti menumbuhkan bentuk-bentuk fenomena kebudayaan sepanjang kehidupan akulturasi yang seimbang; 2. relational, yakni hubungan yang intens dan terus menerus; 3. temporal dalam artian bersifat sementara dan sewaktu-waktu dapat berubah; 4. improvisation, yakni satu cara kerja dalam merefleksi kehidupan (Elizabeth Hallam & Tim Ingold, (ed.), Creativity and Cultural Improvisation, New York: Beng Oxford, 2007:1-14).
Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, demikian menurut Barron dalam Wood (1992). Pengertian sesuatu yang baru bukan berarti harus baru sama sekali baru, tetapi bisa merupakan dari kombinasi unsur-unsur yang telah ada sebelumnya. Torrance mendefinisikan kreativitas sebagai proses kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru dan mengkomunikasikan hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk dapat memiliki kemampuan kreatif, individu atau seseorang harus mealui proses belajar dalam kurun waktu yang lama. Menurut Utami Munandar, kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan (Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, Bandung: CV Waacana Prima, 2009: 64, periksa Torrance, E.P., The face and Form of Creativity, California: Ventura County Superintedent of School Office, 1991 dan Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992: 47).
Kreativitas dengan menekankan orisinalitas dalam berpikir seperti diungkap Utami Munandar sejalan dengan pernyataan Guilford (1970) bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif. Ada dua cara berpikir yakni berpikir konvergen dan divergen. Guilford mengatakan demikian. Cara berfikir konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan berpandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedang cara berfikir divergen adalah kemampuan individu untuk mencari berbagai alternatif jawaban terhadap suatu persoalan. Orang-orang kreatif lebih banyak memiliki cara-cara berpikir divergen daripada konvergen (J.P. Guilford, “Creativity” dalam American Psycologist, 1990 dan Mohammad Asrori, 2009: 62).
Proses kreatif mengikuti tahap-tahap tertentu. Asrori mengemukakan demikian ; Ada empat tahap proses kreatif yaitu : persiapan (preparation), inkubasi (incubation), iluminasi (illumination), dan ferifikasi (verification). Tahap persiapan (preparation), individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untukmemecahkan masalah yang dihadapi. Individu mencoba memikirkan berbagai alternatif pemecahan terhadap masalah yang dihadapi itu. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajagi berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu. Pada tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah. Pada tahap ini masih amat diperlukan pengembangan kemampuan berfikir divergen. Tahap inkubasi (incubation), proses pemecahan masalah ‘dierami’ dalam alam prasadar, individu seakan-akan melupakannya. Pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya, dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan ‘mengendapkannya’ dalam alam prasadar. Proses ini dapat berlangsung lama –berhari-hari bahkan bertahun-tahun– dan bisa juga sebentar –beberapa jam saja– sampai kemudian timbul inspirasi atau gagasan untuk pemecahan masalah.Tahap iluminasi (illumination) merupakan tahap timbulnya ‘insight’, yakni tahap dimana timbulnya inspirasi atau gagasan-gagasan baru pada proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan baru itu. Hal ini timbul setelah diendapkan dalam waktu yang lama atau bisa juga sebentar pada tahab inkubasi.Tahap ferifikasi (verification), dimana gagasan-gagasan yang telah muncul itu dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pada tahap ini pemikiran divergen baru diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Firasat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberadaan harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas (Mohammad Asrori, 2009:71).
Jadi kalau pada tahap persiapan (preparation), inkubasi (incubation), dan iluminasi (illumination) adalah proses berpikir divergen yang dominan, maka pada tahap ferifikasi (verifikation) yang lebih dominan adalah proses berpikir konvergen. Dengan demikian kreativitas sebagaimana dikemukakan para pakar di atas bukan semata-mata merupakan bakat kreatif atau kemampuan kreatif yang dibawa sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari hubungan interaktif dan dialektis antara potensi kreatif individu dengan proses belajar dan pengalaman dari lingkungannya. Demikian pula dalam penulisan teks pertunjukan lakon WB.
Lakon adalah karangan berbentuk drama yang ditulis dengan maksud untuk dipentaskan (Sudjiman (ed.),Kamus Istilah Sastra,Jakarta Gramedia, 1984:46). Boen S. Oemardjati mengatakan, naskah drama sebetulnya barulah bahan mentah sebuah pementasan (Boen S.Oemardjati, Sastra Lakon, Jakarta:Gunung Agung, 1971:75). Dari kedua pengertian di atas dapat dimengerti bahwa lakon merupakan istilah lain dari naskah drama. Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin menyatakan sebagai berikut: Dalam sebuah daftar naskah drama Indonesia tercatat 310 buah naskah baik yang telah dipublikasikan maupun yang masih dalam bentuk naskah asli. Kekayaan naskah drama Indonesia itu menunjukkan bahwa teater modern di Indonesia cukup semarak perjalanan hidupnya (Jakob Soemarjo, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1992:355). Sri Murtono sebagai penulis lakon menyatakan sebagai berikut ; Karya lakon sebagai karya sastra akan sempurna jika dipentaskan. Untuk itu proses penciptaan lakon mempegunakan alat-alat ekspresi penceritaan dialog dan laku (Sri Murtono dalam Nur Iswantara, Sri Murtono Teater Tak Pernah Usai Sebuah Biografi, Semarang: Intra Pustaka Utama, 2004:35).
Proses kreatif penulisan naskah atau teks pertunjukan lakon Waktu Batu dapat dipaparkan sebagai berikut ;
1. Pelontaran Ide Tema. Yudi Ahmad Tajudin, lahir Jakarta Utara 28 Mei 1972. Pendiri, direktur artistik Teater Garasi. Menyutradarai sebagaian besar pementasan Teater Garasi, dalam proyek pertunjukan lakon Waktu Batu sebagai pelontar ide tema dan sutradara. Sekitar bulan Maret 2001, setelah Yudi Ahmad Tajudin melakukan beberapa percakapan yang tak terlalu sistematis di antaranya obrolan yang cukup inspiratif dengan Slamet Gundono perihal sukerta dan ruwatan dalam tradisi Jawa, serta sepenggal bacaan esai Octavio Paz perihal orientasi dan persepsi waktu. Yudi menentukan cara dan bentuk penyikapan terhadap realitas, kegelisahan-kegelisan itu lalu mengkristal ke dalam tiga pertanyaan besar: waktu, transisi (beserta kegentingan yang menyertainya) dan identitas (nama-nama yang tertera di seluruh diriku, dari manakah mereka? Dan kenapa aku musti berada di sana, di antara nama-nama itu?). Sebagaimana dikatakan Yudi demikian: Sekitar bulan Juli 2001, setelah menggumulinya berbulan-bulan saya melontarkan ide pada teman-teman Teater Garasi untuk melakukan pelacakan terhadap tiga perkara besar lewat sebuah kerja teater.” (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, di Sanggar Teater Garasi, Jl. Bugisan Selatan 36 A Tegal Kenongo RT 1 RW 8 Yogyakarta19 Januari 2008).
2. Workshop Tim Penulis. Bermula dari lontaran ide tema: ’waktu’, ’transisi’ dan ’identitas’ Yudi Ahmad Tajudin yang menghimpun tiga penulis teks: 1). Andri Nurlatif, lahir di Sleman 12 Februari 1978. Sebelum proyek ”Waktu Batu” sudah terlibat kerja kreatif dengan Teater Garasi. 2).Gunawan Maryanto, lahir di Sleman, 10 April 1976. Bekerja sebagai Manager Program Teater Garasi. Mulai terlibat kerja dengan Teater Garasi sejak 1975. 3).Ugoran Prasad, lahir Tanjung Karang 6 Oktober 1978, dalam project WB merupakan kerja berteater yang perdana. Workshop tim penulis di Candi Sukuh Sukoharjo Jawa Tengah, ( 30 September – 1 Oktober 2001), sebagai titik dimulainya proses penulisan teks pertunjukan. Ugoran Prasad menuturkan demikian: Pertemuan pertama untuk proses penulisan naskah berlangsung di akhir bulan September antara Yudi Ahmad Tajudin sutradara dan penggagas ide proses ini dengan Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, dan saya sendiri. Itu adalah sebuah pertemuan yang segera merentang tidak semata kegairahan para penulis, tapi juga beberapa persoalan yang segera timbul. Satu-satunya yang terus mendalami teks Jawa dengan serius dari kami berempat, hanyalah Gunawan Maryanto (Ugoran Prasad, ”Sedikit Tentang yang Tidak Tertulis di Atas Naskah”, dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, pentas di Yogyakarta, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002: 7).
Pada pertemuan pertama inilah Yudi menyampaikan rancangan teks pertunjukan yang sumbernya teks besar mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala, dan ditambah sebuah bayangan Sejarah Majapahit Akhir. Yudi membagi tiga garis untuk dikerjakan ketiga penulis: Gunawan Maryanto, merekam-memikir ulang khazanah Jawa; Andri Nur Latif, atmosfir dan imaji yang pekat-tajam; dan Ugoran Prasad, geometri dan pertautan ruang besar.

Gambar 18. Andri Nur Latif, anggota Tim Penulis
Pertunjukan Lakon Waktu Batu di Sekretariatan Teater Garasi. page 5.
(Dokumentasi Nur Iswantara)
3. Studi Teks, Percobaan Penulisan. Pada tanggal 2 Oktober sampai akhir Desember 2001 tim penulis dan sutradara dalam pertemuan mingguan melakukan elaborasi, diskusi teks sumber dan percobaan penulisan teks eksplorasi. Sesudah melalui studi teks secara personal dilanjutkan membicarakan temuan-temuan bacaan, dan percobaan penulisan. Ada kesepakatan pertemuan rutin sekali setiap minggu. Setelah bekerja, hasilnya sebuah teks ’Watugunung Satu’, Gunawan menuliskan teks adegan dongeng ibu kepada anak tentang bulan. Ugoran Prasad menulis teks ’intruducing’ tentang Kala yang monolog, dan Andri menyusun adegan awal dalam simulasi ruang dari teks-teks tersebut. Hasil simulasi Andri berupa adegan percintaan antara Siwa dan Uma menjadi latar belakang kelahiran Kala, dan juga para penulis menautkan antara Sudamala, Murwakala, dan kelahiran Durga. Adegan percintaan dan narasi dramatik ini yang paling awal dicobakan dengan ’reading’ kepada aktor. Dari pengamatan ujicoba dengan aktor, menghasilkan teks ’Watugunung’ versi Andri sebanyak 40 adegan pada 26 halaman.
4.Eksplorasi dan Menghasilkan Teks. Pertengahan Desember 2001 Tim Penulis tetap melakukan eksplorasi dan menghasilkan teks pertunjukan. Teks-teks pertama oleh para penulis dikumpulkan menjadi satu. Gunawan menghasilkan versi ’Watugunung V’. Andri pun masuk dalam wilayah gelap menghasilkan ’Watugunung VI’. Ugoran Prasad tak menulis tetapi banyak berdiskusi diluar agenda tetap tim penulis.
Bulan November, masa-masa suram dan emosional. Hal itu dapat diketahui dengan jelas. Prasad tidak menulis lagi setelah tulisan yang pertama, Gunawan tidak lagi menulis setelah ‘Watugunung V’, Andri tetap mempresentasikan tulisannya yang tersesat ke wilayah gelap melalui penyusupannya dibawah judul ‘Watugunung VI’, penulisan teks sedikit terasa lambat.
5. Mencetak, Mengumpulkan Dokumentasi Naskah. Yudi meminta tim penulis mencetak dan mengumpulkan seluruh dokumentasi naskah, pada 26 Desember 2001. Tim penulis menghasilkan teks pertunjukan setebal 96 halaman. Yudi, penggagas-sutradara melakukan penyeleksian seluruh dokumentasi, dijadikan 22 halaman. Di pertimbangkan, menjadi 28 hlm, yang dinamai ’’Watugunung Eklektika” (Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, 2002:54).
Berbekal teks terakhir itu proses eksplorasi aktor dimulai. Semenjak teks beralih ke tangan aktor-aktris, teks bukan lagi milik tim penulis. Wilayah interpretasi terbuka luas bahkan tim penulis ada kekagetan ketika teks diolah oleh para aktor. Sesudah proses berjalan cukup kencang, tim penulis memutuskan untuk bertemu. Disusunlah perencanaan pertautan antara teks-teks yang ada pada ”Watugunung Eklektika”. Kemudian eksplorasi berdasarkan ”Watugunung Eklektika” dimulai 2 Januari 2002. Di awal bulan Februari 2002, tim penulis bersama Sutradara diskusi dengan pak Sukirman, pakar budaya Jawa.
6. Tim Penulis, Sutradara Menyepakati Plot Naskah. Tim penulis, sutradara pada tanggal 12 Februari 2002, berkumpul untuk menyepakati plot keutuhan teks pertunjukan. Pertemuan itu berhasil menemukan satu plot bersama yang dituangkan dalam draf ’Manuskrip Watugunung v.1.2’. Akhirnya selama dua minggu tim penulis menguatkan narasi dramatik, penajeman dan penyatuan. Mereka bekerja bersama menghasilkan manuskrip teks pertunjukan tentatif, berjudul ”Watugunung” teks pertunjukan pertama dengan tujuh adegan/fragmen. Yudi sebagai sutradara meminta kepada tim penulis dengan pertimbangan tertentu agar memecah sekurang-kurangnya menjadi sepuluh (10) adegan dan atau fragmen.
7. Tim Penulis menghasilkan Naskah atau Teks Pertunjukan Waktu Batu. a). Teks pertunjukan judul tentatif ”Watugunung”. Pada tanggal 27-28 Februari 2002 dilaksanakan camp penulis di Omah Bata Yogyakarta dan menghasilkan naskah atau teks untuk pertunjukan versi pertama judul tentatif. Kemudian pada bulan Maret 2002, tim penulis mengadakan diskusi dengan Landung Simatupang di Yogyakarta dan masih pada bulan yang sama tim penulis, aktor dan sutradara berdiskusi dengan Elizabeth D Prasetyo. Judul naskah atau teks pertunjukan tentatif ”Watugunung”. b). Teks pertunjukan ”Watugunung” menjadi ”Waktu Batu”. Pada tanggal 21 April 2002, tim penulis dalam camp di Sanggar Teater Garasi Yogyakarta. Dalam proses camp ini tim penulis pada tanggal 29-30 April 2002 menghasilkan teks untuk pementasan versi kedua. Pada bulan Mei 2002 terjadi perubahan dari judul tentatif ”Watugunung” menjadi ”Waktu Batu”. c). Teks pertunjukan ”Waktu Batu Kisah-Kisah yang Berlemu di Ruang Tunggu”.

Gambar 19. Gunawan Maryanto, anggota Tim Penulis
Pertunjukan Lakon Waktu Batu di Sekretariatan Teater Garasi. page 7
(Dokumentasi Nur Iswantara)
Pada tanggal 6-7 Juni 2002 diadakan camp tim penulis. Bertempat di gudang milik Mas Tri, Jl. Wates Yogyakarta. Hasilnya teks pertunjukan versi ketiga. Tim penulis harus menemukan judul yang paling tepat guna mengganti judul tentatif “Watugunung”. Tim penulis bersama sutradara, aktor-aktris, menyepakati judul “Waktu Batu. Kisah-Kisah yang Berlemu di Ruang Tunggu”.
8.Tim Penulis Mewujudkan Sinopsis Teks Pertunjukan. Melalui kerja keras tiada mengenal lelah Tim Penulis pun mewujudkan Sinopsis teks pertunjukan. Hasilnya sebagai berikut: Prolog. Perihal Kapal-Kapal Yang Datang Dari Balik Laut. Senja atau parak pagi, tak ada yang pasti. Masihkah bintang-bintang menunjukkan arah? Masihkah jalan pulang? Di pantai-pantai yang jauh, orang-orang, Gandari, Destarata, menunjuk sesuatu yang datang dari balik laut. Sesuatu yang tak ternamai selain sebuah kecemasan. Fragmen 1. Terjadinya Kala. Terjadinya Durga. Siwa mengajak Uma bercinta. Tapi Uma menampiknya: tidakkah kaulihat sore sedang tumbuh di antara gerai gerimis? Tidak jawab Siwa, aku tidak melihatnya! Siwa mengejar. Uma menghindar. Demikianlah sampai Uma menjatuhkan serapah: Anjing! Bercintalah dengan malam! Sampai Siwa menjatuhkan kutuk: Anjing! Aku tak mau bercinta dengan ibu para siluman! Keduanya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Suatu ancaman bagi para pejalan. Fragmen 2. Kunjungan Terakhir di Wilayah Domestik. Mak, lapar, mak! “Kalau mau makan, cari saja di jalan!” Mak, lapar, Mak! “Batu!!!” Seharusnya enthong itu tak melukai kepala anaknya. Watugunung muda pergi dengan tersiram luka. Meninggalkan segalanya. Menanggalkan tubuhnya dan menjelma kura-kura. Ibu mengejar. Tapi terlambat. Fragmen 3. Pemukulan Ketel. Ketika yang tinggal hanya sesal. Hanya semacam senja yang kering tua. Taman kerajaan. Angin tenang. Daun-daun tak bergoyang. Tapi Sinta, tak kau lihat, ada yang sedikit berubah pada arah? Bukankah segalanya hanya sesaat? Tidak adakah cara yang lain selain memukul-mukul kepala itu? Selain memukul-mukul perkakas dan rasa cemas? Fragmen 4. Menggambar Bulan Menari di Bawah Kakiku. Watugunung! Kau tak sedang menggambar apa-apa! Kau tak sedang menggambar apa-apa! Kau tak sedang memetakan apa-apa! Hanya batu-batu, tentu! Watugunung yang luka menggambar setiap nyerinya, setiap inginnya, setiap yang menakutkannya. Fragmen 5. Penemuan Luka Yang Membekas Nganga di Kepala.Kelelehan pergilah bersama angin ke pantai-pantai yang jauh! Raja Watugunung hanya bisa rebah di pangkuan Sinta, istrinya. Gigil dan demam. Saat itulah Sinta menemu tanda luka dari masa lalu di kepala suaminya. “Lalu siapa kamu?” “Aku istrimu!” “Aku ibumu!” Berita merapatnya kapal-kapal asing sudah menyebar bersama wabah yang dibawanya. Fragmen 6. Di Ruang Tunggu Sinta. Di ruang tunggu, di mana berdiam Sinta, Sitawaka, Durga dan Kali. Menunggu yang tak kunjung datang. Sementara hujan turun demikian deras menghapus setiap bekas. Ia tak juga datang. Anaknya tak juga datang. Suaminya tak juga datang. Yang meneduhkannya tak juga datang. Fragmen 7. Mengamuk di Jalan-Jalan. Sinta, Sitawaka, Durga dan Kali menerabas hujan deras. Segalanya memang serba berbatas demikian juga kekuatan untuk menahan rasa cemas. Mereka mengamuk di jalan-jalan. Dan tak ada yang dapat menghentikannya. Kekacauan telah pula melanda tepian pantai yang jauh. Orang-orang panik, berteriak dan berlarian. Tapi tak ada yang dapat menghentikan. Tak ada. Fragmen 8. Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-Kapal. Raksasa itu menjelma kapal-kapal. Kapal-kapal itu merapat menjelma mesin-mesin. Mesin-mesin itu semakin dekat dan menjelma kekalahan. Kekalahan kini datang dan tak terelakkan. Fragmen 9. Peperangan dan Dongeng-Dongeng Yang Tak Selesai-Selesai. Seribu tahun yang melingkar ini tumbuh lagi dalam benci dan tidak ternamai. Seribu tahun kematian raja-raja, kehancuran gunung-gunung, dan terampasnya tepian pantai. Lalu kapal itu membunyikan peluitnya. Sekali dan sepertinya tak mau berhenti. Hanya tinggal dongeng-dongeng. Rombeng. Cengeng. “Slaap, kindje, Slaap!” Frgamen 10. Nama-nama Diciptakan. Nama-nama yang Menunjukkan Entah. Tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi yang dapat dibaca. Hanya jalan panjang terkapar telanjang dan jejak luka di sekujur tubuhnya. Hanya kesunyian melayang-layang tak bisa pulang. Hanya yang kalah dan terusir, melata di lereng-lereng gunung, melambai-lambai pada jendela terbuka rumah mereka yang tinggal rawa-rawa (Katalog Pertunjukan Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, pentas di Yogyakarta, Yogyakarta: Teater Garasi & Lembaga Indonesia Perancis, 2002; periksa DVD “Waktu Batu 1, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu” di Gedung Sasono Hinggil Yogyakarta, 2-4 Juli 2002).
9. Tim Penulis, Sutradara Mengawal Teks Pertunjukan yang di-Ekplorasi Aktor-Aktris.Teks pertunjukan tersebut di atas lah yang oleh para aktor di eksplorasi dengan dikawal sutradara dan tim penulis. Pada tanggal 28 Mei 2002 diadakan pembacaan Teks Untuk Pertunjukan Waktu Batu. Kisah-kisah yang bertemu di Ruang Tunggu’ di Auditorium Lembaga Indonesia (LIP) Perancis Yogyakarta.
10. Kerja kreatif dalam ’Laboratorium Penciptaan Teater’ . Teater Garasi sebagai ’laboratorium penciptaan teater’ melalui teks pertunjukan lakon Waktu Batu mampu menghasilkan tiga (3) seni pertunjukan teater kontemporer. 1). ‘Waktu Batu, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB1) pentas di Gedung Sasono Hinggil Yogyakarta 2-4 Juli 2002.55 2). ‘Waktu Batu, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah’ (WB2) pentas di Gedung Kesenian Jakarta (17-18 Maret 2003);Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (20 Maret 2003);Taman Budaya Lampung, (26 Maret 2003); Sekolah Tinggi Seni Padangpanjang (31 Maret 2003); dan di Yogyakarta (Maret dan Juli 2003).56 3). ’Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu’ (WB 3) di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta (27-28 September 2004) dalam ‘Art Summit Indonesia IV’ (Performing and Visual Art Festival), di Yogyakarta pentas di Gedung PPPG Kesenian, (20-21 September 2004), dan pentas di Singapura di The Art –Space (Old Parliament Building), pada tanggal 1-3 Oktober 2004 dalam event Insomnia 48.57 Pertunjukan lakon WB merupakan sebuah pilot project kerja ‘laboratorium penciptaan teater’. Aji mengatakan sebagai berikut : Sebagai langkah awal pijakan proses membangun sebuah laboratorium penciptaan teater, TG menetapkan tiga gerbong aktivitas: pertama, riset dan eksplorasi; kedua, dokumentasi; ketiga, penciptaan.” (Kusworo Bayu Aji, ”Ketika Kami berada di Sini” dalam Katalog Pertunjukan Waktu Batu,Kisah-Kisah yang Bertemu Di Ruang Tunggu, 2002:1).
11. Teks Pertunjukan Lakon Waktu Batu bentuk Buku. Teks pertunjukan lakon Waktu Batu ditulis oleh tiga kreator: Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, dan Ugoran Prasad (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, Waktu Batu, Magelang: Indonesia Tera, 2004:58). Lakon mulai ditulis 30 September 2001 dan diakhiri 8 September 2004 melalui kerja kreatif Teater Garasi ‘laboratorium penciptaan teater’. Teks pertunjukan lakon Waktu Batu bentuk buku merupakan hasil kerja kolektif dan proses panjang dari penggagas/pelontar ide tema yang sekaligus sutradara Yudi Ahmad Tajudin bersama tim penulis naskah, tim artistik dan para aktor. Ugoran Prasad mewakili tim penulis mengatakan demikian. Kami telah berjalan cukup jauh, dan mungkin semakin dekat pada ujungnya. Karenanya, teks yang kami umumkan berikut adalah sebuah akhir proses panjang percakapan dan awal kemungkinan-kemungkinan. Salah satu kemungkinan itu: Indonesia Tera menawarkan kami untuk mempublikasikan teks tulis untuk pertunjukan WB, ditengah proses WB 3. Teks itu, saat ini, sedang bersiap-siap untuk bercakap dengan Anda” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004, xxi-xxii).
Buku lakon Waktu Batu berukuran panjang 20 cm dan lebar 13 cm. Jumlah halaman xxiv + 112 halaman. ISBN:979-9375-89-4, ketikan 1,5 spasi. Sampul didominasi warna hitam, gambar cover depan selang infus berjuntai dengan seorang tokoh cerita yang diperankan Jamaluddin Latif. Tulisan judul buku Waktu Batu, nama pengarang dan kelompok Teater Garasi dicetak dengan warna putih. Tebal buku sekitar 0,5 cm di punggung buku mulai dari atas terdapat tulisan Teater Garasi; 2001-2004, kemudian judul buku Waktu Batu dan nama penerbit Tera.
Proses kreatif penulisan teks pertunjukan lakon Waktu Batu sebagai berikut.

Gambar 20. Bagan Proses Kreatif Penulisan Naskah Waktu Batu, Bagan dibuat oleh Nur Iswantara. page 11.
(Dokumenyasi Nur Iswantara)
Ide atau gagasan datang dari Yudi Ahmad Tajudin karena gelisah akan konsepsi teater dan konsepsi waktu dalam tradisi penanggalan Jawa. Tajudin sebagai pelontar gagasan merekrut tim penulis: Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad untuk menuliskannya. Proses penulisan pun dilaksankan dengan melakukan ‘eksplorasi’ sumber cerita yang mengkait langsung dengan konsep waktu, maka dipilih mitos Jawa: Watugunung, Murwakala, Sudamala dan Sejarah Majapahit Akhir. (Ekplorasi: penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak; kegiatan untuk memperolah pengalaman baru dari situasi yang baru, dalam Hasan Alwi, dkk., 2003,:290)
Selanjutnya tim penulis, sutradara, aktor-aktris melakukan ‘riset’ sungguh-sungguh untuk mewujudkan teks pertunjukan Waktu Batu (Riset: penyeleidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik dalam Hasan Alwi, dkk., (2003: 958). Seluruh pendukung mengikuti ‘workshop’ berkaitan dengan penulisan teks pertunjukan maupun keaktoran ( Workshop: bengkel, ruang kerja, lokakarya dalam John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, (1994: 635). Selain itu untuk memantapkan kerja penulisan dilakukan ‘diskusi’ (Diskusi: pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah dalam Hasan Alwi, dkk., 2003:269) dengan beberapa teaterawan, pakar budaya Jawa guna mencapai teks pertunjukan lakon Waktu Batu yang diinginkan.
Proses kreatif penulisan naskah/teks pertunjukan berhasil baik dengan dipentaskannya 3 (tiga) versi pertunjukan lakon WB. Pada pertunjukan lakon WB 3 berhasil dicetak dalam bentuk buku.Yudi Ahmad Tajudin mengatakan: Pembaca yang terhormat, di tahun 2004 ini, di tengah-tengah kami sedang menyusun versi yang lain lagi atas Waktu Batu, kami menyusun buku ini. Versi terakhir yang kami sebut ’Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu’. Di versi ini kami menyelesaikan perjalanan kami. Buku kecil yang tengah Anda baca ini adalah sebentuk dokumentasi kecil atas proses panjang kami tersebut. Demikianlah Teks untuk pertunjukan ini selesai (Yudi Ahmad Tajudin, Pelontar Ide Tema “Perihal Ruang Ambang” dalam Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:108; Dokumentasi DVD‘Waktu Batu 1, Kisah-kisah Yang Bertemu di Ruang Tunggu’, Gedung Sasono Hinggil Yogyakarta, pada 02-04 Juli 2002).
Teks pertunjukan lakon Waktu Batu berbentuk buku sangat berarti. Mengingat sebagian besar naskah atau teks pertunjukan teater Indonesia belum dicetak dan diterbitkan dalam bentuk buku. Kehadiran lakon Waktu Batu berbentuk buku memiliki nilai dokumentasi dalam dinamika teater kontemporer di Yogyakarta khususnya dan Indonesia umumnya. *** [Bersambung, Penulis & Peneliti: Nur Iswantara].
