Yogyakarta. suaraglobal.news. Bertempat di Purawisata – Amphitheater Jl. Brigjen Katamso Yogyakarta, selasa 23 Juni 2026 pukul 19.30 – selesai. Pergelaran MORSA (musik tradisional, Orkestra, Sastra) dan peluncuran 2 (dua) buku kumpulan puisi “Yang Kutitipkan Kepada Langit” dan “Negeri Retak” karya Joko Pranoto berlangsung dengan apik, menarik dan meriah.
Pagar Betis Nusantara present mendandani Morsa Event 2026 Gelar Seni Budaya Indonesia begitu tertata rapi dan indah. Mulai masuk lokasi Purawisata menuju Amphitheatre cahaya lampu terang lingkungan dengan taman menawan. Di halaman depan Amphitheater disediakan meja-kursi buat menunggu waktu pertunjukan tiba. Musik tradional Tagading, Sulim, Sarune, Garantung dan Hasapi yang khas Batak mengalun di halaman sebelah selatan merdu mengalun me
Disajikan berbagai menu hidangan di halaman sisi timur. Penonton dapat menikmati sambil menunggu pintu Amphitheater dibuka. Berbagai menu yang ditawarkan pun beraneka. Duduk di kursi menikmati wedang dan kue bersama Budayawan Taufik Rahzen, Mbak Nunik, Mbak Yani Sapto Hudoyo, Mas Eko Winardi, Mas Wibowo dan Mas Sumpeno dan teman lainnya suasana begitu hapi.
Sebelum duduk bersantai menunggu waktu pertunjukan penonton dengan menunjukkan undangan di resepsionis diberi tas souvenir hitam berisi kumpulan puisi “Yang Kutitipkan Kepada Langit” karya Joko Pranoto dan tas hijau dari sponsor produk bumbu masak Kara. Hal ini menjadikan sesuatu sekali, menonton dapat souvenir untuk keluarga di rumah juga.
Pintu Amphitheatre dah dibuka, penonton pun mengantri masuk satu persatu. Penonton duduk dengan tertib di tempat yang sudah tersedia. Suasana begitu menyenangkan penonton. Musik Orkestra ISI Yk bergema menghidupkan suasana dimulainya pertunjukan. Setting panggung ditata penuh daya pesona. Area play sisi kiri dipenuhi pemain Musik Orkestra ISI Yk. Area play tengah tempat tampilnya para aktor dan aktris tampil. Sedang panggung sisi kanan terdapat peralatan Musik Tradisional Gamelan Jawa siap dengan paraganya.
Panggung nan megah ditata nan indah. Sutradara Bambang Oeban begitu mengarahkan artistik penuh daya tarik. Karya Seni Logam dan Wayang Milehnium karya Ki Mujar Sangkerta demikian menguasai panggung pertunjukan.
Seorang tokoh anak muda dengan pakaian awut-awutan di area play. Dia action penuh power. “Joko Pranoto…meninggalkan Taman Budaya Sumatera Utara tahun 1988. Hilang ditelan bumi. Kini hadir dihadapan pemirsa”. Orkestar ISI Yk pun berkumandang. Seiring kumandang orchestra Jaka Pranoto muncul di panggung dengan berpakaian Jawa. Mas Joko Pranoto yang sekaligus ketua pelaksana acara Morsa Event 2026 Gelar Seni Budaya Indonesia pun mengkisahkan acara.
Aktivitas pertunjukan ini disumbang Bupati Solok dengan 100 tiket untuk menonton para pelajar dan mahasiswa yang di Yogya. Dan rekan dari Singapura menyumbang bagi para tuna netra untuk menghadiri pertunjukan mengingat ada yang tampil Teateral Tunanetra.
Selanjutnya mulailah pembacaan puisi karya Joko Pranoto oleh seorang dara membawakan puisi “Yang Kutitipkan Kepada Langit”: inilah takdirku: menjalani titah//menyudahi ilusi//merangkai rintik-rintik hujan// menjadi embung//untuk menyirami mawar//dan batin yang kering. Hadirlah Nyai Dewi B. Dersolono berpuisi penuh daya indahnya. Penampilan yang menyegargan di awal pertunjukan Morsa.
Penampilan dipanggung selanjutnya Sholawat Reggae oleh Alvin Bin Adam didampingi cewek mungil. “La ila ha ilallah Muhamad Darasulullah…” Penampilan duet penyanyi rapper mengugah penonton untuk berregae ria. Suasana menuju hening ketika Prof. Baikhuni menyampaikan orasi kebudayaan. “Joko Pranoto menitipkan pada langit. Jogja pusat kebudayaan dunia….Apakah dengan kebudayaan kembali pada harmoni kemanusiaan? …Gelorakan seni budaya. Kata-kata tak cukup lakukan tindakan mengembalikan kebudayaan dalam jaringan budaya menjadi harmoni.
Disusul hadirnya Clara Sinta Rendra berpenampilan anggun dengan busana hijab berwarna merah maron. Pembawaan puisi begitu intens penuh penghayatan. Gaya dan gesture seakan mewarisi ayahandanya W.S. Rendra. Clara Sinta tampil memukau sebagaimana keturunan Rendra Burung Merak itu. Penampilan Clara Sinta Rendra semakin menjadikan daya pukau MORSA EVENT 2026 meningkat.

Tampillah Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Indonesia berkostum jaket dan topi laken. Bang Tarji membawakan puisi “Pada Cinta Yang Tak Pernah Ada” karya Joko Pranoto penuh power dan khasnya: sedikit pun aku tidak menyesal//mencintaimu//sesungguh hatiku; meskipun kau telah menukarnya// dengan sembilu-menyayat pedih; lihatlah aku tak lunglai//meski hatiku penuh luka// karena amor sigap memapah; aku ini angina//tak koyak oleh badai; kekasih abadi//dalah ruh. Jogja, 10 Maret 2026 (Joko Pranoto, Yang Kutitipkan Kepada Langit, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Madani Kreatif Publisher, 2026:36).
Penampil berikutnya Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, membaca puisi “Ketika Lidah Buaya Berbunga” dengan didampingi 3 pemuda 1 pemudi berpita merah di kepala dan tangan. Suara serak mendesak diekspresikan 4 anak.muda…”lidah buaya berbunya…lenyap sudah penyembuh luka…Tepuk tangan bergema. Disambung lagu dinyabyikan Syifa Ardianti Ishaputri..suara mendayu khas dengan dentingan piano. ” Durhakanya aku.. duhai Ibu..”
Pertunjukan semakin berwarna ketika Jose Rizal Manua. Berpuisi dilagukan..”mumpung masih hidup nikmati…kesenangan…” Jose Rizal dg kostum baju lengan panjang merah celana putih dan blangkonnya. “Kalau tudak aneh bukan negeri kita” gaya rocker. Puisi lagi…. Lagu “Ini lagu terpendek di Dunia”…….
EB. Magor..monolog “Dialog Bidadari” Di tempat ini.sku dilahirkan…Makku…Bapakku ilusi. Ibu seorabg kampungan..sudah mengenal MBG. Ada lukisan…Angin. “Air mata jatuh…aku menangis dala pelukan..” Wanita cantik memandang…terdiam saat aku.memperkenalkan diri. Ibumu pergi membawa luka…Perempuan nembang Jawa denga indah.”Mak..aku kangen kamu Mak”.
Anto Narasoma. Assalamualaikum Wr Wb. Meniup harmonika. Aku bertanya. Apakah larik2 bermakna. Aku bernyanyi puisi bentuk apa? Aku bertanya puisi dimana? Dan dilanjut Tafruzak membacakan puisi “Nasehat yg terpasung” karya Joko Pranoto. Kau telah menjebaknya pada pigura. Kita terpuruk dalam.lukisan. Imaji yg dulu kita arak seluruh negeri…Kekssihku jangan merajuk…tetaplah bersuara. Pertunjukan disambung oleh Meritz Hendra. Orkes bergema. Mas Meritz dg busana surjan lurik jarit biru laut prada dan blangkon. “Bila langit menunda itu bukan.banci. Tuhaaannn…Beri daku sedikit lagi waktu…Agar sujudku tiada palsu.”
Dilanjut penampilan Teateral Tunanetra yang digawangi Yuda cs membawakan puisi “Aku ingin Melupakan Mawar”. Teaterikal ini sungguh menyentuh Bagaimana Yuda dengan rekannya melakoni penuh intesitas khas mereka. Puisi pun dilantunkan dengan bergantian: pagi tadi embun tak jatuh//hanya suara kepodang//memberi nyanyi pada bumi//rama-rama ikut menari//tarian dewa//pembawa warna.
Yuda silih action berganti dengan rekannya menyuarakan puisi penuh intensi: aku lupa menulis puisi//yang kemarin kujanjikan pada amarilis; berangsur kulupakan mawar//yang telah memberiku pedih; luka tertusuk janji; kesungguhan//tetap//berdoa//agar kelopak mawar//tak jatuh//tak terinjak. Banyuasin, 28 Januari 2026. (Joko Pranoto, Yang Kutitipkan Kepada Langit, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Madani Kreatif Publisher, 2026:24).
Berikutnya penampilan Romi Sastra. “Disimpul senyummu aku terbakar rindu. Waktu bagimu…menghela waktu. Kuberikan…bilah cinta. Tuhan kubelah dadaku..Kau tidak ada. Ternyata Kau tidak ada..Kau berdiri diaras catatan dosa” Disabung penampilan Alvin Bin Adam. “Ya Allah….Ya Allah…” Ilustrasi musik rapp…saxsofone berbunyi…”Yukensi you muslim…jerusalem…assalamualaikum…waalaikumsalam”.
Jono Bayuwinanda. Action Monolog dengan bawa tempat asap. “Kembang melati…bawa kupi ya. Ngopi bareng-bareng disini. Sebentar ada WA. Saya Jakowi dulu tinggal di Istana. Alhamdulillah saya jadi dukun. Tugas saya memberi mantra2. Ada orang minta diluruskan padahal bengkok. Saya luruskan jalan dan masuk jurang. Datang ke saya..Bung Karno..eh..Dadang. Mbah para pembenci MBG …santetlah. Apakah MBG bermanfaat. Semua menjawab. Tidak…MBG Mas Bahlul Goblok….Jika saya bilang Mas Bahlil Goblok baru dipenjara. Setelah Dadang sampai di Jakarta Ditangkap KPK. Ternyata saya salah mantra”. Jono bertanya kepada penonton “Apakah MBG bermanfaat?” Dijawab penonton “Tidak…” kata penonton.
Afnan Malay membawakan puisi

“Penolakan paling absurd” diam….Suara menjadi bisu. Korupsi menjadi suara. Satu lagi, Disambung membawakan karya puisi Afnan sendiri. “Aku mendski gunung-gunung, terdaki air mata. Tuhan kenapa aku jadi WNI? Tuhan kenapa aku jadi WNI? Tuhan kenapa aku jadi WNI? Tuhan menggeleng kelu meneteskan air mata.
Alvin bin Adam kembali ngerepp “La hada…ya…sirlana…Ya fardahu…ya Ilmu….Ila khulubana…ya Qur’an”. Sampaikan solawat kami kepada Rasulullah. Ya Allah…mudahkanlah urusan kami. Agama …bacalah Al Qur’an Al Qur’an sumber kehidupan..Robana ya Robana. Khalonk Rahmansyah. Bang joko. Makanan. bikin gaduh…Akhirnya aku berhasil singgasana jadi milikku. ..Anak-anak negeri keracunan. Sebagian menghujat…keracunan.
Dan dilanjut akhir pertunjukan. Sekapur sirih saya persembahkan ungkap Joko Pranoto. Sekapur sirih…hasrat penari. Tangis yang tersumpek…Disini akan dibangun pilar kebangsaan. Di negeri retak. Gending hiasan penari bayangan.
Menikmati penampilan para aktor dan aktris dalam pertunjukan ini penonton diajak masuk dalam dunia puitika naratif imajis yang penuh keindahan tiada terkira. Penonton dibawa ke pergelaran akbar MORSA EVENT 2026 GELAR SENI BUDAYA INDONESIA ekspresi seni pertunjukan sastra kaya daya pesona. *** ( Penulis Nur Iswantara))
