Banyuwangi, suaraglobal.news. Bertempat di caffe Kopi Cakanca Papring, Kampung Batara Papring RT 03/02 Kelurahan Kalipuro Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur pada hari minggu tanggal 05 Juli 2026 pukul 19.00 sd. selesai launching Gandrung Sekar Jajang. Karya seni pertunjukan tarian berjudul Gandrung Sekar Jajang di cipta-kreasi oleh tiga pemuda: Herfan Efendi, masih studi di Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Insititut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta – pengagas, konseptor; Muh. Gilang Ilham W., alumni Prodi PSP FSP ISI Yogyakarta – koreografer; dan Afhgan Ghaza Al-Haitamy, alumni Prodi Etnomusikologi FSP ISI Yogyakarta sebagai composer.
Gandrung Sekar Jajang bakal louncing di You-Tube dan media sosial lainnya, di moment ini dilaksanakan nonton bareng. Usai menonton sebagai apresiasi karya seni tari Gandrung Sekar Jajang dilanjut dengan diskusi, bercerita dan bedah karya bersama pengkarya, masyarakat, seniman budayawan dan mahasiswa UIN Khas Jember yang sedang Kuliah Kerja Nyta (KKN) di Kampung Batara.

Gandrung Sekar Jajang ini terinspirasi dari kata “jajang” dalam bahasa Osing artinya bambu. Hal ini memiliki makna filosofis dan perlambang kekuatan, kelenturan, keteguhan, dan kemampuan untuk tetap tegak meski diterpa berbagai ujian dalam kehidupan. Gandrung Sekar Jajang merupakan karya seni pertunjukan tari yang lahir dari tangan-tangan kreatif masyarakatnya.
Masyarakat Papring memiliki semangat menganyam, warisan leluhur diwujudkan dalam bahasa seni yang terus bertumbuh. Gandrung Sekar Jajang merupakan karya yang lahir dari tangan-tangan kreatif masyarakat Papring, berangkat dari semangat menganyam dan warisan leluhur melalui bahasa seni yang terus bertumbuh.
Herfan Efendi (4/7/2026) otak, konseptor Gandrung Sekar Jajang, generasi muda Kampung Batara Banyuwangi mengungkapkan, “Yang saya persiapkan dari awal niat, moco (membaca) kahanan (keadaan) dan mental. Saya akan menghadirkan Gandrung versi bambu yang pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Saya siap dengan konsep, memahami bambu hingga jadi anyaman Bambu. Dan suport dari Mas widie Nurmahmudy, founder Kampoeng Batara dan masyarakat Kampung Papring”.

Lebihlanjut Fendi nama panggilan Herfan Efendi menjelaskan “Gandrung Sekar Jajang berangkat dari kegelisahan terhadap keberlangsungan bambu yang menjadi denyut kehidupan masyarakat Kampung Papring. Bambu bukan sekedar tanaman, melainkan sumber mata pencaharian, penyimpan cadangan air, sekaligus penyangga keseimbangan alam yang telah menghidupi masyarakat selama bertahun-tahun. Melalui karya ini, saya ingin menghadirkan seni sebagai bahasa yang mampu menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap bambu, sehingga lahir kesadaran bahwa bambu bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga identitas, budaya, dan fondasi kehidupan masyarakat Kampung Papring.”
Cak Widie Nurmahmudy (4/7/2026), pimpinan produksi tarian Gandrung Sekar Jajang sekaligus founder Kampung Batara memaparkan, “Saya memandang lahirnya karya tari Gandrung Sekar Jajang ini sebagai sebuah langkah regenerasi budaya yang sangat positif dan menyegarkan. Apalagi, ini dibuat oleh anak-anak, pemuda dan warga Papring sendiri, sebagai masyarakat penjaga Bambu (Jajang) yang di aktualisasikan melalui seni gerak, seni bunyi, seni kostum yang semuanya menceritakan tentang semangat menjaga mi dengan bambu. Secara umum, lahirnya karya kreasi baru dalam ranah seni Banyuwangi memberikan beberapa kesan mendalam. Karena mencerminkan simbol resiliensi dan fleksibilitas budaya. Bambu (Jajang) dikenal lentur namun kuat, mencerminkan bagaimana seni tradisi seperti Gandrung bisa terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akarnya.”
Lebih nyata diungkap Mas Widie Nurmahmudy, “Kemudian, ada Nafas baru dalam sudut pandang edukasi, ekologi dan Ekonomi Kreatif. Mengingat karya-karya berbasis komunitas atau kreasi baru selalu berhasil menarik perhatian generasi muda. Hal ini memperkaya khazanah festival budaya lokal yang membuat ekosistem kesenian tetap hidup dan menghidupi para pelakunya. Gandrung Sekar Jajang tidak hanya sekedar menata gerak, tapi juga menjadi Penjaga Identitas Lokal: Di tengah gempuran budaya modern.
Kehadiran karya yang mengangkat filosofi lokal Bambu (Jajang) membuktikan bahwa seniman daerah tidak pernah kehabisan bahan baku kreativitas untuk menyuarakan jati diri mereka. Potensi Bambu (Jajang) di Kampung Papring menjadi ruh dan identitas yang tidak boleh tenggelam, tapi harus terus digabungkan melalui berbagai media. Baik itu media seni budaya, pelestarian dan konservasi untuk terus menjaga ruang ekonomi bertumbuh di Masyarakat Kampung Papring dan sekitarnya. Karya ini menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur tidak sekadar dirawat di dalam museum, melainkan terus tumbuh, “berbunga” (sekar), dan membumi di tengah masyarakat.”
Tim produksi Gandrung Sekar Jajang terdiri: Widie Nurmahmudy – pimpro; Sleam Triatmodjo – stage manager; Herfan Efendi – pengagas, konseptor; Muh. Gilang Ilham W. – koreografer; dan Afhgan Ghaza Al-Haitamy – komposer. Penari – Humairoh, Aini, Widia, Amel, Intan. Vidiografer – Abdur Rakib, Mahrozy, Irwan. Lighting – Misnawi, Artistik – Abdul Hadi, Andri Ramadhan, Firman Maulana P, Wawan Saputra. Perkap – Junaidi, Jumhari, Farel, Sumariyo, Dava, Dimas. Tata Rias – Gilang Iyam; Tata Busana: Fentara, Abi Rendi, Mawiyanto dan Sie Konsumsi – Nasiba, Lita, Asnawiya. Suport by: Tuhan Yang Maha Esa, Mas Wide Nurmahmudy Founder – Kampoeng Batara, Kriya Bambu Papring, Cinde Sutra, Teras Art Work, Batik Papring, AR Photo, Mahasiswa UIN KHAS Jember, Duta Jebeng Thulek Banyuwangi, Seniman dan Budayawan Bnayuwangi dan Masyarakat Papring.

Berpijak pada karakter dan dasar gerak Gandrung Banyuwangi seni pertunjukan tarian Gandrung Sekar Jajang menghadirkan harmoni antara keanggunan dan ketangguhan. Hal ini mengukuhkan filosofi dan memakna bambu sebagai cerminan manusia yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya dan ttetap lentur dalam menghadapi perubahan zaman-musim. Melalui perpaduan gerak dan iringan music Gandrung Sekar Jajang merepresentasikan semangat generasi muda yang menjaga jati diri tanpa kehilangan daya cipta untuk berinovasi. Sebuah persembahan yang menjalin filosofi alam dengan keindahan seni Gandrung Banyuwangi. Viva Generasi Muda Kampung Batara Banyuwangi *** (Tim Penulis: Nur Iswantara & Herfan Efendi).
