L
Memuat...
Kontributor

Proses Kreatif Teater Garasi Yogyakarta Dalam Pertunjukan Lakon Waktu Batu (Bag.6)

Gambar 21.Tokoh Ibu mata tertutup, ekspresi kecemasan dalam
Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (WB1) Teater Garasi Yogyakarta discreenshoot untuk keperluan Disertasi
PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. page 1.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Yogyakarta, suaraglobal.news. B. Pengadeganan Pertunjukan Lakon Waktu Batu. B.1. Pengadeganan Pertunjukan Lakon Waktu Batu, Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu’ (WB 1) (Dokumentasi DVD‘Waktu Batu 1, Kisah-kisah Yang Bertemu di Ruang Tunggu’, Gedung Sasono Hinggil Yogyakarta, pada 02-04 Juli 2002).
1. Adegan Prolog. Prolog atau pembuka pertunjukan mulai dengan suasana senyap, di layar tampak gambar-gambar tokoh cerita dengan berbagai gaya yang divisualkan memakai teknik imaji video yang digarap oleh Jompet. Kemudian suara gemuruh ombak bersamaan tokoh Seorang Perempuan (SP) dengan busana rok sampai lutut berdiri di sisi kiri disiram cahaya temaram merah ke kuning menyanyikan lagu sebagai berikut: “Mari bersama-sama/Membuat taman bunga dan kupu-kupu/Sambil menari bersuka ria/Tuk hilangkan hati sedih selalu/Hei,Penyu bermata biru/Berenang, renanglah kepadaku/Bawakan surut laut itu/Bawa aku bermain bersamamu” (Lagu Batu, “Penyu Permata Biru” Pesisiran ini dinyanyikan oleh Indra dan mbok Temu, aransemen Rizky dan syair ditulis Andri Nur Latif dapat dibaca pada Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:59-60). Tembang dengan nada pesisiran itu dibawakan penuh penghayatan dengan suaranya yang begitu mendayu-dayu penuh intensitas yang dalam sehingga suasana pun begitu menghanyutkan. Munculnya gambar-gambar tokoh cerita dalam diam melalui teknik imaji video atau multimedia ( Gambar-gambar tokoh cerita: Ibu yang ditutup matanya, Ibu yang memangku anaknya, Kala dengan berdiri satu kaki, dlsb. Disorotkan oleh teknik imaji video atau tata cahaya yang indah.

Tata cahaya mendekati akhir abad ke-19, mulai berkembang dan menjadi sebuah ‘seni mencahayai lakon secara dramatis’ sekaligus mampu menghadirkan ciri: waktu, tempat dan suasana.Pada hakikatnya cahaya adalah pengungkap ‘kehadiran’, cahaya membuat wujud kebendaan menjadi terlihat oleh mata. Fungsi penataan cahaya: meniru efek alami; meningkatkan perubahan bentuk, mood, bunyi dan suasana hati; agar tercipta jarak penglihatan sehingg aktor dan unsur panggung lainnya bias terlihat (dan indah atau gembira atau getir); membantu menciptakan ruang dan waktu; memperkuat ciri khas (karakter) lakon; membangun irama dan gerakan visual, N.Riantiarno, Kitab Teater, Jakarta:Grasindo, 2011:191. Lebih lanjut Harymawan mengungkapkan tata cahaya atau tata sinar bertujuan: menerangi (general illumination) dan menyinari (specific illumination) pentas dan aktor; mengingatkan efek lighting alamiah; membantu melukis dekor/scenery dalam menambah nilai warna sehingga tercapai adanya sinar dan bayangan; membantu permainan lakon dalam melambangkan maksudnya dan memperkuat kejiwaannya, RMA.Harymawan, Dramaturgi, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993: 146-147. Pada umumnya salah satu fungsi tata cahaya (lighting) dalam pementasan teater adalah untuk membuat jelas atau terang sebuah panggung agar tampak sebuah ruangan. Selain fungsi praktis itu, tata cahaya dipakai untuk memenuhi aneka fungsi simbolik yang dikembangkan, ditetapkan, dan diregulasi oleh kode-kode budaya yang cukup beragam. Tata cahaya juga dapat mengkonotasikan makna-makna lain yang hanya dapat dipenuhi dalam kaitan dengan tanda-tanda teater lain seperti gesture, tampilan eksternal, dekorasi, properti dan fungsi-fungsi tanda independent yang bertalian dengan kategori-kategori seperti tempat, waktu dan tokoh, Nur Sahid, 2004:112-113) seperti tokoh Ibu dengan mata tertutup, Ibu memangku anaknya, Kala berdiri dengan satu kaki dlsbnya, bermakna kecemasan.

Rasa kecemasan mereka tampak dari ekspresi wajah SP menyanyikan lagu dengan nada sedih “penyu bermata biru” (Seorang Perempuan menyanyikan lagu dengan nada sedih “penyu bermata biru” memberikan makna duka, sedih yanag mendalam. Nada merupakan tinggi rendahnya bunyi dalam lagu, musik. Nada sebagai sistem tanda menurut George L Trager, ahli paralingualistik, bahwa nada atau paralinguistik itu dekat dengan sistem tanda bahasa dan sistem tanda kinestik: gerak, gesture dan mimik. Berbagai faktor seperti pola titi nada (pitch), kenyaringan (loudness), tempo, dan warna nada merupakan karakteristik-karakteristik paralingualistik atau suprasegmental berkaitan dengan vocal seseorang pembicara. Ada tiga golongan utama karakteristik vocal; perangkat suara (voice set) yaitu karakteristik-karakteristik latarbelakang (background) vocal yang dihasilkan dari faktor fisiologis, gender, umur fisik; kualitas suara (voice qualities) terdiri dari pola titi nada, kontrol bibir, kontrol ritme, kontrol artikulasi, tempo, resonansi; vokalisasi-vokalisasi (vocalizations) yaitu bunyi-bunyi actual yang dikeluarkan. Vokalisasi ini oleh George L Trager dirinci dalam tiga hal yakni vocal berkarakter (vocal characterizer) mencakup tertawa, tertawa terkikih-kikih, berteriak, berbisik, merintih, mengerang, menguap; sifat-sifat vocal (vocal qualifiers) terdiri dari tingkat intensitas dan ketinggian pola titi nada; dan bunyi vocal terpisah-pisah (vocal segregates) yang merupakan bunyi-bunyi yang jelas namun ekstra fonemik seperti suara klikk, huh, shh, dsb. Sistem tanda paralingualistik sebenarnya banyak dipengaruhi oleh aspek budaya setempat, sehingga terdapat kemungkinan proses pemaknaan terhadapnya banyak ditentukan oleh pemahaman kita terhadap latar belakang budaya si pembicara, Nur Sahid, 2004, 82-83). Suara gemuruh ombak laut dan temaram lampu fokus pada tokoh. Panggung temaram, ditambah lantunan nyanyian dengan irama pelan menunjukkan adanya kesedihan, kegelisahan yang mengitarinya, sehingga menambah intensitas kecemasan si tokoh.

Adegan pembuka didominasi oleh pencahayaan yang temaram juga memberikan makna tentang pembayangan (foreshadowing) masa depan yang dihadapinya. Masa depan yang suram, seolah-olah telah terbayang dari suasana temaram saat SP menyanyikan lagu penuh intensitas: Penyu bermata biru/Berenang, renanglah kepadaku/Bawakan surut laut itu/Bawa aku bermain bersamamu. Artinya tokoh SP itu walau masih mengharap adanya penyu biru atau kura-kura untuk jadi teman bermain. Harapan akan kehadiran tokoh Watugunung (W) sebagai penentram kehidupan tetap ada. Adegan prolog kurang lebih selama 2 menit 5 detik.

Dengan demikian arti adegan prolog di dapat dari tindakan tokoh Seorang Perempun yang menyanyikan “penyu bermata biru”: nada duka, irama pelan, suara gemuruh ombak laut, temaram lampu pada tokoh di panggung. Nyanyian duka, pencahayaan yang temaram memberikan makna kesedihan, kemuraman dan kecemasan tentang pembayangan (foreshadowing) masa depan.

2. Adegan Perihal Kapal-Kapal Yang Datang dari Balik Laut. Senja atau parak pagi, tak ada yang pasti atau dapatkah kau membedakannya? Masihkah bintang-bintang menunjukkan arah? Masihkah jalan pulang? Di pantai-pantai yang jauh, orang-orang menunjuk sesuatu yang datang dari balik laut. Tepat di belakang orang-orang itu, seorang laki-laki yang telah kehilangan senjanya tegak berdiri di atas kura-kura. Salah seorang dari para pembawa lentera, berbalik dan menghadap.Prajurit: Bhre, kapal-kapal itu segera merapat.Hamba terpaksa menyusun peta penyelamatan. Watugunung: Kemana? Prajurit: Ke gunung. Watugunung di atas kura-kura lelah menatap laut.

Gambar 22. Tokoh Prajurit mengingatkan Watugunung
diatas setting kura-kura dengan nada keras. page 4.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Tuturan tokoh Prajurit diatas perahu mengingkatkan tokoh Watugunung (Kusworo Bayu Aji) karena “kapal-kapal itu segera merapat” dan Prajurit (P) “terpaksa menyusun peta penyelamatan.” Watugunung yang berdiri diatas kura-kura raksasa pun masih bertanya “kemana?” dan dijawab P “ke gunung” dengan nada lantang. Watugunung diatas kura-kura tampak lelah menatap laut. Sistem tanda tubuh aktor, gerak aktor yang terguncang-guncang, gesture Watugunung yang berdiri lelah di atas kura-kura merupakan incidental gesture (isyarat kebetulan) yang diakibatkan oleh tokoh prajurit adanya kadatangan kapal-kapal (Watugunung pada posisi lelah tampak dalam incendental gesture. Gesture menurut Desmond Morris, tidak dapat berdiri sendiri karena merupakan sebuah rangkaian yang terkait langsung dengan semua gerakan yang dilakukan aktor. Gesture memiliki posisi penting dalam pertunjukan teater.

Gesture sebagai isyarat adalah perilaku yang mengirim sinyal visual kepada penonton. Untuk menjadi sebuah isyarat, suatu tindakan harus dilihat oleh orang lain dan ini harus menyampaikan suatu informasi kepada mereka. Ini dapat berfungsi karena si pemberi isyarat secara hati-hati mengaturnya untuk mengirim suatu tanda. Ini merupakan suatu komunikasi dari awal hingga akhir. Desmonnd mengklasifikasi gesture sebagai berikut: primary gesture (isyarata utama), incidental gesture (isyarat kebetulan), expressive gesture (isyarat ekspresi), mimic gesture (isyarat airmuka/wajah), schematic gesture (isyarat skematis), symbolic gesture (isyarat simbolis), technical gesture (isyarat teknis), dan coded gesture (isyarat kode), periksa Desmond Morris, Manwatching: A Field Guide to Human Behaviour, New York: Harry. Abrams, Inc. Publisher, 1977:24-35). Lantas dominasi warna merah lampu menambah emosi marah, takut semakin menjadi-jadi. Durasi adegan ini kurang lebih selama 3 menit 2 detik. Tuturan tokoh P dengan nada lantang kepada tokoh W tentang penyelamatan menunjukkan makna optimisme akan tetapi sikap tokoh W yang berdiri lelah menunjukkan sikap pesimis dan cahaya lampu merah memberikan makna marah, takut bercampur aduk. Adegan ini semakin menambah tegasnya adanya kecemasan yang datang. Sesuatu yang tak ternamai selain sebuah kecemasan.

3. Adegan Terjadinya Kala. Terjadinya Durga. Tokoh Siwa (S) mengajak tokoh Uma (U) bercinta. Tapi U menampiknya: tidakkah kau lihat sore sedang tumbuh diantara gerai gerimis? Tidak! Jawab S, aku tidak melihatnya! S menghindar. U menghindar. Demikianlah sampai U menjatuhkan serapah: Anjing! Bercintalah dengan malam! Sampai S menjatuhkan kutuk: Anjing! Aku tak mau bercinta dengan ibu para siluman! Dan keduanya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Musik begitu menderu dengan nada tinggi. U pun mengerang dengan suaranya yang berat. Terjadinya Kala menghentakjagat raya. Kala pun berkata. Kala:Aku diciptakan tidak sengaja. Aku adalah kecelakaan dan celakalah dirimu karena mengenalku. Aku adalah dentuman besar di lubang kosmos dan setelahnya (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:12-13).
Tokoh Kala (Jamaluddin Latif) tiada berbaju, dada terbuka celana putih. Kala (K) berdiri dengan satu kaki, tangan kanan telapak rapat menunjuk ke atas dan tangan kiri telapak rapat menunjuk lurus ke depan. Irama musikalitas gamelan ‘dung-dung’ dan suara gareng pung ‘reekkkk’ memberi kesan cepat bersamaan dengan lahirnya K. Suara perempuan menyanyikan lagu pesisiran. U tertegun, dirinya, terbelah, saling memunggungi, saling tak mengenali. Dirinya adalah Durga (Erytrina Baskorowati), adalah Kali (Sri Qadariatin).

Hampir bersamaan, keduanya berkata-kata. Lahirlah keduanya. Durga: Telah kunikahi kegelapan, telah kunikahi malam, dan bersama dirinya, kami buat pesta persetubuhan dan beranak-pinak setiap kali bulan kutelan. Aku merentangkan garis yang bagimu panjangnya tak terkira, sebegitu panjangnya sehingga tak siapa pun, kecuali diriku, merasakan getar tubuhnya dari titik mula hingga akhir dari segala. Sebegitu panjang garis itu sehingga kalian akan terus bertengkar tentang bentuk bangunan yang kugariskan. Kuberi satu rahasia, garis itu tidak semata-mata lurus, atau melengkung. Juga bukan labirin atau sumur tanpa dasar (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:14-15).
Pada Durga dan Kali bergantian berdialog dengan nada-nada puitik kadangkala berubah serak memberat. Durga dan Kali: Sebut aku haram jadah Siwa. Aku adalah celaka dan mengenai seluruh celaka, celakalah Uma, celakalah Siwa, celakalah Wisnu, celakalah Durga dan celakalah dirimu karena mengenalku. Segalanya tiba-tiba senyap.

Lintasan-lintasan masih saja berlangsung, Tapi orang-orang itu melakukannya seperti berbisik. Tak boleh bersuara. Uma sudah murka. Durga: Kalantaka! Kalanjana! Dua raksasa hitam, yang terkutuk bersamanya, datang mematuhi perintahnya ( Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 16-17).

Gambar 23. Sosok Kala yang lahir ke dunia. page 6.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Durga dan Kali murka. Mereka menghentakkan rumput kalanjana memanggil dua raksasa hitam Kalantaka dan Kalanjana yang bercelana putih (sistem tanda kostum) dengan tatanan rambut punk (sistem tanda gaya rambut). Kehidupan malam akan penuh ‘mimpi buruk’ karena ulah Durga dan Kali. Durasi adegan ini sekitar 6 menit 7 detik.

Tanda kelahiran Kala tidak dapat lepas dari perilaku Dewi Uma dan Dewa Syiwa yang mabuk birahi kebinatangan sehingga mengakibatkan dentuman kosmos, berupa kejadian goro-goro, yang ditandai dengan musik gamelan Jawa ‘dung-dung’ (Musik gamelan Jawa menegaskan ciri lakon yang idenya konsep waktu dalam penanggalan Jawa, inspirasinya dari mitologi Jawa:Watugunung, Murwakala, Sudamala, bahkan bayangan sejarah kerajaan besar Majapahit akhir. Seni Musik Gamelan, keberadaannya dibuktikan oleh penyebutan nama-nama instrument dalam berbagai sumber adalah kelompok idiophone dan membraphone, Timbul Haryono, Seni Pertunjukan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi Seni, Surakarta:ISI Pres Solo, 2008:28. Tata musik dalam sebuah pementasan teater sangat penting. Fungsi musik dalam teater: untuk memberi penekanan pada suasana lakon, misal sedih, gembira, bingung atau tegang; untuk membantu memberi gambaran tehadap suasana tempat, misal penekanan suasana kota Yogyakarta dengan musik gamelan Jawa, kota medan gondang Batak dlsb; untuk membantu memberi gambaran waktu atau zaman; mewakili karakter tokoh, N. Riantiarno, 2011: 204. Pada teater musik terkait dengan berbagai sistem tanda lain. Dalam berbagai kebudayaan dunia, musik dipergunakan secara nyata dan khas di setiap kelompok budaya. Kode-kode kultural tiap jenis musik dalam pertunjukan teater memiliki makna: makna musik bertalian dengan ruang dan gerak; objek-objek dan aksi-aksi dalam ruang; karakter, suasana hati, kondisi dan emosi; sebuah ide, Nur Sahid, 2004: 118-119). Gamelan menjadi unsur musikalitas dominan pertunjukan dengan keras, irama cepat memaknai tematik pertunjukan tentang konsep waktu. Kemudian disusul suara gareng pung, semacam serangga kumbang yang suaranya sebagai penanda akan hadirnya pergantian waktu dari musim hujan ke musim kemarau ini menandai adanya perubahan waktu. Kala pun lerlahir ke dunia. Kemudian dialog Kala dengan nada keras tegas dengan primary gesture (isyarat utama) yang meniru gerakan Dewa tatkala dalam kesendirian. Waktu pun datang, berjalan dalam ruang tunggu.

Kelahiran Durga pun ditandai dengan Uma tertegun, dirinya, terbelah menjadi Durga sekaligus Kali. Dialog keras meledak-ledak Durga dan Kali bersautan dan musikalitas gamelan irama cepat merupakan kelahiran Durga sekaligus Kali. Hal ini semakin diperjelas ketika tokoh Durga oleh peñata kostum (Retno Ratih Damayanti) dipakaikan rambut palsu dari rumput kalanjana dan jubah warna merah transparan (Kostum, tata pakain/body jubah merah transparan yang dikenakan Durga mencirikan tata busana karaker karena memperjelas identitas diri si tokoh sehingga wataknya lebih tampak. Hal ini diperkuat dengan tata rambut yang mempergunakan rambut palsu (wig) dari rumput kalanjana kering serta handprop dari rumput kalanjana hijau yang diambil dari unsur tumbuhan maka kesan natural dan purba yang tampak. Demikian pula tampak pada tokoh Kali yang mengenakan jubah hitam transparan, tata rambut dan handprop seperti tokoh Durga. Kostum dalam pertunjukan teater penting. Kostum adalah segala sandangan atau perlengkapannya yang dikenakan di dalam pentas. Bagian kostum meliputi: pakaian dasar (foundation), pakaian kaki (shoes), pakaian tubuh (body), pakaian kepala (headdress), dan perlengkapan (accessories). Fungsi kostum ialah membantu menghidupkan perwatakan pelaku; individualisasi peranan; memberi fasilitas dan membantu gerak pelaku, Harymawan, 1993:127-128; Tata busana menurut N. Riantiarno, berguna untuk menandakan karakter dari seorang tokoh. Ada tiga bentuk tata busana: tata busana korektif, biasanya busana panggung perlu dikoreksi atau dipertegas; tata busana karakter memperjelas identitas diri si tokoh itu sehingga karakternya lebih tampak; tata busana fantasi merupakan tata busana yang tidak terdapat dalam keseharian kita (2011:170-174). Fungsi-fungsi kostum teater sebagian besar bersumber pada fungsi-fungsi kehidupan sosial. Ada berbagai fungsi kostum, sebagai tanda pembeda umur (orang tua, anak-anak, remaja dll) dan gender (jenis kelamin). Selain fungsi-fungsi tanda yang disesuaikan dengan pengembangan identitas tokoh, pada dasarnya kostum juga mampu memenuhi fungsi-fungsi simbolik yang bertalian khusus dengan ‘tokoh’, dan dengan pertunjukan keseluruhan, Nur Sahid, 2004:108-109) serta handprop seikat rumput kalanjana yang masih hijau. Demikian pula pada tokoh Kali hanya warna jubahnya hitam. Dengan demikian semakin tampak kelahiran Durga dan Kali memperjelas akan terjadinya suatu kejadian berikutnya. Dimana Durga dan Kali memiliki anak buah raksasa hitam Kalantaka dan Kalanjana yang dapat membuat kehidupan dunia semakin terancam, gelap. Suatu ancaman bagi para pejalan, bagi para kesepian, bagi para kasalahan, dan bagi para kelelahan.

4. Adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik. “Mak, lapar Mak! “Kalau mau makan, cari saja di jalan!” Mak, lapar Mak! “Batu!!!” Seharusnya entong itu tidak melukainya. Tapi apa yang harus dan tak harus jika si bocah sudah terluka. Watugunung muda (kecil) pergi dengan mata seperti telaga tersiram luka. Meninggalkan segalanya. Menanggalkan tubuhnya dan menjelma kura-kura. Ibu mengejar. Tapi terlambat! Suatu ancaman kehidupan alam semesta”.

Sosok seorang ibu atau emak, bernama Sinta (Citra Pertiwi). Sinta dengan tata rias cantic (Sinta dan Sinta Yang Lain tampak tata riasnya memakai tata rias korektif, tata rias yang biasa dipergunakan oleh ibu-ibu dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya untuk memperjelas dan mempercantik diri. Untuk kepentingan pertunjukan panggung, tata rias korektif bertujuan memperjelas wajah pemain agar bisa terlihat dari jauh, karenannya tata rias harus tebal (N.Riantiarno, 2011:167). Corrective makeup dan character makeup dapat dilihat dalam Richard Corson, Stage Makeup, Edisi Keempat New Jersey:Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, 1975:10). dan roncean bunga melati menutupi rambut kepalanya (pakaian kepala/headdress) sedang mengaduk nasi dalam dandang, belanga besar dengan enthong besar (Tokoh Sinta mengaduk nasi di dandang, belanga besar dengan enthong besar, semacam sendok besar dari kayu dan Sinta Yang Lain membawa belanga kecil beserta ethong besar serta Bocah-bocah membawa piring seng; merupakan properti, alat dapur khas milik masyarakat Jawa. Artinya dandang besar merupakan set property yang harus ada dalam ‘wilayah domestik’ sedang properti sebagai pelengkap set properti berupa ethong besar dan belanga kecil bahkan sekaligus sebagai handproperti, N. Riantiarno, 2004:151. Dengan demikian properti dalam pertunjukan teater alat yang digunakan aktor dalam berakting. Hal ini memperkuat ide lakon bersumber dari mitologi Jawa. Sistem tanda properti tidak dapat independen dalam pertunjukan teater, ia dapat menjadi perlengkapan kostum yang dipergunakan aktor. Properti adalah alat-alat atau perlengkapan yang digunakan untuk mendukung pertunjukan. Dalam pertunjukan Mak Yong adalah rotan untuk pemukul, parang, keris, kapak, panah, tongkat katu, kuku panjang atau canggai, Yatna Yuana Sumardi, Simbolisasi Topeng Mak Yong Seni Peran Tradisional Masyarakat Mantang Arang Kepulauan Riau, Pekanbaru:UIR Press, 2004: 50. Jadi, properti merupakan objek-objek yang oleh aktor dipakai untuk melakukan aksi-aksi, karenanya properti mestilah didefinisikan sebagai objek-objek tempat aktor memfokuskan gerak-gerik gesture-nya. Fungsi utama properti adalah untuk menandakan sebuah objek tertentu. Properti sebagai tanda untuk aksi yang dilakukan aktor dengan berbuat sesuatu atas properti itu, yakni sebagai referensi gerak-gerik intensionalnya, Nur Sahid, 2004:110-111. Pada adegan Kunjungan Terakhir ke Wilayah Domestik jelas sekali tokoh Sinta, Sinta Yang Lain dan Bocah-bocah menjadikan properti bagian penting dalam bermain, baik sendiri maupun dengan lawan mainnya). Tiga bocah berperawakan kurus membawa piring seng. Ada satu bocah di kepalanya mengenakan mahkota (headdress), itulah Watugunung Kecil (Andreas Ari Dwianto). Sinta Yang Lain (Naomi Srikandi) membawa belanga kecil dan memainkan enthong besar mengitari panggung.

Watugunung kecil membawa piring seng berlarian mendekati Sinta. //Sinta: Sshhh! (Sinta tetap mengaduk nasi)./ Bocah-Bocah: Mak…lapar mak. Mak…aku lapar mak./Sinta: Kalau mau makan cari saja di jalan.(dengan emosi meninggi)/Bocah-Bocah: Mak…lapar mak. Mak…aku lapar mak./Sinta: Kalau mau makan cari saja di jalan.

Sinta dengan suara dan emosi meninggi marah. Bocah-bocah dengan kelaparan memukul-mukulkan piring seng ke lantai. Sinta dan Sinta Yang Lain emosional penuh marah. Keduanya memukul Bocah-bocah dengan enthong. Bocah-bocah terpental berjatuhan penuh luka. Watugunung Kecil terluka di kepala. Sinta dan Sinta Yang Lain berdiri kaku menatap bocah-bocah yang terkapar luka. Sinta dan Sinta Yang Lain melihat luka. Watugunung Kecil bangkit sambil memegangi kepalanya yang luka berdarah.

//Bocah-bocah: Mak…kenapa kau memukulku/ Sinta:Kaukah itu anakku?/Kemarahannya yang bulat, membuat si bocah lari melesat. Ibunya mengejar sebelum bayangnya hilang. Tapi terlambat. Durga dan kali pun merasuki.Di sebuah tempat, Watugunung kecil pelan-pelan telah menjelma kura-kura (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 31).
//Sinta: Ah, andai saja ia melihat. Lalu teringat ibunya dan memutuskan untuk pulang. Andai saja ia melihat bahwa segalanya sudah tidak tepat! Lalu Sinta menjelma raseksi. Raseksi itu adalah Uma yang telah menjelma Durga-Kali.Durga-Kali merobek-robek malam. Menguyah bulan. Dan menyeret sunyinya keliling dunia./Durga dan Kali: Ayo, Sadewa, Sudamala. Kucari kamu! Kalantaka!/Kalanjana! Dua raksasa muncul dari tubuh raseksi itu./Durga dan Kali: Siapkan makananku hari ini!/ Kalanjana: Makanan apa yang Dewi kehendaki?/ Sekelompok perempuan dengan cemas memukul-mukul lesungnya.80 Bocah-bocah sukerta mulai kesurupan (ndadi, trance) itu memukul-mukulkan piring ke lantai, dan lesung. Mereka menari-nari tak terkendali, kesurupan bagaikan pemain Jathilan (kuda lumping) bahkan meniru tarian Warok Reog Ponorogo.

Gambar 24.Sosok Durga perwujudan Uma. page 10.
(Dokumentasi Nur Iswantara)

Pada pertunjukan WB 1 sekelompok perempuan, Ibu dalam cemas. Mereka, Sinta, Sinta Yang Lain, Durga dan Kali memukul lesung. Para Ibu memukul lesung sehingga bunyinya terus bertalu-talu (Suara lesung bertalu-talu yang dipukul para Ibu atau Perempuan sebagai sistim tanda bunyi menegaskan bahwa dalam tradisi masyarakat Jawa jika rembulan di telan Bethara Kala alam gelap gulita maka dipukulah lesung, kethongan agar Sang Kala melepas rembulan sehingga kembali alam terang, tidak gelap lagi. Demikian ketika datangnya Durga meminta makan anak-anak sukerto diusir dengan suara lesung yang dipukuli oleh kaum Ibu atau Perempuan.Sistem tanda bunyi diperlukan dalam pertunjukan teater. Buyi-bunyian itu bertujuan untuk menghidupkan suasana lakon secara kreatif. Tiap-tiap efek bunyi membantu penonton lebih membayangkan apa yang terjadi di dalam lakon, RMA. Harymawan, 1993:161. Tata bunyi atau tata suara dihasilkan oleh sumber suara agar bias di dengar oleh pendengarnya. Dalam teater, suara sangat penting karena teater mempunyai cerita yang harus bias didengar oleh semua orang yang ada di dalam gedung, tempat berlangsungnya pertunjukan teater, N. Riantiarno, 2011:206). Bocah-bocah ‘sukerto’ kesurupan terus menari. Tokoh Durga dan Kali menyebut daftar kaum ‘sukerto’ secara bergantian mulai dari nama.

Bathang ucap-ucap, jisin lumaku, gotong mayit, wong kang ngalang-alangi lakune Bathara Kala, wong kang ora ngrampungke anggone mayoni omah, wong ngrubuhake dandang, wong nugelake pipisan utawa gandhik, bocah julung sungsang, bocah julung pujud, bocah julung wangi, wong ngeblakake lawang wayah candikala, wong gawe wewadhah tanpa tutup, wong mbuwang uwuh ing longan, wong mbuwang uwuh metu jendhela, wong turu wayah pletheking srengenge, wong turu wayah surup, wong turu wayah bedhug, wong nggorohi marang darbeke, bocah jempina, bocah marga, wong simpen ajang isih reged (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:31-33).

Ucapan tokoh Durga dan Kali yang bergantian ini merupakan akting yag mengutakan bahasa verbal (Ucapan tokoh Durga dan Kali yang meminta makan anak-anak sukerto dengan bergantian dengan nada serak memberat menjadi salah satu sistim tanda kata (bahasa) yang penting. Mengingat proses penciptaan makna melalui kata/bahasa. Bahasa merupakan sistem komunikasi manusia yang paling banyak dipakai, paling umum, paling multi aspek, dan paling kompleks, Nur Sahid, 2004:78. Bahkan permainan Durga dan Kali di adegan ini benar-benar sebuah penciptaan peran. Kedua tokoh mampu diperankan oleh Aktrisnya, Durga (Erytrina Baskorowati) dan Kali (Sri Qadariatin). Keduanya, Ery dan Sri mampu tampil penuh konsentrasi, penuh memusatkan perhatian pada peran.

Teks pertunjukan sudah menjadi bagian dari dirinya sehingga sampai kepada penonton secara baik; imajinasi-nya mampu menggiring daya khayal penonton ke peran penuh meyakinkan; kerjasama keduanya sebagai lawan main dipanggung terjaga dan mampu mengoptimalkan momentum setiap aktinya, N. Riantiarno, 2011:115. Sistim tanda kata (bahasa) sebagai kesanggupan kata pun sudah menjelma menjadi perasaan dalam suara bahasa yang tepat. Kedua aktris, setidaknya sudah sesuai mengatasi suara dengan gerak mulutnya, dengan irama, dengan warna kostum-tata rupa panggung, dengan perasaan, dengan nilai dramatik-puitik, dan dialog-diksi serta laku perannya. Hal ini membuktikan tanda-tanda kebahasaan dapat menggantikan semua tanda lain yang mungkin dalam teater, kecuali tanda-tanda gestural dan proksemik—tanda-tanda terkait dengan penggunaan ruang panggung, Nur Sahid, 2004:81) yang sangat penting dalam menutup adegan kunjungan ke wilayah domestik.

Dengan demikian adegan yang ditandai dengan bocah-bocah yang bermain kemudian merasa lapar pulang ke rumah (sistem tanda gerak). Tiga bocah, salah satunya Watugunung Kecil dengan mahkota (sistem tanda kostum) sebagai sosok raja masih kanak-kanak. Bocah-bocah melihat ibu atau Sinta sedang mengaduk nasi dengan enthong di dandang, belanga besar tempat menanak nasi khas Jawa. Sedang Sinta Yang Lain menenteng belanga kecil dengan membawa enthong besar terus berekspresi mengelilingi panggung.

Bocah-bocah yang lapar dengan membawa piring seng mendekati Sinta minta makan tetapi tidak diberi. Justru Sinta dan Sinta Yang Lain emosi, marah sampai keduanya memukul bocah-bocah dengan enthong hingga terpental jatuh. Bocah-bocah kesakitan, bahkan Watugunung Kecil terluka, berdarah di kepalanya. Kemudian berlari menjelma menjadi kura-kura. Durasi adegan ini sekitar 8 menit 23 detik.

Penyesalan Sinta tiada berguna, Durga dan Kali telah menguasai Kura-kura itu. Raksasa Durga dan Kali minta harus disediakan makanan anak-anak ’sukerto’. Kehidupan bergolak, hanya bermula dari sebuah kejadian di ‘wilayah domestik’ dapat mempengaruhi tatanan alam semesta. Watugunung kecil meninggalkan segalanya. Menanggalkan tubuhnya dan menjelma kura-kura. Ibu mengejar tetapi terlambat. Terlambat! Tinggal sesal.

5.Adegan Pemukulan Ketel. Adegan Pemukulan Ketel, pemeran pun luruh. Seorang Narator (Theodorus Chistanto) menghadap penonton bercerita. Tokoh Sinta Yang Lain (Naomi Sri Kandi) berbaju warna hitam, rambut terurai, membawa enthong besar. Duduk pada perahu. Ia bercermin di enthong besar itu. Narator usai bercerita, Sinta Yang Lain memukul–mukul wajahnya sendiri.

Wajah Sinta Yang Lain tertutupi rambut berjuntai. Ia pun berkata: “Semuanya bermula di hari ini, pada semacam senja yang kering tua ketika, sekalipun tenang, bau bencana sedang turun deras-derasnya, seperti hujan. Laki-laki itu Watugunung suamiku, mendekat ke dadaku, perlahan, hampir-hampir seperti meyelinap dari dirinya yang ditinggalkan di atas ranjang.” (Dialog Sinta Yang Lain diambil dari sebagian dialog Sinta, Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 19).

Pada dialog diatas Sinta Yang Lain memukuli pipi kanan-kiri bergantian, bertuturnya lembut, penuh penghayatan. Tokoh-tokoh lain, disekitarnya ikutan memukul-mukuli pipi kanan-kiri. Pada kata “di atas ranjang” berhenti sesaat memukuli pipi. Tiba-tiba ada suara mengerang, seorang lelaki Watugunung seperti kesakitan.

Tokoh lain pun gaduh, ada tokoh yang memutar-mutar memainkan belanga dilantai, ada tokoh yang memukul-mukul perahu dengan enthong besar dan Sinta Yang Lain kembali memukul pipi kanan-kirinya dengan irama cepat. Tata bunyi kothekan semakin cepat dan berhenti mendadak. Tokoh Watugunung (Kusworo Bayu Aji) jatuh tersungkur sambil memegangi kepalanya yang kesakitan. Tokoh-tokoh lain diam mematung.

Muncul tokoh Sinta (Citra Pertiwi) dengan kostum warna putih dikepalanya dihiasi bunga melati. Ditangan kanan Sinta memegang enthong besar dan di tangan kirinya memegang potongan kepala. Ia mengucapkan dialog “Sampai terbaca olehku, tanda luka dari masa lalu yang memanggil kembali seluruh mimpi buruk, seluruh waktu yang tak pernah bisa enyah dari diriku. Aku kepingin berlari, tapi malah terbanting kepala itu (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 20).
Gaya dialog Sinta bagai pembacaan puisi W.S. Rendra yang artikulasinya las-lasan, merdu-mendayu perih dan ditimpa keleneng gamelan Jawa. Memasuki penggal kalimat “Lalu pecah berserak” berhenti sesaat, terdengar suara melengking. Durga dan Kali menggenggamnya sehingga kepala itu terbanting. Tokoh berkerudung menampar pipinya mengikuti irama ‘plak-plak’ seperti tepukan tangan. Suara itu menguasainya, juga suara gemuruh. Ucap Sinta: “Lalu pecah berserak dan apa yang telah kulakukan? Mengapa aku melukaimu? Mengapa cintaku melukaimu? (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:21).
Sinta yang memegang ethong terus berbicara dengan intens. Musik melantun, muncul suara lengkingan. Pada penggal dialog Sinta “Rebut aku” ada sautan dialog tokoh Kali (Sri Qadariatin) suara serak memberat “Mengapa kau menantang mata panah yang sempurna?” dijawab Durga: “Mengapa kau menantang Wisnu!” (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004:22). Pada penggal dialog Durga (Erytrina Baskorowati) proyeksi suara yang besar, membuat suasana mencekam. Sinta pun menjawab “Tak kudengar apapun dari yang pecah dan burai di kedua tanganku (Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, Ugoran Prasad, 2004: 23). Narator (Theodorus Chistanto) bercerita. Tokoh Sinta Yang Lain (Naomi Sri Kandi) berbaju warna hitam, rambut terurai, membawa enthong besar, duduk di bibir perahu, bercermin di enthong itu dan memukul–mukul wajahnya sendiri.

Watugunung (Kusworo Bayu Aji) mengerang kesakitan, tokoh lain gaduh.
Sinta (Citra Pertiwi) muncul berbaju warna putih, kepalanya dihiasi bunga melati, ditangan kanan memegang enthong besar dan di tangan kirinya memegang potongan kepala. Gaya dialog bagai pembacaan puisi W.S. Rendra, artikulasi las-lasan, merdu-mendayu perih diiringi keleneng gamelan Jawa. Kemunculan Kali (Sri Qadariatin) suara serak memberat. Durga (Erytrina Baskorowati) dengan proyeksi suara besar, bunyi perkusi ‘tharrrr-tharrr’ membuat suasana mencekam. Cahaya didominasi warna kuning. Durasi adegan ini 3 menit 33 detik.

Adegan pemukulan ketel ini menegaskan bukankah segalanya hanya sesaat. Ketika yang tinggal hanya sesal. Hanya semacam senja yang kering tua. Taman kerajaan. Angin tenang. Daun-daun tak bergoyang. Tapi, Sinta, takkan kau lihat, ada yang sedikit berubah pada arah. Tidak adakah cara yang lain selain memukul-mukul kepala itu. Selain menubuh pada riuh. Selain memukul-mukul perkakas dan rasa cemas. Kembali yang tinggal rasa cemas! *** [Bersambung, Penulis, Peneliti & Dosen PSP FSP ISI Yogyakarta: Nur Iswantara].

Ditulis oleh: admin

Lihat Semua Artikel
Dilihat 29 kali
BAGIKAN BERITA INI:

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang memenuhi syarat akan segera ditampilkan.

Berita Jangan Sampai Terlewatkan